Mengenal Potensi dan Distribusi Kepiting (Scylla sp) dan Rajungan (Portunus pelagicus Linn)

Media Penyuluhan Perikanan - Kepiting banyak dijumpai di daerah hutan bakau dan tersebar hampir diseluruh wilayah Indonesia. Oleh karena habitat dari kepiting di Indonesia umumnya di daerah Bakau, maka kepiting lebih dikenal dengan nama ”kepiting Bakau”.  Sedangkan jenis kepting yang paling banyak ditemukan dan diperdagangkan adalah jenis Rajungan. Menurut jenisnya, Kepiting di Indonesia berjumlah 124 jenis (Nontji, 1987 dalam Ghufron, 1997).

Kepiting merupakan salah satu primadona perdagangan perikanan dewasa ini karena produk kepting sangat disenangi oleh masyarakat baik lokal maupun internasional terutama karena rasa dagingnya yang enak serta kandungan proteinnya yang tinggi.

Peluang pasar yang cukup besar dengan harga tinggi menyebabkan bisnis kepiting mulai berkembang di beberapa tempat seperti di Sulawesi Selatan, Cilacap, Medan dan lain-lain. Dengan target pemasaran lokal maupun ekspor. Negara tujuan ekspor antara lain: Jepang, Hongkong, Korea Selatan, Taiwan, Singapura, Malaysia, Australia dan Prancis.

Sebagai salah satu sumber pendapatan nelayan dan devisa negara, kepiting dan rajungan perlu mendapatkan perhatian khusus baik dari segi kelestarian sumber daya maupun cara pengolahannya. Hal ini juga sangat dipengaruhi oleh permintaan masyarakat terhadap komoditi ini dari tahun ke tahun semakin meningkat baik dalam negeri maupun luar negeri. Hal ini sesuai dengan data yang dikeluakan oleh Kementrian Kelautan perikanan tentang produksi kepting/rajungan bahwa rajungan memiliki peluang besar untuk menghasilkan devisa bagi negara dengan permintaan yang terus meningkat.  Selama tiga tahun terakhir yaitu pada tahun 2006-2008 data ekspor rajungan  dalam US$  rajungan memiliki nilai yaitu 130 juta pada tahun 2006, untuk tahun 2007 sebesar 134 juta, dan tahun 2008 mencapai 179 juta. Kenaikan ekspor rajungan mencapai 32,90% pada tahun 2007-2008. Peningkatan ini disebabkan karena rajungan termasuk makanan mewah yang banyak dikonsumsi oleh masyrakat karena memilki rasa yang gurih dan kandungan gizi yang tinggi.
Potensi dan prospek kedepan yang baik inilah menjadi salah satu alasan mengapa pemanfaatan kepiting dan rajungan ini perlu ditingkatkan dikalangan pelaku usaha dan pelaku utama. Umumnya Kepiting diolah menjadi daging Kepiting/Rajungan dalam kaleng, berbagai jenis masakan siap saji di restoran-restoran serta olahan limbah seperti Petis Rajungan.

Sebaran/ Distribusi

Kepiting dan Rajungan memiliki tempat hidup diperairan pantai. Kepiting biasanya hidup dipantai yang berlumpur dan ditumbuhi pohon-pohon bakau sedangkan rajungan di pantai berpasir, pasir berlumpur dan di pulau berkarang. Rajungan banyak ditangkap di daerah-daerah seperti Bali, Muncar – Banyuwangi, Pasuruan, Lampung, Sumatera Utara, Kalimantan Timur dan Barat, Sulawesi dan Aceh. Sedangkan Kepiting tersebar didaerah pantai dengan hutan mangrove yang masih ada seperti contohnya di daerah Sulawesi, Maluku dan Papua.

Kepting bakau (Scylla serrata) memiliki nama yang berbeda-beda untuk setiap daerah baik di Indonesia maupun negara-negara lainnya di dunia. Penyebaran kepiting ini sendiri tersebar di wilayah Indo-Pasifik yang meliputi antara lain Indonesia, Malaysia, Cina, Filipina. Kepiting bakau ini hanya tersebar di perairan tropis atau pada perairan berkondisi tropis. Daerah sebarannya meliputi wilayah Indo-Pasifik, mulai dari pantai selatan dan timur Afrika Selatan, Mozambik, Iran, Pakistan, India, Sri Lanka, Bangladesh, negara-negara ASEAN, Cina, Jepang dan Taiwan. Kepiting juga ditemukan di pulau-pulau Lautan Pasifik mulai dari kepulauan Hawai di utara sampai ke Selandia Baru dan Australia bagian selatan.

Pemanfaatan

Kepting dan Rajungan sangat populer dengan rasanya yang enak dan bergizi, sehingga masyarakat berusaha untuk memenuhi permintaan pasar melalui produksi olahan-olahan berbahan baku Kepiting dan Rajungan.
Jenis-jenis olahan kepiting dan rajungan antara lain:
  1. Pengalengan daging Rajungan/Kepiting
  2. Masakan-masakan berbahan dasar daging kepiting dan rajungan seperti sup, kepiting/rajungan bumbu khas Indonesia, dll
  3. Pengolahan limbah atau hasil samping seperti Petis Rajungan.
Selain pengolahan menjadi produk olahan seperti disebutkan diatas, banyak masyarakat yang memanfaatkan Kepiting  untuk dipasarkan dalam bentuk hidup dengan tujuan restoran-restoran dan juga eskpor. Salah satu keunggulan dari kepiting hidup adalah harga yang tinggi, mudah dilakukan dan bagi konsumen merupakan keuntungan sendiri yaitu tidak memerlukan penanganan untuk menjaga mutu karena dalam bentuk hidup, kondisi kepting tidak akan busuk.

Sumber :
Sumandiarsa, I Ketut. 2011. Pengolahan Kepiting. Materi Penyuluhan Kelautan dan Perikanan No.008/TPH/BPSDMKP/2011. Pusat Penyuluhan KP-BPSDMKP. Jakarta

Comments

  1. luar biasa pak sumandiarsa...
    ini menjadi inspirasi buat penggerakan daerah saya.

    ReplyDelete

Post a Comment