Potensi Pasar Produk Olahan Ikan Kering

Media Penyuluhan Perikanan - Ada 2 (dua) komponen penting untuk menganalis permintaan ikan
kering, yaitu permintaan domestik dan permintaan luar negeri. Permintaan domestik dapat dilihat dari konsumsi ikan per kapita maupun belanja per kapita, sementara permintaan luar negeri dapat ditinjau dari jumlah ekspor ikan kering yang dilakukan oleh eksportir.

Permintaan Domestik
Sebagai negara kepulauan, Indonesia merupakan negara yang terdiri dari pulau – pulau dikelilingi oleh wilayah perairan yang cukup luas. Dengan wilayah perairan yang luas ini, Indonesia memiliki sumberdaya alam di laut dan samudera yang melimpah, termasuk didalamnya terdapat banyak spesies ikan khususnya ikan yang dapat dikonsumsi. Sebagai sumber pangan, ikan memiliki kandungan gizi yang sangat baik seperti protein sebagai sumber pertumbuhan, asam lemak omega 3 dan 6 yang bermanfaat bagi kesehatan ibu dan pembentukan otak janin, vitamin, serta berbagai mineral yang sangat bermanfaat bagi ibu dan janin. Ikan sebagai bahan makanan yang mengandung protein tinggi dan mengandung asam amino essensial yang diperlukan oleh tubuh, disamping itu nilai biologisnya mencapai 90%, dengan jaringan pengikat sedikit sehingga lebih mudah dicerna. Hal yang paling penting adalah harganya yang realtif lebih murah dibandingkan dengan sumber protein hewani lainnya.

Meskipun Indonesia kaya akan ikan, tingkat konsumsi ikan di Indonesia masih sangat rendah, apalagi jika dibandingkan dengan potensi sumber daya alam yang terdapat di Indonesia. Tabel 3.1 berikut menyajikan perkembangan penyediaan dan konsusmi ikan per kapita untuk periode 2007 – 2011. Yang perlu diingat bahwa, konsumsi ikan yang dimaksudkan pada tabel ini adalah konsumsi ikan secara umum. Artinya, konsumsi yang dilakukan tidak hanya ikan segar tetapi juga ikan olahan termasuk ikan kering. Data konsumsi ikan kering tidak tersedia, sehingga pendekatan yang digunakan data konsumsi ikan secara umum Tingkat konsumsi ikan nasional mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Pada periode 2007 2011, rata rata kenaikan konsumsi ikan per kapita sebesar 5,09 persen per tahun. Jika pada tahun 2007 rata rata konsumsi ikan per kapita pertahun adalah 26 kg, maka pada tahun 2009 mencapai 29,08 kilogram per kapita per tahun, dan pada tahun 2010 mencapai 30,48 kg per kapita per tahun. Sedangkan rata-rata konsumsi ikan per kapita nasional pada tahun 2011 diperkirakan mencapai 31,64 kg per kapita per tahun atau mengalami peningkatan rata-rata 4,81 persen dibandingkan konsumsi pada tahun 2010.

potensi pasar ikan kering
Kenaikan konsumsi ikan per kapita, seperti tersaji pada Tabel 3.1, menginformasikan kenaikan permintaan ikan, baik ikan segar maupun ikan olahan. Implikasi dari kenaikan konsumsi ikan ini adalah prospek pasar produk ikan, baik ikan segar maupun ikan kering masih baik. Hal ini didukung oleh ketersediaan ikan segar sebagai bahan baku dan jaminan pasar. Selain itu perluasan pasar dari daerah produksi ke daerah daerah baru semakin meningkat seiring dengan semakin baiknya sarana dan prasarana transportasi.

Pemasaran Ekspor
Pengolahan ikan kering juga memiliki prospek yang cukup baik di pasar luar negeri. Data yang dipublikasikan oleh Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (2012) menunjukkan tren positif baik dari sisi nilai sementara volumenya mengalami trend negatif. Tabel 3.2 berikut menyajikan perkembangan ekspor ikan kering, garam atau diasap (HS0305) tahun 2007 2011.
ekspor ikan kering/asin

Tabel 3.2 menunjukkan bahwa pada periode 2007 – 2011 volume ikan kering, asin, garam ataupun diasap cenderung mengalami penurunan. Rata – rata penurunan volume ikan yang diekspor mencapai 12,94 persen
per tahun. Jika pada tahun 2007, volume ekspor mencapai 31 489 941 kg. Volume ini turun menjadi 17 094 678 kg pada tahun 2011. Dibandingkan dengan volume ekspor tahun 2010, volume ekspor ikan turun sebesar 34,68 persen pada tahun 2011. Penurunan ini cukup signifikan. Diduga penurunan ini disebabkan oleh makin meningkatnya permintaan ikan segar. Namun demikian, kondisi ini tidak terjadi pada nilai ekspor ikan kering, asin, garam atau di asap ini. Nilai ekpor komodiiti ini mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Pada periode yang sama nilai ekspor naik rata – rata 8,01 persen pertahun. Jika pada tahun 2007 nilai ekspor sebesar US $ 69 559 981, nilai ini menjadi US $ 92 156 875 pada tahun 2011. Pada tahun 2010 – 2011, kenaikan nilai ekspor mencapai 27,67 persen, yakni dari US $ 72 182 348 pada tahun 2010 menjadi US $ 92 156 875. Data ini mengindikasikan bahwa terjadi kenaikan harga ekspor ikan kering, asin, garam atau ikan asap. Ini dapat menjadi insentif tersendiri bagi produsen ikan kering di Indonesia, khususnya di Provinsi Bengkulu untuk meningkatkan produksi maupun kualitasnya.

Pasar ekspor ikan kering, asin, garam atau asap tersebar di seluruh benua dimana pasar Asia tetap merupakan pasar utama bagi produk ikan olahan ini. Tabel 3.3 berikut menyajikan perkembangan ekspor ikan kering, garam atau diasap (HS0305) tahun 2011 berdasarkan benua tujuan.

Tabel 3.3 menunjukkan bahwa negara negara di Asia merupakan pasar utama ekspor ikan kering, asin, garam atau asap pada tahun 2011, baik dari sisi volume maupun nilai. Pasar ikan di negara negara Asia ini
mencapai 94 persen dari total volume ekspor tahun 2011 diikuti negara negara Amerika sebesar 2,60 persen, sementara negara negara Afrika hanya mencapai 0,85 persen pada tahun yang sama. Dari sisi nilai, negara negara di Benua Asia menyumbang 96,86 persen dari total nilai ekspor Ikan Kering, Asin, Garam, atau Asap Indonesia pada tahun 2011. Data ini menunjukkan bahwa pasar produk Ikan Kering, Asin, Garam, atau Asap telah tersebar hampir diseluruh dunia dengan pasar utama negara negara Asia. Namun demikian, sebaran volume dan nilai belum merata untuk seluruh benua. Oleh sebab itu, upaya untuk memperluas pasar tampaknya perlu terus dilakukan.

Sumber :
Anonymous. 2013. Pola Pembiayaan UMKM Usaha Pengolahan Ikan Kering di Kota Bengkulu. Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu. Bengkulu

Comments