Follow by Email

Teknologi Rehabilitasi Habitat dan Pemulihan Sumberdaya Ikan Melalui Pengembangan Terumbu Karang Buatan

Media Penyuluhan Perikanan -  Teknologi Rehabilitasi Habitat dan Pemulihan Sumberdaya Ikan Melalui Pengembangan Terumbu Karang Buatan.



DESKRIPSI TEKNOLOGI

Kekayaan ekosistem terumbu karang dan letaknya yang dekat dengan hunian manusia (wilayah pesisir) menyebabkan tekanan dari berbagai kegiatan untuk mengeksploitasi sumberdayanya. Beberapa penyebab kerusakan terumbu karang diantaranya adalah penambangan batu karang, penangkapan ikan tidak ramah lingkungan (muroami, bahan peledak, bahan kimia beracun), pencemaran, sedimentasi, dan juga perubahan iklim global (kenaikan suhu perairan). Kerusakan terumbu karang akan menyebabkan ekosistem tersebut tidak dapat memenuhi fungsinya, baik sebagai pelindung pantai maupun tempat berlindung, mencari makan, bertelur, dan asuhan berbagai jenis biota laut. Salah satu rumusan kebijakan nasional pengelolaan terumbu karang adalah mengupayakan pelestarian, perlindungan, perbaikan/rehabilitasi dan peningkatan kualitas ekosistem terumbu karang bagi kepentingan seluruh masyarakat yang kelangsungan hidupnya bergantung pada eksploitasi sumber daya alam yang terkandung di dalamnya.

Upaya rehabilitasi habitat dan pemulihan sumber daya ikan adalah merupakan bagian dari kegiatan konservasi sumber daya ikan. Berbagai cara telah dilakukan, diantarnya adalah melalui pengembangan terumbu buatan. Terumbu buatan merupakan teknologi sederhana yang telah terbukti di beberapa negara mampu mengatasi kekomplekan wilayah pesisir. Kurang lebih 5% dari wilayah pantai di Jepang pengembangan terumbu buatan dapat meningkatkan produksi perikanan secara intensifikasi dan ekstensifikasi. Pengembangan terumbu buatan di Teluk Meksiko, Amerika Serikat mendukung wisata bahari dengan menyelam dan memancing di sekitarnya. Kemudian di Italia pemanfaatan terumbu buatan adalah sebagai taman laut, pelindung pantai, dan sarana budidaya perikanan (Wasilun et al, 1991).

Berdasarkan hasil penelitian di perairan Tukadse dan Jemeluk, Bali, perairan Teluk Saleh NTB, dan perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, pengembangan terumbu buatan dengan menggunakan bahan beton berbentuk kubus berongga yang disusun dalam formasi piramida merupakan teknologi yang tepat untuk rehabilitasi kerusakan terumbu karang, pemulihan sumber daya ikan agar ketersediannya tetap berkesinambungan, peningkatan produksi perikanan tangkap, mendukung wisata bahari, dan meningkatkan kesempatan kerja dan pendapatan. Susunan terumbu buatan tersebut, masing-masing memiliki ukuran 60 x 60 cm dengan ketebalan 10 cm. Bentuk kubus berongga dengan menyesuaikan pada kebiasaan hidup ikan pada umumnya yaitu:

(1) senang meliang diantara celah karang, dan sekali-kali keluar untuk menangkap mangsanya, (2) senang berenang diujung-ujung karang dan sekali-kali bersembunyi diantara celah karang apabila ada gangguan, dengan sifat menetap maupun hanya tinggal sementara dan (3) kelompok ikan yang menyukai habitat dasar pasir.

Tujuan Dan Manfaat Penerapan Teknologi

Tujuan

Tujuan dari pengembangan terumbu buatan adalah menyediakan habitat buatan yang diharapkan mempunyai fungsi ekologis seperti terumbu karang alami, diantaranya adalah :

Sebagai daerah pemijahan (spawning ground), daerah asuhan (nursery ground), dan daerah mencari makan (feeding ground) bagi ikan.

Pengikat polip karang, sehingga dapat tumbuh dan berkembang.

Menjaga keseimbangan siklus rantai makanan

Meningkatkan keanekaragaman hayati laut

Meningkatkan stok ikan

Melindungi pantai dan ekosistem pesisir dari hempasan gelombang

Manfaat

Ekosistem mini terumbu buatan menimbulkan peranan yang tidak kecil bagi kehidupan masyarakat, diantaranya adalah :

Menjaga kelestarian sumber daya ikan

Meningkatkan produksi perikanan

Menyediakan obyek wisata (memancing dan menyelam)

Menyediakan kesempatan kerja dan meningkatkan pendapatan bagi masyarakat di sekitarnya.

Sarana pencegah konflik antar sektor dan sarana pengelolaan sumberdaya ikan

Melindungi wilayah operasional nelayan tradisional dari usaha penangkapan nelayan modern yang cenderung merusak lingkungan;

Mendukung kegiatan marine ranching dengan memanfaatkan terumbu karang nuatan sebagai daerah pembesaran induk dan penyedia benih.

Pengertian/Istilah/Definisi

Karang :  Dalam bahasa Inggris dikenal degan nama “coral” berasal
dari  kata  dalam  bahasa  Yunani  yaitu  “korallion”  yang
diartikan sebagai organisme yang membentuk skeleton dari
kelompok coelenterata; Hewan dari Ordo Scleractinia, yang
mampu mensekresi CaCO3.
Terumbu :  Endapan masif batu kapur (limestone), terutama kalsium karbonat (CaCO3), yang utamanya dihasilkan oleh hewan
karang dan biota-biota yang mensekresi kapur, seperti alga
berkapur dan moluska.
Terumbu Karang :  Kumpulan hewan karang yang bersimbiosis dengan sejenis
tumbuhan alga yang disebut zooxanhellae.
Terumbu Buatan :  Benda-benda keras (seperti kapal bekas, mobil bekas, ban
bekas, dan bahan-bahan lainnya) yang diletakkan di dasar
laut  berpasir  halus  atau  lumpur  dengan  tujuan  untuk
mengubah habitat dasar laut yang berpasir halus dan miskin
ikan menjadi habitat keras dan kaya akan ikan-ikan komersial
serta biota lainnya. Struktur yang dibangun antara lain untuk
habitat bagi kehidupan biota laut dan perlindungan pantai.
Terumbu Karang Buatan :  Suatu objek atau benda ataupun bangunan lainnya yang
(TKB) tersusun dari berbagai material yang diletakkan di dasar
perairan laut dengan tujuan untuk menggantikan fungsi
utama dari terumbu karang alami.
Rehabilitasi : Tindakan  untuk  menempatkan  kembali  sebagian  atau,
terkadang, seluruh struktur atau karakteristik fungsional dari
suatu ekosistem  yang telah hilang, atau substitusi dari
alternatif yang berkualitas atau berkarakteristik lebih baik
dengan yang saat ini ada dengan pandangan bahwa struktur
ini memiliki nilai sosial, ekonomi atau ekologi yang lebih
bagus dibandingkan kondisi sebelumnya yang rusak atau
terdegradasi.
Pemulihan : Mengembalikan  atau  memperbaiki  atau  memperbarui
sesuatu   sehingga   menjadi   seperti   asalnya   atau
mengembalikan kepada keadaan atau kegunaan semula.

Rincian dan aplikasi teknis/persyaratan teknis yang dapat dipertanggungjawabkan

Beberapa persyaratan yang harus dipertimbangkan dalam pengembangan terumbu buatan (Ilyas et al, 1995).

Pemilihan Bahan

Bahan terumbu buatan dipertimbangkan untuk hasil yang akan diperoleh dalam jangka waktu panjang

Terbuat dari material yang mengandung karbonat, sehingga menyerupai terumbu karang, dan tepat untuk pertumbuhan karang

Mudah dibentuk sesuai dengan organisme sasaran, dan mudah disusun untuk efisiensi biaya.

Bobot dan daya cengkeram kuat untuk mencegah penyapuan karena arus dan gelombang

Pemilihan Lokasi

Pemilihan lokasi untuk pemasangan terumbu buatan harus mempertimbangkan kondisi lingkungan (fisik, kimia, dan biologi), sosial ekonomi budaya, serta faktor penunjang lainnya. Kondisi lingkungan akan berpengaruh tinggi rendahnya produktivitas primer di perairan. Dahuri (2003) menyatakan bahwa tingginya produktifitas perairan akan memungkinkan perairan ini sering merupakan tempat pemijahan (spawning ground), pengasuhan (nursery ground) dan mencari makan (feeding ground) dari kebanyakan ikan. Oleh karena itu secara otomatis produksi ikan di perairan tersebut sangat tinggi. Beberapa organisme-organisme lain, seperti ikan, kerang, lobster, penyu yang juga berasosiasi (Dawes, 1981, dalam Supriharyono, 2007). Sedangkan, pemilihan lokasi terhadap kondisi sosial ekonomi dan budaya, hal tersebut berhubungan terhadap degradasi lingkungan yang disebabkan oleh kegiatan masyarakat. Adapun bentuk pengawasan, monitoring dan evaluasi kegiatan di kawasan pesisir sangat bergantung peranan masyarakat. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Hutomo (1987); Haruddin et al., (2011) bahwa secara mikro, sumberdaya kawasan pesisir dan laut dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup esensial penduduk sekitarnya sedangkan secara makro, merupakan potensi yang sangat diperlukan dalam rangka menunjang kegiatan pembangunan nasional disegala bidang.

Beberapa persyaratan lainnya yang harus dipertimbangkan dalam pemiliha lokasi :
Lingkungan Fisik :

Dasar perairan memungkinkan untuk berlangsungnya proses-proses dekomposisi bahan organik dan siklus hara.

Arus dan gelombang tidak kuat sekali, sehingga tidak dapat merusak terumbu buatan.

Kecerahan diperlukan untuk penetrasi cahaya ke dalam air dan terjangkau oleh indra organisme.

Suhu pada kisaran 28 – 30 oC, yang memungkinkan organisme melangsungkan aktifitas metabolisme secara normal

Kedalaman yang optimum untuk terumbu buatan berkisar antara 15–20 meter, sehubungan dengan keamanan, kemudahan peletakan dan pemanfaatan.

Topografi dasar perairan dengan kemiringan maksimal 30odan luas, supaya daya cengkeram terumbu kuat dan mudah dalam penyusunan.

Tekstur dasar batuan, keras dan kandungan lumpur sedikit, tidak lebih dari10 %.

Geomorfologi jauh dari muara sungai, karena aliran sungai menyebabkan pelumpuran pada areal terumbu buatan yang dapat mengurangi efektifitasnya.

Jarak dari terumbu karang alami kurang lebih 1 km. Pada jarak ini fungsi terumbu buatan tidak meredistribusikan ikan dari terumbu karang alami, tetapi menyediakan habitat baru bagi ikan-ikan yang ada di sekitarnya serta masih memungkinkan penempelan spora biota karang dari terumbu karang alami. Daerah jelajah ikan-ikan demersal diperkirakan tidak lebih dari 300 meter.
Lingkungan Kimiawi

Fosfat dan nitrat, adalah unsur hara utama yang digunakan oleh tumbuhan pengasil makanan dalam laut, berperan dalam menjaga kesuburan perairan.

 Oksigen terlarut, berfungsi untuk proses pembakaran yang menghasilkan energi yang digunakan untuk kehidupan berbagai organisme, kadar optimum 4 – 8 ppm.

 Salinitas, optimum pada kisaran 32 – 35 ppt

 Carbonat dan silikat, berguna untuk pembentukan kerangka organisme terumbu karang.
Lingkungan Biologi

 Kelimpahan plankton, berfungsi sebagai produsen primer yang menyediakan pakan dan menjaga kelangsungan siklus energi.

 Orientasi organisme, menentukan akan respon oganisme terhadap terumu buatan. Orientasi ini bisa mengikuti gerak arus, sehingga peletakan terumbu buatan yang baik memotong arus. Ada beberapa sifat orientasi organisme, yaitu geotaxykala, thigmotaxy, fototaxy, chemotaxy dan rheotaxy. Sifat orientasi menyebabkan ada 3 kelompok ikan dalam menanggapi terumbu buatan, yaitu tanggapan kuat, seperti ikan murai, gobi dan flounder, tanggapan sedang, seperti kerapu, bayeman dan lencam serta sifat lemah, seperti ikan belanak dan makerel.

 Biomassa organisme, adanya populasi ikan juga akan menentukan keberhasilan pengumpulan ikan oleh terumbu buatan.

 Interaksi organisme, hubungan sesama organisme penting dalam menentukan lokasi terumbu buatan karena keberadaan suatu organisme dapat mengurangi atau memicu organisme lain untuk menghuni terumbu buatan.

Kondisi Sosial - Ekonomi dan Budaya

Kebutuhan penduduk merupakan faktor penting untuk menentukan skala prioritas yang dibutuhkan penduduk sehingga keberadaan terumbu buatan dapat dimanfaatkan sesuai dengan apa yang diperlukan penduduk. Hal ini akan menentukan jenis terumbu yang akan dibuat dan diperuntukkan untuk sektor yang mana.

Keikut sertaan penduduk atau kepedulian akan memperoleh hasil yang maksimal.

Kebiasaan penduduk akan menentukan langkah-langkah pengawasan dan pengelolaan terumbu buatan yang tepat sesuai dengan kebiasaan penduduk setempat. Sebelum penempatan terumbu buatan, sebaiknya mempertimbangkan tata ruang daerah, yaitu peruntukan wilayah yang sudah direncanakan dan mengevaluasi kembali kecocokannya, sehingga konflik antar sektor dapat dihindari.

Dekat dengan perkampungan nelayan, sehingga memudahkan dalam pelaksanaan pembuatan, pemanfaatan hasil dan pengawasan.


Desain, Konstruksi, dan Konfigurasi

Terumbu buatan dapat terdiri dari beberapa unit dengan volume total maksimal 2.000 m3dan minimal 400 m3untuk memperoleh nilai ekonomis.

Profil yang baik secara horisontal, sesuai dengan distribusi ikan yang pada umumnya horisontal

Resolusi pandangan mata ikan rendah, sehingga warna yang baik adalah hitam

Konstruksi hendaknya fleksibel, stabil, kontabilitas dan adaptabilitas yang baik

Untuk menambah daya tarik ikan diperlukan konfigurasi yang tepat untuk membangun satu unit terumbu buatan. Jarak antar unit terumbu buatan sebaiknya 10 -50 meter. Kumpulan unit terumbu buatan membentuk kelompok, dengan jarak antar kelompok 200 m. Kelompok terumbu buatan secara bersamaan membentuk wilayah, dengan jarak antar wilayah terumbu buatan disarankan 600 m

Monitoring dan Evaluasi

Monitoring dan evaluasi pada proses suksesi ekologi pada terumbu buatan dilakukan untuk mengukur kemajuan yang terjadi dari proses rehabilitasi habitat dan pemulihan sumber daya ikan. Kegiatan ini menjadi bagian integral dari kegiatan rehabilitasi habitat sebagai suatu cara untuk menyediaakan informasi atau benchmark yang dibutuhkan untuk memformulasi suatu keuntungan yang lebih besar dan memperkecil dampak buruk yang timbul. Informasi atau benchmark semacam ini juga akan sangat bermanfaat pada evaluasi akhir dan menyeluruh dari dampak adanya rehabiltasi perairan pantai. Oleh karena pengertian dampak adalah perubahan dari suatu keadaan menjadi keadaan yang sangat berbeda dari sebelumnya, maka data dasar atau rona awal lingkungan sama pentingnya dengan data mutahir dalam rangka perbandingan atau pengukuran tingkat kemajuan ( Pollnac dan Pomeroy dalam Ilyas, et al, 1995).

Sebagai indikator untuk mengukur dampak dari kegiatan rehabilitsi habitat seiring dengan waktu dan pertumbuhan karang adalah mengukur kemajuan proses penempelan biota pada permukaan terumbu buatan. Kualitas perairan dapat digunakan untuk mengkaji kenyamanan suatu perairan bagi penghuninya (pavorable). Secara sinergis, kondisi osenografi, pertumbuhan karang, dan kualitas perairan dapat berpengaruh pada pertumbuhan biota penghuni terumbu karang.

Rincian Teknologi

Terumbu buatan tersusun dari beton (rangkaian besi yang dicor dengan bahan pasir dan semen) berbentuk kubus berongga dengan ukuran yang efektif adalah kubus (60 x 60x 60) cm dan tebal 10 cm.

1 unit terumbu buatan disusun dalam formasi piramida, terdiri dari 73 buah kubus berongga, dengan susunan 3 buah di lapisan atas, 9 dan 25 buah buah tersusun dilapisan

ke dua dan ke tiga dari permukaan, dan 36 buah pada lapisan dasar. Volume tiap unit kurang lebih 13 m3

Pengikat antar beton kubus berongga untuk membentuk 1 unit terumbu buatan dan agar tidak mudah tercerai-berai maka perlu diikat dengan menggunakan tali polyethylene.

Lokasi penempatan terumbu buatan dekat dengan perkampungan nelayan, sehingga pelaksanaan pembuatan, penempatan, pemanfaatan hasil dan pengawasan dapat dilakukan oleh masyarakat itu sendiri.

Keunggulan Teknologi

Terumbu buatan merupakan salah satu teknologi alternatif bagi upaya rehabilitasi habitat dan pemulihan sumberdaya ikan di wilayah ekosistem terumbu karang yang telah terdegradasi. Pemulihan kembali secara alami dari ekosistem terumbu karang yang telah rusak membutuhkan waktu yang cukup lama. Dengan demikian pengembangan terumbu buatan (TB) dapat memberikan solusi bagi perbaikan habitat dan pemulihan sumber daya ikan dalam waktu relatif lebih cepat.

Beton sebagai penyusun terumbu buatan merupakan bahan ramah lingkungan dengan tingkat penempelan organisme perintis relatif lebih baik karena permukaannya relatif kasar. Beton kubus berongga yang disusun dalam formasi piramida memungkinkan banyak celah-celah sebagai tempat asuhan bagi juvenil ikan dan terhindar dari predator. Kemudian bagi ikan-ikan dewasa rongga-rongga tersebut berfungsi sebagai tempat pemijahan. Warna gelap dari beton penyusun terumbu buatan akan lebih menarik kehadiran dari ikan, karena ikan mempunyai resolusi pandangan mata rendah. Terumbu buatan dari beton mempunyai konstruksi lebih kuat dari bahan lainnya, sehingga lebih tahan lama, daya cengkeram kuat dan tidak mudah tercerai-berai.


Waktu dan Lokasi Penelitian/ Pengkajian/ Pengembangan dan Lokasi yang direkomendasikan untuk aplikasi teknologi.

Waktu dan Lokasi Peneltian

Tahun 1991 penelitian dilakukan di perairan Tukadse dan Jemeluk Bali. Hasil penelitian menunjukkan dalam waktu 3 bulan sudah terlihat kehadiran biota penempel dan ikan pioner (Apogonidae) sebagai indikator adanya suksesi dari suatu ekosistem. Selanjutnya pemantauan dilakukan tahun 1994 dan 2001, dimana persen penutupan bentik live form pada terumbu buatan sebesar 22 % pada tahun 1991 lalu meningkat menjdi 88% pada tahun 2001. Perkembangan populasi ikan disajikan pada Tabel 2. Hasil pemantauan pada 3 unit terumbu buatan sebagai sampel menunjukkan adanya perkembangan komunitas ikan, yaitu seiring dengan berjalannya waktu terjadi peningkatan jumlah individu, jenis, suku, marga, dan kepadatan ikan per m2.

Tahun 2004-2006 penelitian dilakukan di perairan Teluk Saleh, NTB melalui beberapa tahapan. Kajian awal yang dilakukan pada tahun 2004 adalah identifikasi kondisi habitat, lingkungan perairan, dan sumber daya ikan di perairan Teluk Saleh, NTB, untuk menetapkan lokasi penempatan terumbu buatan sesuai dengan kriteria yang diuraikan dalam persyaratan teknis. Tahun 2005 pembuatan dan pemasangan terumbu buatan di lokasi yang terpilih sebagai hasil identifikasi yang dilakukan pada tahun 2004, yaitu di perairan Pulau Rakit dan Pulau Ganteng. Selanjutnya pemantauan perkembangan terumbu buatan dilakukan pada tahun 2006, untuk melihat tingkat keberhasilan dari suksesi ekologi pada terumbu buatan yang dipasang. Hasil pemantauan memperlihatkan mulai berfungsinya terumbu buatan sebagai tempat hidup dan berlindung dengan teridentifikasinya 60 jenis ikan pada bulan April dan menjadi 68 jenis pada bulan November pada empat (4) unit terumbu buatan. Jumlah jenis ikan bervariasi pada setiap

unit terumbu buatan, yaitu antara 21-35 jenis pada bulan April, dan 22-38 jenis pada bulan

November. Kelimpahan individu ikan pada bulan April mencapai 42 ekor/m3 dan 148 ekor/m3 pada bulan November. Biota penempel sebagai salah satu peubah yang dibutuhkan untuk memonitor dan mengevaluasi perubahan lingkungan perairan sudah tampak menutupi seluruh luasan permukaan terumbu buatan. Perkembangan jumlah jenis biota penempel di terumbu buatan disajikan pada Gambar 1. Seiring dengan berjalannya waktu penangkapan, ada kecenderungan terjadi peningkatan jumlah biota penempel. Pemantauan yang telah dilakukan setelah 5 tahun penempatan terumbu buatan (tahun 2010) terhadap perikanan tangkap, yaitu pancing rawai, bubu dan pancing ulur menunjukkan R/C Ratio di atas 4.

Tahun 2010–2011 penelitian dilakukan di Kepulauan Seribu, yaitu di perairan Pulau Kotok Kecil dan perairan Pulau Harapan. Hasil pengamatan setelah tujuh (7) bulan penenggelaman terumbu buatan, teridentifikasi jumlah biota penempel berkiar 9-16 dan jenis menjadi 11 -30 jenis pada pengamatan bulan ke 12.


Lokasi yang direkomendasikan untuk penerapan teknologi

Teknologi rehabilitasi habitat dan pemulihan sumber daya ikan melalui pengembangan terumbu buatan dapat diterapkan pada semua wilayah pesisir yang mempunyai ekosistem terumbu karang dalam status mengalami kerusakan, dengan mengikuti kriteria yang sudah ditetapkan.

Kemungkinan Dampak Negatif

Kemungkinan dampak negatif akan terjadi, yaitu apabila tidak dikelola secara kearifan lokal, dan terjadi kerusakan konstruksi karena arus, gelombang, sedimentasi atau bahkan oleh aktivitas masyarakat akan menganggu ekosistem yang ada, alur pelayaran dan mengotori pantai.


Diambil dari Buku Rekomendasi Teknologi KP Tahun 2014


0 Response to "Teknologi Rehabilitasi Habitat dan Pemulihan Sumberdaya Ikan Melalui Pengembangan Terumbu Karang Buatan"

Post a Comment

You need Flash player 8+ and JavaScript enabled to view this video.