Teknik Budidaya Ikan Sidat di Indonesia




Ikan sidat atau “moa”, ada juga yang menamakan “pelus” untuk ukuran yang bhesar, merupakan salah satu jenis ikan yang populer, baik di Eropa, Amerika, maupun Asia. Sebagai katadrom, mereka tinggal di perairan tawar hingga 6-20 tahun, dan begitu mau memijah kembali ke laut; dalam perjalanan kembali ke laut itu mereka tidak makan.  Ikan ini pun mati setelah menunaikan tugasnya menurunkan generasinya (memijah).  Di Jepang ikan ini sangat populer dengan sebutan “unagi” dan umumnya disajikan dalam bentuk panggang (grilled eel fillet).

Ikan ini mempunyai beberapa keistimewaan antara lain mempunyai kandungan zat gizi yang tinggi terutama vitamin A, rasanya sangat lezat, berkalori tinggi (303.100 kcal/gram) dan merupakan sumber energi yang besar; di negara-negara tertentu diyakini sebagai sumber energi yang sangat diperlukan pada musim-musim dingin.  Banyaknya keunggulan dari ikan sidat sebagai sumber gizi membuat ikan ini sangat diminati di Jepang, Eropa, Amerika, Korea dan Taiwan. Jenis masakan sidat yang paling poluler di Jepang adalah “unadon”. Unadon berasal dari kata unagi no kabayaki (ikan sidat panggang atau smoked eel) dan donburi (yaitu nasi dan berbagai menu yang diasjikan dalam mangkok besar).  Boleh dicoba – dan kita akan menikmati setiap gigitan menu ini.  Kalau di Indonesia kemana kita pergi akan ketemu sate, maka bila di Jepang kita akan ketemu sidat panggang yang sanagat harum menusuk hidung dan membangkitkan selera kita.

Pasar sidat meliputi pasar domestik dan internasional, namun suplainya masih sangat terbatas, sehingga harga ikan ini cukup tinggi terutama untuk ukuran benih (elver maupun fingerling). Selama ini tujuan ekspor utama adalah Jepang, tetapi juga merupakan penghasil sidat dunia.  Permintaan sidat negara itu mencapai 130.000 ton per tahun, sementara produksinya baru 21.800 ton atau baru 16,8%. Jumlah produksi tersebut sebagian besar dari hasil budidaya yaitu 21.000 ton (96,3%).

Permasalahan yang dihadapi dalam budidaya di Jepang maupun negara-negara lain adalah semakin menurunnya suplai benih.  Beberapa sebab menurunnya suplai benih antara lain adalah karena penangkapan glass eel yang tak terkendali, dan semakin rendahnya jumlah sidat dewasa yang mampu kembali ke laut untuk memijah.

Penangkapan yang tak terkendali di hampir semua negara berlangsung sudah sejak lama, dimana glass eel biasa ditangkap untuk makanan yang lezat.  Kegiatan ini kemudian dilarang di Eropa, dan di Indonsesia berhenti setelah mereka mengetahui bahwa harga glass eel ini sangat mahal.  Semakin rendahnya ikan dewasa yang mampu kembali ke laut disebabkan oleh semakin intensifnya penangkapan glass eel, banyaknya penghalang yang menghadang glass eel / elver naik ke hulu (antara lain bangunan-bangunan pengatur irigasi), dan belum berhasilnya produksi benih dari budidaya. 

Berbeda dengan di Indonesia, sebagian daerah potensial sidat seperti Sumatera, Sulawesi, dll. belum dimanfaatkan secara optimal, kecuali di Selatan Pulau Jawa. Demikian pula budidaya ikan ini belum sepenuhnya diusahakan secara maksimal.  Usaha budidaya sidat secara super intensif yang dulu pernah dilakukan menjadikan harga pokoknya cukup tinggi, sedang harga ekspor kadang turun bergantung musim panen di negara importir. 

Dengan semakin menurunnya suplai benih, semakin mahal harga sidat baik benih maupun ukuran konsumsi. Harga sidat ukuran konsumsi secara bertahap terus meningkat; di pasaran lokal dari harga per kilogram Rp.50.000 beberapa tahun lalu kini meningkat hingga Rp.80.000. Jepang bahkan memberikan harga yang jauh lebih tinggi khususnya untuk sidat budidaya yang dikemas hingga kualitas produk memenuhi persyaratan mereka.  Untuk harga glass eel khususnya merangkak cepat dari per kg Rp.5.000 pada tahun delapan puluhan, akhir-akhir ini menjadi Rp.400.000-500.000.  Tingginya harga glass eel di luar negeri bahkan menyebabkan ekspor elver sidat secara diam-diam dan ini merupakan suatu hal yang sangat tidak bijaksana.  Pengembangan budidaya dengan demikian merupakan peluang baik bagi masyarakat, yang perlu didukung oleh pemerintah.  Teknologi madya yang telah ditemukan pada tahun-tahun tujuh puluhan oleh pengusaha swasta dan kemudian akhir-akhir ini  dimulai oleh Balai Layanan Usaha Produksi Budidaya Karawang (dulu PT. Pandu TIR) salah satu UPT Ditjen Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan) di Karawang, membuka hasanah baru menggeliatnya minat usaha sidat di Indonesia.

Klasifikasi Sidat

Beberapa ahli, antar lain Djajadireja (1952), mengklasifikasikan sidat dalam tata nama sebagai berikut: 
Filum             : Chordata 
Sub Filum      : Euchordata 
Kelas             : Osteichthyes 
Subkelas       : Actinoptrygii 
Infrakelas      : Teleostei 
Superordo     : Elomorpha 
Ordo             : Anguiliformes 
Famili            : Anguilidae 
Genus           : Anguilla 
Species         : Anguilla spp.

Morfologi dan Anatomi Sidat

 Selintas sidat mirip dengan belut. Tubuhnya bulat dan panjang, warnanya juga sama yaitu kuning, abu-abu, cokelat, dan terkadang hitam.  Namun bila diperhatikan, ikan ini berbeda dengan belut, yaitu adanya sirip dada (pectoral fin) di belakang kepalanya (meski ada beberapa jenis tidak memiliki sirip ini); sirip punggung (dorsal fin) dan sirip duburnya (anal fin) langsung menyatu hingga sisrip ekor (caudal fin) membentuk suatu pita lembut antara panjang dan tinggi 20 : 1. Kepala sidat berbentuk segitiga, memiliki mata, hidung, mulut, dan tutup insang. Mata sidat tidak tahan terhadap sinar matahari karena sidat termasuk binatang malam (nocturnal). Oleh sebab itu, tempat pemeliharaan sidat, terutama pada tahap pendederan, harus diberi peneduh berwarna hitam. Mulut sidat berfungsi untuk mengambil makanan. Mulut sidat  membelah hampir di sepanjang bagian kepala. Hidung sidat sangat kecil, berfungsi untuk alat penciuman. Tutup insang berada di bagian bawah kepala atau di depan sirip dada. Sebagian besar spesies ikan ini nokturnal (aktif di malam hari), hingga kita jarang melihatnya di alam; hanya kadang kita melihatnaya di lubang-lubang atau di tempat khusus yang kadang dikeramatkan orang.  Sebagian species hidup di perairan lebih dalan di paparan benua dan diderah dengan kedalaman hingga 4.000 m.  Hanya yang termasuk dalam famili Aguilidae yang secara teratur mendiami perairan tawar namun juga kembali ke laut untuk memijah.

Berbeda lagi dengan yang disebut sidat listrik  (Electrophorus electricus), merupakan penghuni sungai Amazon dan sungai Orinoko yang memiliki kekuatan listrik mencapai 650 volt yang digunakannya untuk berburu mangsa dan membela diri. Kejutan listrik yang dihasilkan oleh ikan ini cukup untuk membunuh seekor kuda dari jarak 2 meter. Cara kerja penghasil listrik pada ikan ini dapat digunakan sangat cepat mencapai dua hingga tiga perseribu detik. Ketika gelisah, ia mampu menghasilkan guncangan listrik selama setidaknya satu jam tanpa tanda-tanda melelahkan.Ia bisa tumbuh hingga panjang 2,5 m dan berat 20 kg, walaupun biasanya ukuran rata-ratanya adalah 1 meter[1].  Berbeda lagi dengan yang disebut sidat listrik (Electrophorus electricus), merupakan penghuni sungai Amazon dan sungai Orinoko yang memiliki kekuatan listrik mencapai 650 volt yang digunakannya untuk berburu mangsa dan membela diri. Kejutan listrik yang dihasilkan oleh ikan ini cukup untuk membunuh seekor kuda dari jarak 2 meter. Cara kerja penghasil listrik pada ikan ini dapat digunakan sangat cepat mencapai dua hingga tiga perseribu detik. Ketika gelisah, ia mampu menghasilkan guncangan listrik selama setidaknya satu jam tanpa tanda-tanda melelahkan.Ia bisa tumbuh hingga panjang 2,5 m dan berat 20 kg, walaupun biasanya ukuran rata-ratanya adalah 1 meter[2]

Di Indonesia sendiri ada tujuh jenis dari total 18 jenis di dunia.  Dari tujuh jenis itu, dapat digolongkan menjadi dua yaitu yang bersirip dorsal pendek dan yang bersirip dorsal panjang.  Yang bersirip dorsal pendek adalah Anguilla bicolor dan Anguilla bicolor  Pacifica.  Sedang yang bersirip dorsal panjang adalah Anguilla borneoensis, Anguilla marmorata, Anguilla celebesensis, Anguilla megastoma dan Anguilla interioris.

Sumber daya alam Indonesia sangat mendukung. Pertama, Indonesia beriklim tropis, hujan dan kemarau yang sangat baik bagi kehidupan sidat. Kedua, Indonesia memiliki sumber benih yang sangat melimpah. Teknologi budidaya sidat sudah mulai dikuasai dan relafit mudah. Selain itu, pembudidaya sidat masih sangat sedikit, sehingga usaha ikan ini terbuka lebar.                           

Usaha komoditas sidat yang ada di Indonesia selama ini ada tiga segmen, yaitu penangkapan, pendederan, dan pembesaran, disamping usaha perdagangan terutama ekspor.

Habitat dan Siklus Hidup Sidat

Sidat termasuk ikan katadromus, yaitu ikan yang dewasa berada di hulu sungai atau danau, tetapi bila sudah matang gonad akan beruaya dan memijah disana. Memijah di kedalaman laut hingga lebih dari 6.000 m, telur-telur naik ke permukaan dan menetas menjadi larva.  Larva sidat yang terbawa arus, bermetamorfosa menjadi leptocephalus (berbentuk seperti daun), dan terus mengarungi samudera menuju ke pantai/perairan tawar. Setelah mencapai pantai dalam kurun waktu satu hingga tiga tahun, sudah berupa glass eel dengan tubuh transparan hingga terlihat insang (berwarna merah terang) dan hatinya.  Di Pelabuhan Ratu, glass eel mencapai muara sungai dengan ukuran 45-60 mm (0,15 – 0,2 g), sedang di Eropa mencapai ukuran 75-90 mm.  Mencapai pantai, glass eel memasuki muara sungai dan terus naik dan hidup di hulu-hulu sungai, danau, dan rawa, atau tinggal di perairan rawa pasut atau perairan payau.

Makanan Sidat

Sidat bersifat omnivora sewaktu kecil dan karnivora saat dewasa. Sebagai karnivora, sidat memakan ikan dan binatang air yang berukuran lebih kecil dari bukaan mulutnya. Sidat juga bisa memakan sesamanya (kanibal).


Saat masih kecil, sidat bersifat omnivora, memakan organisme-organisme invertebrata. Sidat bisa memakan hewan-hewan kecil seperti anak kepiting, anak-anak ikan, cacing kecil, anak kerang atau siput dan tanaman air yang masih lembut.

Teknologi budidaya yang cukup berperan penting dalam menunjang berkembangnya budidaya ikan ini antara lain adalah bahwa ikan ini sudah mau memakan pelet, dari yang sebelumnya sebagai pakan buatannya adalah dalam bentuk pasta.  Pakan pasta cukup merepotkan dalam budidaya sidat; selain penyiapannya memakan energi, juga air media budidaya menjadi cepat kotor.
PERSYARATAN LOKASI

Lahan

1.    Syarat:
a)    Dekat dengan sumber air;
b)   Kualitas airnya baik dan tidak tercemar oleh limbah industri dan logam berat;
c)    Air mengalir secara kontinu sepanjang tahun;
d)   Jenis tanahnya baik dan tidak porous;
e)    Lahan sesuai dengan skala usaha.

Luas lahan harus disediakan tergantung dari tahapan/segmen kegiatan usaha yang dipilih dan skala produksinya.

Perlu diingat bahwa bila air yang tersedia tidak mencukupi untuk pengairan kolam sistem flowthrough maka padat tebar atrau targe harus disesuaikan.

Sumber Air

Air merupakan media hidup sidat. Keberhasilan sidat sangat ditentukan oleh keadaan airnya.

a)    Sumber air

Memilih sumber air untuk budidaya sidat tidak boleh sembarangan. Ada tiga sumber air yang baik untuk kegiatan pembesaran.

1)   Air sumur

2)   Mata air

3)   Air sungai

b)   Kuantitas

Kuantitas disebut juga debit air adalah jumlah air yang tersedia atau mengalir di suatu tempat. Jumlah air yang dibutuhkan dalam budidaya sidat tergantung dari skala produksi dan tahapan kegiatan yang dilakukan.

Untuk pendederan, setiap produksi 1000 ekor/bulan dibutuhkan air sekitar 5 liter/detik. Sementara untuk pembesaran, setiap skala produksi 10.000 ekor/bulan dibutuhkan air 5 liter/detik.   

c)    Kualitas

Suhu yang sesuai akan menunjang laju pertumbuhan yang tinggi, konversi pakan yang rendah dan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kondisi kesehatan ikan.  Dua hal yang pertama tersebut terkait dengan laju metabolisme yang tinggi; dan laju pertumbuhan yang tinggi akan memperpendek waktu pemeliharaan. Kondisi kesehatan akan menunjang nafsu makan, dan serta mengurangi angka kematian (mortalitas) sehingga menunjang tingkat kelangsungan hidup (sintasan atau Survival Rate atau SR) yang tinggi.  (dikatakan menunjang karena masih ada faktor-faktor lain yang perpengaruh).

Warna air yang hijau kecoklatan adalah terkait dengan berkembangnya plankton (fitoplankton maupun zooplankton).

Oksigen merupakan faktor pembatas dalam sistem akuatik. Kecukupan oksigen dalam air media budidaya akan mendukung proses metabolisme (jumlah total perubahan secara kimiawi dalam tubuh organisme hidup dan sel-selnya yang merubah makanan menjadi protoplasma, serta selanjutnya protoplasma dipergunakan dan diuraikan menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana serta kotoran dengan pelepasan energi). Kandungan oksigen dalam air media budidaya dipengaruhi tingkat fotosintesis tumbuhan air/fitoplankton, suhu, serta banyak sedikitnya bahan organik, serta jumlah organisme dan aktivitasnya.

Karbon dioksida (CO2) berpengaruh terhadap perkembangan fitoplankton (terkait dengan proses fotosintesis), dan terhadap pH air dalam air media budidaya.  Kandungan CO2 dalam air tidak boleh terlalu tinggi, karena akan menurunkan pH air dan akan menurunkan oksigen terlarut dalam air media budidaya. Tingginya konsentrasi   bakteri dan bahan-bahan organik tersuspensi akan meningkatkan kandungan CO2 dan menurunkan kandungan oksigen dalam air media budidaya. Tingginya CO2 dapat dicegah dengan aerasi yang cukup, dan pengaturan pH.

Amoniak atau NH3 merupakan senyawa toksik (racun terhadap ikan). Amoniak atau amonia bebas merupakan salah satu hasil perombakan bahan organik dalam air media budidaya, yang keseimbangannya dengan amonium (NH4OH) yang tidak toksik, bergantung pada pH (semakin tinggi pH maka semakin tinggi proporsi amoniak). Dengan demikian maka pH dijaga jangan melampaui batas kisaran maksimal.

Alkalinitas adalah jumlah knsentrasi basa dalam air (utamanya bikarbonat atau HCO3- dan karbonat atau CO22- dinyatakan dalam mg/ltr ekivalen CaCO3. Air ber-alkalinitas cukup tinggi akan mempunyai pH yang lebih stabil, serta mempunyai produktivitas lebih tinggi.

d)   Kontinuitas

Kontinuitas adalah keadaan suatu sumber air dalam masa tertentu. Sumber air yang mampu menyediakan air setiap saat atau tidak pernah kering dikatakan kontinyu.

Bila kita bisa memilih di antara ke tiga macam sumber air di atas, selain terkait pula dengan kuantitas, kualitas dan kontinuitasnya, maka juga dipertimbangkan biaya awal dan biaya operasionalnya.

1.2.3       Jenis Tanah

Jenis tanah untuk budidaya sidat harus memiliki safat-sifat fisik dan kimia yang baik, yaitu guna menunjang fungsi-fungsi: (1) terciptanya lingkungan bagi hidup dan berkembangnya ikan yang dibudidayakan dengan baik, (2) berkembangnya pakan alami, dan (3) kuat kenampung air di dalamnya serta beban peralatan di atasnya.  Fungsi pertama dan ke dua menyangkut kesuburan. Kesuburan dimaksud adalah bahwa tanah mendukung terciptanya air media budidaya yang subur, atau tidak menyebabkan air kolam berubah menjadi miskin hara ataupun perubahan secara fisika dan kimia lainnya karena pengaruh tanah kolam tersebut. Fungsi ke tiga adalah bahwa kolam tidak bocor/rembes, dan kuat menahan beban.  Ada dua macam jenis tanah yang sesuai untuk maksud tersebut:

-      tanah terapan (clay loam) yaitu tanah dengan kandungan liat, pasir dan debu kurang lebih berimbang; dan

-      tanah liat berpasir atau lempung berpasir.

1.3        FASILITAS

1.3.1  Fasilitas Utama

Fasilitas utama yaitu jenis fasilitas yang langsung digunakan untuk pemeliharaan sidat.  Gambar 7 dibawah ini adalah contoh fasilitas utama untuk unit budidaya dengan teknologi madya dengan sistem air mengali (flowthrough system).

a)    Tempat penampungan air (tandon)

Adalah fasilitas penampungan air digunakan untuk menyediakan air selama proses produksi. Selain itu tempat ini juga berfungsi mengendapkan lumpur dan menetralisir zat-zat yang tidak bermanfaat bagi sidat.

b)    Bak pendederan

Bak pendederan adalah tempat untuk memelihara elver hingga menjadi benih.  Pendederan ada dua tahap, yaitu Pendederan 1 dan Pendederan Lanjutan.  Pendederan 1 adalah untuk membuat elver mau makan dengan pakan yang diberikan (belajar makan).  Tahapan ini cukup kritis, sehingga sebaiknya dilaksanakan dalam bak-bak terkontrol atau dalam ruangan (indoor).  Sedang Pendederan Lanjutan (Pendederan 2 dan 3) adalah membesarkan elver menjadi juvenil, dan tahapan ini baik dilakukan di bak-bak outdoor. Ukuran bak Pendederan-1 cukup kecil saja misalnya 1,5 x 3 x 0,6 m, dan ukuran bak Pendederan 2 kurang lebih berukuran 50-100 m2 dengan kedalaman 0,8 m. 

c)    Kolam pembesaran sidat

Kolam pembesaran adalah tempat yang digunakan untuk memelihara benih hingga menjadi sidat ukuran konsumsi. Ukuran kolam Pembesaran bisa bervariasi dari 300-1.000 m2 dengan kedalaman 1-1,2 m. Karena masa pemeliharaan untuk mencapai ukuran konsumsi cukup lama, diperlukan beberapa kali tahapan/pemindahan ikan sesuai ukuran, maka ukuran kolam bisa dibuat bervariasi.

1.3.2  Fasilitas penunjang

Fasilitas penunjang meliputi :

a)    Sumber listrik;

b)   Peralatan pengudaraan atau aerasi (kincir, blower, dll.);

c)    Peralatan pengukuran kualitas air;

d)   Peralatan bantu kerja (ember, gayung, serok, saringan air, dll.);

e)    Bangunan (mess karyawan, gudang. Laboratorium, pos jaga, dsb.);

f)     Kendaraan angkutan (mobil, motor);

g)   Peralatan administrasi (computer, meubelair, lemari, cardek, dll).

Peralatan pengudaraan (aerasi):

ü  Kincir air. Peralatan aerasi tipe ini merupakan satu tipe alat untuk meningkatkan kandungan oksigen terlarut dalam media budidaya, serta untuk menciptakan adanya arus air.  Tingkat difusi oksigen dengan alat ini tergolong tinggi (contoh Gambar 9.)

ü  Blower.  Aerator tipe ini langsung memberikan udara dari lapisan bawah, juga cukup kuat, namun memerlukan jaringan pemipaan dan batu aerasi atau pipa berlubang di dasar kolam.

ü  Aero-O2.  Aerator tipe ini menyemprotkan udara ke dalam air dan mendorong ke satu arah yang dapat membuat air bersirkulasi.  Tipe ini juga mampu memberikan oksigen langsung di lapisan tengah/bawah.

Peralatan pengukuran kualitas air:

Beberapa alat ukur kualitas air antara lain adalah (juga Gambar 10):

ü  Thermometer untuk mengukur suhu air media budidaya;

ü  pH meter untuk mengukur pH air media budidaya;

ü  Salinometer untuk mengukuran salinitas air media budidaya;

ü  DO Meter untuk mengukura kandungan oksigen air media budidaya;

ü  Test kit amonium, nitrat, dan nitrit.          Gambar 10. Peralatan ukur kualitas air.

Semakin intensif tingkat teknologi yang diaplikasikan serta semakin besar skala produksinya, semakin diperlukan pemantauan/kontrol kualitas air, sehingga peralatan-peralatan seperti tersebut di atas mutlak diperlukan.  Namun untuk teknologi sederhana tidak harus semua jenis alat tersedia; paling tidak thermometer, pH meter atau kertas lakmus pH tetap diperlukan.

1.4         SARANA BUDIDAYA SIDAT

1.4.1  Benih Sidat

Benih sidat ada dua macam, yaitu glass eel ditandai dengan bentuk tubuh bulat panjang seperti lidi berwarna agak bening, dan memiliki panjang rata-rata 5-6 cm (dari muara sungai Cimandiri-Pelabuhan Ratu). Yang ke dua adalah fingerling yaitu benih sidat ukuran 10-20 cm, bisa diperoleh dari daerah lain.

1.4.2   Pakan Tambahan

Pakan tambahanadalah pakan yang berasal dari luar media pemeliharaan yang bisa diberikan dan dimanfaatkan sebagai makanan ikan. Beberapa jenis misalnya cacing sutra, ikan rucah, cacing tanah, daging keong , bekicot,  dll.
1.4.3   Pupuk dan Obat-obatan

Pupuk yang dipergunakan bisa berupa pupuk kandang ataupun pupuk kimia sepertiurea, TSP.  Obat-obatan ada berbagai macam, seperti antibiotik, anti jamur, desinfekan, dll.  Dibawah ini contoh beberapa bahan tersebut (Gambar 12).

PENYEDIAAN BENIH SIDAT

2.1        PENANGKAPAN DI ALAM

2.1.1   Faktor-faktor yang perlu diperhatikan

Beberapa faktor yang perlu diperhatikan bila kita hendak mengusahakan penangkapan benih sidat dengan berhasil, antara lain:

1)   Tipe daerah

Seperti diketahui, glass eel atau elver berusaha naik ke hulu sungai dari habitat awalnya di Samudera.  Muara yang disukai mereka untuk masuk ke sungai adalah daerah yang gelombang air laut tidak terlalu besar dan arus tiodak terlalu kuat, yaitu daerah teluk atau daerah yang terlindung.  Contoh di muara sungai Cimandiri dan sungai Poso.  Selain itu, adalah daerah bukan muara sungai namun ada perairan yang punyai akses ke laut seperti di Cilacap yaitu Segara Anakan.  Lokasi-lokasi ruaya ikan sidat juga banyak terdapat di Sumatera, Sulawesi, dan mungkin di Kalimantan dan Papua.

2)   Kondisi alam

Tidak semua tipe daerah yang potensial sebagaimana disebut di atas cocok untuk daerah penangkapan glass eel atau elver.  Umumnya kondisi muara sungai dengan daratan yang landailah yang sesuai; pda muara sungai dengan tanah yang terjal menyulitkan kita menangkap dan membawa benih tersebut.

3)   Musim

Musim elver/benih sidat berbeda antara daerah satu dan lainnya.  Di Pelabuhan Ratu, musim elver adalah bulan Oktober-Maret dengan puncaknya pada bulan Januari.  Di Teluk Poso, musim benih sidat adalah antara bulan April-Oktober dengan puncaknyapada bulan Juni.  Di Cilacap musim benih sidat adalah antara bulan Juni-Agustus (impun) dan Oktober-Desember (sidat muda).

4)   Cuaca

Benih sidat (elver) hanya muncul di muara-sungai sungai ketikan cuaca cerah atau tidak hujan, dan angin tidak terlalu kencang, serta kelembaban rendah.

5)   Arus air sungai

Karena elver masih lemah, mereka hanya dapat naik ke sungai ketika arus sungai tidak terlalu deras.  Hal ini umumnya terkait dengan ada tidaknya hujan; pada waktu hujan deras, debit air sungai besar dan arus kuat.

6)   Kekeruhan

Kekeruhan air sungai umumnya juga terkait dengan ada tidaknya hujan. Pada waktu hujan deras, umumnya kekeruhan air sungai sangat tinggi karena membawa partikel tanah dari erosi di daerah hulu.  Pada kondisi demikian elver tidak naik ke sungai; selain bau lumpur, juga karena arus yang kuat.

2.1.2       Waktu penangkapan sidat

Waktu penangkapan elver di muara sungai yang baik adalah pada waktu malam hari ketika air pasang dan bulan gelap.  Kaitannya dengan air pasang adalah bahwa pada kondisi air laut yang tinggi, maka arus air sungai di muara menjadi diperlemah dan ini memudahkan elver naik.  Kaitannya dengan bulan gelap adalah karena sidat bersifat nokturnal yaitu aktif di malam hari atau suasana gelap, sehingga pada bulan terang sidat tidak terlihat muncul untuk naik.







2.1.3       Peralatan penangkapan sidat

Peralatan-peralatan untuk menangkap glass eel /elver adalah anco/waring atau seser, serta peralatan bantu berupa petromak/senter, baskom kecil, koja dan boks styrofoam.  Kadang para penangkap memasang tenda/saung di pinggir sungai.  Untuk menangkap benih yang sudah agak besar seperti di rawa-rawa, biasanya dipergunakan bubu dan dengan pemberian umpan dari anak katak, atau hewan kecil lain yang tersedia di daerah penangkapan.

2.1.4       Cara penangkapan sidat

Dalam kegiatan penangkapan elver, umumnya mereka berkelompok dalam lima orang.  Pembagian tugasnya adalah satu orang menunggu di tenda/saung dengan boks styrofoamnya, dua orang memegang petromak/senter bertugas memberikan penerangan dan mencari gerombolan elver, dua orang lagi memegang waring bertugas menangkap elver yang muncul.  Mereka masuk ke sungai mencari gerombolan elver pada kedalaman air yang masih terjangkau, menangkap dengan waring/seser, memasukkannya ke dalam koja, dan selanjutnya membawa dan memasukkannya ke boks styrofoam.  Setelah cukup atau berakhir waktu penangkapan (fajar mulai menyingsing atau setelah sudah tidak ditemukan lagi elver yang muncul), mereka membawanya ke tempat penampungan mereka atau ke pengumpul.

2.1.5       Usaha menjaga kelestarian ketersediaan benih

Dari kondisi bahwa ketersediaan benih sidat dari alam terus menurun baik di Indonesia maupun di negara-negara lain, maka diperlukan upaya-upaya untuk melestarikan atau memulihkan kembali sumberdaya benih sidat di alam.  Di negara kita, salah satu upaya untuk itu adalah adanya pelarangan ekspor benih sidat.  Di Eropa,upaya perlindungan suberdaya sidat di sana adalah sebagai berikut :

1)   Larangan menangkap sidat dalam wilayah tertentu dan ditempat-tempat ruaya sidat untuk tahapan perkembangan.

2)   Menentukan jumlah tangkapan yagn diperbolehkan, baik volume dan ukuran yang boleh ditangkap dan didaratkan.

3)   Membangun kembali habitat sidat.

4)   Mendukung tindakan teknis, seperti bantuan konstruksi agar sidat dapat naik ke sungai.

5)   Perlu menentukan wilayah dan musim yang tidak boleh menangkap.

6)   Menerbitkan ijin khusus bagi penangkap sidat.

7)   Mendukung dan memperkuat stok sidat melalui restocking.



2.2        PERAWATAN GLASS EEL

2.2.1   Kolam penampungan

Di tempat penampungan sementara baik milik penangkap atau pengumpul, diperlukan beberapa kolam untuk penampungan dan perawatan elver hingga dikirim ke pembudidaya.  Kolam penampungan cukup sederhana, bisa terbuat dari tembok atau terpal dengan ukuran panjang +/- 2 m, lebar +/- 1 m, dan kedalaman +/- 30 cm. Peneduh/atap diperlukan untuk menghindari terkena hujan dan papan sinar Matahari.

Air sebaiknya berkualitas baik dan jernih, bisa dari mata air, air saluran ataupun air sumur.  Bila sistem air diam, perlu dilakukan perganian air setiap hari. Peralatan lain yang diperlukan adalah :

o   aerator lengkap dengan slang dan batu aerasi;

o   peralatan sipon seperti slang, baskom, dan saringan; dan

o   timbangan 

Selain itu, diperlukan ketersediaan garam untuk membuat air penampungan pada salinitas +/- 5 ppt atau kurang lebih sama dengan salinitas air muara sungai dimana dilakukan penangkapan.

2.2.2       Perawatan

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam perawatan elver di penampungan meliputi :

a)    Kolam harus benar-benar bersih sebelum digunakan;

b)   Air sebaiknya dengan salinitas +/- 5 ppt dengan ketinggian ari +/- 20 cm;

c)    Padat tebar tidak boleh terlalu tinggi, karena beresiko melemahnya elver hingga kondisinya atau kualitasnya tidak baik. Padat tebar yang disarankan maksimal adalah sebanyak 10 ekor/liter air.  Jadi kalau bak penampungan berukuran 1m x 2 m dan diisi air 20 cm, maka jumlah elver yang dimasukkan maksimal adalah sebanyak 4.000 ekor.

d)   Jangan lupa diaerasi guna menambah oksigen;

e)    Bila lama penampungan lebih dari dua hari, sebaiknya diberi pakan berupa cacing tubifex, dengan cara disebar merata;

f)     Secara rutin dilakukan pergantian air (untuk sistem air diam) dengan cara disipon.

PENDEDERAN SIDAT

3.1.  SISTEM BUDIDAYA

Ada berbagai alternatif teknologi yang dapat diaplikasikan untuk membudidayakan ikan sidat. Teknologi mana yang dipilih adalah bergantung pada kondisi alam dan sumber air, skala usaha, kekuatan modal, ketersediaan tenaga kerja terampil, dll.  Pada pembahasan ini, teknologi yang dimaksud adalah SISTEM MONOKULTUR,  TEKNOLOGI MADYA DENGAN SISTEM AIR MENGALIR (kecuali disebutkan khusus).  Sistem green water untuk pendederan lanjutan maupun pembesaran dilakukan bila ketersediaan air terbatas sehingga tidak memungkinkan diaplikasikan sistem air mengalir.
Kolam yang dipergunakan untuk Pendederan 1 sebaiknya bak-bak indoor, dan untuk Pendederan 2 dan 3 bisa kolam-kolam out door.  Pemisahan sesuai ukuran akan mengurangi tingkat kanibalisme dan agar yang ukuran kecil tidak selalu menderita karena kalah bersaing khususnya dalam perolehan   pakan

3.2  PENYIAPAN AIR PASOK

Air yang dipergunakan sebagai pasok untuk budidaya harus disiapkan demikian rupa hingga kualitasnya memenuhi syarat dan juga dalam jumlah yang memadai. Penyiapan air ini meliputi :

ü  Pengendapan, atau cara lain untuk mengurangi kotoran fisik);

ü  Pembasmian bibit penyakit (bila diperlukan);

ü  Penyaringan lebih lanjut untuk diperoleh air yang benar-benar bersih, untuk pendederan 1.

ü  Penampungan dalam tandon masin-masing (untuk pendederan 1 dan untuk keperluan lainnya).


3.3  PENDEDERAN 1 SIDAT

3.3.1  Kolam Pendederan Sidat

Kolam berukuran +/- 2 x 3 x 0,6 m. Kolam Pendederan 1 sebaiknya ditempatkan dalam ruangan (indoor) masksudanya agar suhu air media budidaya dapat lebih stabil.  Suhu yang tidak stabil atau goncangannya besar kurang baik untuk elver (ikan pada umumnya), karena nafsu makan dapat terganggu, juga resiko terserang penyakit lebih besar. 

Kegiatan dalam Pendederan Sidat :

Adapun tahapan  kegiatan/pekerjaan dalam pendederan 1 adalah :

3.3.2   Persiapan kolam dan air media budidaya sidat

Kegiatan persiapan terdiri dari pembersihan, pemberantasan penyakit, pengeringan, dan pengisian air, dengan penjelasan sbb:.

ü  Pembersihan bak dilakukan dengan menyikat dinding dan dasar bak.

ü  Pemberantasan penyakit dilakukan dengan mengosok dinding dengan bisa yang sudah dicepul dalam larutan kaporit 30-100 ppm (bergantung pada kondisi dinding dan dasar bak).

ü  Pengeringan dilakukan hingga kering benar, antara 2-3 hari bergantung pada cuaca.

ü  Pengisian air dilakukan hingga kedalaman +/- 30 cm.  Sudah barang tentu air adalah air yang sudah disiapkan dalam tandon.

 3.3.3  Penebaran elver     

Waktu yang baik untuk menebar elver adalah pada pagi hari saat suhu air masih rendah, yaitu antara pukul 07.00 – 09.00. tujuannya agar elver tidak stres akibat suhu tinggi. Kepadatan elver pada pendederan pertama 4-5 ekor liter air atau 4.000 – 5.000 ekor/m3.

3.3.4    Pemberian Pakan

Pakan tambahan diberikan keesokan harinya atau sehari setelah penebaran. Selama semalam elver dibiarkan beradaptasi dengan lingkungan barunya.

Pakan tambahan berupa cacing sutra yang masih hidup. Diberikan empat kali sehari, yaitu pukul 09.00, pukul 12.00, pukul 15.00, dan pukul 19.00. dosisnya masing-masing 20% dari berat total atau 20 g/5000 ekor elver pada  minggu pertama, 40 g pada minggu kedua, 60 g pada minggu ketiga, dan 80 g pada minggu keempat

3.3.5   Pengontrolan

Untuk menjaga kualitas air tetap baik, sebagian air dalam bak harus diganti dengan air baru. Sebelum melakukan pembuangan air, kotoran  harus dibuang dengan cara disipon.

3.3.7    Pencegahan penyakit

Pencegahan penyakit dilakukan setiap tiga hari sejak minggu pertama sampai minggu keempat. Obat dan bahan yang digunakan adalah Oxytetracyclin 5 – 10 ppm dan garam 200 – 400 ppm.




3.3.8    Pemanenan

Pemanenan dilakukan setelah 2 minggu masa pendederan. Caranya dengan menyurutkan air bak secara perlahan dengan memasang pipa pembuangan. Pipa pembuangan diberi puluhan lubang kecil, lebih kecil dari ukuran elver. Pipa tersebut berfungsi sebagai saringan.

Panen parsial juga bisa dilaksanakan, terutama bila terlihat adanya pertumbuhann yang tidak seragam.  Elver/benih yang sudah lebih besar bisa dipanen terlebih dahulu dan dipindahkan ke kolam pendederan 2.

Penangkapan dilakukan dengan sekup halus setelah air perlahan surut kemudian dimasukkan ke dalam ember. Setelah ember penuh, elver/benih dimasukkan ke dalam hapa yang dipasang di bak lain dengan aliran lebih deras. Hapa berukuran panjang 2 m, lebar 1 m, tinggi 60 cm. demikian penangkapan dilakukan berulang-ulang hingga semua benih tertangkap

3.3.9    Seleksi

Seleksi dilakukan setelah benih dibiarkan selama dua jam agar kondisi tubuh benih pulih. Seleksi dilakukan untuk memisahkan benih yang besar dan kecil untuk dibudidayakan dalam kolam berbeda. Hal ini menghindari kanibalisme.

Benih berukuran besar adalah benih berkualitas lebih baik, sedangkan benih berukuran kecil disebut benih kualitas kedua atau dengan kualitas dibawah kualitas benih besar.

3.4. PENDEDERAN SIDAT LANJUTAN

3.4.1  Umum

Tahapan pekerjaan dan perawatan budiaya pada Pendederan Lanjutan (Pendederan 2 maupun Pendederan 3) pada dasarnya sama dengan  pada tahapan Pendederan 1, kecuali bahwa pada tahapan ini kita sudah tidak mengajari benih untuk makan.  Pendederan 2 dimulai dari penyiapan kolam dan media budidaya.

Kolam Penderan 1 yang digunakan bisa kolam tanah dengan ukuran 50-100 m2 dan kedalaman 80 cm, sedang untuk kolam Pendederan 2 bisa 100-300 m2 dengan kedalaman 90-100 cm.

3.4.2  Persiapan kolam dan media budidaya

Kegiatan persiapan terdiri dari perbaikan pematang dan bagian-bagian kolam yang bocor, pembersihan, pengeringan, pemberantasan penyakit, pembilasan, dan pengisian air. Pengeringan dilakukan dengan cara membiarkan bak terjemur matahari. Pemberantasan penyakit : rendam kolam dengan larutan kaporit dengan dosis 30-50 gram/m3 selama dua hari, kemudian dibilas hingga sisa-sisa dan bau kaporit hilang, dijemur. Pemasukan air dilakukan dua hari setelah pemberantasan penyakit

3.4.3  Penebaran benih

Pendederan tahap kedua harus dilakukan pengaturan padat tebar agar menghasilkan kualitas sidat yang baik.

3.4.4  Perawatan pemeliharaan

Perawatan pemeliharaan meliputi pemberian pakan, pengontrolan kualitas air, monitoring pertumbuhan, monitoring kesehatan, panen parsial dan panen total.

Pakan yang diberikan adalah pasta dengan protein >50%, dengan dosis 8-10% dan frekuensi pemberian 4  kali setiap hari.  Perlu diperhatikan : Pertama, penyiapan dan pemberian pakan harus dikontrol agar sesedikit mungkin pakan yang tesuspensi ke dalam air tanpa termakan, karena kolam akan cepat kotor dan menurunkan kualitas airnya.  Ke dua, bila perlu dilakukan penyesuaian jumlah pakan dengan kondisi, bila kondisi kurang menunjang, guna menekan pemborosan karena banyaknya pakan yang tidak dimakan.

Monitoring kualitas air baik melalui pengukuran parameter-parameter kualitas air utama maupun secara visual.  Bila ada nilai parameter kualitas air yang tidak sesuai, periksa penyebabnya dan lakukan tindakan perbaikan. Rekam dalam jurnal budidaya yang telah disiapkan.

Cermati setiap kondisi benih utamanya bila ada kelainan tingkah laku termasuk nafsu makannya, karena bila ada hal demikian bisa mengindikasikan adanya serangan penyakit.  Keterlambatan pengenalan gejala serangan penyakit akan dapat berakibat fatal, karena bila sudah cukup luas serangannya maka penanggulangannya akan lebih sulit dan merugikan.

Monitoring pertumbuhan paling tidak dilakukan setiap dua minggu dengan mengambil sejumlah contoh dan mengukur panjang total dan beratnya (satu persatu).  Bandingkan hasilnya dengan laju pertumbuhan standar yang telah dibuat (seperti pada Tabel 5).  Evaluasi laju pertumbuhan dan keseragaman ukurannya.  Bila kurang memuaskan, analisis faktor-faktor yang diduga berpengaruh dan lakukan tindakan perbaikan.

3.4.5  Sekilas tentang budidaya sidat sistem resirkulasi

Budidaya sistem resirkulasi adalah suatu sistem budidaya dimana air buang ditreatmen kemudian dipergunakan kembali sebagai media budidaya di unit/kolam tersebut.  Sistem ini mampu ditebar dengan kepadatan tinggi, denghan produktivitasnya tinggi.  Pemlihaan air yang memadai kalau bisa – sempurna  menjadi prasyarat mutlak keberhasilan sistem ini.  Filter minimal yang harus ada adalah filter fisik untuk membuang kotoran dan filter biologi untuk merombak amonia menjadi nitrat yang relatif tidak toksik. Peralatan pemiliaan air lain sangat baik bila juga diinstal, seperti hidroklon, skimmer, lampu ultra violet, dan sarana agar suhu lebih stabil.  Penjagaan sistem pemuliaan agar selalu berfungsi optimal mutlak dilakukan.

Keunggulan sistem ini adalah produktivitas tinggi meski ukuran kolam kecil dan dan air terbatas, dan kondisi budidaya dapat lebih terkontrol, tidak terpengaruh oleh kondisi lingkungan sekitarnya.  Kelemahannya adalah biaya relatif tinggi, sehingga harus diperhitungkan benar-benar kelayakannya untuk suatu komoditas

3.4.6  Pemanenan

Panen dapat berupa panen parsial dan panen total, sebagaimana dijelaskan pada Pendedern 1.

Untuk mengetahui hasil panen, benih yang ditangkap harus dihitung. Perhitungan dapat dilakukan setelah seleksi maupun sebelum penebaran kembali ke bak pendederan selanjutnya.

3.4.7  Seleksi ukuran (Grading)

Pentingnya dan cara grading sebagaimana halnya telah dijelaskan pada Pendederan 1.

PEMBESARAN SIDAT

4.1  UMUM

Dari hasil pendederan, ukuran sidat belum bisa dikatakan sidat konsumsi karena masih terlalu kecil. Ukuran sidat konsumsi antara 120 – 200 g (5-8 ekor/kg) dan 500g ke atas. Agar mencapai ukuran tersebut diperlukan kegiatan pembesaran.

Kunci sukses pembesaran sidat:

Kolam yang dipergunakan adalah kolam tanah, dengan ukuran 300-1000 m2.  Kolam ukuran besar mempunyai keunggulan tersendiri, khususnya bahwa suhu cenderung lebih stabil baik suhu maupun planktonnya dibandingkan dengan kolam ukuran kecil (dengan kedalaman air sama). 

4.2        PERSIAPAN KOLAM DAN MEDIA PEMELIHARAAN

Persiapan kolam dan media pemeliharaan pada dasarnya sama dengan pada Pendederan 2 ataupun 3.

Pengapuran bertujuan untuk meningkatkan produktivitas tanah, terutama pH dan alkalinitasnya. Untuk kolam yang pH nya sudah 7 tidak perlu dilakukan pengapuran.

Pemupukan dimaksudkan untuk meningkatkan perkembangan plankton.  Meski sidat ukuran besar sudah tidak memakan plantkon (hewani), namun pupulasi plankton akan dapat meningkatkan kadungan oksigen air kolam, serta menciptakan suasana teduh yang nyaman bagi sidat.  Dosis pupuk adalah : pupuk kandang 200-500 g/m2; urea dan TSP 5-10 g/m2.  Pupuk kandang mempunyain keunggulan baik menyuburkan tanah kolam maupun pelepasan unsur haranya yang secara bertahap, namun perlu hati-hati dengan kemungkinan adanya bibit penyakit. Umumnya pupuk kandang diaplikasikan bila sudah benar-benar kering, atau bila masih basah perlu treatment khusus.

Pemupukan dilakukan dengan cara menebar pupuk ke seluruh dasar kolam. Untuk pupuk kandang bisa dengan memasukkannya dalam karung agar pelepasan hara bisa bertahap.

4.3        PENEBARAN

Benih yang ditebar adalah hasil dari Pendedsern 3, dengan ukuran 3-7 gram/ekor.  Sudah barang tentu ukuran yang kurang seragam ini digrading terlebih dahulu untuk ditebar pada kolam yang berbeda.  Besaran padat tebar untuk tahapan pembesaran bergantung pada ukuran benih. Untuk tahap Pembesaran 1, ukuran benih 3-7 gram/ekor, padat tebarnya +/- 50 ekor/m2 ), dan untuk Pembesaran tahap ke dua padat tebar 30 ekor/m2.  Pembesaran tahap ukuran benih +/- 50 g/ekor adalah 10-15 ekor/m2.
Penebaran benih dilakukan pada pagi hari saat suhu masih rendah, yaitu pukul 07.00 – 09.00. tujuannya agar benih tidak stress pada suhu tinggi.

4.4        PERAWATAN PEMELIHARAAN

Perawatan pemeliharaan meliputi pemberian pakan, kontrol kualitas air, monitoring pertumbuhan dan kondisi sidat, grading, dan pemanenan pada dasarnya sama dengan pada tahap Pendederan lanjut (Pendederan 2 dan 3).

4.4.1   Pemberian pakan

Pakan untuk pembesaran adalah pasta, rucah, dan pelet. Kandungan protein harus cukup tinggi (45-50%) dan sesuai untuk sidat.  Contoh pasta dan pelet disajikan pada Gambar 16. Sebagai pakan tahapan pembesaran, pelet sangat baik, karena pakan dalam bentuk pelet lebih efektif dibandingkan dengan pasta.  Beberapa keunggulannya antara lain adalah yang terbuang relatif lebih sedikit, dan lebih mudah penanganannya.  Dosis pakan antara 2-6% dari berat biomas per  hari, dengan frekuensi 2-3 kali sehari. Untuk kontrol pakan bisa dipergunakan anco; habis tidaknya pakan dan lamanya pakan dihabiskan merupakan salah satu dasar untuk penyesuaian pemberian pakan. Kontrol pakan yang baik akan menurunkan resiko pemborosan dan menekan konversi pakan, suatu faktor utama yang berpengaruh pada tingkat keuntungan usaha.

Selain cara pemberian, tak kalah penting adalah kontrol pakan khususnya pengamatan habisnya pakan.  Bila waktu habisnya pakan terlalu lama, perlu diketahui penyebabnya; bila perlu dilakukan penyesuaian dosis pemberiannya. 

4.4.2   Pengontrolan

Pengontrolan dilakukan setiap hari untuk melihat keadaan kolam dan benih. Waktunya bisa bersamaan dengan pemberian pakan tambahan. Saat pengontrolan, keadaannya harus diamati dengan cermat. Pengontrolan budidaya meliputi monitoring kualitas air, laju pertumbuhan dan kondisi/kesehatan ikan yang dibudidayakan.

Monitoring kualitas air baik melalui pengukuran parameter-parameter kualitas air utama maupun secara visual.  Bila ada nilai parameter kualitas air yang tidak sesuai, periksa penyebabnya dan lakukan tindakan perbaikan. Rekam dalam jurnal budidaya yang telah disiapkan.

Cermati setiap kondisi benih utamanya bila ada kelainan tingkah laku termasuk nafsu makannya, karena bila ada hal demikian bisa mengindikasikan adanya serangan penyakit.  Keterlambatan pengenalan gejala serangan penyakit akan dapat berakibat fatal, karena bila sudah cukup luas serangannya maka penanggulangannya akan lebih sulit dan merugikan.

Monitoring pertumbuhan paling tidak dilakukan setiap dua minggu dengan mengambil sejumlah contoh dan mengukur panjang total dan beratnya (satu persatu).  Bandingkan hasilnya dengan laju pertumbuhan standar yang telah dibuat (seperti pada Tabel 4).  Evaluasi laju pertumbuhan dan keseragaman ukurannya.  Bila kurang memuaskan, analisis faktor-faktor yang diduga berpengaruh dan lakukan tindakan perbaikan.

Monitoring kondisi sidat yang dibudidayakan sangat mutlak iperlukan, agart dapat diketahui secara dini adanya gelaja kelainan khususnya karena adanya serangan penyakit. 

4.4.3   Pemanenan

Tahapan pekerjaan dalam panen parsial, bisa dilihat pada Gambar 18, sedang untuk panen total dijelaskan pada prosedur berikutnya.

4.4.4            Seleksi ukuran

Seleksi sidat konsumsi dilakukan keesokan harinya. Sidat yang mati harus dibuang agar tidak mengotori air dalam wadah penampungan. Seleksii dilakukan dengan memisahkan sidat Seleksi sidat konsumsi dilakukan keesokan harinya. Sidat yang mati harus dibuang agar tidak mengotori air dalam wadah penampungan. Seleksii dilakukan dengan memisahkan sidat ang besar dan yang kecil.

Untuk jumlah yang tidak terlelu banyak, grading dilakukan secara manual sebagaimana dijelasakan pada tahapan Pendederan 1; sedang untuk sidat yang banyak, diperlukan waktu yang cepat, sehingga bisa dengan alat bantu grading. Prosedur seleksi ukuran disajikan pada Gambar 19.

4.4.5       Pengemasan

Tahapannya adalah penimbangan, dan pengemasan.

Perhitungan sidat dilakukan secara manual dengan cara sampling.  Cara ini cukup efektif. Sidat juga harus ditimbang agar diketahui beratnya. Setelah diketahui jumlah dan beratnya, sidat siap untuk dijual.

Tahap terakhir dari proses kegiatan budidaya adalah penanganan pasca panen. Dengan penanganan  pasca panen yang benar diharapkan nilai jual tidak turun. Ikan sidat mempunyai nilai jual tinggi pada saat diperdagangkan dalam kondisi hidup dan segar (dan berkualitas baik). Untuk itu diperlukan cara pengemasan ikan sidat ukuran konsumsi akan menjamin kelangsungan hidupnya dari mulai penanganan panen di tambak sampai ke lokasi pasar.

Sumber :
Saifurridjal Dan Sinung Rahardjo. 2011. Budidaya Sidat. Materi Penyuluhan Perikanan. Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan. Jakarta

Comments