SOP Aplikasi Probiotik RICA



Media Penyuluhan Perikanan - Hingga kini masih banyak pembudidaya udang tradisional yang melakukan usahanya hanya berdasarkan “feeling” saja. Persiapan tambak dan berbagai cara pengelolaan tambak hanya dilakukan seadanya. Kalaupun mereka melakukan perubahan, maka mereka hanya mengikuti apa yang dilakukan oleh pembudidaya udang di sekitarnya yang kondisi tambaknya belum tentu sama, sehingga seringkali diperoleh hasil berbeda. Oleh karena itu teknologi budidaya udang windu perlu diperbaiki sejak persiapan tambak, pengisian air tambak, penebaran benur, dan cara pengelolaannya.

Selain itu, selama ini juga telah banyak produk bakteri probiotik komersial di pasaran, baik produk lokal maupun import. Namun demikian masyarakat pembudidaya udang masih banyak yang kurang memahami tentang cara penggunaannya, baik cara kulturnya, penyimpanannya maupun cara aplikasinya. Bakteri probiotik merupakan organisme hidup yang jumlahnya akan mengalami penurunan dengan semakin lamanya disimpan. Jadi suatu produk probiotik komersial yang cara pemakaiannya tanpa dilakukan kultur terlebih dahulu, cenderung akan tidak efektif untuk pencegahan penyakit udang. Hal ini karena pada awal pembuatan probiotik dalam bentuk cair dapat mencapai kepadatan bakteri hingga 1011 – 1012 CFU/mL, sedangkan dalam bentuk padat (serbuk) biasanya hanya mencapai kepadatan bakteri sekitar 109 CFU/g. Produk probiotik komersial tersebut akan mengalami penurunan kepadatan bakteri hingga tinggal 103 – 106 CFU/mL (CFU/g) setelah disimpan lebih dari tiga bulan.

Oleh karena itu penggunaan probiotik RICA harus dikultur/difermentasi 3-4 hari terlebih dahulu agar kepadatannya meningkat hingga 1011 CFU/mL. Dengan demikian bakteri tersebut dapat berfungsi lebih baik dalam memperbaiki kualitas air (menurunkan kandungan bahan-bahan beracun di tambak, seperti bahan organik total, amoniak, nitrit, dan hidrogen sulfida), menekan perkembangbiakan organisme patogen terutama bakteri Vibrio harveyi, sehingga dapat meningkatkan sintasan dan produksi udang windu di tambak.

Cara Penerapan Teknologi

Pemilihan Lokasi Tambak

Kematian udang di sekitar caren tambak pada awal musim penghujan diduga disebabkan oleh jenis tanah tambak yang tergolong tanah sulfat masam (TSM). Hal ini banyak terjadi di daerah pertambakan yang dibangun dari bekas lahan mangrove (terutama nipah) seperti di Aceh, Lampung Timur, Sulawesi Selatan bagian Timur, juga di wilayah Kalimantan. Pada pematang tambak TSM biasanya dijumpai adanya bagian tanah yang berwarna kuning (jarosit). Bila tanah ini tersiram air hujan, maka air yang turun ke tambak bersifat sangat masam, karena mengandung H2SO4 (senyawa asam pekat yang digunakan untuk air aki). Senyawa inilah yang menyebabkan sebagian kulit dan daging udang terkelupas dan akhirnya mati.

Tambak TSM sebaiknya direklamasi (pengeringan, perendaman, dan pembilasan tanah dasar tambak) terlebih dahulu selama persiapan tambak dan bila memungkinkan pematang tambak ditanami rumput yang bisa menahan peluruhan jarosit ke dalam tambak. Pengapuran dengan dolomit di sekeliling pematang menjelang hujan deras terbukti cukup bermanfaat mengurangi kematian udang di tambak.

Oleh karena itu, agar aplikasi probiotik RICA lebih efektif sebaiknya dilakukan di wilayah pertambakan yang tidak tergolong tanah sulfat masam (TSM), yaitu di pertambakan dengan pH tanah dasar tambak normal (6,5-7,0).

Persiapan Tambak Udang Windu

Persiapan tambak meliputi penambalan bocoran tambak, keduk teplok (pengangkatan lumpur hitam dari dasar tambak ke atas pematang tambak), pemberantasan hama, pengeringan tambak, pengapuran dan pemupukan dasar tambak, serta pengisian air tambak.

Penambalan bocoran tambak selain diperlukan untuk mencegah habisnya air dalam tambak, juga mencegah masukya predator (pemangsa udang) dan kontaminan berbagai penyakit (vibriosis oleh bakteri Vibrio harveyi dan bintik putih oleh white spot syndrome virus). Keduk teplok dimaksudkan untuk membuang lumpur hitam yang berbau busuk (mengandung hidrogen sulfida) yang biasanya dilakukan pada saat tambak masih berair sekitar 10 cm (macak-macak) untuk memudahkan pengangkatan lumpur.

Pemberantasan hama dilakukan dengan menggunakan saponin 15-30 ppm (15-30 kg saponin per hektar tambak dengan kedalaman air sekitar 10 cm) dan kaporit 2-3 ppm (2-3 kg kaporit per hektar tambak dengan kedalaman air sekitar 10 cm). Pada salinitas tinggi (di atas 25 ppt) penggunaan saponin cukup 15-20 ppm, namun pada salinitas air tambak di bawah 5 ppt diperlukan saponin hingga 30 ppm. Pemberantasan hama dimaksudkan untuk membunuh ikan-ikan liar (mujahir, gabus, kepala timah, bocci-bocci dan lain-lain) dan krustase liar (udang, kepiting, jembret, dan sejenisnya). Setelah empat hari, air dibuang, kemudian tanah dasar tambak dibajak dan dikeringkan secara sempurna hingga retak-retak agar limbah organik di dasar tambak teroksidasi sempurna. Apabila masih dijumpai adanya ikan-ikan liar di bagian cekungan air, pemberantasan hama diulangi di bagian tersebut.

Kemudian pengapuran dilakukan dengan menggunakan kapur bakar (CaO, yaitu kapur yang bila direndam air akan mengeluarkan gelembung panas seperti air mendidih). Jumlah kapur bakar yang digunakan tergantung pada kondisi kemasaman tanah dasar tambak tersebut. Makin masam tanah dasar tambak, maka diperlukan kapur bakar yang lebih banyak. Secara umum diperlukan kapur bakar antara 1-5 ton per hektar tambak untuk mempercepat proses oksidasi bahan organik dan peningkatan pH tanah dasar tambak. Setelah dilakukan pengapuran, sebaiknya dilakukan pengecekan pH dan redoks potensial tanah dasar tersebut. Menurut Poernomo (2004), redoks potensial tanah dasar tambak pada saat kering sebaiknya minimal +50 mv. Namun pada kenyataannya hal ini seringkali sulit diperoleh di lapangan. Apabila pH tanah dan redoks potensialnya masih rendah, maka, pengapuran perlu dilakukan kembali dengan kapur bakar hingga pH tanah meningkat.

Setelah 1-2 minggu pengeringan dan tanah terlihat retak-retak, kemudian pemupukan tambak sesuai kebutuhan. Untuk tambak tradisional plus, memerlukan pupuk organik, urea, dan SP-36 (super fosfat) tergantung kondisi tanah dan musim penebaran. Umumnya tambak udang tradisional plus memerlukan pupuk organik 200-400 kg/ha, urea 50-100 kg/ha, dan SP-36 50-100 kg/ha sebagai pupuk dasar. Namun pemakaian seminimal mungkin lebih disarankan. Pada musim hujan penggunaan urea dapat dikurangi karena adanya masukan nitrogen dari air hujan.

Tambak yang relatif dekat dengan laut biasanya memerlukan urea lebih banyak dan SP-36 lebih sedikit daripada tambak yang jauh dari laut. Pemupukan dasar dengan SP-36 tidak diperlukan di tambak TSM yang merupakan tanah gambut, karena fosfatnya akan terikat oleh asam humus dari tanah, sehingga sulit terlepas ke air. Pada tambak TSM pemupukan susulan yang sedikit demi sedikit dilakukan (2-5 kg/minggu) lebih baik daripada penggunaannya sebagai pupuk dasar.

Secara umum, pada kondisi tanah normal (tanah mineral) diperlukan pupuk dasar urea sebanyak 20-50 kg/ha dan SP-36 sebanyak 20-50 kg/ha. Sedangkan pemupukan susulan sebaiknya dilakukan sebulan setelah penebaran benur, yaitu sekitar 10% dari jumlah pupuk dasarnya (masing-masing 2-5 kg/ha/mg), tergantung kondisi dan warna airnya.

Tambak kemudian diisi air bersih (air yang telah ditandon terlebih dahulu ataupun air saluran yang relatif baru) langsung penuh (misal satu meter atau hingga ketinggian maksimal yang mampu dicapai). Pada pengisian air tambak udang tidak boleh dilakukan secara bertahap 10 cm setiap hari sebagaimana dilakukan di tambak ikan bandeng, karena bandeng perlu klekap sebagai makanannya. Tumbuhnya klekap di tambak udang, merupakan masalah bagi udang yang dipelihara. Klekap akan terapung dan akhirnya mati, membusuk di dasar tambak, sehingga menjadi salah satu pemicu stres bagi udang windu. Secara umum tambak udang windu memerlukan air yang lebih dalam dibanding tambak bandeng, karena udang lebih menyukai plankton dari pada klekap.

Apabila memiliki petak tandon yang dilengkapi dengan biofilter, sebaiknya air baru dari saluran air (1-2 jam setelah air pasang) disimpan di tandon terlebih dahulu sekitar 3-4 hari sebelum dimasukkan ke dalam petakan tambak. Air yang ditandon 3-4 hari tersebut dapat menurunkan jumlah bakteri patogen yang ada, serta dapat mengurangi peluang virus WSSV mendapatkan inangnya.

Dengan demikian air yang telah ditandon ini relatif lebih aman dari pada air langsung (tidak ditandon). Kualitas air yang terbaik (optimum) bagi udang windu di tambak tradisional plus dapat dilihat pada Tabel 1 berikut.


Aklimatisasi dan penebaran benur/tokolan

Tiga hingga empat hari sebelum benur windu diambil dari hatchery, pengambilan contoh benur dilakukan dengan cara diawetkan dalam larutan alkohol 70% sebelum dicek dengan “Polymerase Chain Reaction” (PCR) untuk pengujian WSSV di laboratorium. Sebelum benur windu ditebar di tambak, terlebih dahulu ditokolkan atau dibantut (ditokolkan) selama 2-6 minggu di tempat yang relatif bersih (tidak terkontaminasi oleh organisme patogen). Benur yang telah dibantut akan memiliki vitalitas lebih tinggi, dan masa pemeliharaannya di tambak lebih singkat (2-3 bulan).

Tokolan udang windu sangat diperlukan khususnya di tambak TSM, karena tingginya kandungan besi dan aluminium yang memungkinkan sebagai pemicu stres pada udang. Waktu pemeliharaan udang di tambak TSM harus diusahakan lebih singkat agar terhindar dari serangan penyakit yang biasanya terjadi pada umur antara 40-70 hari. Agar udang cepat mencapai ukuran konsumsi, maka padat penebaran di tambak TSM juga harus disesuaikan dengan kondisi tanahnya, misalnya 2 hanya 0,5-1 ekor/m . Sedangkan pada tambak tanah mineral (tidak masam) dapat ditebari 2 hingga 4 ekor/m . Secara umum padat penebaran benur/tokolan udang windu di pertambakan 2 2 Sulsel hanya 1-2 ekor/m , sedangkan di pantura Jawa bisa mencapai 2-4 ekor/m .

Benur ataupun tokolan udang windu sebelum ditebar harus diaklimatisasi terhadap suhu dan salinitas air. Penebaran benur atau tokolan dapat dilakukan apabila air dalam petakan tambak telah dipersiapkan minimal dua minggu sebelumnya. Hal ini diperlukan agar fitoplankton telah tumbuh dengan stabil yang ditandai dengan warna air hijau kecoklatan dan kecerahan air sekitar 30-40 %. Apabila kedalaman air tambak adalah satu meter, maka sebaiknya kecerahan air 30-40 cm, jika kedalaman air sekitar 60 cm, maka kecerahan air 18-24 cm. Secara umum untuk pemeliharaan udang, makin dalam airnya makin bagus, karena udang lebih menyukai plankton yang banyak terdapat di kolom air dari pada klekap di dasar tambak.

Berbagai jenis pestisida (Thiodan, Trithion, Aquadyne, Brestan dan sebagainya) tidak boleh (DILARANG) digunakan lagi untuk pemberantasan hama di tambak, karena menyebabkan air terlalu jernih (nilai kecerahan hampir sama dengan kedalaman). Hal ini dimungkinkan karena fitoplankton kurang mampu tumbuh sebagai akibat kurangnya unsur hara nitrogen (N) dan fosfor (P) dalam kolom air yang sebagian besar terikat di tanah oleh pengaruh pestisida yang digunakan. Pada kondisi demikian udang akan mudah mengalami stress, sehingga mudah terserang penyakit.

Pengelolaan Pakan

Pada dasarnya pakan buatan yang diberikan ke udang windu yang dipelihara pada sistem budidaya udang tradisional plus (ekstensif plus) hanya bersifat tambahan saja, karena udang diharapkan makan plankton yang ada di tambak (fitoplankton dan zooplankton). Di tambak tersebut, pakan berupa pellet biasanya diberikan satu bulan menjelang udang dipanen. Namun di tambak dengan sistem semi-intensif dan intensif, pakan buatan berupa pelet yang bermutu mutlak diperlukan.

Mutu, ukuran, dan jumlah pakan harus disesuaikan dengan umur udang. Pada umur muda, udang memerlukan pakan dengan kandungan protein yang tinggi. Jumlah pakan yang diberikan setiap harinya harus disesuaikan dengan pertumbuhan dan kondisi udang pada saat sampling. Apabila pada saat sampling banyak didapat udang yang “molting” (ganti kulit), maka sebaiknya jumlah pakannya dikurangi. Hal ini mengingat, bahwa udang yang molting akan istirahat makan sekitar 24-48 jam. Jadi kalau pakannya justru ditambah, maka kelebihannya menjadi limbah organik yang dapat memicu perkembangbiakan bakteri V. harveyi dan WSSV yang dapat membahayakan udang windu di tambak. Sebaiknya jangan menggunakan pakan segar dari kelompok krustase seperti kepiting, kepala udang dan sebagainya, karena ini dapat menjadi “carrier” (pembawa) penyakit WSSV. Pakan yang berupa pellet harus disimpan di tempat yang kering dan sejuk, serta dialas papan agar tidak mudah berjamur.

Pemberian pakan (pellet) di tambak tradisional plus bisa dimulai pada minggu ke enam setelah penebaran tokolan udang windu, yaitu sekitar 1 kg/hr yang ditebar merata ke sekeliling tambak. Setelah 7 hari, jumlah pakan dinaikkan menjadi 1,2 kg/hr selama 7 hari, kemudian 1,5 kg/hr selama 7 hari. Demikian seterusnya dilakukan sedikit penambahan pakan setiap minggunya. Jumlah pemberian pakan sekitar 1-3% bobot biomass/hari. Diharapkan FCR (feed convertion ratio = rasio konversi pakan) di tambak udang windu tradisional plus adalah kurang dari satu.

Pengelolaan Air

Satu hal perlu dicatat, bahwa sebaiknya hanya mengganti air tambak bila diperlukan saja, artinya lakukan sesedikit mungkin, karena makin banyak dilakukan penggantian air memungkinkan terjadinya udang stress. Perubahan warna air tambak sebaiknya diamati setiap saat. Warna air yang berubah-ubah setiap saat, misal pagi kuning, siang hijau, dan sore menjadi biru, merupakan indikator bahwa air tambak tersebut memiliki alkalinitas total yang rendah (di bawah 80 mg CaCO3 equivalen/L) (Atmomarsono, 2004). Akibatnya dapat terjadi goncangan pH air harian yang melebihi 0,5 (misal 7,5 hingga 9,5). Apabila hal ini terjadi, maka udang akan mudah mengalami stress. Oleh karena itu harus dilakukan aplikasi kapur dolomit di tambak tersebut.

Warna air yang dianggap bagus untuk budidaya udang windu adalah hijau kecoklatan. Secara umum kapur dolomit dapat diaplikasikan secara rutin 3-5 ppm per minggu (sekitar 30-50 kg/ha tambak dengan kedalaman air satu meter) untuk mencegah terjadinya goncangan pH pada musim penghujan. Hal ini sangat diperlukan terutama di areal pertambakan yang masih masam (tanah TSM).

Untuk mempertahankan warna air tersebut dapat dilakukan dengan cara pemupukan susulan urea dan SP-36 sekitar 0,1 – 1 ppm (tergantung warna airnya) serta aplikasi bakteri probiotik tertentu. Untuk warna air tambak yang cenderung hijau muda kekuningan, diperlukan pupuk susulan SP-36 lebih banyak dari pada ureanya. Sebaliknya apabila warna air cenderung coklat kemerahan, maka diperlukan pupuk susulan urea lebih banyak dari pada SP-36.

Aplikasi Bakteri Probiotik RICA
Peralatan
  1. Aerator “double power” (AC/DC, tetap hidup walaupun mati listrik) satu unit yang dilengkapi dengan slang aerasi, pengatur gas, dan batu aerasi.
  2. Ember besar bertutup untuk wadah kultur bakteri probiotik, volume ember tergantung jumlah bakteri yang diperlukan, misal 20, 40, atau 50 L.
  3. Ember dengan volume 10-15 L untuk menebar bakteri probiotik ke tambak.
  4. Jerigen steril untuk membawa bakteri probiotik hasil kultur.
  5. Corong plastik untuk memasukkan bakteri probiotik ke dalam jerigen.
  6. Gayung air untuk memasukkan bakteri ke dalam jerigen plastik dan untuk menebar bakteri ke tambak.
  7. Timbangan 1-5 kg, untuk menimbang dedak, tepung ikan, yeast (ragi roti), dan molase.
  8. Takaran atau literan, untuk menakar volume air tambak dan volume molase yang diperlukan (molase ditimbang dan diukur volumenya pada awal pengukuran saja, selanjutnya ditandai dengan supidol agar lain kali tidak perlu ditimbang lagi).
  9. Spidol permanen untuk penanda pada takaran yang digunakan.
  10. Kompor gas lengkap dengan tabung gas, slang, dan regulatornya.
  11. Panci stainless volume 50 L untuk memasak campuran bahan.
  12. Pengaduk dari kayu untuk mengaduk bahan-bahan yang dimasak.
  13. Beberapa ember dengan tutup dan stoples plastik untuk menyimpan tepung dan bahanbahan lainnya.

Bahan-bahan
  1. Bakteri probiotik RICA, yaitu isolat BT951, MY1112, dan BL542 dalam media Nutrient Broth (200 mL per 20 L air tambak).
  2. Tepung ikan (400 g per 20 L air tambak)
  3. Dedak halus (1.000 g per 20 L air tambak)
  4. Ragi roti (yeast) (100 g per 20 L air tambak)
  5. Molase (tetes tebu) atau gula 500 g (sekitar 375 mL) per 20 L air tambak
  6. Air tambak sebanyak 20 L.

Cara kultur
  1. Masak 1.000 g dedak halus dan 400 g tepung ikan dengan menggunakan 20 L air tambak dalam panci stainless sambil terus diaduk hingga mendidih selama 5-10 menit (agar bakteri kontaminan dari tambak mati).
  2. Matikan api, kemudian masukkan ragi roti sebanyak 100 g, sambil terus diaduk merata.
  3. Kemudian masukkan molase 500 g, sambil terus diaduk merata.
  4. Dinginkan campuran tersebut dengan cara merendam panci ke air tambak atau membaginya ke beberapa tempat agar lebih cepat dingin.
  5. Setelah dingin, dibagi ke dalam dua ember.
  6. Masukkan bakteri probiotik sebanyak 100-200 mL per ember.
  7. Diaerasi secara terus menerus dengan aerator AC/DC.
  8. Setelah dikultur 3-4 hari, aerasi dimatikan dan bakteri probiotik siap digunakan di tambak, yaitu 0,2-1 ppm (2-10 L per hektar tambak tradisional plus dengan kedalaman air satu meter); 1-5 ppm di tambak semi-intensif udang windu dengan padat penebaran hingga 10 ekor/m ; atau 5-10 ppm di tambak udang intensif dengan padat penebaran hingga 20ekor/m .

Cara aplikasi
  1. Bakteri probiotik RICA yang telah dikultur 3-4 hari memiliki kepadatan sekitar 1010 –1012 CFU/mL, biasanya berbau tape dan siap ditebar ke tambak dengan dosis seperti tersebut di atas.
  2. Bakteri probiotik tersebut dicampur/diencerkan dengan air tambak secukupnya, kemudian ditebar merata ke permukaan air tambak.
  3. Pemberian bakteri probiotik dilakukan seminggu sekali untuk budidaya udang windu tradisional plus dan semi-intensif. Sedangkan untuk teknologi sistem intensif diperlukan penebaran 1-2 kali/minggu tergantung kondisi airnya.
  4. Aplikasi bakteri probiotik RICA yang terbaik dilakukan secara bergiliran, yaitu BT951 diberikan 3-4 kali sejak minggu 2-3 pemeliharaan, kemudian diganti dengan MY1112 diberikan 3-4 kali berturut-turut, kemudian diganti BL542 diberikan 3-4 kali berturutturut, dan diulang lagi dengan BT951 hingga panen.
  5. Bakteri probiotik RICA perlu dikultur selama 3-4 hari agar diperoleh konsentrasi hingga 1010-1012 CFU/mL, sehingga pada saat dipakai di tambak hanya memerlukan jumlah sedikit (kurang dari 10 L/ha).


Sumber :
Anonymous. 2013. Rekomendasi Teknologi Kelautan dan Perikanan 2013. Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan. Jakarta

Comments