Friday, July 25, 2014

Mengetahui Biota Yang Hidup di Padang Lamun

Media Penyuluhan Perikanan - Tumbuhan lamun merupakan substrat (media tumbuh) yang memberikan perlindungan dan tempat menempel berbagai jenis hewan dan tumbuhan. Komunitas flora dan fauna padang lamun memiliki komposisi yang khas. Daunnya mendukung sejumlah besar organisme epifit (tumbuhan yang hidup menumpang pada tumbuhan lain) dengan suatu substrat penempelan yang cocok.

Tumbuhan lamun dapat tumbuh diperairan dangkal yang berpasir, namun juga dijumpai di terumbu karang yang membentuk vegetasi yang membentuk vegetasi yang lebat sehingga merupakan padang lamun (Seagress bed) yang luas. Di padang lamun juga hidup bermacam-macam biota laut seperti crutacea, molusca, cacing dan berbagai jenis ikan. Ada yang hidup menetap dipadang lamun ada pula sebagai pengunjung yang setia. Beberapa jenis ikan misalnya berkunjung ke padang lamun untuk mencari makanan  atau untuk memijah.

Beberapa jenis biota laut yang mempunyai nilai niaga menggunakan daerah padang lamun sebagai tempat asuhan, antara lain ikan baronang, duyung merupakan mamalia laut yang makanannya adalah lamun terutama Syringodium isotifolium . apabila air sedang surut rendah sebagian padang lamun ini tersembul keluar dari air terutama bila komponen utamanya adalah Enhalus acoroides yang berdaun seperti pita yang memanjang dan hewan yang berasosiasi dengan padang lamun, ikan (baronang, dugong), Molusca (kerang), crustasea (bintang laut, bulu babi, teripang, bintang rapuh) (Nontji, 2002 dalam Nopriandy, 2008).

Selanjutnya dikemukakan oleh Supriharyono (2007) bahwa produktifitas tersebut selain dari tumbuhan lamun juga berasal dari algae dan organisme yang menempel didaun. Sejumlah invetebrata seperti molusca (bipinna, lambis dan strombus), Enchodermata (tripang-holutoria, bulu babi-diadema sp), dan bintang laut (Archaster, Linckia) serta Crustasea (udang, kepiting)

1.     Moluska

Filum mollusca meliputi keong, kerang, tiram, cumi-cumi, gurita, sotong dan sebangsanya. Moluska merupakan komponen yang sangat penting dari ekosistem padang lamun, baik hubungannya ke biomasa maupun perannya didalam aliran energi, sebanyak 20 % - 60 % biomasa epifit di padang lamun dimanfaatkan oleh epifauna yang didominasi oleh gastropoda (Klumpp et al dalam Kiswara, 2004).
Menurut Romimohtarto dan Juwana, (2007 dalam Seringo, 2009) berdasarkan kesimetrisan bentuknya, sifat kaki, cangkang, insang dan sistem saraf maka moluska di bagi menjadi 7 kelas antara lain polyplacopora atau Amphineura (chiton), Gastropoda (keong), Pelecypoda atau Bivalia (kerang), Cephalopoda (cumi-cumi atau gurita), Scaphopoda (cangkang tanduk), Aplacopora dan Monoplacopora (hewan bercangkang yang kecil)

Gambar 9. Beberapa jenis moluska yang hidup dan berasosiasi di lamun
Gambar. Beberapa jenis moluska yang hidup dan berasosiasi di lamun


2.    Enchinodermata

Enchinodermata adalah filum hewan terbesar yang tidak memiliki anggota yang hidup di air tawar atau darat. Hewan-hewan ini juga mudah dikenali dari bentuk tubuhnya, kebanyakan memiliki simetri radial (menggambarkan hewan yang mempunyai bagian tubuh yang tersusun melingkar (bulat), jika diambil garis lewat mulut akan menghasilkan bagian-bagian yang sama), khususnya simetri radial pentameral (terbagi lima). Walaupun terlihat primitif, Echinodermata adalah filum yang berkerabat relatif dekat dengan Chordata (yang di dalamnya tercakup Vertebrata), dan simetri radialnya berevolusi secara sekunder. Larva bintang laut misalnya, masih menunjukkan keserupaan yang cukup besar dengan larva Hemichordata (Abidin, 2009). Kelompok Enchinodermata yang banyak kita jumpai antara lain Bintang laut, Lili Laut, Teripang, dan Bulu Babi didaerah padang lamun (Abdullah, 1999).                     
Gambar 10. Beberapa jenis echinodermata yang hidup dan berasosiasi di lamun
Gambar. Beberapa jenis echinodermata yang hidup dan berasosiasi di lamun


3.    Arthropoda

Arthropoda merupakan kelompok terbesar diantara seluruh duna hewan. Namanya berasal dari kakinya yang bersendi. Meskipun kelompok ini  mencakup udang dan kepiting dalam laut hanya tiga kelompok taksonomi yang mendapatkan perhatian  yakni Curtasea, Pycnogonida dan Arachnida.

Menurut Kikuchi dan Peres, 1973 dalam Listyo ( 2002) komunitas hewan termasuk krutasea mempergunakan padang lamun sebagai habitatnya, tempat memijah dan mencari makan. Komunitas hewan tersebut membentuk empat kategori struktur dan cara hidup dipadang lamun, yaitu Komunitas biota yang hidup pada daun hijau (segar) lamun (epifit, mikro-meiofauna), Komunitas biota yang menempel pada rimpang lamun (Polikhaeta, Krustasea, Moluska, Echinodermata), Kominitas biota yang hidup dalam sediman (bivalia, polikhaeta). Lebih lanjut peran padang lamun bagi komunitas biota kosumer, yaitu padang lamun sebagai habitat dari komunitas biota dan padang lamun sumber makanan biota.  
Crustacea dengan jumlah yang sangat besar dalam kelompok arthropoda yang terdiri dari hampir 50 jenis dan biasanya dimasukkan sebagai sub filum. Mereka termasuk jenis binatang seperti kepiting, lobster, udang laut, brenacles. Mayoritas mereka adalah hidup di air, baik yang tinggal di laut atau air tawar, tetapi beberapa kelompok dapat menyesuaikan dengan kehidupan di darat, seperti kepiting. Mayoritas krustasea bebas berpindah atau bebas bergerak (Romimohtarto, 2001)
Krustasea termasuk dalam salah satu biota konsumen dipadang lamun, isopoda dan tanaidacea memakan detritus dan rimpang lamun. Di samping itu beberapa decapoda memakan daun lamun dan beberapa kepiting dengan ukuran besar memakan moluska. Pada saat yang sama, beberapa ikan memakan udang dan kepiting kecil. Hal ini dapat dikatakan bahwa krustasea berperan dalam rantai makanan ( Listyo, 2002).
Riniatsih, 2001 dalam Agusriadi, 2010 mendapatkan bahwa kawasan padang lamun diperairan pantai Jepara merupakan habitat yang cocok  untuk kehidupan pasca larva udang famli Penaidae, Sergestidae, dan Luciferidae. Dimana asosiasinya sangat bervariasi dalam komposisi, kepadatan dan keanekaragaman jenisnya.

4.     Ikan

Berdasarkan cara hidup pada ekosistem padang lamun, asosiasi antara ikan dengan padang lamun terdiri dari 4 kategori, yaitu Dwintasari, 2009 dalam Agusriadi, 2010).
  1. Penghuni tetap dengan memijah dan menghabiskan sebagian basar hidupnya diekosistem padang lamun ( contoh Apogon margaritoporous)
  2. Menetap dengan menghabiskan seluruh hidupnya di ekosistem padang lamun ( contoh Haliochoeres leparensis, Pranaesus duodecimalis, Paramia quinqilineata, Gerres macrosoma, Monachantus tomentosus, Manachantus hajam)
  3. Menetap hanya pada saat tahap juvenil ( Siganus canaliculatus, Siganus virgatus, Siganus chrysospilos, Lethrinus sp)
  4. Menetap sewaktu-waktu atau singgah hanya mengunjungi padang lamun untuk berlindung atau cari makan.
Diperairan Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu hidup berbagai jenis ikan yang dikategorikan kedalam dua kelompok ikan komsumsi dan ikan hias yang keseluruhan tidak kurang dari 113 jenis sedangkan jenis ikan komsusmsi yang dijumpai di daerah padang lamun antaranya ikan kerapu, baronang, pari, ijo, sepah dan kwe (Abdullah, 1999).

Pengamatan ikan muda dari ikan kerapu (Epinchelus) pada padang lamun 1985. Mereka mencoba mengumpulkan informasi tentang komposisi jenis dan variasi musiman dari ikan-ikan kerapu muda, puncak musim ikan kerapu muda terjadi pada bulan Febuari s/d April dan komposisi jenis ikan kerapu yang ditemukan adalah E. bleekeri, E. fuscoguttatus, E. merra, E. morhua, E. septemfaciatus, E. tauvina, dan plectropoma sp. Jenis yang dominan adalah K. tauvina dn K. morhua (Sugama dan Eda, 1985 dalam Kiswara 2004).

Di pesisir pantai bama terdapat tujuh jenis ikan yang berasosiasi dengan lamun antara lain Siganus canaliculatus, Siganus guttaus, Acreicthys tomentous, Syngnathoides biaculeatus, Paracentropogon longispnis, Arothron immaculatus dan Acanthurus triostegus

Sumber :
Hilman, Iman dan Ratna Suharti. 2011. Pengelolaan Ekosistem Lamun. Materi Penyuluhan Kelautan dan Perikanan. Pusat Penyuluhan KP-BPSDMKP. Jakarta      
Thursday, July 24, 2014

Apa Fungsi Ekosistem Lamun ?

Media Penyuluhan Perikanan - Pada dasarnya ekosistem lamun memiliki fungsi yang hampir sama dengan ekosistem lain di perairan seperti ekosistem terumbu karang ataupun ekosistem mangrove, seperti sebagai habitat bagi beberapa organism laut, juga tempat perlindungan dan persembunyian dari predator. Menurut Azkab (1988), ekosistem lamun merupakan salah satu ekosistem di laut  dangkal yang paling produktif. Di samping itu ekosistem lamun mempunyai peranan penting dalam menunjang kehidupan dan perkembangan jasad hidup di laut dangkal, menurut hasil penelitian diketahui  bahwa peranan lamun di lingkungan perairan laut dangkal sebagai berikut:

1.    Sebagai Produsen Primer
Lamun mempunyai tingkat produktifitas primer tertinggi bila dibandingkan dengan ekosistem lainnya yang ada di laut dangkal seperti ekosistem terumbu karang  (Thayer et al. 1975).

2.    Sebagai Habitat Biota
Lamun memberikan tempat perlindungan dan tempat menempel berbagai hewan dan tumbuh-tumbuhan (alga). Disamping itu, padang lamun (seagrass beds) dapat juga sebagai daerah asuhan, padang pengembalaan  dan makan   dari berbagai  jenis ikan herbivora dan ikan–ikan karang (coral fishes) (Kikuchi dan Peres, 1977).

3.    Sebagai Penangkap Sedimen
Daun lamun yang  lebat akan memperlambat air yang disebabkan oleh arus dan ombak, sehingga perairan di sekitarnya menjadi tenang. Disamping itu, rimpang dan akar lamun dapat menahan  dan mengikat sedimen, sehingga dapat menguatkan  dan menstabilkan dasar permukaaan. Jadi padang lamun dapat berfungsi sebagai penangkap sedimen dapat mencegah erosi ( Gingsburg dan Lowestan 1958).

4.    Sebagai Pendaur Zat Hara
Lamun memegang peranan penting dalam pendauran barbagai zat hara dan elemen-elemen yang langka di lingkungan laut. Khususnya zat-zat hara yang dibutuhkan oleh algae epifit.

Gambar 7. Rantai makanan dalam ekosistem lamun
Gambar. Rantai makanan dalam ekosistem lamun

Sedangkan menurut Philips dan Menez (1988), ekosistem lamun merupakan salah satu ekosistem bahari yang produktif. Ekosistem lamun perairan dangkal mempunyai fungsi antara lain:

  1. Menstabilkan dan menahan sedimen–sedimen yang dibawa melalui Itekanan–tekanan dari  arus dan gelombang.
  2. Daun-daun memperlambat dan mengurangi arus dan gelombang serta mengembangkan sedimentasi.
  3. Memberikan perlindungan terhadap hewan–hewan muda dan dewasa yang berkunjung ke padang lamun.
  4. Daun–daun sangat membantu organisme-organisme epifit.
  5. Mempunyai produktifitas dan pertumbuhan yang tinggi.
  6. Menfiksasi karbon yang sebagian besar masuk ke dalam sistem daur rantai makanan.

Selanjutnya dikatakan Philips dan Menez (1988), lamun juga sebagai komoditi yang sudah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat baik secara tradisional maupun secara modern.

Secara tradisional lamun telah dimanfaatkan untuk digunakan untuk kompos dan pupuk; cerutu dan mainan anak-anak; dianyam menjadi keranjang; tumpukan untuk pematang; mengisi kasur; ada yang dimakan; dibuat jaring ikan.

Pada zaman modern ini, lamun telah dimanfaatkan untuk  penyaring limbah; Stabilizator pantai; Bahan untuk pabrik kertas; Makanan; Obat-obatan; Sumber bahan kimia.

Interaksi Lamun dengan Ekosistem Lain

Ekosistem padang lamun berinteraksi dengan ekosistem lain di sekitarnya. Interaksi terpenting ekosistem padang lamun adalah dengan ekosistem mangrove dan terumbu karang. Interaksi antara lamun dengan ekosistem lain dapat dilihat pada Gambar.

Gambar 8. Interaksi antara tiga ekosistem laut dangkal  (UNESCO, 1983 dalam Hutomo, 2004)
Gambar. Interaksi antara tiga ekosistem laut dangkal  (UNESCO, 1983 dalam Hutomo, 2004)

Penelitian para ahli di Karibia tentang interaksi antara ketiga ekosistem utama laut dangkal ini, berhasil mengklasifikasikan 5 (lima) tipe interaksi utama antara ketiga ekosistem tersebut. Adapun 5 (lima) tipe interaksi utama antara ketiga ekosistem tersebut, yakni interaksi-interaksi fisik, nutrient dan zat organik yang terlarut, materi organik melayang, ruaya hewan dan dampak manusia. Sebagai gambaran secara umum, pada lingkungan yang tidak terganggu, aliran nutrient terlarut dari mangrove telah meningkatkan produktivitas primer padang lamun. Padang lamun dan mangrove meningkatkan produktivitas sekunder terumbu karang dengan menyediakan tempat mencari makan. Fungsi pengendali sedimen kurang terlihat, tetapi peranannya menjadi sangat menonjol apabila lingkungan tersebut terganggu. Dalam keadaan ini, aliran dari darat ke laut menjadi faktor yang kritis karena kerusakan sistem lain dan sebaliknya (UNESCO, 1983 dalam Hutomo, 2004).

Sumber :
Hilman, Iman dan Ratna Suharti. 2011. Pengelolaan Ekosistem Lamun. Materi Penyuluhan Kelautan dan Perikanan. Pusat Penyuluhan KP-BPSDMKP. Jakarta
Wednesday, July 23, 2014

Parameter Lingkungan Penting Untuk Lamun (seagrass)

Media Penyuluhan Perikanan - Seperti halnya makhuk hidup yang lain, agar dapat berkembang dengan baik lamun memerlukan kondisi lingkungan yang cocok baginya. Beberapa parameter lingkungan yang penting untuk lamun adalah sebagai berikut :

1.    Suhu

Suhu merupakan faktor yang amat penting bagi kehidupan organisme dilautan,karenasuhu mempengaruhi aktifitas metabolisme ataupun perkembangbiakan dari organisme-organisme tersebut (Hutabarat dan Evans, 1986). Toleransi suhu dianggap sebagai faktor enting dalam menjelaskan biogeografi lamun dan suhu yang tinggi di perairan dangkal dapat juga menentukan batas kedalaman minimum untuk beberapa spesies (Larkum et al., 1989).

Kisaran suhu optimal bagi spesies lamun untuk perkembangan adalah 28°C-30°C, sedangkan untuk fotosintesis lamun membutuhkan suhu optimum antara 25°C-35°C dan padasaat cahaya penuh. Pengruh suhu bagi lamun sangat besar, suhu mempengaruhi proses-proses fisiologi yaitu fotosintesis,  laju respirasi, pertumbuhan dan reproduksi. Proses-proses fisiologi tersebut akan menurun ajam apabila suhu pereairan berada diluar kisaran tersebut (Berwick, 1983).

2.  Arus

Arus merupakan gerakan mengalir suatu masa air yang dapat disebabkan oleh tiupan angin, perbedaan densitas air laut ata dapat pula disebabkan oleh gerkan periodik jangka panjang. Arus yang disebabkan oleh gerakan periodik jangka panjang ini antara lain arus yang disebabkan oleh pasang surut (pasut). Arus yang disebabkan oleh pasang surut biasanyaa banyak diamati diperairan teluk dan pantai (Nontji,1993).

Kecepatan arus peraiaran berpengaruh pada produktifitas padang lamun. Turtle grass dapat menghasilkan hasil tetap ( standing crop) maksimal pada kecepatan arus 0.5m/det(Dahri et al., 1996). Arus tidak mempengaruhi penetrasi cahaya, kacuali jika ia mengangkat sedimen sehingga mengurangi penetrasi cahaya.

Aksi menguntungkan dari arus terhaap organisme terletak pada transport bahan makanantambahna bagi porganisme dan gdalam halpengangkutan buangan(Moore, 1958). Pada daerah yang arusnya cepat,sedimen pada padang lamunterdiri dari lumpur halus dan detritus. Hal ini mennunjukkan kemampuan tumbuhan lamun untuk mengurangi pengaruh arus sehingga mengurangi transport sedimen (Berwick, 1983 dalam Mintane,1998).

3.Salinitas

Salinitas atau kadar garam yaitu jumlah berat semua garam (dalam gram) yang terlarut dalam satu liter air, biasanya dinyatakan dalam satuan °/oo (permil). Sebaran salinitas dilaut dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pola sirkulasi air, penguapan, curah hujan dan aliran sungai (Nontji, 1993).

Spesies padang lamun mempunyai toleransi yang berbeda-beda, namun sebagaian besar memiliki kisaran yang lebar yaitu 10 °/oo - 40°/oo. Nilai optimum toleransi lamun terhadap salinitas air laut pada nilai 35 °/oo(Dahuri et al,. 1996).

4.    Kecerahan

Kecerahan perairan menunjukkan kemampuan cahaya untuk menembus lapisan air pada kedalaman tertentu. Pada perairan alami, kecerahan sangat penting karena erat kaitannya dengan proses fotosintesis. Kebutuhasn cahaya yang tinggi bagi lamun untuk kepentingan fotosintesis terlihat dari sebarannya yang terbatas pada daerah yang masih menerima cahaya matahari (Berwick, 1983 dalam Mintane, 1998). Nilai kecerahan perairan sangat dipengaruhi oleh kandungan Lumpur, kandugan plankton, dan zat-zat terlarut lainnya (Birowo et al dalam Mintane 1998).

5. Kekeruhan

Kekeruhan secara tidak langsung dapat mempengaruhi kehidupan lamun karena dapat menghalangi penetrasi cahaya yang dibutuhkan oleh lamun untuk berfotosintesis masuk ke dalam air. Kekeruhan dapat disebabkan oleh adanya partikel-partikel tersuspensi, baik oleh partikel-partikel hidup seperti plankton maupun partikel-partikel mati seperti bahan-bahan organik, sedimen dan sebagainya. Pada perairan pantai yang keruh, maka cahaya merupakan faktor pembatas pertumbuhan dan produksi lamun (Hutomo 1997).

6. Kedalaman

Kedalaman perairan dapat membatasi distribusi lamun secara vertikal. Lamun tumbuh di zona intertidal bawah dan subtidal atas hingga mencapai kedalaman 30  m. Zona intertidal dicirikan oleh tumbuhan pionir yang didominasi oleh Halophila ovalis, Cymodocea rotundata dan Holodule pinifolia, Sedangkan Thalassodendron ciliatum mendominasi zona intertidal bawah (Hutomo 1997). Selain itu, kedalaman perairan juga berpengaruh terhadap kerapatan dan pertumbuhan lamun. Brouns dan Heijs (1986) mendapatkan pertumbuhan tertinggi E. acoroides pada lokasi yang dangkal dengan suhu tinggi.

7.    Oksigen Terlarut (DO)

Kadar oksigen terlarut di perairan dipengaruhi oleh suhu,salinitas,dan turbulensi air. Kadar oksigen terlarut berkurang dengan semakin meningkatnya suhu, ketinggian/altitude dan berkurangnya tekanan atmosfer (Effendi,2000).

Kelarutan oksigen penting artinya dalam mempengaruhi keseimbangan komunitas dan kehidupan organisme perairan. Selai itu kanungan oksigen terlarut memppengaruhi keanekaragaman organisme suatu ekosistem perairan. Menurut Effendi(200) perairan yang diperuntukkan bagi kepentingan perikanan sebaikknya memilih kaar oksigen tidak kurang ari 5mg/l. Kadar oksigen terlarut kurang dari 4 mg/l mengakibatkan efek yang kurang menguntungkna bagi hampir semua organisme akuatik.
Sumber oksigen terlarut bisa berasal dari difusi oksigen yang terdapat di atmosfer sekitar 35% dan aktivitas fotosintesis oleh tumbuhan air dan fitoplankton (Novonty dan Olem, 1994 dalam Effendi ,2000).

8.    Substrat

Tumbuhan lamun membutuhkan dasar yang lunak untuk ditembus oleh akar-akar dan rimpangya guna menyokong tumbuhan ditempatnya. Lamun dapat memperoleh nutrisi baik dari air permukaan melalui helai daun-daunnya, maupun dari sedimen melalui akar dan rimpangnya (Mc Roy dan Barsdate,1970).

Kesesuaian substrat yang paling utama bagi perkembangan lamun ditandai dengan kandungan sedimen yang cukup. Semakin tipis substrat (sedimen) perairan akan menyebabkan kehidupan lamun yang tidak stabil, sebaliknya semakin tebal substrat, lamun akan tumbuh subur yaitu berdaun panjang dan rimbun serta pengikatan dan penangkapan sedimen semakin tinggi. Peranan kedalaman substrat dalam stabilitas sedimen mencakup dua hal,yaitu :1) pelindung tanaman dari arus laut.;  2) tempat pengolahan dan pemasok nutrien (Berwick, 1983).

Gambar 6.  Persentase tekstur substrat berdasarkan Segitiga Millar - Sumber : Brower and Zar (1977) dalam Hartati dan Awalluddin (2007)  
Padang lamun hidup diberbagia tipe sedimen, mulai dari lumpur sampai sedimen dasar yang terdiri dari 40% endapan Lumpur dan fine mud (Dahuri et al., 1996). Semua tipe substrat dihuni oleh tumbuhan lamun mulai dari lumpur lunak sampai batu-batuan, tetapi lamun yang paling luas dijumpai pada substrat yang lunak. Berdasarkan tipe karakteristik tipe substratnya padang lamun yang tumbuh diperairan Indonesia dapat dikelompokkan menjai 6 kategfori, yaitu : 1) Lumpur, 2) Lumpur pasiran, 3) Pasir, 4) Pasir lumpuran, 5) Puing karang dan 6) Batu karang. Pengelompokkan tipe substrat ini berdasarkan ukuran pertikelnya dengan menggunakan Segitiga Millar.

9.    Nutrien

Dinamika nutrien memegang peranan kunci pada ekosistem padang lamun dan ekosistem lainnya. Ketersediaan nutrien menjadi fektor pembatas pertumbuhan, kelimpahan dan morfologi lamun pada perairan yang jernih (Hutomo 1997). Unsur N dan P sedimen berada dalam bentuk terlarut di air antara, terjerap/dapat dipertukarkan dan terikat. Hanya bentuk terlarut dan dapat dipertukarkan yang dapat dimanfeatkan oleh lamun (Udy dan Dennison 1996). Ditambahkan bahwa kapasitas sedimen kalsium karbonat dalam menyerap fosfat sangat dipengaruhi oleh ukuran sedimen, dimana sedimen hahis mempunyai kapasitas penyerapan yang paling tinggi. Penyerapan nutrien oleh lamun dilakukan oleh daun dan akar. Penyerapan oleh daun umumnya tidak terlalu besar terutama di daerah tropik (Dawes 1981). Penyerapan nutrien dominan dilakukan oleh akar lamun (Erftemeijer 1993).

Sumber :
Hilman, Iman dan Ratna Suharti. 2011. Pengelolaan Ekosistem Lamun. Materi Penyuluhan Kelautan dan Perikanan. Pusat Penyuluhan KP-BPSDMKP. Jakarta
Tuesday, July 22, 2014

Klasifikasi dan Identifikasi Jenis-Jenis Lamun (seagrass)

Media Penyuluhan Perikanan - Pada sistem klasifikasi, lamun berada pada Sub kelas Monocotyledoneae, kelas Angiospermae. Dari 4 famili lamun yang diketahui, 2 berada di perairan Indonesia yaitu Hydrocharitaceae dan Cymodoceae. Famili Hydrocharitaceae dominan merupakan lamun yang tumbuh di air tawar sedangkan 3 famili lain merupakan lamun yang tumbuh di laut. 

Lamun merupakan tumbuhan yang beradaptasi penuh untuk dapat hidup di lingkungan laut. Eksistensi lamun di laut merupakan hasil dari beberapa adaptasi yang dilakukan termasuk toleransi terhadap salinitas yang tinggi, kemampuan untuk menancapkan akar di substrat sebagai jangkar, dan juga kemampuan untuk tumbuh dan melakukan reproduksi pada saat terbenam. Lamun juga memiliki karakteristik tidak memiliki stomata, mempertahankan kutikel yang tipis, perkembangan shrizogenous pada sistem lakunar dan keberadaan diafragma pada sistem lakunar. Salah satu hal yang paling penting dalam adaptasi reproduksi lamun adalah hidrophilus yaitu kemampuannya untuk melakukan polinasi di bawah air.

Klasifikasi dan Identifikasi Jenis-Jenis Lamun (seagrass)
Tumbuhan lamun terdiri dari akar rhizome dan daun . Rhizome merupakan batang yang terpendam dan merayap secara mendatar dan berbuku-buku. Pada buku-buku tersebut tumbuh batang pendek yang tegak ke atas, berdaun dan berbunga. Pada buku tumbuh pula akar (Nontji,1993). Lamun memiliki daun-daun tipis yang memanjang seperti pita yang mempunyai saluran-saluran air (Nybakken, 1992). Bentuk daun seperti ini dapat memaksimalkan difusi gas dan nutrien antara daun dan air, juga memaksimalkan proses fotosintesis di permukaan daun (Philips dan Menez, 1988).

Secara lengkap klasifikasi beberapa jenis lamun yang terdapat di perairan pantai Indonesia (Phillips dan Menez,1988) adalah sebagai berikut :

 Divisi            : Anthophyta
 Kelas             : Angiospermae
 Subkelas         : Monocotyledonae
 Ordo             : Helobiae
 Famili             : Hydrocharitaceae
 Genus             : Enhalus
 Species          : Enhalus acoroides
 Genus             : Halophila
 Species         :  Halophila decipiens
                                     Halophila ovalis
                                     Halophila minor
                                     Halophila spinulosa
Genus             : Thalasia
Species           : Thalasia hemprichii
Famili             : Cymodoceaceae
Genus            : Cymodocea
Species         : Cymodocea rotundata
                      Cymodocea serrulata
Genus           : Halodule
Species         : Halodule pinifolia
                      Halodule uninervis
Genus          : Syringodium
Species        : Syringodium isoetifolium
Genus          : Thalassodendron
Species     : Thalassodendron ciliatum

Daun menyerap hara langsung dari periran sekitarnya, mempunyai rongga untuk mengapung agar dapat berdiri tegak di air, tapi tidak banyak mengandung serat seperti tumbuhan rumput di darat (Hutomo,1997). Sebagian besar lamun berumah dua,artinya dalam satu tumbuhan hanya ada jantan saja atau betina saja. Sistem pembiakannya ber Lamum  di dunia terdiri atas 2 suku, 12 marga dan 50 jenis. Di Indonesia hanya dijumpai 12 jenis yang termasuk dalam tujuh marga.

Identifikasi Jenis Lamun

Kunci Identifikasi Lamun di Indonesia (Dimodifikasi dari Den Hartog 1970 dan Phillips dan Menez 1988)  sebagai berikut:

1.    Daun pipih.....................................................................................................2
2.    Daun berbentuk silindris.........................................Syringodium isoetifolium
3.    Daun bulat-panjang, bentuk seperti telur atau pisau wali...............Halophila
  • a.    Panjang helaian  daun 11 – 40 mm, mempunyai 10 - 25 pasang  tulang daun........Halophila ovalis
  • b.    Daun dengan 4-7 pasang tulang  daun....................................................c
  • c.    Daun sampai 22 pasang, tidak mempunyai tangkai daun, tangkai panjang........Halophila spinulosa
  • c1. Panjang daun 5-15 mm, pasangan daun dengan tegakan pendek............. ........Halophila minor
  • c2. Daun dengan pinggir yang bergerigi seperti gergaji.................Halophila decipiens
  • c3. Daun membujur seperti garis, biasanya panjang 50 – 200 mm.........3
3.    Daun berbentuk selempang yang menyempit pada bagian bawah...............4
  • a.  Tidak seperti diatas..........................................................................6
4.   Tulang daun tidak lebih dari 3............................................................Halodule
  • a.  Ujung daun membulat, ujung seperti gergaji .................Halodule pinifolia
  • b.  Ujung daun seperti trisula ............................................Halodule uninervis
  • c.  Tulang daun lebih dari    3............................................5
5.   Jumlah akar 1-5 dengan tebal 0,5 - 2 mm ujung daun seperti gigi ....... Thalassodendron ciliatum                                         
6. Tidak seperti diatas.....................................................................Cymodocea
  •  a. Ujung daun halus licin, tulang daun 9-15 ...............Cymodocea rotundata
  •  b. Ujung daun seperti gergaji, tulang daun 13-17........Cymodocea serrulata
7. Rimpang berdiameter 2-4 mm tanpa rambut-rambut kaku; panjang daun 100- 300 mm, lebar daun 4-10 mm..........................................Thalassia hemprichii
8. Rimpang berdiameter lebih 10 mm dengan rambut-rambut kaku; panjang daun   300-1500 mm, lebar 13-17 mm ................................Enhalus acoroides

Sumber :
Hilman, Iman dan Ratna Suharti. 2011. Pengelolaan Ekosistem Lamun. Materi Penyuluhan Kelautan dan Perikanan. Pusat Penyuluhan KP-BPSDMKP. Jakarta
Saturday, July 19, 2014

Pembenihan Lobster Air Tawar

Media Penyuluhan Perikanan - Gabungkan indukan jantan dan betina lobster menjadi satu dalam suatu media akuarium yang berukuran 1x 0,5 meter tinggi 25 cm bisa di masukan sekitar 5 lobster betina dan 3 lobster jantan. Satu jantan prinsipnya mampu membuahi 30 betina tetapi dalam perkawinan di akuarium digunakan 3 lobster jantan karena dalam perkawinan tersebut lobster betina lebih dominan dalam memilih pasangan yang cocok sehingga jika hanya ada 1 ekor lobster jantan di dalam akuarium, kemungkinan ke 5 lobster betina untuk kawin dan bertelur semua menjadi lebih kecil.

Kebiasaan lobster dalam melakukan perkawinan saling mencari kecocokan. Ketika mengawinkan lobster, ukuran tubuh lobster jantan dan betina tidak harus sama karena di habitat aslinya, lobster jantan memang memiliki tubuh lebih besar daripada lobster betina.

Jika media perkawinan menggunakan akuarium ukuran 1x 0,5 x 0,5 meter, letakan minimum 8 buah pipa paralon berdiameter 2 inci dan panjang 15-20 cm, tergantung pada ukuran indukan. Indukan berukuran 4 inci, panjang paralon yang digunakan 15 cm dan indukan dengan ukuran 5-6 inci panjang paralonnya 20 cm. Dua minggu setelah lobster jantan dan betina di gabungkan biasanya sudah ada indukan bertelur.
Pembenihan Lobster Air Tawar

Lobster dalam masa perkawinan akan saling berhadap-hadapan membentuk formasi huruf Y. Lobster jantan akan mengeluarkan sperma dan meletakannya di dekat pangkal ke dua kaki lobster betina. Sperma tersebut berwarna putih, menggumpal, agak keras, dan larut ke air. Setelah di buahi, lobster betina akan menyingkir dari lobster jantan sampai perlahan-lahan mengeluarkan telurnya dari lubang pangkal kaki ketiga melewati sperma lalu turun ke ekor atau abdomennya.

Telur di kumpulkan didalam abdomennya sambil ekornya menutup rapat selama seminggu pertama.

Selah minggu ke-2 atu ke-3 telur baru dapat menempel dengan baik di kaki renangnya, dan si betina akan berjalan keliling dengan ekor terbuka sehingga telurnya dapat terlihat. Dalam keadaan seperti ini induk dapat dipindahkan dari akuarium perkawinan, ke kolam penetasan yang berukuran 1x 2 meter, atau ke kolam penetasan masal menggunakan kurungan keranjang. Resiko meletakan induk ke dalam akuarium adalah harus memindah-mindahkan lagi, karena setelah satu bulan harus di pisah-pisahkan lagi ke dalam akuarium

Ciri Ciri Proses Pematangan Telur :
  1. Minggu kedua bentuk telur masih bulat
  2. Minggu ketiga mulai terlihat dua bintik hitam pada telur. Binitk hitam tersebut merupakan embrio
  3. Minggu keempat, capit, sungut, dan kakinya mulai tumbuh. Pada fase ini, lobster masih belum bisa mandiri. Jika fase ini telur rontok dari induknya kemungkinan besar embrio tersebut akan mati. Ketika menempel di kaki renang induknya, ibunya akan dengan telaten merawat embrio tersebut dengan cara menggoyang-goyangkan kaki renangnya untuk memberikan oksigen pada anak-anaknya, sering kali si induk akan merapikan telurnya menggunakan kaki jalannya.
  4. Minggu kelima hampir seluruh kuning telur sudah habis. Ketika, embrio mulai lepas satu persatu dari induknya untuk mencari makanan sendiri. Meskipun sudah lepas, embrio bisa saja menempel ke kaki renang induknya sehingga ketika anakan sudah lepas sekitar 70%, sisanya sebanyak 30% yang masih menempel sebaiknya dirontokan saja karena di khawatirkan naluri keibuannya sudah hilang akibat terlalu lama menggendong telur.
Setelah bersih, si induk betina dipindahkan ke akuarium lain untuk istirahat selama dua minggu sampai berganti kulit. Tujuannya, jika berganti kulit, ukuran lobster menjadi semakin besar, sehingga semakin banyak juga jumlah anakan yang dihasilkan pada penetasan berikutnya karena semakin besar tubuh lobster betina, kapasitas penyimpanan telurnya akan bertambah besar.

Semakin bertambah usia dan ukuran lobster, jumlah telurnya terus bertambah, tetapi frekuensi bertelurnya menjadi lebih jarang. Ketika sedang dalam masa istirahat panjang (1 bulan), ada kemungkinan induk sudah matang gonad. Induk seperti ini dapat mengeluarkan telur sendiri tanpa dibuahi. Namun, telur yang dihasilkan adalah telur kosong sehingga ketika induk menggendong telur selama 1-2 minggu dan merasakan bahwa telur yang digendongnya tidak ada pertumbuhan maka telur tersebut akan dimakannya.

Apabila air ditempat perkawinan dan air ditempat penetasan memiliki perbedaan suhu dan pH, letakan terlebih dulu lobster yang sedang bertelur tersebut kedalam baskom yang diisi dari akuarium perkawinan baru kemudian dipindahkan kekolam penetasan dengan dipercik-percikan air kolam supaya suhu dan pH air di baskom stabil.


Setelah menetas, anakan lobster tidak cocok diberi makanan dari jenis sayuran dan umbi-umbian sebaiknya merekan diberi cacing sutera atau cacing beku sehingga bisa memacu pertumbuhan denga baik. Jumlah pakan yang diberikan sebaiknya 3% dari berat badannya. Pada pagi hari pakan yang diberikan sebanyak 2% dan sore hari 75%.



Sumber :
Kristiany, Maria GE dan Mulyanto. 2011. Budidaya Lobster Air Tawar. Materi Penyuluhan Perikanan. Pusat Penyuluhan KP – BPSDMKP. Jakarta
Wednesday, July 16, 2014

Membedakan Kelamin dan Memilih Induk Lobster Air Tawar

Media Penyuluhan Perikanan - Sebelum melakukan pembenihan pembudidaya lobster harus dapat mengetahui terlebih dulu perbedaan antara lobster jantan dan betina. Cara membedakan kelamin yang paling muda adalah menggunakan teknis visual dari atas. Lobster jantan dapat di lihat jika pada capik sebelah luarnya terdapat bercak berwarna merah. Namun, tanda merah itu baru muncul ketika lobster berumur 3-4 bulan atau setelah lobster berukuran 3 inc (7 cm). Tanda merah ini juga merupakan tanda lobster jantan telah siap kawin (matang gonad). Sedangkan pada lobster betina di bagian yang sama tidak tampak tonjolan (penis). Ciri lobster betina adalah terdapat lubang pada pangkal kaki ketiga dari bawah (ekor). Lubang tersebut adalah kelamin lobster betina dan tempat mengeluarkan telurnya.

Membedakan Kelamin dan Memilih Induk Lobster Air Tawar
Untuk memilih indukan losbter air tawar, berikut tipsnya :
  1. Pilih indukan yang berukuran di atas 4 inci (10 cm) atau berumur di atas 5-6 bulan karena lobster seperti ini akan memiliki jumlah anakan cukup banyak. Tips memilih calon indukan yang berkualitas;
  2. Pilih indukan yang pertumbuhannya paling cepat di antara lobster-lobster yang lain
  3. Beli indukan di tempat penjual indukan yang telah bersertifikat
  4. Perhatikan kelaminnya, jangan pilih lobster yang ”banci”. Pasalnya ada indukan yang mempunyai indukan betina, tetapi juga memiliki kelamin jantan (sering di sebut dengan lobster banci). Lobster tersebut kemungkinan besar tidak bisa bertelur
  5. Pilih lobster yang badannya gemuk. Hindari memilih indukan yang kepalanya besar tetapi tubuh dan ekornya kecil. Ciri tersebut menandakan lobster kurang makan.
  6. Kawinkan lobster minimum ketika berumur 4 inci atau kira-kira berumur 5-6 bulan. Semakin kecil (muda) lobster di kawinkan, pertumbuhan anakannya akan selalu lambat. Misalnya, jika mengawinkan lobster ukuran 3 inci (7,5 cm) dan 4 inci (10 cm) akan jauh lebih cepat daripada yang 3 inci. Namun, bukan berarti ukuran tubuh anakan lobster 3 inci tidak bisa melebihi tubuh induknya. Lobster tersebut tetap bisa tumbuh melebihi induknya tetapi prosesnya lebih lambat. Lobster ukuran 3 inci memiliki jumlah telur maksimum 50 butir, sedangkan lobster berukuran 4 inci bisa menghasilkan telur 200 butir.
  7. Calon indukan lobster berkualitas bisa didapat dengan cara memisahkan lobster jantan dan betina ketika mereka berukuran 2 inci (5 cm). Paling bagus baru di kawinkan setelah masing-masing Mencapai ukuran maksimum 50 butir, sedangkan lobster berukuran 4 inci bisa menghasilkan telur 200 butir.
  8. Calon indukan lobster berkualitas bisa didapat dengan cara memisahkan lobster jantan dan betina ketika mereka berukuran 2 inci (5 cm). Paling bagus baru di kawinkan setelah masing-masing Mencapai ukuran minimum 4 inci (10 cm).
  9. Perlu juga diketahui asal usul lobster atau keluarganya pilih jenis lobster yang murni dari spesies tertentu agar pertumbuhan anakan lobster lebih baik
 Sumber :
Kristiany, Maria GE dan Mulyanto. 2011. Budidaya Lobster Air Tawar. Materi Penyuluhan Perikanan. Pusat Penyuluhan KP – BPSDMKP. Jakarta