Suaka Alam Perairan Kepulauan Waigeo Sebelah Barat



Media Penyuluhan Perikanan -  PERAIRAN Perairan Kepulauan Waigeo sebelah Barat dan laut di sekitarnya ditetapkan menjadi Kawasan Konservasi Perairan Nasional (KKPN) pada 3 September 2009 melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor Kep.65/Men/2009. Keputusan tersebut menetapkan Perairan Kepulauan Waigeo sebelah Barat dan laut di sekitarnya sebagai Suaka Alam Perairan (SAP). Suaka Alam Perairan Kepulauan Waigeo sebelah Barat dan laut di sekitarnya di Provinsi Papua Barat terdiri atas Kepulauan Panjang dan laut di sekitarnya dengan luas sekitar 271.630 Hektar.

Suaka Alam Perairan Kepulauan Waigeo sebelah Barat dan laut di sekitarnya secara geografis terletak pada koordinat 0 derajat 24’29” - 0 derajat 14’22” LS dan 129 derajat 50’25” – 129 derajat 40’32” BT. Secara administratif wilayah ini masuk ke dalam Distrik Waigeo Barat Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat. Luas KKPN Kepulauan Waigeo sebelah Barat (Kepulauan Panjang) dan laut sekitarnya adalah 271.630 Ha

Kepulauan ini terletak di sebelah barat ekuator Lautan Pasifik dan di sebelah timur laut “alur masuk” arus lintas Indonesia dari Lautan Pasifik menuju Lautan Hindia. Sebagian besar kawasan ini terletak di salah satu bagian dari dua kawasan paparan benua yang dipisahkan oleh Selat Sagewin yang sempit. Keberadaan tepian paparan benua ini mengakibatkan tingginya variasi habitat laut dari perairan yang
jernih.

Kepulauan Raja Ampat meliputi lebih dari empat juta hektar kawasan darat dan laut. Termasuk diantaranya empat pulau besar yakni Waigeo, Batanta, Salawati, dan Misool. Kepulauan Raja Ampat beriklim tropis dengan variasi perubahan musim kemarau dan musim penghujan yang tidak menentu. Pada Mei-November umumnya bertiup angin pasat Tenggara sedangkan pada Desember-April bertiup angin Barat Laut.

Menurut Badan Meteorologi dan Geofisika Kabupaten Sorong, Kepulauan Raja Ampat mempunyai curah hujan rata-rata 2512 mm per tahun, dengan curah hujan tertinggi pada Juli yakni 298 mm dan jumlah hari hujan 19 hari. Suhu udara maksimum rata-rata 31,25 oC dan minimum rata-rata 25,12 oC dengan kelembaban rata-rata 81,5 %. Tinggi gelombang di Perairan Waigeo sebelah barat relatif rendah yakni antara 0-1 meter. Hal tersebut karena perairan Waigeo Sebelah Barat termasuk perairan terlindung.

Karakteristik fisik perairan Kepulauan Raja Ampat memungkinkan kawasan ini menjadi ‘tempat tinggal’ yang nyaman bagi sejumlah biota perairan khususnya terumbu karang. Kedalaman perairan yang relatif dangkal, kejernihan air dan intensitas keterpaparan cahaya matahari yang cukup, menjadikan perairan Raja Ampat sebagai habitat yang baik untuk komunitas karang.

Suaka alam Perairan (SAP) Kepulauan Waigeo sebelah Barat dan laut sekitarnya meliputi pulau-pulau dan perairan sekitar Pulau Sayang dan Kepulauan Wayag. Pulau Sayang dan Pulau Piai merupakan tempat peneluran utama penyu hijau dan Pulau Wayag sebagai tempat peneluran penyu sisik. Diduga kawasan ini juga sebagai tempat mencari makan bagi penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), duyung (Dugong dugon), serta penyu hijau (Chelonia mydas).

Potensi fauna pantai yang terdapat di Pulau Sayang dan sekitarnya diantaranya ketam kenari (Birgus latro), soa-soa (Hydrosaurus amboinensis), burung elang laut perut putih (Haliaeetus leucogaster), dara laut kepala putih (Anour minibus), nuri merah kepala hitam (Lorius lory), dan burung raja udang (Halcyon sp.). Jenis-jenis terumbu karang yang dijumpai di daerah ini diantaranya jenis Acropora sp. dan Porites sp. sedangkan jenis-jenis ikan hias diantaranya jenis kupu-kupu (Chaetodon spp.), sersan mayor (Abudefduf spp.), dan ikan badut (Amphiprion sp.), kepe-kepe (Pomacentrus spp.), dan mujair laut (Dascyllus spp.).

Biota laut langka-dilindungi yang terdapat di daerah ini adalah kima sisik (Tridacna squamosa), lola (Trochus niloticus), kima raksasa (Tridacna maxima), kima tapak kuda (Hippopus hippopus), akar bahar (Antiphates sp.), dan keong terompet (Charonia tritonis). Beberapa ancaman yang ada ialah adanya pengambilan biota laut yang dilindungi, penggunaan bahan peledak oleh nelayan yang menangkap ikan, dan pengambilan daging dan telur penyu.

Kepadatan lamun relatif tinggi di Pulau Waigeo khususnya sekitar Pulau Boni dengan tutupan rata-rata 65%. Jenis-jenis lamun yang ditemukan di Distrik Waigeo Barat dan Selatan adalah Enholus ocoroides, Holodule pinifolio, Holophiio ovolis, Thoiossio hemprichii dan Cymodoceo rotundoto. Potensi sumberdaya lamun di perairan ini cukup tinggi apabila ditinjau dari sumbangan nutrisi pada ekosistem terumbu karang di sekitarnya.

Berdasarkan hasil penelitian tercatat 537 jenis karang keras (CI, TNC-WWF), 9 diantaranya adalah jenis baru dan 13 jenis endemik. Jumlah ini merupakan 75 % karang dunia. Berdasarkan indeks kondisi karang, 60 % kondisi karang di Kepulauan Raja Ampat dalam kondisi baik dan sangat baik.

Potensi Perikanan
Perairan Raja Ampat sangat cocok untuk budidaya ikan-ikan karang (Kerapu dan Napoleon), rumput laut, mutiara dan teripang. Adapun potensi lestari perikanan tangkap perairan Raja Ampat (MSY) sebesar 590.600 ton/tahun dengan jumlah tangkapan yang diperbolehkan sekitar 472.000 ton/tahun (80% MSY). Menurut Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Raja Ampat sumberdaya yang telah dimanfaatkan baru sekitar 38.000 ton/tahun, sehingga peluang pemanfaatan masih sekitar 434.000 ton/tahun. Hal tersebut merupakan kesempatan bagi nelayan setempat untuk meningkatkan perekonomian dengan tetap menjaga kelestarian sumberdaya perikanan.


Sumber :
Suraji, dkk. 2010. Mengenal Potensi Kawasan Konservasi Perairan Nasional - Profil  Kawasan Konservasi Perairan Nasional. Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan. Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Kementerian Kelautan dan Perikanan. Jakarta 

Comments