Junk Food Kurang Menyehatkan ? Tambah Alginat Aja !

Media Penyuluhan Perikanan - Makanan cepat saji (fast food) yang umumnya dikelola dalam suatu rantai restoran dengan sistem waralaba dengan cepat menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Alasan kepraktisan dan penyajiannya secara cepat dengan hasil masakan yang standar sehingga harganyapun standar hampir di semua lokasi menjadi daya tarik bagi konsumen sehingga bisnis ini berkembang cepat. Menyebut makanan cepat saji tak bisa lepas dari peran Amerika Serikat yang punya kepiawian dalam mempengaruhi selera dan gaya hidup masyarakat dunia. Sebut saja harmburger dan hotdog (frankfurter) asalnya dari Jerman, dan pizza asalnya dari Itali, tetapi yang menjadikan makanan tersebut mendunia adalah Amerika Serikat yang mengembangkan penjualan makanan tersebut melalui rantai restoran cepat saji. Begitu pula dengan ayam goreng yang telah dijual secara cepat saji di banyak tempat hingga ke kota-kota kecil di Indonesia.

Kepopuleran makanan cepat saji yang telah merebut hampir semua segmen di masyarakat dari semua kelompok umur tersebut mengkhawatirkan bagi para ahli gizi. Makanan cepat saji umumnya banyak mengandung lemak jenuh dengan komposisi nutrisi yang tidak seimbang, sehingga mendapat julukan sebagai junk food yang secara harfiah dapat diartikan sebagai “sampah”. Kurangnya serat (fiber), merupakan salah satu kelemahan yang sangat berbahaya. Serat berperan sangat penting untuk mencegah berbagai penyakit antara lain kanker usus besar, penyakit jantung dan penyakit lain akibat kegemukan. Celakanya, banyak anggota masyarakat kurang begitu menyukai makanan sumber serat seperti buah dan sayuran. Oleh karenanya, perlu dicari terobosan pengayaan serat pada makanan-makanan yang telah populer dan banyak dikonsumsi masyarakat.

Tim dari Universitas Newcastle Inggris telah mempublikasikan temuannya dalam Journal Critical Reviews in Food Science and Nutrition bahwa alginat, ekstrak dari sejenis rumput laut dapat digunakan untuk manambah kandungan serat pada cakes, burger, dan berbagai junk food serta makanan atau camilan lain yang umumnya banyak mengandung lemak jenuh dan kurang mengandung nutrisi yang menyehatkan. Tim ilmuwan melakukan riset keunggulan dari rumput laut coklat dari jenis Lessonia dan Laminaria. Kandungan alginat yang didapat dari ekstrak rumput laut tersebut terus diteliti manfaatnya dan kemungkinan aplikasi penggunaannya pada industi makanan. Tepung alginat tidak berbau dan berwarna putih gading atau sedikit kecoklatan. Dikatakan bahwa alginat telah terbukti memperkuat mucus, perlindungan alamiah dari dinding usus, dapat memperlambat pencernaan, dan dapat memperlambat pelepasan gizi di dalam tubuh. Lebih lanjut, alginat mengandung serat yang tinggi, mengandung mineral penting, mudah dicerna, enak dan aman.
Selama ini alginat telah banyak digunakan sebagai bahan jelly, perekat makanan bertepung, bahan pengental pada pembuatan minuman semacam bir, es krim, cream pada yoghurt dan lainlain. Kemungkinan penggunaan lain yang perlu dipopulerkan adalah sebagai bungkus sosis, mengingat sosis sebagai makanan praktis yang populer dan saat ini di Eropa masih banyak menggunakan gelatin yang berasal dari usus babi.

Masalah malnutrisi, saat ini tidak hanya kekurangan gizi tetapi juga kegemukan akibat pola makan dengan gizi tidak seimbang. Akibat malnutrisi tersebut sama-sama dapat menurunkan produktivitas masyarakat akibat penyakit yang ditimbulkannya. Guna memerangi hal tersebut, konsumsi serat menjadi hal penting yang perlu diprioritaskan dan penggunaan tepung alginat pada roti atau makanan pokok ataupun camilan yang banyak dikonsumsi masyarakat kiranya dapat menjadi alternatif. Agar lebih memasyakat, perlu dukungan penyediaan tepung alginat yang terjangkau dan sosialisasi penggunaannya hingga ke industri skala rumah tangga yang banyak memproduksi jajanan anak-anak.

Sumber : Manfaat Ikan, Ditjen P2HP (2012)

Comments