Showing posts sorted by relevance for query Ikan Hias Tawar Ukuran Kecil. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query Ikan Hias Tawar Ukuran Kecil. Sort by date Show all posts
Saturday, May 17, 2014

Mengenal Ikan Pelangi/Kaskado, Ikan Air Tawar Langka

Media Penyuluhan Perikanan -  Ikan Pelangi/Kaskado memiliki nama Inggris Boeseman's Rainbowfish dengan ciri-ciri sebagai berikut :
  1. Tubuh pipih memanjang;
  2. 7-8 sisik Melintang pada tubuh,
  3. 4-16 sisik di depan sirip Punggung,
  4. 7-15 sisik pada pipi;
  5. Tinggi tubuh tertinggi 35,6-44,5% terhadap Panjang baku.
  6. Warna tubuh ikan Jantan dewasa biru kehitaman pada Kepala daan oranye cerah pada bagian belakang tubuh, sering terdapat bercak Gelap pada pertengahan tubuh;
  7. Betina dan jantan yang muda biasanya keseluruhan kekuningan sampai agak oranye, pada kepala bagian belakang kebiruan.
  8. Ukuran Panjang baku tubuh ikan Jantan Maksimal 90 mm ​​Dan betina sekitar 70 mm. 
Aspek Biologi: Ikan ini sudah bisa dikembangbiakkan, telur suka dimakan oleh induknya. Habitat alami ikan ini bersifat basa dengan pH mencapai 8

Penyebaran: Papua

Habitat: Danau (Danau Ajamaru Yang terletak di Bagian Hulu Sungai Ajamaru dengan ketinggian tempat 55 m dpl; Danau Aitinjo 20 km Sebelah Tenggara dari Danau Ajamaru; Dan Danau Hain)

Pemanfaatan: Ikan hias

Status: Dalam, Bahaya (IUCN, 2001)

Catatan / Rekomendasi: Jenis ikan ini sudah diperkenalkan kepada para hobiis (Penggemar ikan hias) sejak Tahun 1983. Sudah lama diperdagangkan dan diekspor ke beberapa negara

Sumber :
Anonymous. 2012. Ikan Air Tawar Langka di Indonesia. Direktorat Konservasi Kawasan Dan Jenis Ikan. Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil. Kementerian Kelautan dan Perikanan. Jakarta
Monday, June 13, 2016

Jenis Biota Yang Hidup Di Padang Lamun

Media Penyuluhan PerikananTumbuhan lamun merupakan substrat (media tumbuh) yang memberikan perlindungan dan tempat menempel berbagai jenis hewan dan tumbuhan. Komunitas flora dan fauna padang lamun memiliki komposisi yang khas. Daunnya mendukung sejumlah besar organisme epifit (tumbuhan yang hidup menumpang pada tumbuhan lain) dengan suatu substrat penempelan yang cocok.

Tumbuhan lamun dapat tumbuh diperairan dangkal yang berpasir, namun juga dijumpai di terumbu karang yang membentuk vegetasi yang membentuk vegetasi yang lebat sehingga merupakan padang lamun (Seagress bed) yang luas. Di padang lamun juga hidup bermacam-macam biota laut seperti crutacea, molusca, cacing dan berbagai jenis ikan. Ada yang hidup menetap dipadang lamun ada pula sebagai pengunjung yang setia. Beberapa jenis ikan misalnya berkunjung ke padang lamun untuk mencari makanan  atau untuk memijah. Beberapa jenis biota laut yang mempunyai nilai niaga menggunakan daerah padang lamun sebagai tempat asuhan, antara lain ikan baronang, duyung merupakan mamalia laut yang makanannya adalah lamun terutama Syringodium isotifolium . apabila air sedang surut rendah sebagian padang lamun ini tersembul keluar dari air terutama bila komponen utamanya adalah Enhalus acoroides yang berdaun seperti pita yang memanjang dan hewan yang berasosiasi dengan padang lamun, ikan (baronang, dugong), Molusca (kerang), crustasea (bintang laut, bulu babi, teripang, bintang rapuh) (Nontji, 2002 dalam Nopriandy, 2008).


Selanjutnya dikemukakan oleh Supriharyono (2007) bahwa produktifitas tersebut selain dari tumbuhan lamun juga berasal dari algae dan organisme yang menempel didaun. Sejumlah invetebrata seperti molusca (bipinna, lambis dan strombus), Enchodermata (tripang-holutoria, bulu babi-diadema sp), dan bintang laut (Archaster, Linckia) serta Crustasea (udang, kepiting)

1.     Moluska
Filum mollusca meliputi keong, kerang, tiram, cumi-cumi, gurita, sotong dan sebangsanya. Moluska merupakan komponen yang sangat penting dari ekosistem padang lamun, baik hubungannya ke biomasa maupun perannya didalam aliran energi, sebanyak 20 % - 60 % biomasa epifit di padang lamun dimanfaatkan oleh epifauna yang didominasi oleh gastropoda (Klumpp et al dalam Kiswara, 2004).

Menurut Romimohtarto dan Juwana, (2007 dalam Seringo, 2009) berdasarkan kesimetrisan bentuknya, sifat kaki, cangkang, insang dan sistem saraf maka moluska di bagi menjadi 7 kelas antara lain polyplacopora atau Amphineura (chiton), Gastropoda (keong), Pelecypoda atau Bivalia (kerang), Cephalopoda (cumi-cumi atau gurita), Scaphopoda (cangkang tanduk), Aplacopora dan Monoplacopora (hewan bercangkang yang kecil).

2.    Enchinodermata
Enchinodermata adalah filum hewan terbesar yang tidak memiliki anggota yang hidup di air tawar atau darat. Hewan-hewan ini juga mudah dikenali dari bentuk tubuhnya, kebanyakan memiliki simetri radial (menggambarkan hewan yang mempunyai bagian tubuh yang tersusun melingkar (bulat), jika diambil garis lewat mulut akan menghasilkan bagian-bagian yang sama), khususnya simetri radial pentameral (terbagi lima). Walaupun terlihat primitif, Echinodermata adalah filum yang berkerabat relatif dekat dengan Chordata (yang di dalamnya tercakup Vertebrata), dan simetri radialnya berevolusi secara sekunder. Larva bintang laut misalnya, masih menunjukkan keserupaan yang cukup besar dengan larva Hemichordata (Abidin, 2009). Kelompok Enchinodermata yang banyak kita jumpai antara lain Bintang laut, Lili Laut, Teripang, dan Bulu Babi didaerah padang lamun (Abdullah, 1999).    
                 
3.    Arthropoda
Arthropoda merupakan kelompok terbesar diantara seluruh duna hewan. Namanya berasal dari kakinya yang bersendi. Meskipun kelompok ini  mencakup udang dan kepiting dalam laut hanya tiga kelompok taksonomi yang mendapatkan perhatian  yakni Curtasea, Pycnogonida dan Arachnida.
Menurut Kikuchi dan Peres, 1973 dalam Listyo ( 2002) komunitas hewan termasuk krutasea mempergunakan padang lamun sebagai habitatnya, tempat memijah dan mencari makan. Komunitas hewan tersebut membentuk empat kategori struktur dan cara hidup dipadang lamun, yaitu Komunitas biota yang hidup pada daun hijau (segar) lamun (epifit, mikro-meiofauna), Komunitas biota yang menempel pada rimpang lamun (Polikhaeta, Krustasea, Moluska, Echinodermata), Kominitas biota yang hidup dalam sediman (bivalia, polikhaeta). Lebih lanjut peran padang lamun bagi komunitas biota kosumer, yaitu padang lamun sebagai habitat dari komunitas biota dan padang lamun sumber makanan biota.  

Crustacea dengan jumlah yang sangat besar dalam kelompok arthropoda yang terdiri dari hampir 50 jenis dan biasanya dimasukkan sebagai sub filum. Mereka termasuk jenis binatang seperti kepiting, lobster, udang laut, brenacles. Mayoritas mereka adalah hidup di air, baik yang tinggal di laut atau air tawar, tetapi beberapa kelompok dapat menyesuaikan dengan kehidupan di darat, seperti kepiting. Mayoritas krustasea bebas berpindah atau bebas bergerak (Romimohtarto, 2001)
Krustasea termasuk dalam salah satu biota konsumen dipadang lamun, isopoda dan tanaidacea memakan detritus dan rimpang lamun. Di samping itu beberapa decapoda memakan daun lamun dan beberapa kepiting dengan ukuran besar memakan moluska. Pada saat yang sama, beberapa ikan memakan udang dan kepiting kecil. Hal ini dapat dikatakan bahwa krustasea berperan dalam rantai makanan ( Listyo, 2002).

Riniatsih, 2001 dalam Agusriadi, 2010 mendapatkan bahwa kawasan padang lamun diperairan pantai Jepara merupakan habitat yang cocok  untuk kehidupan pasca larva udang famli Penaidae, Sergestidae, dan Luciferidae. Dimana asosiasinya sangat bervariasi dalam komposisi, kepadatan dan keanekaragaman jenisnya.

4.     Ikan

Berdasarkan cara hidup pada ekosistem padang lamun, asosiasi antara ikan dengan padang lamun terdiri dari 4 kategori, yaitu Dwintasari, 2009 dalam Agusriadi, 2010).

  1. Penghuni tetap dengan memijah dan menghabiskan sebagian basar hidupnya diekosistem padang lamun ( contoh Apogon margaritoporous)
  2. Menetap dengan menghabiskan seluruh hidupnya di ekosistem padang lamun ( contoh Haliochoeres leparensis, Pranaesus duodecimalis, Paramia quinqilineata, Gerres macrosoma, Monachantus tomentosus, Manachantus hajam)
  3. Menetap hanya pada saat tahap juvenil ( Siganus canaliculatus, Siganus virgatus, Siganus chrysospilos, Lethrinus sp)
  4. Menetap sewaktu-waktu atau singgah hanya mengunjungi padang lamun untuk berlindung atau cari makan.
Diperairan Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu hidup berbagai jenis ikan yang dikategorikan kedalam dua kelompok ikan komsumsi dan ikan hias yang keseluruhan tidak kurang dari 113 jenis sedangkan jenis ikan komsusmsi yang dijumpai di daerah padang lamun antaranya ikan kerapu, baronang, pari, ijo, sepah dan kwe (Abdullah, 1999).

Pengamatan ikan muda dari ikan kerapu (Epinchelus) pada padang lamun 1985. Mereka mencoba mengumpulkan informasi tentang komposisi jenis dan variasi musiman dari ikan-ikan kerapu muda, puncak musim ikan kerapu muda terjadi pada bulan Febuari s/d April dan komposisi jenis ikan kerapu yang ditemukan adalah E. bleekeri, E. fuscoguttatus, E. merra, E. morhua, E. septemfaciatus, E. tauvina, dan plectropoma sp. Jenis yang dominan adalah K. tauvina dn K. morhua (Sugama dan Eda, 1985 dalam Kiswara 2004).

Di pesisir pantai bama terdapat tujuh jenis ikan yang berasosiasi dengan lamun antara lain Siganus canaliculatus, Siganus guttaus, Acreicthys tomentous, Syngnathoides biaculeatus, Paracentropogon longispnis, Arothron immaculatus dan Acanthurus triostegus.



Sumber :
Hilman, Iman dan Ratna Suharti. Pengelolaan Ekosistem Lamun. Materi Penyuluhan Kelautan dan Perikanan. Badan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan. Jakarta


Friday, July 25, 2014

Mengetahui Biota Yang Hidup di Padang Lamun

Media Penyuluhan Perikanan - Tumbuhan lamun merupakan substrat (media tumbuh) yang memberikan perlindungan dan tempat menempel berbagai jenis hewan dan tumbuhan. Komunitas flora dan fauna padang lamun memiliki komposisi yang khas. Daunnya mendukung sejumlah besar organisme epifit (tumbuhan yang hidup menumpang pada tumbuhan lain) dengan suatu substrat penempelan yang cocok.

Tumbuhan lamun dapat tumbuh diperairan dangkal yang berpasir, namun juga dijumpai di terumbu karang yang membentuk vegetasi yang membentuk vegetasi yang lebat sehingga merupakan padang lamun (Seagress bed) yang luas. Di padang lamun juga hidup bermacam-macam biota laut seperti crutacea, molusca, cacing dan berbagai jenis ikan. Ada yang hidup menetap dipadang lamun ada pula sebagai pengunjung yang setia. Beberapa jenis ikan misalnya berkunjung ke padang lamun untuk mencari makanan  atau untuk memijah.

Beberapa jenis biota laut yang mempunyai nilai niaga menggunakan daerah padang lamun sebagai tempat asuhan, antara lain ikan baronang, duyung merupakan mamalia laut yang makanannya adalah lamun terutama Syringodium isotifolium . apabila air sedang surut rendah sebagian padang lamun ini tersembul keluar dari air terutama bila komponen utamanya adalah Enhalus acoroides yang berdaun seperti pita yang memanjang dan hewan yang berasosiasi dengan padang lamun, ikan (baronang, dugong), Molusca (kerang), crustasea (bintang laut, bulu babi, teripang, bintang rapuh) (Nontji, 2002 dalam Nopriandy, 2008).

Selanjutnya dikemukakan oleh Supriharyono (2007) bahwa produktifitas tersebut selain dari tumbuhan lamun juga berasal dari algae dan organisme yang menempel didaun. Sejumlah invetebrata seperti molusca (bipinna, lambis dan strombus), Enchodermata (tripang-holutoria, bulu babi-diadema sp), dan bintang laut (Archaster, Linckia) serta Crustasea (udang, kepiting)

1.     Moluska

Filum mollusca meliputi keong, kerang, tiram, cumi-cumi, gurita, sotong dan sebangsanya. Moluska merupakan komponen yang sangat penting dari ekosistem padang lamun, baik hubungannya ke biomasa maupun perannya didalam aliran energi, sebanyak 20 % - 60 % biomasa epifit di padang lamun dimanfaatkan oleh epifauna yang didominasi oleh gastropoda (Klumpp et al dalam Kiswara, 2004).
Menurut Romimohtarto dan Juwana, (2007 dalam Seringo, 2009) berdasarkan kesimetrisan bentuknya, sifat kaki, cangkang, insang dan sistem saraf maka moluska di bagi menjadi 7 kelas antara lain polyplacopora atau Amphineura (chiton), Gastropoda (keong), Pelecypoda atau Bivalia (kerang), Cephalopoda (cumi-cumi atau gurita), Scaphopoda (cangkang tanduk), Aplacopora dan Monoplacopora (hewan bercangkang yang kecil)

Gambar 9. Beberapa jenis moluska yang hidup dan berasosiasi di lamun
Gambar. Beberapa jenis moluska yang hidup dan berasosiasi di lamun


2.    Enchinodermata

Enchinodermata adalah filum hewan terbesar yang tidak memiliki anggota yang hidup di air tawar atau darat. Hewan-hewan ini juga mudah dikenali dari bentuk tubuhnya, kebanyakan memiliki simetri radial (menggambarkan hewan yang mempunyai bagian tubuh yang tersusun melingkar (bulat), jika diambil garis lewat mulut akan menghasilkan bagian-bagian yang sama), khususnya simetri radial pentameral (terbagi lima). Walaupun terlihat primitif, Echinodermata adalah filum yang berkerabat relatif dekat dengan Chordata (yang di dalamnya tercakup Vertebrata), dan simetri radialnya berevolusi secara sekunder. Larva bintang laut misalnya, masih menunjukkan keserupaan yang cukup besar dengan larva Hemichordata (Abidin, 2009). Kelompok Enchinodermata yang banyak kita jumpai antara lain Bintang laut, Lili Laut, Teripang, dan Bulu Babi didaerah padang lamun (Abdullah, 1999).                     
Gambar 10. Beberapa jenis echinodermata yang hidup dan berasosiasi di lamun
Gambar. Beberapa jenis echinodermata yang hidup dan berasosiasi di lamun


3.    Arthropoda

Arthropoda merupakan kelompok terbesar diantara seluruh duna hewan. Namanya berasal dari kakinya yang bersendi. Meskipun kelompok ini  mencakup udang dan kepiting dalam laut hanya tiga kelompok taksonomi yang mendapatkan perhatian  yakni Curtasea, Pycnogonida dan Arachnida.

Menurut Kikuchi dan Peres, 1973 dalam Listyo ( 2002) komunitas hewan termasuk krutasea mempergunakan padang lamun sebagai habitatnya, tempat memijah dan mencari makan. Komunitas hewan tersebut membentuk empat kategori struktur dan cara hidup dipadang lamun, yaitu Komunitas biota yang hidup pada daun hijau (segar) lamun (epifit, mikro-meiofauna), Komunitas biota yang menempel pada rimpang lamun (Polikhaeta, Krustasea, Moluska, Echinodermata), Kominitas biota yang hidup dalam sediman (bivalia, polikhaeta). Lebih lanjut peran padang lamun bagi komunitas biota kosumer, yaitu padang lamun sebagai habitat dari komunitas biota dan padang lamun sumber makanan biota.  
Crustacea dengan jumlah yang sangat besar dalam kelompok arthropoda yang terdiri dari hampir 50 jenis dan biasanya dimasukkan sebagai sub filum. Mereka termasuk jenis binatang seperti kepiting, lobster, udang laut, brenacles. Mayoritas mereka adalah hidup di air, baik yang tinggal di laut atau air tawar, tetapi beberapa kelompok dapat menyesuaikan dengan kehidupan di darat, seperti kepiting. Mayoritas krustasea bebas berpindah atau bebas bergerak (Romimohtarto, 2001)
Krustasea termasuk dalam salah satu biota konsumen dipadang lamun, isopoda dan tanaidacea memakan detritus dan rimpang lamun. Di samping itu beberapa decapoda memakan daun lamun dan beberapa kepiting dengan ukuran besar memakan moluska. Pada saat yang sama, beberapa ikan memakan udang dan kepiting kecil. Hal ini dapat dikatakan bahwa krustasea berperan dalam rantai makanan ( Listyo, 2002).
Riniatsih, 2001 dalam Agusriadi, 2010 mendapatkan bahwa kawasan padang lamun diperairan pantai Jepara merupakan habitat yang cocok  untuk kehidupan pasca larva udang famli Penaidae, Sergestidae, dan Luciferidae. Dimana asosiasinya sangat bervariasi dalam komposisi, kepadatan dan keanekaragaman jenisnya.

4.     Ikan

Berdasarkan cara hidup pada ekosistem padang lamun, asosiasi antara ikan dengan padang lamun terdiri dari 4 kategori, yaitu Dwintasari, 2009 dalam Agusriadi, 2010).
  1. Penghuni tetap dengan memijah dan menghabiskan sebagian basar hidupnya diekosistem padang lamun ( contoh Apogon margaritoporous)
  2. Menetap dengan menghabiskan seluruh hidupnya di ekosistem padang lamun ( contoh Haliochoeres leparensis, Pranaesus duodecimalis, Paramia quinqilineata, Gerres macrosoma, Monachantus tomentosus, Manachantus hajam)
  3. Menetap hanya pada saat tahap juvenil ( Siganus canaliculatus, Siganus virgatus, Siganus chrysospilos, Lethrinus sp)
  4. Menetap sewaktu-waktu atau singgah hanya mengunjungi padang lamun untuk berlindung atau cari makan.
Diperairan Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu hidup berbagai jenis ikan yang dikategorikan kedalam dua kelompok ikan komsumsi dan ikan hias yang keseluruhan tidak kurang dari 113 jenis sedangkan jenis ikan komsusmsi yang dijumpai di daerah padang lamun antaranya ikan kerapu, baronang, pari, ijo, sepah dan kwe (Abdullah, 1999).

Pengamatan ikan muda dari ikan kerapu (Epinchelus) pada padang lamun 1985. Mereka mencoba mengumpulkan informasi tentang komposisi jenis dan variasi musiman dari ikan-ikan kerapu muda, puncak musim ikan kerapu muda terjadi pada bulan Febuari s/d April dan komposisi jenis ikan kerapu yang ditemukan adalah E. bleekeri, E. fuscoguttatus, E. merra, E. morhua, E. septemfaciatus, E. tauvina, dan plectropoma sp. Jenis yang dominan adalah K. tauvina dn K. morhua (Sugama dan Eda, 1985 dalam Kiswara 2004).

Di pesisir pantai bama terdapat tujuh jenis ikan yang berasosiasi dengan lamun antara lain Siganus canaliculatus, Siganus guttaus, Acreicthys tomentous, Syngnathoides biaculeatus, Paracentropogon longispnis, Arothron immaculatus dan Acanthurus triostegus

Sumber :
Hilman, Iman dan Ratna Suharti. 2011. Pengelolaan Ekosistem Lamun. Materi Penyuluhan Kelautan dan Perikanan. Pusat Penyuluhan KP-BPSDMKP. Jakarta      
Tuesday, March 22, 2016
Teknik Pemijahan Ikan Hias Air Tawar Neon Tetra

Teknik Pemijahan Ikan Hias Air Tawar Neon Tetra

Media Penyuluhan Perikanan - Keberhasilan pemijahan ikan neon tetra diindikasikan oleh banyaknya telur yang dihasilkan dengan kualitas yang baik. Pemijahan ikan neon tetra berlangsung secara alami. Pada kondisi tersebut keberhasilan pemijahan lebih banyak ditentukan oleh teknik manipulasi lingkungan. Oleh karena itu, untuk menghasilkan telur yang baik, selain penanganan calon induk harus dilakukan dengan hati-hati dan pemberian pakan yang tepat, juga penanganan kualitas air harus dilakukan dengan baik.


PENYIAPAN WADAH
       Wadah yang diperlukan untuk pemijahan berupa akuarium yang berukuran 15x15x15 cm atau 25x15x15 cm. Akuarium terbuat dari kaca dengan ketebalan 5 mm. Akuarium ini selanjutnya juga digunakan sebagai wadah untuk penetasan telur dan pemeliharaan larva. Sebelum digunakan akuarium harus dibersihkan.
       Akuarium yang berukuran lebih kecil diisi dengan air tandon lama setinggi 7 cm sehingga volume air dalam wadah sebanyak 15 liter. Akuarium yang berukuran lebih besar diisi air tandon lama dengan ketinggian 4 – 5 cm. Maksud pengisian air sebatas 7 cm atau 4-5 cm ini adalah untuk memberikan tekanan agar induk tidak memakan telur yang telah dikeluarkannya karena ikan neon tetra termasuk ikan charasin yang tidak merawat telurnya (non parental care). Wadah yang telah diisi dibiarkan sehari semalam agar air lebih stabil, sehingga pengisian air dilakukan sehari sebelum penebaran induk dilakukan.

PENEBARAN INDUK
       Pemijahan ikan Neon Tetra dilakukan secara alami, yaitu induk betina mengeluarkan telur yang diikuti dengan induk jantan yang mengeluarkan sperma di dalam akuarium pemijahan yang telah disiapkan sebelumnya.
       Ikan yang telah diseleksi dimasukkan ke dalam akuarium pemijahan untuk dipijahkan secara berpasangan pada waktu sore hari. Perbandingan jumlah induk jantan dan betina adalah 1:1 atau 2:1.
       Induk yang dimasukkan terlebih dahulu adalah induk jantan, selang satu jam kemudian dimasukkan induk betina. Apabila menggunakan rasio jantan betina 1:1 dipakai akuarium ukuran 15x15x15 cm, sedangkan untuk rasio   2:1 digunakan akuarium ukuran 25x15x15 cm. Perbandingan dimana jantan lebih banyak dimaksudkan untuk memperbesar derajat pembuahan telur.

PEMIJAHAN
       Ikan neon tetra memijah pada malam hari dalam keadaan gelap yang berlangsung selama kurang lebih tiga jam. Untuk menyesuaikan dengan habitat asal maka akuarium pemijahan ditutup dengan plastic  warna hitam sampai keadaan benar-benar gelap. Penutupan dengan plastik warna hitam ini dapat dilakukan juga pada rak pemijahan dengan prinsip sama yaitu terciptanya suasana gelap. Sedikit cahaya saja yang berhasil menembus masuk ke dalam akuarium bisa dipastikan bahwa ikan tetra tidak akan memijah. Selama pemijahan berlangsung induk tidak diberi makan agar proses pemijahan dan telur yang dihasilkan tidak terganggu oleh sisa-sisa pakan.

SUMBER:
Sudrajat A. Oman, 2003.  Modul Pemijahan Induk Ikan Neon Tetra. Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta.