Wednesday, February 4, 2015

Mengelola Terumbu Karang Untuk Memberikan Manfaat Bagi Masyarakat Pesisir

Media Penyuluhan PerikananTerumbu karang memberikan berbagai manfaat bagi kita, seperti makanan, peluang untuk pendapatan dan pendidikan, tetapi tidak semua orang memiliki akses yang sama kepadanya, menurut sebuah studi baru yang dilakukan oleh ARC Centre of Excellence untuk Coral Reef Studies di James Cook University.

Para peneliti meneliti bagaimana orang-orang dari 28 komunitas nelayan di Madagaskar, Kenya, Tanzania, dan Seychelles mendapatkan manfaat dari laut.

Selama bertahun-tahun konservasi di negara berkembang didasarkan pada asumsi bahwa perbaikan kondisi ekosistem, seperti meningkatkan biomassa ikan terumbu karang, akan bermanfaat bagi masyarakat secara keseluruhan.
Mengelola Terumbu Karang Untuk Memberikan Manfaat Bagi Masyarakat Pesisir

Namun Dr. Christina Hicks, seorang ilmuwan sosial, mengatakan pendekatan ini terlalu sederhana.
"Peningkatan supply cenderung menguntungkan sebagian elit masyarakat, bukan masyarakat secara keseluruhan," kata Dr Hicks.

"Kita perlu melihat mekanisme akses sosial-ekonomi yang akan memungkinkan kelompok yang lebih banyak untuk mendapatkan keuntungan dari terumbu karang dan kemudian mengembangkan kebijakan berdasarkan informasi itu," katanya.

Rekan penulis studi ini Profesor Josh Cinner dari Coral CoE mengatakan fokus pada peningkatan pasokan tidak cukup.

"Kita perlu lebih memperhatikan bagaimana manfaat yang didistribusikan dan bagaimana hal itu diakses oleh orang yang berbeda dalam masyarakat," kata Profesor Cinner.

Para peneliti berpendapat bahwa para pembuat kebijakan perlu pendekatan yang lebih inklusif untuk mengelola terumbu karang, yang mencakup fokus pada peningkatan kesejahteraan.

"Kita cenderung fokus pada pertumbuhan ekonomi karena mudah untuk diukur, tetapi ini harus diperluas untuk mencakup cara orang dapat berbagi manfaat dari terumbu karang," kata Dr Hicks.

Sumber:
ARC Centre of Excellence in Coral Reef Studies. "Managing reefs to benefit coastal communities." ScienceDaily. ScienceDaily, 3 December 2014. <www.sciencedaily.com/releases/2014/12/141203111224.htm>.
Monday, February 2, 2015

Lindungi Otak Dari Kerusakan Akibat Merkuri Dengan Asam Lemak Ikan

Media Penyuluhan PerikananPenelitian Seychelles baru-baru ini memberikan penemuan baru tentang bukti lebih lanjut manfaat konsumsi ikan pada tahap perkembangan prenatal yang dapat mengimbangi risiko kelainan akibat paparan merkuri. Bahkan, studi baru, yang diterbitkan di American Journal of Clinical Nutrition, menunjukkan bahwa nutrisi yang ditemukan dalam ikan memiliki sifat yang melindungi otak dari efek racun kimia potensial.

Tiga dekade penelitian di Seychelles menunjukkan bahwa tingginya tingkat konsumsi ikan oleh ibu hamil (12 kali per minggu) tidak menghasilkan masalah perkembangan pada anak-anak mereka. Asam lemak tak jenuh ganda khusus (PUFA) - aktif menangkal kerusakan yang disebabkan di dalam otak oleh merkuri.

Lindungi Otak Dari Kerusakan Akibat Merkuri Dengan Asam Lemak Ikan
Edwin van Wijngaarden, Ph.D., dan profesor di University of Rochester Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat serta co-penulis studi ini mengatakan bahwa "Hal ini menjadi semakin jelas bahwa manfaat dari konsumsi ikan mungkin lebih besar daripada itu, atau bahkan bisa menghalau potensi efek yang merugikan dari merkuri."

"Penelitian ini memberikan kita kesempatan untuk mempelajari peran asam lemak tak jenuh ganda pada pengembangan dan potensinya untuk menambah atau melawan sifat beracun merkuri," kata Sean Saring, Ph.D., seorang profesor dari Human Nutrition di University Ulster di Irlandia Utara dan penulis utama studi tersebut. "Temuan ini menunjukkan bahwa jenis asam lemak yang dikonsumsi ibu selama kehamilan dapat membuat perbedaan dalam hal perkembangan saraf anak mereka." 

Merkuri ditemukan dalam lingkungan sebagai akibat dari aktivitas alam dan manusia (misalnya emisi pembangkit batu bara). Banyak yang disimpan di lautan dan sebagai hasilnya ikan juga terkena dampaknya dalam jumlah yang sangat kecil.

Hal ini telah menimbulkan kekhawatiran bahwa dampak kumulatif dari paparan pralahir dari merkuri melalui konsumsi ikan mungkin memiliki hasil kesehatan negatif, meskipun fakta bahwa hubungan antara paparan tingkat rendah dan konsekuensi perkembangan pada anak-anak tidak pernah secara definitif ditetapkan.


Namun pada saat yang sama, ikan adalah bahan pangan yang kaya akan berbagai nutrisi yang bermanfaat, termasuk asam lemak, yang penting untuk perkembangan otak, menyebabkan perbedaan di kalangan ilmuwan, pemerhati lingkungan, dan pembuat kebijakan atas risiko vs manfaat konsumsi ikan. Perdebatan ini memiliki konsekuensi yang signifikan bagi kesehatan global, karena miliaran orang di seluruh dunia bergantung pada ikan sebagai sumber utama protein bagi mereka.

Seychelles Child Development Study - kemitraan antara University of Rochester Ulster University, dan
Departemen Kesehatan dan Pendidikan Republik Seychelles - merupakan salah satu studi populasi terpanjang dan terbesar dari jenisnya. Seychelles, sekelompok pulau di Samudra Hindia, telah terbukti menjadi lokasi yang ideal untuk menguji dampak kesehatan potensial dari tingkat paparan rendah merkuri persisten. 89.000 warga mengkonsumsi ikan 10 kali lebih besar dari populasi Amerika Serikat dan Eropa.

Studi yang dipublikasikan hari ini diikuti lebih dari 1.500 ibu dan anak-anak mereka. Pada 20 bulan setelah kelahiran, anak-anak menjalani serangkaian tes yang dirancang untuk mengukur kemampuan mereka berkomunikasi, perilaku, dan keterampilan motorik. Para peneliti juga mengumpulkan sampel rambut dari ibu pada saat kehamilan mereka untuk mengukur tingkat paparan merkuri prenatal.

Para peneliti menemukan bahwa paparan merkuri tidak berkorelasi dengan nilai tes yang lebih rendah. Temuan ini dilacak dengan hasil penelitian sebelumnya oleh kelompok - beberapa di antaranya telah mengamati anak-anak di Seychelles ke usia 20-an - yang juga telah menunjukkan tidak ada hubungan antara konsumsi ikan dan perkembangan saraf berikutnya.

Para peneliti juga mengukur kadar PUFA yang ada dalam wanita hamil dan menemukan bahwa anak-anak dari ibu dengan tingkat
asam lemak yang tinggi (bentuk n3 yang berasal dari ikan) menunjukan hasil tes yang lebih baik. 

Sumber :
University of Rochester Medical Center. "Fatty acids in fish may shield brain from mercury damage." ScienceDaily. ScienceDaily, 21 January 2015. <www.sciencedaily.com/releases/2015/01/150121144835.htm>.
Thursday, January 22, 2015

Surat Edaran Menteri Kelautan dan Perikanan No. 18 Tahun 2015 Tentang Penangkapan Lobster (Panulirus spp.), Kepiting (Scylla spp.), dan Rajungan (Portunus spp.)

Media Penyuluhan Perikanan - Setelah tanggal 7 Januari 2015 telah diundangkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 1 Tahun 2015 Tentang Penangkapan Lobster (Panulirus spp.), Kepiting (Scylla spp.), dan Rajungan (Portunus spp.), pada hari Selasa, 20 Januari 2015 telah ditandatangani Surat Edaran Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 18/MEN-KP/I/2015 tentang Tentang Penangkapan Lobster (Panulirus spp.), Kepiting (Scylla spp.), dan Rajungan (Portunus spp.) khususnya terkait dengan ukuran berat yang boleh ditangkap dan diperjualbelikan.

Dalam Surat Edaran yang ditandatangani oleh Menteri Kelautan dan Perikanan tersebut dijelaskan bahwa Pernbatasan ukuran Lobster (Panulirus spp ) Kepiting (Scylla spp }, dan Rajungan (Portunus spp ) yang boleh ditangkap, dilaksanakan secara bertahap. Tahapan tersebut adalah sebagai berikut :

Bulan Januari 2015 sampai dengan bulan Desember 2015, ukuran berat yang boleh ditangkap dan diperjual belikan. yaitu:
  • Lobster (Panulirus spp.) dengan ukuran berat >200 (dua ratus) gram;
  • Kepiting (Scylla spp.) dengan ukuran berat >200 (dua ratus) gram; dan
  • Rajungan (Portunus spp.) dengan ukuran berat >55 (lima puluh lima) gram; dan
  • Kepiting soka (Scylla spp.) dengan ukuran berat >150 (seratus lima puluh) gram.
Bulan Januari 2016 dan seterusnya. ukuran dan berat yang boleh ditangkap yaitu:
  • Lobster (Panulirus spp.) dengan ukuran panjang karapas >8 (delapan) sentimeter atau dengan ukuran berat >300 (tiga ratus) gram;
  • Kepiting (Scylla spp.) dengan ukuran lebar karapas > 15 (lima belas) sentimeter atau dengan ukuran berat >350 (tiga ratus lima puluh) gram; dan
  • Rajungan (Portunus spp.) dengan ukuran lebar karapas >10 cm (sepuluh sentimeter) atau dengan ukuran berat >55 (lima puluh lima) gram.

Ketentuan pelarangan dan pembatasan penangkapan Lobster (Panulirus spp.), Kepiting (Scylla spp.), dan Rajungan (Portunus spp.) dikecualikan untuk kegiatan penelitian dan pengembangan. serta pendidikan.


Untuk lebih jelasnya mengenai Surat Edaran Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 18/MEN-KP/I/2015 tentang Tentang Penangkapan Lobster (Panulirus spp.), Kepiting (Scylla spp.), dan Rajungan (Portunus spp.) dapat di download di : link ini


Monday, January 19, 2015

Permen KP Nomor 2 Tahun 2015 Tentang LARANGAN PENGGUNAAN ALAT PENANGKAPAN IKAN PUKAT HELA (TRAWLS) DAN PUKAT TARIK (SEINE NETS) DI WILAYAH PENGELOLAAN PERIKANAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Media Penyuluhan Perikanan - Satu lagi Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan di Tahun 2015 ini yaitu Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 2/Permen-KP/2015 tentang LARANGAN PENGGUNAAN ALAT PENANGKAPAN IKAN PUKAT HELA (TRAWLS) DAN PUKAT TARIK (SEINE NETS) DI WILAYAH PENGELOLAAN PERIKANAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA. Permen KP ini diundangkan tanggal 9 Januari 2015.

Download Aturannya disini : Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 2/Permen-KP/2015

Permen KP Nomor 1 Tahun 2015 Tentang Penangkapan Lobster dan Rajungan

Media Penyuluhan Perikanan - Pada Tanggal 7 Januari 2015 telah diundangkan sebuah Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 1/Permen-KP/2015 tentang Penangkapan Lobster dan Rajungan. Permen KP ini berisi tentang Larangan melakukan  penangkapan lobster dan rajungan dalam kondisi bertelur. Untuk lebih jelasnya silahkan dowload aturannya di sini : Permen-KP Nomor 1/Permen-KP/2015


Wednesday, January 14, 2015

Mengelola Parameter Kualitas Air Di Tambak

Media Penyuluhan PerikananUntuk perkembangan dan tingkat kelangsungan hidup udang yang dipelihara, parameter kualitas air media harus berada pada kondisi yang optimal. Demikian pula pada kegiatan ujicoba ini dilakukan monitoring dan pengamatan parameter kualitas air media. Pengamatan parameter kualitas air yang dilakukan selama ujicoba berlangsung adalah pH, oksigen terlarut, nitrat, ammonia, bahan organik, suhu, salinitas, dan nitrit.

Kisaran optimum parameter kualitas air fisika dan kimia pada pemeliharaan udang di tambak.

1    Suhu    28-310C
2    Salinitas    15-25 g/l
3    Kecerahan    30-40 cm
4    Oksigen terlarut    4-8 mg/l
5    pH    7-8
6    Alkalinitas    100-120 mg/l
7    Karbondioksida    < 25 mg/l
8    Amoniak    < 0,01 mg/l
9    Nitrit (NO2)    < 0,1 mg/l
10    H2S    < 0,01 mg/l

Salah satu faktor pembatas yang cukup nyata dalam kehidupan udang ditambak adalah suhu air media pemeliharaan. Seringkali  didapatkan  udang mengalami  stres dan  bahkan mati disebabkan oleh perubahan suhu  dengan rentang perbedaan yang tinggi. Keadaan seperti  ini sering  terjadi pada tambak dengan kedalaman kurang dari  satu meter. Sebagai contoh musim kemarau dan perbedaan suhu yang sangat mencolok antara siang dan malam  hari.  Berdasarkan  hasil  penelitian  para ahli, terbukti bahwa pada suhu rendah metabolisme udang menjadi rendah dan secara nyata berpengaruh terhadap nafsu makan udang (Byod, 1989).  Sedangkan nilai suhu optimal bagi pertumbuhan dan perkembangan udang vaname berkisar antara 28,0 – 31,5 0C. Biasanya dalam pengukuran suhu mengunakan thermometer tetapi kebanyakan pengukuran suhu juga dapat dilakukan dengan mengunakan 1 alat yang sama dengan DO yaitu mengunakan DO meter.

Mengatasi Masalah Temperatur

Suhu rendah (terlalu rendah  pada musim  Angin  Timur atau selatan : < 26,50C), dampak : nafsu makan menurun  (bisa > 30%), pertumbuhan tidak normal, banyak energi (kalori) yang hilang, udang banyak mati, diantisipasi dengan kedalaman air minimum 1.3 m dan penggantian secara sirkulasi;
Mengelola Parameter Kualitas Air Di Tambak

Terlalu panas karena  air tidak mengalir dan tambak dangkal, antisipasi membuat  caren luas dan dalam, penggantian/sirkulsi air, kedalaman air dinaikan (> 1,0 m), dampak : udang bisa stres dan nafsu makan berkurang; dan c) Solusi kedua kondisi suhu tersebut adalah dengan cara mengatur strategi Musim Tanam yang tepat dan pengendalian optimasi penggantian air harian.

Mengelola Salinitas

Salinitas (kadar garam) air media pemeliharaan pada umumnya berpengaruh tehadap pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup udang (Anonim, 1985). Udang vaname  dapat tumbuh dan berkembang pada kisaran salinatas 15 – 25 ppt (Anonim, 1985 dan Ahmad, 1991), bahkan jenis udang windu mempunyai toleransi cukup luas yaitu antara 0 – 50 ppt. Namun apabila salinitas di bawah 5 ppt dan di atas 30 ppt biasanya pertumbuhan udang windu relatif lambat, hal ini terkait dengan proses osmoregulasi dimana akan mengalami gangguan  terutama pada saat udang sedang ganti kulit dan proses metabolisme. Salinitas dapat diukur dengan mengunakan Refraktometer.

Salinitas rendah  berbahaya  karena menurunkan oksigen, kekeruhan, pelapisan air dan kematian plankton disebabkan  hujan serta tambak berlokasi di darat. Antisipasi  : tandon besar yang tertutup dari sungai,  air  permukaan dibuang melalui pintu air monik atau PVC. Biasanya salinitas rendah kondisi udang cenderung berkulit tipis dan alkalinitas/pH rendah, sehingga diperlukan solusi dengan cara aplikasi kapur cukup intensif/rutin; b) Salinitas tinggi disebabkan musim kemarau. Antisipasi dengan cara tambak  dalam, lebih sering mengganti air dengan air laut, mengatur musim tanam. Pada salintas tinggi sering terjadi pertumbuhan udang relatif terhambat (pada musim kemarau salinitas > 30 ppt), pakan tambahan umumnya kurang efisien dan efektif (FCR tinggi), sensitif terhadap serangan patogen atau penyakit udang lainnya (virus, dll).

Mengelola pH

Tingkat kesaman (pH) tanah banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor pembentuknya, antara lain bahan organik dan berbagai jenis organisme air yang mengalami pembusukan, logam berat (besi, timah dan bouksit, dll). Biasanya pH tanah dasar tambak yang rendah diikuti tingginya kandungan bahan organik tanah yang terakumulasi dan tidak terjadi oksidasi yang sempurna (Anonim, 1985). pH tanah yang rendah cenderung dipengaruhi oleh kandungan logam berat seperti besi, timah dan logam lainnya. pH tanah yang optimal untuk kegiatan budidaya udang dan ikan berkisar antara 6,5 – 8,0 (Boyd, 1992). pH dapat diukur dengan mengunakan alat pH-meter.

a) pH rendah (< 7,5) dapat mengakibatkan nafsu makan udang berkurang, alkalinitas (buffer/pengendali pH) fluktuatif/tidak stabil, udang mudah stres/lemah; b) pH tinggi (> 9,0), nafsu makan udang berkurang, dampak : resiko ammonia (NH3) muncul mendadak, udang bisa mati, alkalinitas tidak stabil. Catatan  optimal untuk pH = 7,8-8,4 dan Alaklinitas = 90-140 ppm.

Mengelola Oksigen Terlarut


Jumlah kandungan oksigen (O2) yang terkandung dalam air disebut oksigen terlarut.Satuan kadar oksigen terlarut adalah mg/l.   Kelarutan oksigen dipengaruhi oleh beberapa faKtor diantaranya temperatur, salinitas, pH dan bahan organik. Salinitas semakin tinggi, kelarutan oksigen semakin rendah.Kelarutan oksigen untuk kebutuhan minimal pada air media pemeliharaan udang adalah> 3 mg/l.Oksigen terlarut dapat diukur dengan mengunakan DO-meter.

Oksigen terlalu rendah dapat disebabkan karena  klekap/lumut dan plankton mati, kekentalan air dan jumlah pakan sudah banyak. Antisipasi dengan pergantian air, penambahan kincir/ mesin perahu (sirkulasi).
Oksigen terlalu tinggi  karena  fitoplankton terlalu pekat pada siang dan sore hari. Antisipasi dengan pergantian air (pengenceran) dan pengaturan jam opersional kincir air, bias jugaditambahkanjumlahkincir yang sesuai dengan kebutuhan, biasanya tambak dengan ukuran 5000 m2dibutuhkan 4-6 kincir dengan kekuatan 1HP

Mengelola Ammonia

Kandungan ammonia dalam air media pemeliharaan merupakan hasil perombakan dari senyawa-senyawa nitrogen organic oleh bakteri atau dampak dari penambahan pupuk yang berlebihan. Senyawa ini sangat beracun bagi organisme perairan walaupun dalam  konsentrasi yang rendah. Konsentrasiamonia yang mampu ditolerir untuk kehidupan udang dewasa< 0,03 mg/l (Ahmad, 1991 dan Boyd, 1989), dan ukuran benih< 0,01 mg/l.pengukuran ammoniak dapat juga dilakukan dengan teskit tetapi tes yang paling akurat dengan metode specktrofotometer.

Amoniak bisa diturunkan dengan menurunkan pH air maupun dengan menurunkan pH tanah dengan mengunakan asam jawa baik buahnya maupun daunya, bisa juga dengan mengunakan pelepah pisang yang dicacah-cacah.

Mengeloa Nitrit


Kandungan nitrit yang tinggi didalam perairan sangat berbahaya bagi udang dan ikan, karena nitrit dalam darah mengoksidasi haemoglobin menjadi meta-haemoglobin yang tidak mampu mengedarkan oksigen, kandungan nitrit sebaiknya lebih kecil dari 0,3mg/l. Kadar oksigen terlarut dalam air merupakan faktor pembatas dan sangat berpengaruh terhadap berlangsungnya proses nitrifikasi. Pada salinitas di atas 20 ppt, batas ambang aman nitrit adalah <0.2 mg/l. Pengukuran nitrit dapat juga dilakukan dengan teskit-Nitrittetapites yang paling akurat dengan metode specktrofotometer

Di awal pemeliharaan/penyiapan air media di beri kapur 300 – 500 kg/ ha (pH air minimal  7.6) dan tambahkan kotoran ayam 150-300 kg/ Ha dan  Urea 0,1 ppm atau dengan jenis pupuk lainnya yang resiko rendah (seperti : NPK 3-5 ppm, Lodan 0,5-1 ppm, Plankton Catalys 0,5-1 ppm);

Bila air jernih akibat blooming tanaman air (lumut, ganggang, dll) atau nyamuk/cacing cyromid, lakukan dengan pembuangan bertahap secara mekanis kemudian berikan inokulan fitoplankton (bibit plankton) dan berikan pemupukan susulan sekitas 10% dari pemupukan awal;

Apabila air jernih akibat terlalu banyak zooplankton, matikan kincir siang/pagi hari, beri kaporit 1,5-2,5 ppm  atau formalin 15-20 ppm, kemudian diberi saponin 5 – 10 ppm bersama  dedak 3 ppm (rendam 24 jam : terjadi permentasi), saring dan diaplikasikan pagi hari;

Untuk menjaga kestabilan plankton dan lingkungan selama pemeliharaan dapat dilakukan dengan pemupukan susulan dan probiotik hasil permentasi secara terkendali.

Fitoplankton mati (air jernih/miskin fitoplankton), sebelum plankton mati  terlihat partikel-partikel di dalam air,  solusi : ganti air 15-25% dan pupuk dengan NPK : Urea : TSP  dengan perbandingan 4:2:1 kg/5.000 m2 atau jenis pupuk ysng lebih aman dan hati-hati apabila ada bibit tanman air (seperti lumut, gangeng, hidrilla, dll), hindari pemupukan langsung pada tambak pembesaran udang, penggunaan probiotik dan beri bibit fitoplankton; b) Setelah fitoplankton mati biasanya akan timbul buih/lendir yang mengapung (lakukan pembungan dan ganti air 30-50%), pasang kincir air 1 buah per 400 kg udang, bila air jernih kembali di pupuk serupa di atas; c) Klekap dicegah tumbuh di awal dengan Saponin 5-10 ppm, atau dicegah dengan ikan (bandeng) 20 gram/m2. Buih tidak putus (gelembung besar/kecil) hati-hati, penyebab : fitoplankton atau klekap mati (blooming), lumut mati,  lumpur organik (busuk) terlalu banyak, dll. Solusi : penggantian air 30-50% dengan air baru hasil treatmen kaporit 3-5 ppm (supali dari petak karantina); biasanya pH rendah aplikasikan kapur, usahakan malam hari dengan dosis 5-15 ppm (sesuikan jenis kapur dengan tujuannya) dan dapat ditambah zeolit (SiO4) 3-5 ppm.

Sumber:
Anonymous. 2012. Buku Pintar Budidaya  Udang (Diagnosa  Permasalahan, Antisipasi, Dan Solusinya). Pusat Penyuluhan KP – BPSDMKP. Jakarta