Mengenal Taman Wisata Perairan Pulau Pieh

Media Penyuluhan Perikanan -  Salah satu dari 185 pulau-pulau kecil yang masuk dalam daerah administrattif Kabupaten Padang Pariaman adalah Pulau Pieh. Pulau Pieh dan Perairan Sekitarnya mempunyai potensi bahari dan biota laut yang perlu dilindungi dan dapat dikembangkan untuk pemanfaatan wisata bahari. Potensi yang dimiliki Pulau Pieh antara lain hamparan terumbu karang, topografi bawah laut
yang unik, ikan karang, penyu, mangrove, biota lainnya pantai pasir putih dan air laut yang jernih.

Keunikan lainnya dari Pulau Pieh yaitu daerah daratan di tengah pulau yang berupa lahan rawa yang langsung berhubungan dengan laut, dimana ketinggian air yang terdapat di rawa-rawa ini sangat dipengaruhi oleh pasang surut. Daerah ini dapat dikembangkan sebagai aquarium alam yang sangat menarik bagi wisatawan. Berdasarkan kondisi di atas Kawasan Pulau Pieh dan Perairan Sekitarnya telah ditunjuk oleh Menteri Kehutanan dan perkebunan RI sebagai Kawasan Taman Wisata Alam Laut (TWAL) berdasarkan Surat Keputusan No. 070/Kpts-II/2000 tanggal 28 Maret 2000 dengan luas kawasan 39.900 hektar. Penentuan status TWAL tersebut berdasarkan kriteria penentuan kawasan konservasi laut yang memiliki keanekaragaman biota laut dan lingkungan yang memungkinkan untuk dikembangkan sebagai objek wisata.

Saat ini Pengelolaan Pulau Pieh dan perairan sekitarnya telah diserahkan kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan sesuai dengan berita acara serah terima no: BA.01/menhut-IV/2009 dan No BA. 108/MEN.KP/III/2009 pada tanggal 4 maret 2009 dengan nama Taman Wisata Perairan Pulau Pieh dan Laut di sekitarnya (TWP Pulau Pieh).

Kawasan konservasi perairan dengan fungsi Taman Wisata Perairan Pulau Pieh dan Laut di sekitarnya, terdiri dari beberapa pulau, yaitu pulau Bando, Pulau Pieh, Pulau Air, Pulau Toran dan Pulau Pandan. Kawasan ini memiliki luas 39.900 Ha dan telah ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No.KEP. 70/MEN/2009 tentang Penetapan Kawasan Konservasi Perairan Nasional Pulau Pieh dan laut di sekitarnya di provinsi Sumatera Barat. Pulau Pieh dan laut disekitarnya ditetapkan sebagai Taman Wisata Perairan (TWP).

Pulau Pieh merupakan pulau sedimentasi yang ditengahnya di dominasi oleh lumpur, pecahan batu yang tipis dan tanah liat bercampur kapur yang masih berusia relative muda. Tanah pulau ini cukup subur namun tanahnya peka terhadap erosi. Tipe tanah tergolong rezinea dan carnbiosols dengan tekstur tanah baik (FAO-UNESCO, 1979) hal ini menunjukkan kandungan haranya lebih miskin dibandingkan dengan tanah hujan tropis pada umumnya (WWF 1980).

Di Pulau Pieh flora dominan adalah kelapa dan Nipah (Nypa frutican). Pada Pulau Pieh tumbuhan ini merupakan tempat hidup bagi berbagai jenis burung dan satwa daratan lainnya. Beberapa jenis burung yang
terdapat di Pulau Pieh antara lain, Elang Laut (Haliarctus leucogaster), Dara laut (Sterna sp.), Pucung (Roko-roko), Barabah, Barau-barau (Cucak rawa) dan Burung Raou. Reptil yang dijumpai di Pulau Pieh antara lain Biawak (Varanus sp.), Penyu hijau (Chelonia mydas) dan Penyu Sisik (Erecmochelys imbricata).

Terumbu Karang
Terumbu Karang memiliki produktivitas dan keanekaragaman yang tinggi. Fungsi ekologisnya antara lain sebagai tempat pemijahan, pembesaran, tempat mencari makan, terumbu karang juga dipandang penting karena produk yang dihasilkan seperti ikan karang, ikan hias, udang, alga dan bahan-bahan bio-aktif.

Berdasarkan hasil pengambilan data Loka KKPN Pekanbaru (2009) kondisi terumbu karang berada pada status jelek dengan nilai rata-rata tutupan karang sebesar 4%, nilai tersebut terdiri dari 1% Acropora dan 3% Non Acropora sebagian kawasan yang diamati ditumbuhi oleh Alga, 10,5% ditutupi oleh pasir, sementara sisanya ditutupi oleh Rubbie dan Sponge.

Disamping terumbu karang perairan Pieh juga sangat kaya dengan ikan karang, baik berupa ikan hias, maupun ikan konsumsi. Ikan hias laut di kawasan Pieh ini cukup potensial untuk didayagunakan, khususnya bagi wisata bawah air maupun objek penelitian.

Disamping ikan di Pieh juga dapat ditemui penyu, yaitu penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata). Pualu Pieh merupakan lokasi bertelurnya penyu-penyu tersebut. Penyu ini bertelur pada malam hari dari pukul 20.00 sampai 04.00.


Sumber :
Suraji, dkk. 2010. Mengenal Potensi Kawasan Konservasi Perairan Nasional - Profil  Kawasan Konservasi Perairan Nasional. Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan. Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Kementerian Kelautan dan Perikanan. Jakarta 

Comments