Pembenihan Ikan Mas Secara Tradisional

Media Penyuluhan Perikanan - Kegiatan pembenihan dapat dilakukan baik di indoor maupun di outdoor. Para pembudidaya pada umumnya melakukan kegiatan pembenihan di outdoor karena memang pada saat itu mereka hanya mengetahui cara tersebut dan metode tersebut dianggap lebih mudah dari pada pembenihan yang dilakukan di indoor, namun keterbatasan kegiatan pembenihan outdoor yang tergantung pada pengaruh iklim dan perubahan suhu yang tidak stabil mengakibatkan hasil yang didapatkan tidak maksimal sedangkan kebutuhan benih ikan semakin meningkat, oleh sebab itu pembudidaya mulai melakukan pembenihan di indoor, pembenihan yang dilakukan di indoor pada umumnya hanya mulai dari pemijahan sampai pemeliharaan larva dan benih karena pada fase inilah dianggap sebagai fase yang paling kritis karena rentannya telur dan larva terhadap perubahan lingkungan dan penyakit. Sedangkan kegiatan pemeliharaan induk tetap dilakukan di outdoor.

Persiapan Wadah Pemijahan 

Dalam Kegiatan pemijahan ikan mas pada umumnya menggunakan tiga kolam yang perlu disiapkan, ketiga kolam tersebut adalah kolam pemijahan, kolam penetasan dan kolam pendederan, namum pada kenyataan di lapangan banyak pembudidaya yang hanya menggunakan dua kolam bahkan ada yang hanya menggunkan satu kolam yang berarti kolam pemijahan digunakan sebagai kolam penetasan telur, tempat penetasan telur sebagai pendederan bahkan kegiatan pemijahan, penetasan telur dan pendederan dilakukan dalam kolam yang sama, namun berdasarkan hasil di lapangan hasil terbaik didapat dari kolam yang terpisah.

Berhasilnya kegiatan pemijahan yang menggunakan yang tiga kolam karena kondisi kolam yang lebih bersih, sehingga meminimalkan tumbuhnya penyakit. Pada saat Induk melakukan pembuahan maka sperma dan cairan yang dikeluarkan oleh induk betina baik lendir atau cairan telur membuat air menjadi kotor, sehingga resiko terserangnya telur oleh jamur menjadi semakin besar sehingga telur perlu dipindahkan. Pada kolam penetasan telur, jika telur sudah menetas maka benih yang ada harus segera dipindahkan karena telur yang tidak menetas kaya akan kandungan organik sehingga potensi timbulnya penyakit dan jamur menjadi semakin besar, maka jika benih tidak dipindahkan maka resiko terserangnya benih oleh jamur atau penyakit menjadi semakin besar. Kolam pemijahan biasanya berukuran tidak terlalu luas.

Adapun ukuran kolam pemijahan yang biasa digunakan adalah ukuran 4m x 4m hingga 4m x 10m, bila kolam pemijahan menggunakan kolam beton maka ukurannya dapat dipersempit menjadi 2m x 4m, Susanto dan Rochdianto (2002). Ukuran-ukuran ini bukan patokan yang mutlak yang penting kolam yang digunakan tidak membuat induk berdesakan. Sebelum digunakan, terlebih dahulu kolam pemijahan dikeringkan dan dijemur dipanas matahari selama 2-3 hari. Bila cuaca mendung atau matahari tertutup awan, waktu pengeringan dapat diperpanjang manjadi 5-7 hari, Susanto dan Rochdianto (2002).

Dasar kolam yang benar-benar kering ditandai dengan dengan bau tanah saat diisi air. bau tanah tersebut berdasarkan pengalaman dapat merangsang induk ikan mas untuk memijah, hal tersebut dikarenakan mirip dengan suasana di alam pada saat memasuki musim penghujan. Oleh karena itu pengeringan dan penjemuran mutlak dilakukan. Cara lain untuk merangsang induk memijah adalah dengan membakar batubata dan jerami di dasar kolam, hasil dari pembakaran batubata tersebut juga mengasilkan bau tanah yang sama dengan pengeringan kolam. Pembakaran dilakukan dengan cara meletakkan jerami di seluruh dasar kolam sehingga ketiga dibakar dasar kolam kering secara merata, sedangkan jika menggunakan batu bata, batu bata yang telah dibakar diletakkan secara merata di dasar kolam, atau jika batu bata yang tersedia terbatas dapat diletakkan secara merata. Jika bak terbuat dari beton sebaiknya diletakkan di dalam ruangan yang atapnya terbuat dari fiber sehingga sinar matahari tembus ke dalam ruangan dengan kondisi tersebut maka pengeringan lebih mudah dilakukan tanpa kawatir hujan.

Pembenihan Ikan Mas Secara Tradisional
Pembenihan Ikan Mas Secara Tradisional
Setelah diperkirakan kolam sudah benar-benar siap maka air yang telah difilter diisikan kedalam kolam sampai kedalaman 50-80cm. Langkah Selajutnya adalah pemasangan kakaban, kakaban dibuat dari ijuk aren yang dijepit dengan dua belah bambu ditengahnya. Ukuran kakaban yang ideal untuk ikan mas yaitu panjangnya 1,5 m dan lebar 40-50 cm. Agar dapat terapung kakaban harus dipasang di atas bambu utuh dan dijepit dengan bilah bambu agar tidak berantakan ketika disenggol kawanan induk, jarak antar kakaban sekitar 10 cm. Sebagai acuan jumlah kakaban yang dapat dipakai untuk setiap 1 kg induk ikan mas adalah 5-8 buah letak kakaban diusahakan berjarak 5-10 cm di bawah permukaan air, Susanto dan Rochdianto (2002)

Teknik Pemijahan 

Berhasil tidaknya kegiatan pemijahan tergantung pada tingkat kematangan gonad atau telur induk, induk yang dipelihara di kolam pemeliharaan induk selama 1,5 bulan biasanya sudah mengalami pematangan gonad dan telur. Ciri-ciri induk yang sudah siap dipijahkan adalah bagian perutnya tampak gendut dan tampak menggelambir jika dilihat dari atas, apabila diraba perutnya terasa lembek dan disekitar urogenitalnya tampak memerah dan akan keluar telur pada saat dipijat ke arah urogenital, sedangkan ciri-ciri induk jantan yang sudah matang gonad ditandai dengan keluarnya sperma berwarna putih susu jika perut diurut ke arah urogenitalnya, Khairuman, dkk (2008).

Induk yang akan dipijahkan dimasukkan ke dalam kolam pemijahan setetah kolam telah siap. Proses pemasukan induk harus dilakukan secara hati-hati dan satu-satu dan tidak boleh kasar, penanganan induk yang tidak hati-hati akan menyebabkan induk stres, penanganan yang kasar juga dapat mengakibatkan induk betina mengeluarkan telur sebelum waktunya.

Selama proses pemijahan induk yang dipijahkan tidak boleh diberi makan, hal tersebut dilakukan karena pakan yang diberikan selain dapat mengotori kolam juga dapat menyumbat saluran telur induk betina sehingga dapat menggagalkan kegiatan pemijahan, Khairuman, dkk (2008) Perbandingan bobot antara induk jantan dan induk betina adalah 1:1 Artinya setiap berat induk betina 1 kg maka jantan juga harus 1 kg ( bisa terdiri dari beberapa ekor induk jantan dan betina), Khairuman, dkk (2008).

Apabila tahap-tahap dalam pemijahan dilakukan dengan benar maka induk akan mulai memijah menjelang tengah malam, sebelum terjadi proses pembuahan maka biasanya pada pukul 20.00-22.00 induk jantan akan mengejar-ngejar induk betina. Setelah berkejaran maka menjelang tengah malam biasanya induk betina akan mengeluarkan telurnya dan jantan akan merespon dengan mengeluarkan sperma, sedikit demi sekikit telur yang berwarna kuning cerah akan tampak menempel pada kakaban, menjelang pagi hari sekitar pukul 05.00 frekuensi pengeluaran telur dan sperma oleh induk betina dan induk jantan akan mulai berkurang.

Pada saat itu sebaiknya kegiatan pemijahan sebaiknya dihentikan, hal tersebut dilakukan dengan cara mengambil kakaban dan dipindahkan ke dalam kolam penetasan dan diikuti dengan memindahkan induk ke kolam pemeliharaan induk. Apabila induk tidak segera diambil, maka baik induk jantan maupun induk betina akan memakan telur yang sudah dikeluarkan, karena biasanya induk yang sudah kelelahan memijah akan mulai mencari makan, Susanto dan Rochdianto (2002).

Penetasan Telur dan Pemeliharaan Larva 

Kakaban yang dari kolam pemijahan dipindahkan ke kolam penetasan telur, di dalam kolam penetasan telur diberi hapa yang terbuat dari kain terilin berukuran 2x1x1 m, berbentuk persegi panjang yang dibentangkan kurang lebih 2 m dari pintu pemasukan. manfaat dari penggunaan hapa adalah untuk mencegah kemungkinan munculnya predator seperti ular, belut, dll yang dapat masuk ke dalam kolam penetasan telur. Kakaban harus di letakkan tenggelam kurang lebih 10 cm dari permukaan air, selama kegiatan penetasan telur untuk manangani jika turun hujan maka pada kolam penetasan telur diberi peneduh. Telur akan menetas menjadi benih dalam waktu kurang lebih 2-3 hari, Santoso,(2005.

Setelah telur menetas, harus segera dilakukan pengangkatan kakaban dari dalam hapa atau bak fiber satu akuarium persatu. Larva yang baru masing memiliki cadangan makanan berupa kantong kuning telur. Kuning telur akan teserap habis dalam waktu kurang lebih antara 3-6 hari setelah menetas, Nugroho dan Kristanto, (2008). Setelah cadangan telur habis maka larva dapat diberi makan berupa rotifera, cacing sutra dan kuning telur rebus, caranya sebutir telur ayam matang di ambil bagian kuningnya, kemudian hancurkan dan dilarutkan ke dalam 250 cc air bersih setelah berbentuk suspensi masukkan ke dalam alat penyemprot nyamuk atau bisa juga diberikan secara langsung, pemberian pakan dilakukan secara merata, pemberian pakan dilakukan sebannyak lima kali sehari, sebutir telur cukup untuk 100.000 ekor larva. Perawatan larva hingga benih berumur 4-5 hari paling lama 7 hari, selanjutnya benih dapat dilepas dari hapa, Santoso (2005).

Sumber : Alam, Mahendra. 2011. Budidaya Ikan Mas (Cyprinus carpio). Materi Penyuluhan Kelautan dan Perikanan No. 002/TAK/BPSDMKP/2011. Pusat Penyuluhan KP - BPSDMKP. Jakarta

Comments