Showing posts with label Penangkapan Ikan. Show all posts
Showing posts with label Penangkapan Ikan. Show all posts
Monday, August 14, 2017

Mengenal Alat Tangkap Ikan Gillnet

Media Penyuluhan Perikanan - Gill Net merupakan salah satu jenis alat penangkap ikan yang sering digunakan oleh nelayan (nasional dan internasional) untuk menangkap ikan di laut. 

Ikan yang menjadi tujuan penangkapan umumnya adalah ikan-ikan pelagis relatif besar mulai dari ikan kembung hingga Madidihang.  Ukuran ikan besar sangat bervariasi tergantung ukuran mata jarinng dan besarnya bukaan mata jaring.
 
Gill Net termasuk alat penangkap ikan yang pasif, selektif dan juga ramah lingkungan. Pengoperasian Gill Net konvesional (yang umum dioperasikan di Indonesia) relatif sederhana, sebagian besar pelaksanaan operasi menggunakan tenaga manusia.

Gill Net hampir dapat dioperasikan diseluruh lapisan kedalaman perairan, mulai dari lapisan permukaan, pertengahan hingga lapisan dasar perairan.  Juga dapat dioperasiakan  di berbagai jenis perairan, seperti perairan pantai, laut dan samudera.


Metode Menangkap Kata kuncinya adalah “Menjebak untuk dijerat”.  Pengertiannya adalah Gill Net harus mampu menjebak, kemudian menjerat ikan pada bagian insangnya.  Karena sebagai alat penjebak maka sedapat mungkin bahan yang digunakan  adalah bahan yang transparan  Sedangkan agar ikan terjerat maka tekstur benang jaring harus licin, bulat dan elastis.  Perhatikan Gambafr 1.1 adalah ikan memiliki ukuran insang lebih besar dari mata jaring(ikan tidak terjerat), b adalah ukuran ikan yang sesuai dengan mata jaring (iakn terjerat), sedangkan c adalah ikan yeng berukuranlebih kecil (ikan lolos).


Ikan terjerat gillnet
Gambar 1. 1  Ikan terjerat

Bentuk Umum  Gill NetCiri khas Gill Net adalah berbentuk empat persegi panjang.  Masing sisinya dibatasi oleh empat buah tali ris. Dua buah ris mendatar yang dipasang di sisi atas dan bawah, yang atas di sisi atas disebut dengan ris atas dan yang bawah disebut dengan ris bawah.  Dua ris lagi dipasang di kedua sisi tegak disebut dengan ris samping. 

Ris atas dan ris bawah berfungsi untuk mengatur buakaan mata jaring dan ris samping untuk mempertahankan kedalaman Gill Net.  Ris atas dipasangi pelampung dan ris bawah dipasangi pemberat.  Fungsi pelampung adalah untuk megapungkan dan fungsi pemberat  adalah untuk menenggelamkan.

Secara umum Gill Net yang dioperasikan di lapisan permukaan memiliki daya apung yang lebih besar dari daya tenggelamnya.    Gill Net yang dioperasikan di pertengahan memiliki daya apung dan daya tenggelam yang relatif sama.  Sedangkan yang dioperasikan di lapisan dasar perairan memiliki daya tenggelam lebih besar dari daya apungnya. Tujuannya adalah agar Gill Net yang diooperaikan di permukaan tetap mengapung di lapisan permukaan, yang dioperasikan di pertengahan tetap melayang, dan yang dioperasikan di dasar perairan tatap tenggelam.


Penempatan Gillnet
Gambar 1.2 Penempatan Gillnet


Pada bagian atas Gill Net dipasang pelampung dan bagian bawah dipasang pemberat. Gill Net yang disebut dengan “gill net” biasanya dioperasikan secara pasif menunggu ikan yang  berenang menabrak badan jaring. Jika diameter tubuh ikan lebih kecil dari ukuran mata jaring maka ikan akan lolos. Ikan yang ukuran diameter tubuhnya sama atau lebih besar dari ukuran mata jaring  akan tertangkap.  Hal ini sangat bermanfaat untuk  pengaturan ukuran ikan yang akan ditangkap, misalnya dengan membatasi ukuran mata jaring (mesh size) ukuran minimal ikan yang ditangkap dapat ditentukan, sehingga ikan-ikan yang masih kecil tidak tertangkap dan dapat meloloskan diri dari alat penangkap ikan.

Gill Net dioperasikan secara vertikal dengan menghadang arus laut, sehingga diharapkan memotong alur gerakan renang ikan yang kerap menentang arus. Perhatian Gambar 1.3 hingga 1.5

Cara memasang gillnet

Sumber :
Ardidja, Supardi. 2011. Usaha Penangkapan Ikan Dengan Gillnet. Materi Penyuluhan Perikanan. Pusat Penyuluhan KP-BPSDMKP. Jakarta
Thursday, May 5, 2016
Mengenal Alat Penangkapan Ikan Pancing Rawai

Mengenal Alat Penangkapan Ikan Pancing Rawai

Media Penyuluhan PerikananPancing rawai dasar merupakan salah satu jenis alat tangkap dasar yang cukup produktif. Disamping mudah dari sisi pengoperasiannya, alat tangkap ini juga relatif murah dari sisi pembiayaannya. Sebagai akibatnya, alat tangkap pancing rawai dasar cukup tersebar hampir di seluruh perairan Indonesia.
Pengguna terbesar pancing rawai dasar adalah nelayan yang mempunyai penghasilan menengah ke bawah, karena pancing rawai dasar memerlukan biaya yang relatif kecil sehingga terjangkau oleh nelayan kecil. Sebagian besar pengguna pancing rawai dasar adalah nelayan tradisional dan berpendidikan rendah.
Hasil tangkapan pancing rawai dasar, umumnya adalah ikan karnivora yang mempunyai daging lezat. Disamping itu, mutu ikan yang tertangkap dengan pancing juga mempunyai mutu yang lebih baik jika dibandingkan dengan alat tangkap lain.
Sehingga ikan-ikan hasil tangkapan pancing rawai dasar mempunyai harga yang relatif mahal dibandingkan dengan jenis hasil tangkapan lainnya. Hasil tangkapan pancing rawai dasar selain dijual ke restoran-restoran sea food, juga diperuntukkan untuk komoditas ekspor.

DESKRIPSI SINGKAT
Pancing rawai dasar atau dalam bahasa asingnya adalah long line, adalah alat tangkap yang terdiri dari rangkaian tali-temali yang disambung-sambung sehingga merupakan tali yang panjang dengan beratus-ratus tali cabang. Ayodhyoa (1981) menyatakan bahwa alat tangkap rawai dasar terdiri dari tali utama (main line), tali cabang (branch line), tali pelampung, bendera, pelampung tali pancing, pancing dan tali-temali lainnya. Prinsip kerja dari pancing rawai dasar adalah memikat ikan untuk memakan umpan pada mata pancing yang merupakan perangkap bagi target tangkapan.
Penggunaan  teknologi  untuk  mengoperasikan  pancing  rawai  dasar  relatif masih sederhana. Pengembangan teknologi dapat diterapkan dalam proses pemasangan pancing atau penggulungan pancing. Mengingat pancing ulur menggunakan tali pancing yang panjang, maka dalam proses pemasangannya (setting) sering terjadi kecelakaan ketika tali pancing utama kusut. Demikian juga dalam proses penarikannya, tidak jarang karena ikan terjerat di tali pancing, tali pancing juga kusut. Untuk mengatasinya, biasanya digunakan line hauler. 


KLASIFIKASI RAWAI (LONG LINE)
Rawai (long line) terdiri dari rangkaian tali utama dan tali pelampung, dimana pada tali utama pada jarak tertentu terdapat beberapa tali cabang yang pendek dan berdiameter lebih kecil dan di ujung tali cabang ini diikatkan pancing yang berumpan.
Rawai dapat diklasifikasikan berdasarkan letak pemasangan pada saat pengoperasian, berdasarkan susunan mata pancing dan berdasarkan ikan sebagai tujuan hasil tangkapan. Adapun klasifikasinya sebagai berikut:
1.    Berdasarkan letak pemasangan pada saat pengoperasian  yaitu: (a)Rawai permukaan (surface long line); (b) Rawai pertenggahan (sub surface long line); (c) Rawai dasar (bottom long line)

2.    Berdasarkan susunan mata pancing pada tali utama yaitu : (a) Rawai tegak (vertikal long line); dan (b) Rawai mendatar (horizontal long line)

3.    Berdasarkan jenis ikan yang menjadi tujuan penangkapan yaitu  : (a) Rawai tuna (tuna long line); (b) Rawai albakora (albacore  long line); (c) Rawai kakap dan lain sebagainya.

SUMBER:
https://www.google.com/search/images
Krisnafi Y., 2011. Materi Penyuluhan Kelautan dan Perikanan Nomor: 002/TPI/BPSDMKP/2011 “Usaha Penangkapan Ikan dengan Pancing Rawai”. Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan, Jakarta.
Friday, April 22, 2016
Mengenal Alat Penangkapan Ikan Rawai Tuna

Mengenal Alat Penangkapan Ikan Rawai Tuna

Media Penyuluhan Perikanan - Rawai  tuna  adalah  alat  tangkap  dari  golongan   line  fishing, terutama ditujukan untuk menangkap tuna dalam ukuran dan jumlah yang besar.   Tuna tujuan penangkapan berada di lapisan yang dalam dan mempunyai daerah penyebaran yang luas.   Pada prinsipnya, konstruksi rawai tuna terdiri dari gabungan beberapa main line (tali utama), serta branch line yang diberi pelampung pada ujungnya.
Rawai tuna  (long line) mini adalah rawai tuna yang dibuat dengan menggunakan PA monofilament, dalam setiap basketnya terdiri dari 5 mata pancing atau lebih  dan satu kapal mengoperasikan alat tidak lebih dari 1.000 buah mata pancing yang dioperasikan dengan menggunakan kapal di bawah 30 GT.
Alat tangkap rawai tuna merupakan alat yang paling efektif untuk menangkap   ikan   jenis   tuna.   Karena   alat   ini   dapat   menjangkau penyebaran tuna secara vertical maupun horizontal.   Selain itu dalam pengoperasian rawai tuna tidak memerlukan umpan yang masih hidup, sehingga dapat mencapai daerah yang luas.  Pada perikanan rawan tuna, pengetahuan tentang batas penyebaran tuna secara vertical memegang peranan penting.
KAPAL RAWAI TUNA
Menurut Ayodhyoa (1981), menyatakan bahwa kapal rawai tuna adalah jenis kapal yang mempunyai tujuan menangkap ikan dengan menggunakan alat tangkap rawai tuna, dengan persyaratan mempunyai kemampuan   mengarungi   samudera,   mempunyai   palkah   ikan   yang dilengkapi dengan pendingin, memiliki tangki air tawar dan tangki bahan bakar yang cukup besar, mempunyai tempat kerja yang luas untuk memberikan kebebasan gerak bagi anak buah kapal serta olah gerak kapal yang cukup lincah dan mempunyai kecepatan yang cukup untuk menuju ke daerah  penangkapan  ikan.  Kapal  penangkap  ikan  adalah  kapal  yang secara khusus  dipergunakan  untuk  menangkap  ikan,  termasuk menampung, menyimpan, mendinginkan, dan/atau mengawetkan (UU No. 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan).
Kapal rawai tuna biasanya setiap kapal memiliki ruangan-ruangan sebagai berikut:
1.    Tempat pembuangan pancing (setting) biasanya di buritan;
2.    Tempat  penarikan  pancing  (hauling)  biasanya  di  bagian  tengah bagian depan;
3.    Tempat penyimpanan tali utama, biasanya di bagian tengah sebelah belakang;
4.   Tempat penyimpanan tali cabang, tali pelampung dan pelampung, berdekatan di bagian buritan kapal;
5.   Tempat radio buoy, di buritan sebelah kanan. 
Nomura dan Yamazaki (1977) mengatakan bahwa: ada beberapa persyaratan minimal untuk kapal ikan yang dapat digunakan untuk operasi penangkapan, yakni memiliki kekuatan struktur badan kapal, menunjang keberhasilan  operasi penangkapan,  memiliki fasilitas penyimpanan hasil tangkapan ikan/udang dan memiliki stabilitas yang tinggi. Stabilitas kapal mutlak diperlukan sebagai kemampuan kapal untuk kembali ke posisi semula (tegak) setelah mengalami momen temporal, dimana posisi miring akibat bekerjanya gaya baik dari luar maupun dari dalam kapal tersebut. Selanjutnya faktor-faktor yang mempengaruhi desain suatu kapal penangkap  ikan  adalah  tujuan  penangkapan  ikan,  alat  dan  metode penangkapan, kelaik lautan dan keselamatan awak kapal, peraturan- peraturan yang berhubungan dengan desain kapal, pemilihan material yang tepat untuk konstruksi, penanganan dan penyimpanan hasil tangkapan, serta faktor-faktor ekonomis
Menurut  Soemarto  (1979),  kapal  penangkapan  harus  memenuhi persyaratan antara lain :
1.    Memiliki kesanggupan berlayar di laut dengan baik dalam segala keadaan yang mungkin terjadi.
2.    Sanggup berlayar dengan tenaga sendiri ke dan dari daerah penangkapan serta dapat melakukan penangkapan continue.
3.    Mempunyai stabilitas yang tinggi untuk menjamin keselamatan.
4.    Kekuatan dan struktur yang kokoh.
5.    Memiliki fasilitas penyimpanan hasil tangkapan.
6.    Tempat persediaan  cukup untuk  bahan  bakar,  makanan dan  air, untuk keperluan operasi dalam waktu serta jarak yang telah ditentukan untuk keperluan yang tak terduga.
7.    Kapal harus mempunyai kekuatan yang baik agar dapat menahan gaya-gaya yang bekerja padanya, baik gaya-gaya dari luar maupun dari dalam.

RAWAI TUNA MINI  (MINI LONG LINE)
Rawai tuna adalah rawai yang digunakan dikhususkan untuk menangkap ikan tuna, walaupun jenis ikan pelagis besar tertangkap juga . Rawai tuna adalah alat tangkap yang terdiri dari gabungan antara beberapa tali dan pancing serta dilengkapi dengan  pelampung  dan pancing. 
Alat tangkap  ini  dioperasikan  dekat  dengan  permukaan  air  dan  dihayutkan dalam jangka waktu tertentu.  Alat tangkap rawai tuna termasuk ke dalam kelas pancing atau hook and line (Sjarif dan Mulyadi, 2004).
Rawai tuna  dibuat dari rangkaian tali temali yang diberi pancing dan pelampung, alat tangkap ini terdiri dari tali utama (main line), tali cabang (branch line), tali pelampung (buoy line) dan pelampung .
Rawai tuna   mini (mini long line) adalah rawai tuna yang dibuat dengan menggunakan PA monofilament, dalam setiap basketnya terdiri dari 5 mata pancing atau lebih  dan satu kapal mengoperasikan alat tidak lebih dari 1.000 buah mata pancing yang dioperasikan dengan menggunakan kapal di bawah 30 GT.
Adapun  rawai tuna terdiri dari : Pelampung (buoy), tali pelampung (buoy line), tali utama (Main line), tali cabang (branch line) dan pancing (hook), susunan satu unit rawai tuna disebut satu basket. Sedangkan  tali cabang   terdiri   dari   :   Tali   cabang   utama,   kili-kili   (swivel),   skiyama, kanayama.

TALI UTAMA
Tali   utama adalah tali tempat bergantungnya tali cabang, bahan yang digunakan adalah PA monofilamen dengan nomor 600 yang berdiameter 6mm  Tiap satu bagian tali utama panjangnya berkisar antara 50 – 60mn tiap-tiap jarak satu tali cabang.

TALI CABANG
Panjang tali cabang tidak boleh lebih dari setengah kali (1/2 x) jarak antara tali cabang yang menggantung pada tali utama.   Hal ini bertujuan agar tidak terjadi saling mengait (kekusutan) antar tali cabang.  Panjang tali cabang seharusnya sekitar 20-25 meter, tali cabang biasanya terdiri atas dua atau tiga jenis tali yaitu tali cabang utama (10 - 15m) dibuat dari PA monofilament nomor 400 dengan diameter 4mm, Skiyama ( 5 – 10m) dibuat dari PA monofilament nomor 400 dengan diameter 4mm, dan tali pancing (2 – 5m) dibuat dari PA monofilament 300 dengan diameter 300mm.


SUMBER:
https://www.google.com/search/images
Yusrizal, 2011. Materi Penyuluhan Kelautan dan Perikanan Nomor: 012/TPI/BPSDMKP/2011 “Penangkapan Ikan dengan Rawai Tuna (Tuna Long Line) Mini”. Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan, Jakarta.