Teknik Budidaya Ikan Hias Air Tawar Platy Koral

Teknik Budidaya Ikan Hias Air Tawar Platy Koral

Media Penyuluhan PerikananIkan hias air tawar termasuk komoditi yang dapat dibudidayakan secara terus menerus dan dapat diperbaharui sewaktu-waktu. Berbeda dengan ikan hias air laut.  Salah satu contoh ikan hias air tawar yang mudah dibudidayakan dan mudah berkembang biak adalah Ikan hias platy koral.

Dalam menbudidayakan ikan hias ini perlu diperhatikan akan adanya kemungkinan negatif seperti terserang penyakit. Apabila ikan hias sudah terserang panyakit maka tidak akan lagi terlihat keindahan dan kecantikan pada ikan hias ini.  Oleh karena harus adanya pencegahan dan pengobatan baik menggunakan obat – obat kimiawi maupun obat – obat alami.

Apabila ini tidak segera ditanggulanggi bukan sekedar hilangnya keindahan dan kecantikan akan hias tersebut tetapi juga akan mempengaruhi turunnya tingkat produksi yang dicapai sehingga akan mengakibatkan kerugian bagi para pembudidaya ikan hias platy koral.

DESKRIPSI
Klasifikasi
Platy koral merupakan salah satu jenis ikan hias air tawar yang dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
  • Phyllum            : Chordata
  • Sub Phyllum    : Vertebrata
  • Class                : Pisces
  • Sub Class        : Teleostei
  • Ordo                : Cyprinodontoidei
  • Sub Ordo        : Poecilioidei
  • Famili             : Poecilidae
  • Sub Famili      : Poecilinae
  • Genus             : Xyphophorus
  • Spesies           : Xyphophorus maculatus

Morfologi
Ikan platy koral popular dikalangan masyarakat sebagai ikan hias yang mudah beranak, dan mempunyai pasaran bagus. Dari namanya maculates yang berarti bintik atau burik mungkin
sebagian orang menganggapnya sebagai ikan yang mempunyai warna berbintik-bintik.  Anggapan tersebut agaknya agak melenceng karena pada kenyataannya ikan ini mempunyai warna merah mulus. Muliutnya terletak diujung moncong (terminal). Bentuk badannya jika dilihat dari belakang atau dari depan, pipih kesamping (compressed). Dengan mulut yang berbentuk runcing sepintas lalu plati koral ini mirip ketupat. Untung saja ekornya berbentuk membulat, hingga menolong plati koral dari sebutan si ketupat.

Pada gonopodiumnya tidak terdapat jangkar seperti halnya platy pedang, demikian juga ekornya tidak dihiasi dengan pedang. Sirip punggung berbentuk biasa saja, membulat. Warna dasar badannya kekuninganhingga coklat zaitun dengan satu atau lebih bintik hitam pada batang ekor. Pada badannya terkadang dilewati dua atau lima buah garis melintang yang terlihat samar-samar. Sirip dada, perut, ekor tidak berwarna, transparan. Pada batang ekor kadang-kadang pinggirannya berwarna biru atau kehijauan

Habitat
Di alam aslinya plati banyak sekali di temukan pada kolam, rawa payau, dan beberapa perairan tergenang lainnya. Karena merupakan ikan hias, plati ini juga hidup di akuarium. Di akuarium, ikan ini dapat hidup damai bersama kawannan ikan dari keluarga lain.

Agar ikan tersebut dapat hidup aman dan damai, sebaiknya di akaurium itu terdapat tanaman air dasar seperti Hydrilla dan tanaman yang mangapung seperti eceng gondok yang telah bersih dari lumpur dan telur – telur siput. Salah satu guna dari tanaman tersebut adalah sebagai tempat persembunyian anak – anak plati koral dari sergapan induknya. Suhu yang di senangi antara 20 sampai 25 derajat celcius. Habitatnya di air tawar.

Penyebaran
Daerah asalnya adalah Meksiko hingga Guatemala, tetapi sudah menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Di Indonesia terdapat di kolam rawa payau dan beberapa perairan tawar tergenang lainnya.

BUDIDAYA

Pembenihan
Ikan platy koral berkembang biak dengan cara bertelur. Pemijahan berlangsung secara massal. Perbandingan antara jantan dan betina adalah 1:2. Platy jantan akan mengejar dan menanduk-nanduk betina. Setelah 4-7 hari, akan terlihat anak-anak ikan yang bersembunyai di dasar bak atau akuarium yang telah  di beri tanaman air. Pada saat platy koral berumur 1-2 bulan jarang terserang penyakit. 

Tetapi apabila terserang penyakit cukup diberikan garam dapur dengan dosis sekitar 0,5-10gr/l air, atau dapat juga menggunakan bahan alami seperti tapak liman dengan dosis 10 lembar ambil ekstratnya untuk 10 liter air.

Pembesaran
Pada pembesaran ikan platy koral sering terlihat adanya penyakit. Penyakit ini dapat ditanggulangi dengan menggunakan obat blitz inc dengan dosis 1 tetes untuk setiap liternya. Bisa juga dengan menggunakan bahan alami seperti kulit buah delima, dosisi yang digunakan yaitu 10-15 gr kulit buah kemudian direbus.

PENYAKIT

Penyakit guppy
Ikan yang terserang penyakit ini biasanya malas berenang dan cenderung mengapung dipermukaan air. Terlihat adanya bintik-bintik putih terutama dibagian sirip, tutup insang, dan ekor yang diikuti dengan bengkak-bengkak dan banyak mengeluarkan lendir dan warna badan berubah menjadi pucat.

Kulit kelama-lamaan akan terkelupas karena sering menggosok-gosokkan tubuhnya atau kebenda keras sehingga tingkah laku berenang menjadi abnormal. Pada serangan sering ikan banyak mati. Penyakit ini menyerang ikan yang kondisinya menurun, misalnya ikan yang baru datang dari jauh atau kurang pakan, maupun ikan yang hidup di air yang kualitasnya jelek.


Penyakit Kutu Ikan
Gejala – Gejala pada penyakit kutu ikan adalah gejala yang ditimbulkan adalah parisit ini melekat dan menyerang kulit dan sirip dengan dua pengait (sueker) yang tajam hingga masuk kekulut menembus kedaging, menghisap darah dan cairan didalam tubuh ikan. Ikan sering mengosok-gosokan badan kedinding bak atau kolam dan melompat-lompat.  Pada daerah yang terinfeksi, dapat terjadi bercak merah sampai kehitaman dan kadang disertai infeksi sekunder bahteri atau jamur.

DAFTAR PUSTAKA
Bachtiar, Yusuf, 2003, Budidaya Ikan Hias Air Tawar Untuk Ekspor, PT AgroMedia Pustaka, Jakarta
Dalimartha, setiawan, 2003, Atlas Tumbuhan Obat Indonesia, Puspa Swara, Jakarta.
Irawan, Agus, 2004, Menanggulangi Hama dan Penyakit Ikan, CV.Aneka Solo, Solo
Lesmana, D.S, 2002, Mencegah dan Menanggulangi Penyakit Ikan Hias, Penebar Swadaya, Jakarta
Rahmawati Y. dan Syafei L.S, 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan “Ikan Platy Koral Sehat Produksi Meningkat”. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor.
Teknik Budidaya Ikan Sepat Siam

Teknik Budidaya Ikan Sepat Siam

Media Penyuluhan PerikananIkan Sepat Siam merupakan ikan asli negara Thailand.  Di habitat aslinya, ikan ini hidup di rawa - rawa yang banyak ditumbuhi tanaman airnya, karena ikan ini butuh substrat sebagai tempat melatakkan busa untuk telur - telurnya.

Meskipun ikan ini tidak begitu populer dikalangan masyarakat luas, namun ikan ini cukup dikenal di Indonesia. Meskipun ikan ini adalah ikan untuk konsumsi, tapi pada ukuran kecil ikan ini bisa dijadikan sebagai ikan hias, karena bentuk tubuh dan warnanya sangat menarik.

DESKRIPSI IKAN SEPAT SIAM
Ikan sepat siam merupakan ikan asli  negara Thailand, dan hidup di rawa-rawa. Ikan ini di datangkan ke Indonesia pada tahun 1934 dari semenanjung Malaka.

Sistematika
  • Ordo               : Labyrinthici
  • Sub Ordo        : Anabantoidae
  • Famili             : Anabantidae
  • Genus             : Trichogaster
  • Species           : Trichogaster pectoralis

Ciri-ciri
  • Badan memanjang, pipih kesamping (compressed), tinggi badan 2,2 sampai 3 kali panjang standar.  Sirip punggung mempunyai 7 buah duri dan 10-11 jari-jari sirip lemah, sirip dada lebih panjang daripada kepala, mulut sangat kecil dan dapat disembulkan.
  • Jari-jari sirip perut yang pertama mengalami modifikasi menjadi filamen yang panjang mencapai sirip ekor. Linealateralis (1.1.) terdiri dari 42-47 sisik.  Pada daerah punggung badan hijau kegelapan sedangkan pada bagian badan sebelah sampaing sisik lebih terang.  Pada kepala dan badan terdapat garis-garis yang melintang dan dari mata sampai ke ekor terdapat garis memanjang yang terputus.  Pada sirip dubur terdapat 2-3 garis hitam yang memanjang (longitudinal).Panjang ikan maksimum yang dapat dicapai  ± 250 mm.Rumus jari-jari sirip sebagai berikut :D.VII. 10-11;  A. IX-XII.  33-38;  L.1.  55-63.

Sifat-Sifat
Sepat siam merupakan ikan sungai dan rawa yang cocok sekali di pelihara di kolam-kolam.  Jenis ikan ini dapat hidup pada perairan yang pH-nya berkisar antara 4 - 9.  Jenis ikan ini mudah dibiakkan di sawah dan kolam.  Kematangan kelamin mulai terjadi pada  umur 7 bulan.  Pembiakan terjadi dengan terlebih dahulu ikan tersebut membuat sarang berupa gelembung-gelembung  (busa) yang bergaris tengah ± 5 cm.  Telur yang dihasilkan akan terapung berada pada sarang tersebut.  Seekor induk yang bertelor dapat menghasilkan 7000-8000 butir telor, sedangkan larva yang hidup biasanya tidak lebih dari 4000 ekor.

Telur berwarna kuning  atau putih kekuning-kuningan, mengandung globul minyak sehingga mempunyai sifat mengapung, dan embrio menetas setelah 36-48 jam dari pembuahan.  Kantong kuning telur diserap dalam waktu 3-7 hari.  Pemijahan dikolam terjadi sepanjang tahun.  Lava dan benih memakan plankton.  Ikan-ikan dewasa memakan phytoplankton seperti Bacillariphyceae, Cyanophyceae, plagellata, Zooplankaton seperti Cilliata, Rotifera, Cladocera, Copepoda, Cholorophyceaedan tumbuh-tumbuhan tinggi yang membusuk.

Pertumbuhan di kolam dan di sawah mencapai 7-9 cm dalam waktu 3 bulan, 10-12 cm dalam waktu 6 bulan dan 16-18 cm dalam waktu 12 bulan.  Berat ikan yang besar antara 130-160 gram.  Pemeliharaan yang baik adalah di daerah-daerah ketinggian sampai 800 meter dpl.

Penyebaran
Tempat asal ikan sepat siam adalah Thailand.Indonesian mendatangkan ikan ini pada tahun 1934 dari semenanjung Malaka. Kemudian jenis ikan ini karena habitat asalnya adalah rawa-rawa, ditebarkan pula didaerah rawa-rawa diperairan Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.

Di Sumatera Selatan ikan ini berbiak dengan cepatnya dan kini jenis ikan ini merupakan ikan penting yang mendominasi daerah rawa.  Hasil penangkapan suatu perairan umum di sumatera selatan, 60% adalah sepat siam.  Jenis ikan ini ditangkap dengan macam-macam alat seperti pangilar (sejenis perangkap) dibuat dari kawat atau rotan, pukat (gill net) dan empang - lulung terbuat dari bambu  dengan rotan sebagai pengikatnya.  Demikian pula halnya di perairan Kalimantan, jenis ikan ini mempunyai peranan penting.  Jenis ikan ini telah dibawa pula ke Bali, Lombok, Flores dan Ambon.

Pada umumnya jenis ikan ini diolah sebagai ikan asin yang diekspor ke Jawa.
Pemeliharaan ikan sepat siam di kolam-kolam di Jawa kurang popular, meskipun di daerah daratan rendah banyak pula yang memelihara.


PROSES BUDIDAYA

Pemeliharaan
Pemeliharaan ikan sepat siam dilakukan di kolam atau di sawah, terutama di daerah-daerah dataran rendah atau di rawa-rawa yang pH-nya sedikit asam atau di kolam-kolam tergenang tanpa adanya aliran air sehingga zat asam minimal. Ikan sepat siam adalah ikan yang mempunyai alat labyrinth sehingga kekurangan zat asam tidak merupakan masalah besar.

Di Kalimantan Selatan pemeliharaan sepat siam dilakukan dalam beje-beje yang dibuat di sawah atau di rawa berupa saluran-saluran berukuran lebar 2 m dan tinggi 1 - 1,5 m sedangkan panjangnya tidak tertentu.  Saluran ini pada musim hujan tergenang air bila air hujan turun pada musim kemarau maka ikan akan berkumpul dan dapat dilakukan penangkapan dengan  mudah.

Pemeliharaan ikan sepat siam di sawah biasanya dikombinasikan dengan ikan jenis lain atau poli kultur.  Pada pemeliharaan di sawah sebaiknya saluran pinggir atau saluran tengah diperdalam, agar plankton yang dihasilkan cukup tersedia.

Perkembangbiakan
Untuk membiakan jenis ikan ini tidak diperlukan perlakuan khusus seperti pada halnya ikan-ikan mas, tawes atau gurame.  Ikan sepat dapat berbiak di kolam pemeliharaan dengan sendirinya.  Tumbuh-tumbuhan air seperti Hydrilla persicillata dan air yang cukup zat asam diperlukan.

Kolam pemijahan hendaknya agak dalam yaitu sekitar 70 - 100 cm, dan pada waktu pemijahan terjadi kolam hendaknya berair diam sehingga pemasukan air cukup untuk mengganti air yang hilang karena penguapan atau merembes. Tumbuh-tumbuhan air yang mengapung baik sekali disediakan untuk menutup sebagian kecil permukaan saja.  Pada waktu pemijahan maka ikan jantan akan membuat sarang terlebih dahulu. 

Pembuatan sarang dilakukan selama 1 - 2 hari.  Gelembung - gelembung udara (buih) yang membentuk sarang tersebut bergaris tengah 1,5 - 3 mm.  Pada waktu pembuatan sarang tersebut ikan-ikan lain tidak diperkenankan mendekat.  Jika ada ikan yang mendekat maka akan dikejarnya sehingga keluar dari daerah territorial tempat  sarang  dibuat.   Sarang  biasa dibuat dari bagian tepi atau di sudut - sudut.  Setelah sarang siap maka ikan jantan memikat betina dan pemijahan terjadi di bawah sarang.

Telur yang telah dibuahi tadi mengapung sampai mencapai sarang tersebut.  Telur menetas setelah 2 - 3 hari.  Telur kemudian dijaga oleh jantan, terutama dari gangguan-gangguan lain yang mendekat.
Untuk mengembangbiakkan ikan sepat siam ini sebaiknya kolam dipersiapkan dengan pengeringan, pemupukan dan sebagainya, agar hama benih dapat hilang dan benih cukup mendapat makanan terutama makanan alami (Zooplankton).

DAFTAR PUSTAKA
Azis D.A. dan Syafei L.S, 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan “Sepat Siam Sehat Produksi Meningkat”.  Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor.
Daelami, Deden A.S. 2002. “Agar Ikan Sehat” Jakarta: Penebar Swadaya.
Dalimartha, S. 2004. “Atlas Tumbuhan Obat Indonesia”, Anggota IKAPI, Puspita Swara.
Suyanto, S. Rachmatun. 1995.  “Parasit Ikan dan Cara-cara Pemberantasannya”. Jakarta: Yayasan Sosial Tani Membangun.
Teknik Budidaya Ikan Sepat Mutiara

Teknik Budidaya Ikan Sepat Mutiara

Media Penyuluhan PerikananSepat mutiara adalah salah satu ikan hias air tawar yang dapat dipijahkan di dalam aquarium.  Ikan ini tergolong ikan yang memijah pada sarang busa yang dibangun oleh induk jantan.

Sama halnya dengan ikan air tawar yang lain, dalam budidaya sepat mutiara selalu ada hambatan-hambatan yang tidak diduga-duga kedatangannya.  Hambatan yang dapat menyebabkan kerugian dalam usaha budidaya ikan ini, terjadinya infeksi penyakit pada ikan peliharaan. Untuk mengantisipasi terjadinya serangan penyakit pada sepat mutiara,  tulisan ini akan membahas secara sederhana tentang langkah-langkah pencegahan dan pengobatan penyakit pada sepat mutiara, dan juga cara pemijahannya.

Dengan dilakukannya pencegahan dan pengobatan penyakit ini, diharapkan produksi ikan Sepat mutiara dapat ditingkatkan yang pada akhirnya pendapatan petani pembudidaya sepat mutiara dapat meningkat pula.

MENGENAL SEPAT MUTIARA
Sistematika Sepat Mutiara
-    Ordo        : Percomorphoidei
-    Sub ordo    : Anabantoidea
-    Famili        : Anabantidae
-    Genus        : Trichogaster
-    Spesies    : Trichogaster leeri

Penyebaran dan Morfologi
Penyebaran ikan ini meliputi wilayah Sumatra, Kalimantan, Malaya sampai Siam.  Ikan ini juga mempunyai ciri-ciri badan yang memanjang dengan potongan pipih ke samping (Compressed), mulut kecil dan moncong meruncing.  Sirip dubur (anal) sangat panjang seperti benang, sirip perut lebar dengan jari-jari sebelah belakang menonjol ke luar.

Jenis ini mempunyai warna dasar badan sawo matang dengan sisi badannya berwarna lebih pucat yang dihiasi bintik-bintik berwarna kelabu, terkadang berwarna kehijauan seperti mutiara di seluruh tubuhnya.

Beberapa bagian dari sirip anal berwarna merah dan sisi badannya terpotong horizontal oleh garis hitam yang memanjang mulai dari mulut hingga pertengahan batang ekor dan satu bintik hitam di akhir garis tersebut.

Sepat mutiara dapat mencapai ukuran 12,5 cm dan sudah bisa dipijahkan setelah berukuran 10 cm.  Ikan ini tergolong ikan yang memijah pada sarang busa yang dibangun oleh induk jantan.  Sepat jenis ini dapat dijumpai pada perairan yang kecil, genangan air yang tenang, dan rawa-rawa.

PEMBENIHAN SEPAT MUTIARA

Tempat Pemijahan
Ikan sepat mutiara tergolong ikan yang mudah dipijahkan, asalkan lingkungannya memadai.  Untuk itu, dapat digunakan aquarium dengan ukuran 50×30×30 cm.  Pada aquarium dibuat beberapa tempat yang gelap sebagai tempat persembunyian dan juga sebagai tempat memijah.  Untuk membuat bagian-bagian yang gelap pada aquarium, dapat diberi enceng gondok yang berakar rimbun pada aquarium.

Untuk kebutuhan air, dapat digunakan air sumur dan air bersih lainnya, yang sebelumnya diendapkan sehari semalam.  Suhu air diusahakan 27 – 28 0C dan PH 6 – 7, serta dasar aquarium diberi pasir bersih.

Memilih Induk
Induk jantan mempunyai sirip punggung yang panjang dan lancip serta dilengkapi dengan hiasan warna merah pada leher dan perut.  Warna merah ini akan semakin menyala pada saat ikan ini birahi.  Sedangkan ikan betina mempunyai sirip bulat dan pendek.

Induk sepat mutiara sebaiknya berumur lebih dari 7 bulan dengan ukuran minimal 7,5 cm.  Untuk persyaratan, induk yang dipilih harus sehat, tidak cacat serta gerakannya lincah.  Induk jantan dan betina untuk sementara dipisah pemeliharaannya, dan selama pemeliharaan diberi makan jentik nyamuk.

Pemijahan
Setelah aquarium selesai disiapkan, ikan sepat mutiara sudah bisa dipijahkan.  Induk jantan dan betina dimasukkan secara berpasangan di dalm aquarium pemijahan.  Setelah beradaptasi induk jantan langsung membuat sarang busa dan tidak mau didekati oleh pasangannya.  Sarang busa yang dibuat tidak terlalu tebal dan luasnya ± 15 – 20 cm.

Setelah selesai pembuatan sarang busa, induk jantan langsung menghampiri induk betina, dan langsung memijah di bawah sarang busanya.  Induk betina dapat menghasilkan telur ± 1.000 butir telur.  Setelah telur habis dikeluarkan, induk betina langsung diangkat dari telurnya.

Induk jantan dibiarkan tetap berada bersama telurnya, dia akan menghampiri sarang busa dan merusak sarang busa yang telah dipakai memijah dengan cara menyemprotkan pasir yang dipungut dari dasar tempat pemijahan.  Telur-telur yang tidak terbuahi, akan rontok dan mengendap di dasar aquarium.  Proses ini sangat membantu fekunditas telur lainnya, karena telur-telur yang tidak terbuahi tidak membusuk dan tidak menjadi sarana tumbuhnya jamur yang dapat merusak telur-telur yang lain.  Hal ini dapat memperkecil serangan jamur, karena media tumbuhnya tidak ada.

Telur akan menetas 2 – 3 hari setelah pembuahan, dan kuning telur akan habis setelah 4 hari.  Pada saat ini harus disediakan makanan yang sesuai dengan bukaan mulut benih, biasanya Infusoria.  Benih dipelihara ± 2 minggu, selanjutnya sudah bisa dipindah ke tempat pembesaran.  Pada saat kuning telur sudah habis, induk jantan sudah bisa dipindah ke tempat lain.

PENANGANAN PENYAKIT PADA SEPAT MUTIARA
Penyakit yang menyerang sepat mutiara, tidak jauh berbeda dengan penyakit yang menyerang ikan lainnya.  Penyakit dapat ditimbulkan oleh serangan parasit (virus, jamur, bakteri, protozoa dan bangsa udang renik), selain itu dapat juga disebabkan oleh kualitas air dan pakan yang buruk.  Namun, penyakit yang sering menyerang sepat mutiara adalah parasit golongan bakteri, cacing, jamur.

Untuk menghindari terjadinya serangan penyakit, perlu dilakukan pencegahan sebelum terjadi dan pengobatan apabila ikan sudah menunjukkan tanda-tanda terserang penyakit, serta pemusnahan seluruh ikan apabila serangan penyakit tidak bisa diatasi lagi.

Pencegahan Serangan Penyakit
Untuk mencegah serangan penyakit dalam usaha budidaya Ikan Sepat mutiara dapat dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya : dekontaminasi peralatan, dekontaminasi aquarium, dan dekontaminasi ikan itu sendiri.

A.    Dekontaminasi Peralatan
Semua peralatan yang akan dan telah digunakan harus dibersihkan, supaya kuman-kuman yang menempel pada peralatan tersebut mati dan ikan tidak terserang oleh kuman tersebut.
Dekontaminasi peralatan dapat dilakukan dengan cara merendam semua peralatan ke dalam larutan PK dosis rendah (3 – 20 mg/l) selama 30 menit.

B.    Dekontaminasi Aquarium
Aquarium yang akan digunakan untuk pemeliharaan dan pemijahan dibersihkan terlebih dahulu.   Pembersihan aquarium dapat dilakukan dengan cara pencucian dan penjemuran aquarium.  Selain itu dapat digunakan obat kimia Kalium Permagnat (PK) 20 mg/l dengan cara merendam aquarium dengan larutan tersebut, kemudian dijemur.

C.    Dekontaminasi ikan
Ikan juga perlu diberi perlakuan agar tidak menjadi penyebab timbulnya wabah penyakit.  Dekontaminasi ikan dilakukan dengan teknik karantina ikan dengan cara memelihara ikan dalam wadah khusus selama waktu tertentu.  Dengan cara ini dapat diketahui apakah ikan terkena serangan penyakit atau tidak dan segera diambil langkah pengamanannya.

Ikan juga dapat diberi imunisasi dan vaksinasi.  Pemberian imunisasi dan vaksinasi dapat meningkatkan kekebalan tubuh ikan terhadap infeksi penyakit.  Pemberiannya dengan cara penyuntikan dan pelapisan dengan pakan.

Penanganan Ikan yang Sakit

A.    Identifikasi Penyakit
Secara umum, sepat mutiara yang terinfeksi penyakit menunjukkan tanda-tanda sebagai berikut :
Gejala    Diagnosis penyakit
1. Rontok sirip
2. Sisik kasar
3. Serabut pada kulit
4. Pendarahan pada tubuh    a. Parasit Gyrodactylus sp.
b. Bakteri Flexybacter
a. infeksi bakteri
a. Jamur Saprolegnia sp.
a. Infeksi Bakteri
b. Infeksi trichodina spp.

Penyakit yang disebabkan oleh senyawa beracun di dalam air umumnya sulit untuk diidentifikasi, sebab efek dari senyawa beracun ini terhadap ikan relatif cepat, tetapi dapat langsung diambil tindakan untuk mengatasinya.

B.    Penggantian Air dan pencucian Aquarium
Langkah ini merupakan salah-satu cara untuk mengatasi serangan penyakit yang disebabkan oleh senyawa beracun atau kualitas air aquarium yang kurang memadai.

Ikan yang ada secepatnya dipindah ke tempat yang lain yang tidak mengandung senyawa beracun.  Untuk aquariun yang telah dicuci, kemudian dijemur untuk lebih memastikan bahwa aquarium telah steril.

DAFTAR PUSTAKA
Afrianto E. dan Evi Liviawati” Pengendalian Hama dan Penyakit Ikan”. Kanasius. Yogyakarta 2000.
Azmi dan Syafei L.S, 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan “Sepat Mutiara Sehat Produksi Meningkat”. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor.
Daelami, Deden A.S ” Agar Ikan Sehat”. Penebar Swadaya. Jakarta 2001.
Lingga, P dan Heru Susanto” Ikan Hias Air Tawar”. Penebar Swadaya. Jakarta 1989.
Wijayakusuma, Hembing. H.M, Setiawan Dalimarta dan A.S. Wrian” Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia”. Pustaka Kartini. Jakarta.
Memilih Kemasan Produk Perikanan

Memilih Kemasan Produk Perikanan

Media Penyuluhan PerikananIkan merupakan salah satu bahan makanan berprotein tinggi, ikan mempunyai peranan yang sangat dominan, karena secara nasional baik produksi maupun konsumsi hasil perikanan sangat tinggi. Tetapi ikan adalah bahan pangan yang mudah rusak, sehingga sering terjadi kemunduran mutu produk dan harga jual. Tingginya tingkat konsumsi ikan di Indonesia, yang diiringi dengan besarnya produksi budidaya ikan, perlu diimbangi dengan pengolahan dan pengemasan produk perikanan.

Pengemasan bertujuan untuk melindungi produk, penyimpanan, informasi dan promosi produk serta pelayanan kepada konsumen. Pengemasan produk perikanan ini sejalan dengan factor kunci dalam konsep industrialisasi perikanan yaitu peningkatan nilai tambah (value added), efesiensi dan daya saing (bargaining position), dimana ke-tiga factor tersebut akan mampu mendorong terciptanya iklim usaha yang positif sebagai upaya dalam meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.

Menurut Undang – Undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan, hal yang wajib disampaikan dalam kemasan pangan antara lain :
1.    Ijin edar
2.    Merek dagang
3.    Nama produk
4.    Daftar bahan yang digunakan atau komposisi
5.    Berat/isi
6.    Nama dan alamat yang memproduksi
7.    Tanggal, bulan dan tahun kadaluarsa
8.    Keterangan tentang halal

Secara umum di Indonesia, beberapa keterangan lain yang sebaiknyaadadalamkemasan :
  1. Petunjuk penyimpanan
  2. Petunjuk penggunaan
  3. Nilai gizi
  4. Pernyataan khusus (susu, babi, makanan bayi, pemanis buatan, pengganti asi, bahan tambahan, bahan iradiasi)
  5. Klaim diusahakan sedekat mungkin dengan fakta untuk menjaga integritas brand
  6. Barcode
Kemasan sebagai bahan pelindung dan pembatas terhadap lingkungan dapat membantu melindungi mutu produk selama distribusi, menambah ketertarikan konsumen terhadap produk (tampilan fisik), dan mempermudah pemberian informasi mengenai produk. Kemasan yang langsung berhubungan dengan produk disebut sebagai kemasan primer.

Ada berbagai jenis kemasan yaitu dari kertas (termasuk karton), plastik, metal seperti aluminium atau stainless steel, komposit (campuran), dan foil berupa lapisan tipis baik dari metal seperti aluminium atau plastik. Dari berbagai jenis kemasan tersebut plastik semakin mendominasi karena dapat dibentuk dalam berbagai ukuran dan bentuk sesuai kebutuhan, ringan, kuat sekaligus fleksibel.

Kemasan primer untuk produk ikan ditentukan oleh jenis produk yang hendak dikemas. Kemasan untuk ikan curah berbeda dengan ikan di tingkat eceran. Untuk ikan segar curah, kemasan berupa wadah yang terbuat dari plastik Polyetilen (HDPE) densitas tinggi memberikan berbagai kemudahan yaitu kuat sekaligus ringan, mudah dibersihkan dan tahan terhadap bahan-bahan kimia. HDPE dapat dipakai untuk mengemas beragam bobot ikan beserta es untuk pendingin untuk jarak distribusi yang cukup jauh. Untuk ikan bentuk fillet yang dikemas dalam wadah PE, harus disusun dengan tumpukan tipis dan diberi pembatas plastik. Kemasan dari plastik polystiren sulit dibersihkan dan dipakai ulang, sedangkan stirofoam memiliki kelemahan tidak kuat dan mudah pecah.

Referensi:
http://thi.fp.unsri.ac.id/index.php/posting/63
http://www.foodreview.biz/preview.php?view2&id=56105
http://www.kkp.go.id
Teknik Pembenihan Ikan Bawal Air Tawar

Teknik Pembenihan Ikan Bawal Air Tawar

Media Penyuluhan PerikananBawal air tawar (Colossoma Macropomum) merupakan salah satu komoditas perikanan yang bernilai ekonomis cukup tinggi. Ikan ini bersala dari Brazil. Pada mulanya ikan bawal diperdagangkan sebagai ikan hias, namun karena pertumbuhannya cepat, dagingnya enak dan dapat mencapai ukuran besar, maka masyarakat menjadikan ikan tersebut sebagai ikan konsumsi. Sebutan lain ikan bawal adalah Gamitama (Peru), Cachama (Venezuala), Red Bally Pacu (Amerika Serikat dan Inggris). Sedangkan di negara asalnya disebut Tambaqul.

Walaupun ketenalan ikan bawal belum dapat disejajarkan dengan komoditas perikanan lainnya, namun permintaan konsumen setiap tahunnya terus meningkat, baik untuk konsumsi dalam negeri maupun ekspor. Maka tak heran, bila dimasa akan datang akan menjadi komoditas unggulan seperti jenis-jenis ikan lainnya.

BIOLOGI
  1. Secara sistematika ikan bawal termasuk kedalam Genus Chacacoid dan species Colossoma macropomum.
  2. Badan agak bulat, bentuk tubuh pipih, sisik kecil, kepala hampir bulat, lubang hidung agak besar, sirip dada dibawah tutup insang, sisip perut dan sirip dubur terpisah, punggung berwarna abu-abu tua, perut putih abu-abu dab merah.
  3. Ikan bawal banyak diyemukan disungai-sungai besar seperti  Amazon (Brazil), Orinoco (Venuzuela). Hidup secara bergerombolan di daerah yang airnya tenang.
  4. Bawal termasuk ikan karnivora, giginya tajamnamun tidak ganas seperti pranha. Makanan yang disukai pada vase larva adalah Brachionus sp., Artemia sp., Moina sp.
  5. Induk bawal sudah mulai dapat dipijahkan pada umur 4 tahun bila pertumbuhannya normal dapat mencapai berat 4 kg.
  6. Pemijahan terjadi pada musim penghujan.

PEMBENIHAN
A.    Pemeliharaan Induk

Induk-induk dipelihara dikolam dengan kepadatan 0,5 kg/m2. Setiap hari diberi pakan tambahan berupa pellet sebanyak 3% dari berat tubuh ikan dan diberikanan 3 s/d 4 kali per hari. Menjelang musim hujan jumlah pakannya ditambah menjadi 4%. Induk betina yang beratnya 4 kg dapat menghasilkan telur sebanyak ± 400.000 butir.

Tanda induk yang matang gonad.
Betina : perut buncit, lembek dan lubang kelamin kemerahan.
Jantan : perut langsing, warnah merah dalam tubuhnya lebih jelas.


B.    Pemijahan

Pemijahan bawal baru bisa dilakukan secara Induced Spawning, untuk betina dengan menyuntikan hormon LHRH-a sebanyak 3 ug/kg atau ovaprin 0,75 ml/ kg. Untuk jantan menggunnakan LHRH-a sebanyak 2 ug/kg atau ovaprin 0,5 ml/kg. LHRH-a dilarutkan dalam larutan 0,7 % NaCl.

Induk betina di suntik dua kali  dengan selang waktu 8 - 12 jam. Penyuntikan pertama sebanyak 1/3 bagian  dari dosis total dan penyuntikan kedua 2/3 nya.

Induk yang sudah disuntik dimasukkan kedalam happa pemijahan yang dipasang dalam bak pemijahan. Selama pemijahan air harus tetap  mengalir. Pemijahan biasanya terjadi 3 s/d 6 jam setelah penyuntikan kedua.

C.    Penetasan

Setelah memijah telur-telur diambil menggunakan scope net halus, kemudian telur tersebut ditetaskan di dalam akuarium yang telah dilengkapin dengan aerasi dan water heater dengan suhu 27s/d 29 0C. Kepadatan telur antara 100 s/d 150 butir/liter, biasanya telur-telur akan menetas dalam waktu 16 jam s/d 24 jam.

D.    Pemeliharaan Larva

Larva dipelihara dalam akuarium yang sama, namun sebelumnya ¾ bagian airnya dibuang. Padat penebaran larva 50 s/d 100 ekor/liter larva yang berumur 4 hari di beri pakan berupa naupli Artemia, Brachionus atau Moina. Pemeliharaan larva ini berlangsung selama 21 hari. Selama pemeliharaan larva, air harus diganti setiap hari 2/3 bagiannya. Setelah berumur 21 hari larva siap ditebar kekolam pendederan.

E.    Pendederan

Pendederan iakn bawal dilakukan di kolam yang luasnya antara 500 s/d 1.000 m2. Namun kolam tersebut harus disiapkan seminggu sebelum penebaran benih. Persiapan meliputi pengeringan, perbaikan pematang, pengolahan tanah dasar dan pembuatan kemalir.

Setelah itu kolam dikapur dengan kapur tohor sebanyak 100 s/d 200 gram/m2 dan di pupuk dengan pupuk organic dengan dosis 500 gram/m2.

Bila kolam sudah siap, larva ditebar pada pagi hari dengan kepadatan 50 s/d 100 ekor/m2.

Setiap hari diberi pakan tambahan  berupa pellet halus sebanyak 750 gram/10 ribu ekor larva dan diberikan 3 kali per hari.

Pemeliharaan dikolam pendederan berlangsung selama 21 hari.

PENYAKIT
Penyakit yang pernah ditemukan pada ikan bawal air tawar yang berumur satu bulan antara lain disebabkan oleh parasit, bakteri dan kapang (jamur).

Parasit
“Ich” Atau “White spot“, biasanya menyerang ikan apabila suhu media pemeliharaan dingin, cara mengatasinya yaitu dengan menaikan suhu (dengan water heater) sampai kurang lebih 29 0C dan pemberian formalin 25 ppm.

Bakteri
Streptococus sp. Dan Kurthia sp. Cara mengatasinya yaitu dengan menggunakan anti biotic tetracycline dengan dosis 10 mppm.

Kapang (jamur)
Jamur ini merupakan akibat dari adanya luka yang disebabkan  penanganan (Handling) yang kurang hati-hati. Cara mengatasinya dengan menggunakan Kalium Permanganat  (PK) dengan dosis 2 s/d 3 ppm.

Referensi:
http://bursaikan.com/air-tawar/ikan-bawal.html
http://ediaswanto.wordpress.com/2012/01/31/cara-budidaya-ikan-bawal-air-tawar/
STPP Bogor, 2005. Informasi Teknologi Perikanan. Jurusan Penyuluhan Perikanan STPP Bogor.

Hama dan Penyakit Ikan Mas

Media Penyuluhan Perikanan - Menurut Tamang, (2011) hama dan peyakit ikan mas adalah sebagai berikut:

Hama Ikan Mas
  1. Bebeasan (Notonecta) Berbahaya bagi benih karena sengatannya. Pengendalian: menuangkan minyak tanah ke permukaan air 500 cc/100 meter persegi. 
  2. Ucrit (Larva cybister) Menjepit badan ikan dengan taringnya hingga robek. Pengendalian: sulit diberantas;hindari bahan organik menumpuk di sekitar kolam. 
  3. Kodok Makan telur telur ikan. Pengendalian: sering membuang telur yang mengapunmenagkap dan membuang hidup-hidup. 
  4. Ular Menyerang benih dan ikan kecil. Pengendalian: lakukan penangkapan; pemagaran kolam. 
  5. Linsang Memakan ikan pada malam hari. Pengendalian:pasang jebakan berumpun. 
  6. Burung Memakan benih yang berwarna menyala seperti merah, kuning. Pengendalian: diberi penghalang bambu agar supaya sulit menerkam; diberi rumbai-rumbai atau tali penghalang. 
  7. Ikan Gabus Memangsa ikan kecil. Pengendalian:pintu masukan air diberi saringan atau dibuat bak filter. 
  8. Belut dan Kepiting Pengendalian: lakukan penangkapan. 

Penyakit Ikan Mas
  1. Binti Merah (White Spot) Gejala: pada bagian tubuh (kepala, insang, sirip) tampak bintik-bintik putih, pada infeksi berat terlihat jelas lapisan putih, menggosok-gosokkan badannya pada benda yang ada disekitarnya dan berenang sangat lemah serta sering muncul di permukaan air. Pengendalian: direndam dalam larutan Methylene blue 1% (1 gram dalam 100 cc air) larutan ini diambil 2-4 cc dicampur 4 liter air selama 24 jam dan Direndam dalam garam dapur NaCl selama 10 menit, dosis 1-3 gram/100 cc air. 
  2. Bengkak Insang dan Badan (Myxosporesis) Gejala: tutup insang selalu terbuka oleh bintik kemerahan, bagian punggung terjadi pendarahan. Pengendalian; pengeringan kolam secara total, ditabur kapur tohon 200 gram/m2, biarkan selama 1-2 minggu. 
  3. Cacing Insang, Sirip dan Kulit (Dactypogyrus dan girodactyrus) Gejala: ikan tampak kurus, sisik kusam, sirip ekor kadang-kadang rontok, ikan menggosok-gosokkan badannya pada benda keras disekitarnya, terjadi pendarahan dan menebal pada insang. Pengendalian: (1) direndan dalam larutan formalin 250 gram/m3 selama 15 menit dan direndam dalam Methylene blue 3 gram/m3 selama 24 jam; (2) hindari penebaran ikan yang berlebihan.
  4. Kutu Ikan (Argulosis) Gejala: benih dan induk menjadi kurus, karena dihisap darahnya. Bagian kulit, sirip dan insang terlihat jelas adanya bercak merah (hemorrtage). Pengendalian: (1) ikan yang terinfeksi direndan dalam garam dapur 20 gram/liter air selama 15 menit dan direndam larutan PK 10 ppm (10 ml/m3) selama 30 menit; (2) dengan pengeringan kolam hingga retak-retak. 
  5. Jamur Menyerang bagian kepala, tutup insang, sirip dan bagian yang lainnya. Gejala: tubuh yang diserang tampak seperti kapas. Telur yang terserang jamur, terlihat benang halus seperti kapas. Pengendalian: direndam dalam larutan Malactile green oxalat (MGO) dosis 3 gram/m3 selama 30 menit; telur yang terserang direndam dengan MGO 2-3 gram/m3 selama 1 jam. 
  6. Gatal (Trichodiniasis) Menyerang benih ikan. Gejala: gerakan lamban; suka menggosok-gosokan badan pada sisi kolam/aquarium. Pengendalian: rendam selam 15 menit dalam larutan formalin 150-200 ppm. 
  7. Bakteri psedomonas flurescens Penyakit yang sangat ganas. Gejala: pendarahan dan bobok pada kulit; sirip ekor terkikis. Pengendalian: pemberian pakan yang dicampur oxytetracycline 25-30 mg/kg ikan atau sulafamerazine 200mg/kg ikan selama 7 hari berturut-turut. 
  8. Bakteri aeromonas punctata Penyakit yang sangat ganas. Gejala: warna badan suram, tidak cerah; kulit kesat danmelepuh;cara bernafas mengap-mengap; kantong empedu gembung; pendarahan 

Sumber : Alam, Mahendra. 2011. Budidaya Ikan Mas (Cyprinus carpio). Materi Penyuluhan Kelautan dan Perikanan No. 002/TAK/BPSDMKP/2011. Pusat Penyuluhan KP - BPSDMKP. Jakarta
Teknik Pembenihan Ikan Baung

Teknik Pembenihan Ikan Baung

Media Penyuluhan PerikananBaung adalah nama segolongan ikan yang termasuk ke dalam marga Hemibagrus, suku Bagridae. Ikan yang menyebar luas di India, Cina selatan dan Asia Tenggara ini juga dikenal dengan banyak nama daerah, seperti ikan duri, baong, baon, bawon, senggal atau singgah, tagih, niken, siken, tiken, tiken bato, dan lain-lain.

Ikan baung (Mystus nemurus) merupakan komoditas perikanan air tawar di Indonesia. Ikan ini telah berhasil dipijahkan secara buatan di BBAT Sukabumi sejak tahun 1998. Tekstur dagingnya berwarna putih, tebal dan tampa duri halus dalam dagingnya, sehingga sangat digemari masyarakat.
Sebelum produksi ikan baung umumnya berasal dari penangkapan di alam, sehingga hasilnya tidak menentu baik dari jumlah maupun ukurannya. Dengan diketahuinya teknik pemijahan ikan baung, diharapakan usaha pembudidayaannya akan berkembang sehingga produksinya dapat memenuhi kebutuhan masyarakat.

SISTEMATIKA
Phylum Chordata, Kelas Pisces, Anak kelas Teleostei, Bangsa Ostariophysi, Anak Bangsa Siluridae, Suku Bagridae, Marga Mystus dan Jenis Mystus nemurus.

Ikan baung memiliki kumis  atau sungut yang mencapai mata, badanya tidak bersisik mempunyai sirip dada dan sirip lemak yang besar, serta mulutnya melengkung. Ikan baung berwarna coklat kehijauan, hidup di dasar perairan dan bersifat omnivora.

Di Jawa Barat ikanbaung dikenal dengan nama tagih, senggal atau singah : Di Jawa tengah : Jakarta dan Malaysia, bawon ; Serawak, baon : Kalimantan Tengah, niken, siken, tiken, bato, baung putih, dan di Sumatra, baong.

Ciri-ciri induk Jantan dan betina ikan baung :
  • Induk betina : tubuh lebih pendek , mempunyai dua buah lubang kelamin yang bentuknya bulat.
  • Induk Jantan : Tubuh lebih panjang, mempunyai satu buah lubang kelamin yang bentuknya memanjang.

PEMBENIHAN

A.    Pematangan Gonad

Pematangan gonad dilakukan di kolam beraliran air yang kontinyu dengan kepadatan 0,2 s/d 0,5 kg/m2. Setiap hari diberi pakan pellet sebanyak 3 s/d 4 % per hari dari berat tubuhnya.

B.  Seleksi Induk

  1. Seleksi induk bertujuan untuk mengethui timngkat kematangan induk yang akan dipijahkan.
  2. Induk betina ditandai dengan perutnya yang buncit dan lembut, bila diurut telur ynag keluar bentuknya bulat utuh  berwarna kecoklatan.
  3. Induk jantan ditandai dengan warna tubuh dan alat kelaminnya agak kemerahan.

C.  Penyuntikan
  1. Induk betina disuntik dengan ovaprin sebanyak 0,6 ml/kg dan jantan dengan ovaprin 0,5 ml/kg. Penyuntikan dilakukan dua kali dengan selang waktu 12 jam. Setiap penyuntikan sebanyak ½ dosis total.
  2. Penyuntikan dilakukan pada bagian punggung
D. Pemijahan/Pengurutan

  1. Apabila akan dipijahkan secara alami, induk jantan dan betina yang sudah disuntik  disatukan didalam bak yang telah diberi ijuk dan biarkan memijah sendiri.
  2. Apabila akan diurut, maka pengurutan akan dilakukan 6 s/d 8 jam setelah penyuntikan kedua.
  3. Langkah pertama adalah menyiapkan  sperma : ambil kantong sperma dari induk jantan dengan membedah bagian perutnya, kuntimng kantong sperma  dan keluarkan. Cairan sperma ditampung dalam gelas  yang sudah diisi NaCl 0,9 % sebanyak ½ bagiannya. Aduk hingga rata. Bila terlalu pekat, tambahkan NaCl sampai larutan berwarna putih susu agak encer.
  4. Ambil induk betina yang akan dikeluarkan telurnya. Pijit bagian perut kearah lubang kelamin sampai telurnya keluar. Telur dimpung dalam mangkok plastik  yang bersih dan kering. Masukkan larutan sperma sedikit demisedikit dan aduk sampai merata. Agar terjadi pembuahan, tambahkan air bersih dan aduklah sampai merata sehingga pembuahan dapat berlangsung dengan baik, untuk mencuci telur dari darah dan kotoran lainnya, tambahkan lagi air bersih kemudian dibuang. Lakukan pembilasan 2 s/d 3 kali agar bersih.
  5. Telur yang sudah bersih dimasukkan dalam akuarium penetasan yang sudah diisi air. Cara memasukkan, telur diambil dengan bulu ayam, lalu sebarkan ke seluruh permukaan akuarium sampai merata. Dalam 36 jam telur akan menetas dan larva yang dihasilkan dipindahkan ke akuarium pemeliharaan larva. Setelah berumur dua hari, larva diberi makan kutu air (Moina atau Daphnia ) atau cacing sutra (Tubifex) yang telah dicincang. Setelah berumur 4 hari larva diberi makan cacing sutra hingga berumur tujuh hari.

E.  Pendederan

  1. Persiapan kolam pendederan dilakukan seminggu sebelum penebaran larva, yang meliputi : pengeringan, perbaikan pematang, pengolahan tanah dasar dan pembuatan kemalir.
  2. Pengapuran dilakukan dengan melarutkan kapur tohor kedalam tong, kemudian disebarkan keseluruh pematang dan dasar kolam. Dosisnya 50 gr/m2.
  3. Pemupukan menggunakan kotoran ayam yang sudah dikeringkan dengan dosis 500 s/d 1.000 gr/m2. Kolam diisi air setinggi 40 cm dan setelah 3 hari disemprot dengan organophospat 4 ppm dan dibiarkan selama 4 hari.
  4. Benih ditebar pada pagi hari dengan kepadatan 100 ekor/m2.
  5. Pendederan I dilakukan selama 14 hari, pendederan II dilakukan selama 30 hari. Pakan tambahan diberikansetiap hari berupa tepung pellet sebanyak 0,75 gr/1.000 ekor.

PENYAKIT
Penyakit yang sering menyerang ikan baung adalah Ichthyopthirius multifiliis atau lebih dikenal dengan white spot (bintik putih). Pencegahan, dapat dilakukan dengan persiapan kolam yang baik, terutama pengeringan  dan pengapuran. Pengobatan dilakukan dengan menebarkan garam dapur sebanyak 200 gr/m3 setiap 10 hari selama pemeliharan atau merendam ikan yang sakit ke dalam larutan Oxytetracyclin 2 mg/liter.


Referensi:
BBPBAT Sukabumi, ---. Teknik Pembenihan Ikan Baung. BBPBAT Sukabumi.
http://id.wikipedia.org/wiki/Baung
http://kuliah-ikan.blogspot.com/2011/02/sekilas-mengenal-ikan-baung-mystus.html
http://otakmuda.blogspot.com/2010/08/budidaya-ikan-baung-mystus-nemurus.html

Pembesaran Ikan Mas

Media Penyuluhan Perikanan - Kolam pembesaran ikan mas harus subur. Persiapan kolam pada kegiatan pembesaran pada prinsipnya sama seperti persiapan kolam pada kegiatan pendederan Sehingga tidak perlu di bahas kembali.

Penebaran Benih pada kegiatan pembesaran pada dasarnya sama dengan kegiatan pendederan yaitu sebaiknya dilakukan pada pagi, sore atau malam hari Benih yang digunakan berukuran 7-10 gram. Padat tebar pada kegiatan pembesaran di kolam tanah dengan kedalaman 1,2 m yang baik berkisar antara 100-150 ekor/m, Nugroho dan Kristanto, (2008). Penghitungan benih dilakukan dengan cara yang sama dengan penghitungan larva pada kegiatan pendederan. Contoh kasus adalah sebagai berikut.

Kolam ukuran 1.000 m2, kemudian diisi air setinggi 60 cm. Benih ikan mas seberat 100 kg dimasukkan ke dalam kolam, beri pakan 3%-5% dari berat benih ikan mas setiap hari, Panen dapat dilakukan setelah 3 bulan. Dengan model pemeliharaan seperti ini kolam dapat menghasilkan ikan konsumsi sebanyak 400 – 500 kg. Selama pemeliharaan, ikan mas harus diberi makanan tambahan, pakan tambahan yang baik adalah pelet yang mempunyai kandungan protein tidak kurang dari 30%, dosis pakan yang diberikan adalah 3-5 persen dari biomassa (berat total ikan) yang dipelihara.

Pemberian pakan dilakukan tiga kali sehari yaitu pada pagi, siang dan sore hari Pemberian pakan tambahan dilakukan dengan cara menebar langsung ke kolam. Pemberian pakan tidak dilakukan pada malam hari pada malam hari suhu cenderung rendah sehingga nafsu makan ikan cenderung rendah pula. Pengontrolan yang dilakukan pada kegiatan pembesaran pada dasarnya sama dengan kegiatan pendederan. Pengontrolan diperlukan untuk mengetahui baik kondisi kolam maupun ikan.

Pembesaran Ikan Mas dapat dilakukan dalam keramba Jaring Apung yang biasa dipasang di perairan umum. Beberapa karakteristik perairan yang tepat antara lain : Air bergerak dengan arus terbesar, tetapi bukan arus kuat, Penempatan jaring dapat dipasang sejajar dengan arah angin, Badan air cukup besar dan luas sehingga dapat menjamin stabilitas kualitas air, Kedalaman air minimal dapat mencapai jarak antara dasar jaring dengan dasar perairan 1,0 meter, Kualitas air mendukung pertumbuhan seperti suhu perairan 27oC sampai 30oC, oksigen terlarut tidak kurang dari 4,0 mg/l, dan kecerahan tidak kurang dari 80 cm. Satu unit Keramba Jaring Apung minimal terdiri dari kantong jaring dan kerangka jaring. Dimensi unit jaring berbentuk persegi empat dengan ukuran kantong jaring 7 x 7 x 3 M3 atau 6 x 6 x 3 M3. Satu unit Keramba Jaring Apung terdiri empat set kantong dan satu set terdiri dari dua lapis kantong Bagian badan kantong jaring yang masuk kedalam air 2,0 sampai 2,5 meter.
Pembesaran Ikan Mas
Pembesaran Ikan Mas
Kerangka jaring dapat dibuat dari besi atau bambu dan pelampung berupa sterofoam atau drum. Bahan kantong jaring berasal dari benang polietina. Frekuensi pemberian pakan minimal dua kali per hari. Dengan penebaran bibit seberat 300 kg dalam waktu 3 bulan akan menghasilkan ikan mas konsumsi 1.5 sampai 2 ton. Pemeliharaan ikan mas di kolam air deras harus mempertimbangkan beberapa hal antara lain lokasi dekat dengan sumber air (sungai, irigasi, dan lain-lain.) dengan topografi yang memungkinkan air kolam dapat dikeringkan dengan cara gravitasi, kualitas air yang digunakan berkualitas baik dan tidak tercemar (kandungan oksigen terlarut 6-8 ppm) dan dengan debit air minimal 100 liter permenit.

Bentuk kolam air deras bermacam-macam tergantung kondisi lahan, bisa segitiga, bulat maupun oval. Ukurannya bervariasi disesuaikan dengan kondisi lahan dan kemampuan pembiayaan. Umumnya kolam berukuran 10-100 m2 dengan kedalaman rata-rata 1,0 – 1,5 meter. Dinding kolam tidak terkikis oleh aliran air dan aktivitas ikan.

Oleh karena itu harus berkontruksi tembok atau lapis papan. Dasar kolam harus memungkinkan tidak daerah mati aliran (tempat dimana kotoran mengendap). Oleh karena itu kemiringan kolam harus sesuai (sekitar 2 – 5o).Padat tebar ikan ukuran 75 -150 gram/ ekor sebanyak 10 – 15 kg /m3 air kolam. Dosis pakan yang diberikan sebannyak 3-5% bobot biomass /hari. Frekuensi pemberiannya 3 kali/hari.

Pemanenan pada kegiatan pembesaran ikan mas pada dasarnya sama dengan kegiatan pendederan, pemanenan sebaiknya dilakukan pada sore, malam atau pagi (sebelum matahari terbit), pemanenan yang dilakukan pada siang hari menyebabkan kondisi ikan cepat turun karena kepanasan baik pada saat proses pengemasan maupun proses pengiriman, namun apabila akan dipanen dan ikan mau dimatikan maka panen dapat dilakukan pada siang hari dan sebaiknya setelah dicuci dimasukkan ke dalam almari pendingin atau diberi es batu agar tetap segar. Penanganan pascapanen ikan mas dapat dilakukan dengan cara penanganan ikan hidup maupun ikan segar.

Sumber : Alam, Mahendra. 2011. Budidaya Ikan Mas (Cyprinus carpio). Materi Penyuluhan Kelautan dan Perikanan No. 002/TAK/BPSDMKP/2011. Pusat Penyuluhan KP - BPSDMKP. Jakarta
Teknik Pembukuan dan Audit Anggota Kelompok

Teknik Pembukuan dan Audit Anggota Kelompok

Media Penyuluhan PerikananPembukuan diperlukan untuk menjaga  keakuratan catatan atas semua transaksi dan keputusan-keputusan yang dibuat dalam kelompok. Pembukuan terdiri dari buku-buku administrasi, termasuk buku keuangan yang dimiliki oleh kelompok.

Administrasi keuangan dapat berarti pembukuan keuangan, yaitu catatan transaksi keuangan yang dibuat secara kronologis (munurut urutan waktu) dan sistematis (menurut cara-cara tertentu). Setiap organisasi kelompok, wajib mengelola administrasi keuangan dengan baik yaitu sesuai jenis serta diisi dengan tertib, teratur dan benar. Dengan administrasi keuangan yang baik, keuangan kelompok dapat terkendali dan pada waktu tertentu akan mudah untuk diketahui, sehingga dapat digunakan sebagai bahan untuk pengambilan keputusan.

Informasi kondisi keuangan kelompok dapat digunakan sebagai:
1.    Alat monitor perkembangan keuangan;
2.    Alat pengendalian keuangan;
3.    Alat evaluasi terhadap pencapaian tujuan/sasaran dari setiap kegiatan atau usaha; dan
4.    Alat manajemen dalam pengambilan keputusan.

Dalam membuat  buku-buku kelompok harus lengkap, tertib, teratur, benar dan bermanfaat, sehingga harus mengikuti prinsip-prinsip:
  1. Sistematis, buku diisi menurut cara-cara tertentu sesuai dengan jenis bukunya;
  2. Kronologis, buku diisi sesuai dengan urutan terjadinya transaksi;
  3. Informatif, dapat dipahami/dimengerti oleh semua pihak yang berkepentingan;
  4. Accountable, buku diisi memenuhi kaidah-kaidah atau ketentuan akuntansi, antara lain: dapat dihitung, dapat dievaluasi, dan dapat dipertanggungjawabkan;
  5. Auditable, catatan keuangan dapat diperiksa dengan mudah.

Bentuk-bentuk Pembukuan Keuangan Kelompok
Beberapa bentuk pembukuan yang dapat digunakan untuk menjaga  keakuratan catatan atas semua transaksi dan keputusan-keputusan yang dibuat dalam kelompok, antara lain berupa:
  1. Buku pertemuan adalah  buku dasar dan penting yang berisi tidak hanya proses pertemuan kelompok tapi juga transaksi keuangan yang terjadi  pada hari itu. Hal ini membantu kelompok untuk mengingat kembali keputusan yang telah diambil dalam pertemuan sebelumnya, tindakan yang diambil dan perlu ditindaklanjuti.  Buku ini sering disebut “buku induk”.
  2. Buku Administrasi Anggota adalah berisi tentang semua informasi mengenai anggota dan keluarganya serta catatan pendaftaran.
  3. Buku Kehadiran merupakan catatan tentang kehadiran anggota. Ini membantu untuk mencatat absen rutin dan alasan  bagi yang tidak hadir.
  4. Buku Pas Anggota  merupakan catatan tabungan dan pinjaman setiap anggota.  Buku ini disimpan oleh anggota.
  5. Buku  tabungan individu  berisi  tabungan harian masing-masing anggota kelompok. Ini membantu kelompok untuk mengetahui tabungan anggota setiap hari, setiap bulan dan setiap tahun. Bahkan jika buku pas anggota hilang, status tabungan dan pinjamannya  mungkin dapat di lacak dari buku ini .
  6. Buku  pinjaman individu berisi semua informasi pinjaman yang diberikan pada anggota, secara individu (termasuk masalah pinjaman, tujuan pinjaman, jadwal pengembalian bunga, pengembalian pinjaman, hutang yang belum lunas dan melampaui batas waktunya.
  7. Buku kas  memelihara semua catatan tunai dan transaksi bank dari kelompok.
  8. Buku kas umum  berisi neraca aktivitas secara kumulatif.  Sebagai contoh, dari buku kas umum, seseorang dapat menceritakan berapa banyak telah dihabiskan untuk transportasi oleh  kelompok, berapa banyak telah diperoleh  dari denda dan lain sebagainya. Hal ini memberikan informasi posisi keuangan pada setiap aktivitas kelompok.
  9. Buku tanda terima menjaga catatan semua penerimaan kelompok, dibuat duplikatnya, dan yang asli diberikan pada orang yang telah memberikan uang. Hal ini membantu baik kepada kelompok dan pihak yang membayar, sebagai bukti bahwa uang telah diterima.
  10. Semua pembayaran dan pengeluaran kelompok diputar menggunakan voucher pembayaran. Voucher ini ditahan oleh kelompok sebagai bukti  pembayaran. Namun demikian voucher pembayaran hanya merupakan dokumen pendukung.  Pembayarannya sendiri dibuat dengan nota bon atau pembayaran yang ditandatangani oleh penerima pembayaran.  
  11. Catatan permintaan surat kesanggupan pinjaman diminta dari peminjam sebagai keamanan pinjaman.  
  12. Dokumen pendukung, yang berhubungan dengan berbagai transaksi keuangan dan keputusan-keputusan yang dibuat oleh kelompok dan semua koresponden harus disimpan dalam dokumen penyimpanan.
  13. Buku kas bank/buku cek diperlukan untuk mengadakan transaksi bank.
  14. Daftar  kontribusi lokal  menyediakan informasi keuangan yang dimobilisasi pada tingkat lokal, baik dalam bentuk uang tunai atau sejenisnya untuk berbagai program.
  15. Buku stok berisi informasi bahan-bahan yang diterima atau diadakan dan neraca, sesuai dengan nilai bahan.
  
Memilih Penulis Pembukuan Keuangan
Terkait dengan pentingnya pembuatan pembukuan keuangan kelompok, maka perlu diangkat seorang penulis sebagai pengelola dan penanggungjawab pembuatan pembukuan keuangan. Penulis dapat berasal dari dalam kelompok (anggota kelompok) atau seseorang dari luar kelompok (bukan anggota kelompok), dengan syarat: (1) jujur; (2) mudah dijumpai; (3) dapat diterima oleh semua anggota kelompok, (4) tidak  mengintervensi dinamika kelompok, (5) transparan; dan (6) ahli dalam menulis pembukuan.  Kelompok juga harus dapat dengan mudah memperoleh penulis pengganti jika penulis sewaktu-waktu berhenti.

Pemantauan Penulis Pembukuan Keuangan Kelompok
Supaya efektif memantau penulis, beberapa kiat yang dapat digunakan kelompok adalah sebagai berikut :

  1. Kelompok harus yakin  bahwa penulis tidak pernah memegang uang.
  2. Anggota kelompok harus selalu memeriksa catatan-catatan sebelum mereka tanda tangan.
  3. Jika penulis bukan anggota kelompok, dia tidak boleh ikut campur dalam kegiatan kelompok.
  4. Kelompok harus dapat mengontrol/mengendalikan keuangan umum, beberapa hal yang dapat  dilakukan oleh kelompok untuk tetap mengendalikan keuangan umum adalah sebagai berikut:
  5. Siapapun penulis pembukuan keuangan tidak pernah memegang uang.
  6. Anggota mengawasi secara normal jumlah total dan komposisi uang kelompok pada setiap waktu.
  7. Jumlah total biasanya diumumkan pada pertemuan atau ditulis pada papan.
  8. Anggota mengawasi catatan tabungan individu mereka dan status kredit dalam kelompok.
  9. Anggota menyuruh penulis untuk membacakan catatan pertemuan pada hari itu juga sebelum mereka tanda tangan.
  10. Anggota kelompok memastikan bahwa buku selalu diperbaharui.
  11. Anggota memastikan bahwa penulis mempunyai semua perlengkapan penting untuk menulis buku seperti pensil, pena, penghapus, kertas, lembaran karbon, penjepit, perekat, stempel karet dan tinta stempel.
  12. Anggota kelompok memastikan bahwa pemeliharaan dan penyimpanan buku mereka tidak bercampur dengan buku penulis jika dia anggota kelompok.

Audit Keuangan dalam Kelompok
Audit adalah pemeriksaan buku akunting secara sistematis, oleh orang di luar kelompok (bukan penulis atau anggota kelompok). Tujuan audit adalah untuk memeriksa kesalahan dan kelalaian dalam membuat perhitungan, untuk meralat adanya kesalahan, dan untuk pencegahan kesalahan di masa mendatang. Audit dibutuhkan baik untuk manfaat kelompok sendiri dan untuk membangun kredibilitas operasional kelompok kepada dunia luar.


Tujuan dari audit pembukuan keuangan kelompok antara lain adalah sebagai berikut:
  1. Meningkatkan akuntabilitas dan transparansi keuangannya.
  2. Menemukan dan meralat kesalahan dan kelalaian dalam menyusun pembukuan.
  3. Memperkuat keberadaan sistem akunting dalam kelompok.
  4. Menjelaskan pendapatan, pengeluaran, kekayaan dan pertanggungjawaban.
  5. Membangun kepercayaan dalam kelompok sebagai  sebuah lembaga yang mengarah ke berkesinambungan, pengakuan dan kredibilitas.
  6. Mengambil keputusan-keputusan anggaran dan pendanaan.

Referensi:
Juni Pranoto dan Wahyu Suprapti, 2006. Membangun Kerjasama Tim (Team Building). Lembaga Administrasi Negara – Republik Indonesia, Jakarta.
Santosa S., 2004. Dinamika Kelompok Edisi Revisi. Penerbit: Bumi Aksara, Jakarta.
Tim Pusbangluh, 2008. Modul Pembinaan dan Pengembangan Kelembagaan Penyuluhan Perikanan. Pusat Pengembangan Penyuluhan BPSDMKP, Jakarta.

Teknik Pendederan Ikan Mas

Media Penyuluhan Perikanan - Pendederan ikan mas adalah kegiatan memelihara larva yang berasal dari kolam penetasan hingga mencapai benih yang siap dipelihara di tempat pembesaran. Benih ini disebut sangkal, yaitu benih yang berukuran 10 – 12 cm, dan memiliki berat rata-rata 10 gram. Kegiatan ini dilakukan di kolam selama 14 sampai 30 hari, Kolam pendederan ikan mas harus subur. Pada kolam yang subur tumbuh pakan alami dengan beragam jenis, dan ukuran serta jumlah yang melimpah. Pakan alami sangat penting untuk kelangsungan hidup dan pertumbuhan benih, hingga kelangsungan hidupnya tinggi dan pertumbuhannya cepat. Persiapan kolam pada kegiatan pendederan terdiri dari pengeringan, perbaikan pematang, pengolahan tanah dasar, perbaikan kemalir, pengapuran, pemupukan, serta pengairan.

Pengeringan dianggap cukup bila tanah dasar sudah retak-retak. Biasanya selama 4–7 hari. Pengolahan tanah dasar dilakukan dengan mencangkul seluruh bagian dasar kolam, tapi tidak terlalu dalam. Pembuatan kemalir dilakukan dengan cara menarik dua buah tali plastik dari pintu pemasukan ke pintu pengeluaran. Jarak antara tali atau lebar kemalir antara 40 - 50 cm. Tanahnya digali sedalam 5 – 10 cm, lalu dilemparkan ke pelataran. Pengapuran dilakukan setelah pembuatan kemalir dengan cara menyiramkan air kapur ke seluruh bagian tanah dasar dan pematang, kapur direndam terlebih dahulu dengan air sebelum disebar. Untuk kapur yang sudah kering, dapat langsung ditebar.

Pengapuran bertujuan untuk meningkatkan produktivitas tanah, terutama pH dan alkalinitasnya. Untuk kolam yang pH-nya sudah 7, pengapuran tidak perlu dilakukan. Setelah tanah siap maka proses selanjutnya ada pemupukan.

Pemupukan dilakukan dengan menebar pupuk ke seluruh tanah dasar kolam. Dengan cara seperti itu pupuk dapat tersebar merata dan pertumbuhan pakan alami akan merata di seluruh bagian kolam. Setelah kolam dipupuk, kolam diisi air selama 4–6 hari. Pupuk yang baik untuk kolam adalah kotoran ayam atau puyuh. Dosis pupuknya 500 – 1000 gram/m2. Persiapan kolam yang dilakukan dengan cara disikat, dibilas kemudian dikeringkan, Pemupukan yang dilakukan tidak disebar di dasar kolam melainkan pupuk dimasukkan ke dalam karung.
Teknik Pendederan Ikan Mas
Teknik Pendederan Ikan Mas


Penebaran larva atau benih dilakukan pagi hari, saat suhu air rendah, yaitu antara pukul 06.00 – 07.00. Tujuannya agar larva atau benih tidak stress akibat suhu tinggi. Larva atau benih yang ditebar terlalu siang bisa strees akibat kepanasan. Sebelum ditebar ke dalam kolam maka perlu dilakukan aklimatisasi yaitu menyamakan suhu kantong dengan suhu kolam. Padat tebar pendederan antara 100–200 ekor/m2, agar jumlahnya diketahui, sebelum ditebar larva atau benih dihitung terlebih dahulu. Cara menghitung yang paling baik dan risikonya paling kecil adalah secara volumetrik.

Pakan tambahan diberikan setelah 4 hari dari penebaran, Pemberiannya dilakukan 2 kali dalam sehari, yaitu pada pukul 09.00 dan pukul 15.00. Dosisnya 20 gram /100 ekor benih pada minggu pertama, 30 gram pada minggu kedua, demikian seterusnya dosis pakan tambahan ditambah sesuai dengan kebutuhan. Pemberian pakan tambahan dilakukan dengan cara menebar langsung ke kolam.

Selama pemeliharaan dilakukan pengontrolan untuk melihat keadaan kolam, air kolam dan ikan Pemanenan benih dilakukan setelah masa pemeliharaan berakhir. Caranya adalah dengan mengeringkan air kolam secara perlahan-lahan, yaitu dengan membuka papan pintu air. Sambil menunggu air kolam surut, benih sedikit demi sedikit ditangkap dengan waring, dimasukan dalam ember, kemudian ditampung dalam hapa yang dipasang tidak jauh dari tempat panen. Benih yang sudah ditangkap sebaiknya dibiarkan dalam hapa tersebut selama 1 malam agar kondisinya tubuhnya pulih kembali. Air yang masuk ke kolam penyimpanan hapa harus bersih agar tidak mengotori air dalam hapa.

Pengangkutan benih dalam jarak dekat atau tidak memerlukan waktu yang lama dapat menggunakan keramba. Setiap keramba dapat diisi air bersih 15 liter dan dapat untuk mengangkut sekitar 5000 ekor benih ukuran 3-5 cm. Jika jaraknya pengngkutan jauh maka menggunakan kantong plastik. Volume media pengangkutan terdiri dari air bersih 5 liter yang diberi buffer Na2(hpo)4.H2O sebanyak 9 gram. Dos yang berukuran panjang 0,50 m, lebar 0,35 m, dan tinggi 0,50 m dapat diisi 2 buah kantong plastik.

Sumber : Alam, Mahendra. 2011. Budidaya Ikan Mas (Cyprinus carpio). Materi Penyuluhan Kelautan dan Perikanan No. 002/TAK/BPSDMKP/2011. Pusat Penyuluhan KP - BPSDMKP. Jakarta
Teknik Mengelola Air Pada Pembenihan Ikan Kerapu

Teknik Mengelola Air Pada Pembenihan Ikan Kerapu

Media Penyuluhan PerikananPengelolaan kualitas air agar kondisi air pemeliharaan selalu dalam keadaan baik untuk larva.  Kegagalan mempertahankan kualitas air dapat menyebabkan kematian larva.  Wadah diaerasi agar kebutuhan oksigen larva terpenuhi.  Jarak antar titik aerasi di wadah pemeliharaan larva adalah 50 cm.  Pada hari pertama media pemeliharaan larva diberi air hijau dengan kepadatan 25000-50000 sel/ml dan perberian alga dilakukan dengan tujuan sebagai makanan rotifera dan juga agar media pemeliharaan berwarna hijau. 

Air yang berwana hijau diyakini dapat mengurangi intensitas sinar matahari yang kuat dan sebagai stabilisator kondisi lingkungan pemeliharaan.  Untuk mengurangi intensitas sinar matahari dapat juga dilakukan dengan kombinasi air hijau dan memberi krei di atas wadah peliharaan sehingga sinar matahari tersebar merata.  Intensitas sinar mata hari yang kuat pada satu titik dapat menyebabkan larva bergerombol di satu tempat. Sinar matahari yang kuat dapat menyebabkan larva menjadi bengkok yang diikuti dengan kematian.

Pada awalnya pemeliharaan larva dilakukan dengan sistem air tenang, tanpa adanya pergantian air.  Pergantian air dimulai pada hari ke 7 sebanyak 5 – 10% dari volume tergantung dari kondisi air dan kondisi larva.  Pergantian air ini dilakukan mengingat kualitas air sudah mulai menurun. Pergantian air dilakukan dengan cara membuang air dengan selang. 

Ujung selang diberi saringan, kekuatan sedot selang diusahakan sedemikian rupa agar larva tidak ikut tersedot. Pergantian air dilakukan pada pagi hari.  Pergantian mulai dilakukan secara rutin dalam jumlah yang cukup banyak (70-400%) seletah larva diberi artemia dan mikro pelet.  Pergantian air dilakukan dengan cara sistem air mengalir,  sehingga saat diberikan pakan buatan sistem pemeliharaan berubah dari sistem air tenang ke sistem air mengalir. 

Hal ini dilakukan karena pakan buatan yang tidak termakan, dalam waktu yang relatif singkat dapat menurunkan kondisi media pemeliharaan.  Selanjutnya jika dianggap perlu, untuk mempertahankan kualitas air ke dalam bak pemeliharaan larva dimasukkan bakteri pengurai.  Bakteri tersebut dapat menguraikan amoniak dan nitrat yang sangat berbahaya bagi larva menjadi  bentuk lain yang tidak berbahaya bagi larva.

Pada awal pemeliharaan larva penyiponan dasar bak tidak dilakukan dan penyiponan dasar hanya dilakukan dalam kondisi yang darurat seperti terjadi kematian plankton yang mengendap di dasar wadah.  Penyiponan dasar biasaya dapat dilakukan mulai hari ke-10.  Setelah larva diberikan pakan buatan maka penyiponan sisa pakan dilakukan setiap hari.

Agar media pemeliharaan larva juga terbebas dari serangan bakteri dan jamur biasanya diberi obat-obatan dengan merek dagang ElBAJU atau Gold 100.  dengan dosis 1 ppm.  Pemberian dilakukan setiap 5 hari sekali.

SUMBER:
Sumantadinata K., 2003.  Modul Pemeliharaan Larva sampai Benih Ikan Kerapu Bebek. Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta.

Pembenihan Ikan Mas Secara Intensif

Media Penyuluhan Perikanan - Pembenihan secara intensif biasanya dibantu dengan hormon hipofisa untuk merangsang pematangan gonad agar lebih cepat matang. Pemijahan dengan menggunakan teknik hipofisasi adalah pemijahan yang dengan cara penyuntikan ekstrak kelenjar hipofisa ke induk yang akan dipijahkan, penggunaan ekstrak kelenjar hipofisa ini lebih diutamakan untuk induk betina sedangkan induk jantan tidak terlalu membutuhkan. Teknik hipofisasi dilakukan jika pemijahan secara alami sulit dilakukan.

Tujuan penggunaan ekstrak hipofisa ini adalah mempercepat proses pemijahan, memperkecil resiko gagalnya proses pemijahan dan merancang terjadinya proses pemijahan sesuai waktu yang diinginkan yaitu pagi, siang, sore atau malam hari. Dosis 1-1,5 ml/kg ikan artinya 1-1,5 ml ekstrak kelenjar hipofisa untuk 1 kg induk atau setiap 1 kg induk resipien membutuhkan 1-1,5 kg induk donor.

Kelenjar hipofisa dapat diperoleh dari hipofisa ikan mas, kelenjar hipofisa terletak di bagian dalam kepala ikan mas untuk lebih jelasnya dapat melihat gambar 9, namun apabila menginginkan lebih mudah dapat membeli ekstrak kelenjar hipofisa yang sudah jadi sehingga kita bisa langsung menggunakan. Ekstrak hipofisa diambil dari ikan sejenis dan tanpa mempertimbangkan jantan dan betina.

Adapun tahap-tahap menyiapkan donor adalah sebagai berikut:
  1. Timbang ikan donor seberat induk yang akan disuntik
  2. Potong bagian batas kepalanya
  3. Dari arah bukaan mulut, kepala ikan dibelah, bagian ats kepala diambil
  4. Ambil kelenjar dengan menggunakan pinset kemudian digerus /dihancurkan dengan menggunakan alat penggerus sambil ditambah pelarut akuabides 1-2 cc
  5. Ambil dengan menggunakan spuit dan kelenjar siap disuntikkan

Selain dapat diambil dari ikan, ekstrak hipofisa yang sudah siap pakai juga tersedia di toko, adapun tahap-tahap dalam penggunaannya adalah sebagai berikut:
  1. Siapkan alat suntik dan hormon Ovaprim untuk disuntikkan. Gunakan injeksi spuit yang sudah dibersihkan dengan air panas atau gunakan alat injeksi yang baru.
  2. Timbang induk ikan lele (jantan dan betina) dan tentukan dosis Ovaprim. Induk yang beratnya ± 1 kg, dosis hormon Ovaprim 0,3-0,5 ml. Bila beratnya 0,5 kg maka dosis yang diperlukan setengah nya, yakni 0,15 - 0,25 ml (sesuai petunjuk pada wadah hormon tersebut). Sedot dengan alat injeksi spuit sebanyak hormon yang diperlukan, misalnya 0,5 ml. Usahakan posisi botol dan injeksi spuit tegak lurus, botol berada di atas. Setelah itu, sedot lagi dengan injeksi spuit yang sama akuades sebanyak 0,5 ml juga untuk mengencerkannya.

Sedangkan cara penyuntikan dan pelepasan induk adalah sebagai berikut:
  1. Induk disuntik pada siang atau sore hari
  2. Kelenjar hipofisa yangtelah disiapkan, setengah disuntik pada induk jantan dan setengahnya pada induk betina, penyuntikan dilakukan pada kedalaman ±2 cm dan kemiringan 45 derajat disesuaikan dengan ukuran ikan
  3. Induk yang telah disuntik dilepaskan pada kolam pemijahan Penyuntikan induk ikan mas bisa dilakukan 1-2 kali, induk ikan mas matang kelamin yang sudah disuntik dimasukkan ke dalam kolam pemijahan, biasanya pemijahan terjadi 6-7 jam setelah penyuntikan.

Selanjutnya, perawatan telur dan larva sama seperti pemijahan secara alami Setelah larva berumur 5 hari atau lebih maka larva ikan tersebut dapat dipindahkan ke kolam pendederan, Khairuman, dkk (2008).

Penyuntikan dapat dilakukan dibeberapa tempat yaitu di bagian atas yaitu di dekat sirip punggung dan sirip ekor, serta bagian bawah perut yaitu di dekat pangkal sirip perut dan sirip dada. Tidak disarankan untuk melakukan penyuntikan di bagian tubuh yang lain karena kemungkinan dapat mengenai organ atau tulang, efek dari terkenanya organ atau tulang akan menyebabkan kerusakan organ atau rasa sakit yang luar biasa pada ikan sehingga dapat mengakibatkan kematian ikan. Pada saat dilakukan penyuntikan bagian kepala induk harus ditutup kain basah untuk menenangkan induk, Djarijah, (2007).

Pembenihan Ikan Mas Secara Intensif
Pembenihan Ikan Mas Secara Intensif
Teknik pemijahan yang dibantu dengan ekstrak kelenjar hipofisa, selain dipijahkan di kolam pemijahan juga dapat dilakukan dengan teknik stripping. Teknik stripping adalah teknik pemijatan (mengurut) perut ikan untuk mengeluarkan baik telur yang telah siap dibuahi atau sperma ikan.

Dengan menggunakan teknik stripping diharapkan persentase telur yang dibuahi sperma semakin besar sehingga jumlah larva yang dihasilkan semakin besar pula. Pelaksanaan stripping dapat dilakukan dengan 3 cara, cara pertama induk direbahkan diatas meja beralaskan busa karet lalu di stripping bagian perutnya, tangan kiri memegang punggung ikan dan tangan kanan memijit sambil/mengurut perut ke arah ovarium.

Cara kedua adalah dipeganggang menggunakan dua tangan, tangan kiri memegang pangkal ekor sambil memijit atau mengurut kantong ovari dan tangan kanan memegang perut bawah, ujung kepala induk ditopang pangkal paha. Cara ini biasanya dikerjakan dua orang. Pada saat stripping dilakukan di bawah ovari sudah disiapkan baskom bersih untuk menampung telur.

Cara ketiga yaitu telur atau sperma disedot menggunakan kolektor (Sucking milt). Caranya yaitu induk direbahkan di atas meja yang dialasi busa karet, kemudian selang kolektor dimasukkan menembus lubang ovary/urogenital, selanjutnya dihisap dengan mulut. Dengan cara ini telur akan tertampung di dalam tabung yang terhubung dengan selang kolektor, kemudian telur dituang ke dalam baskom.

Stripping yang dilakukan secara sembarangan selain mengakibatkan organ induk rusak juga mengakibatkan telur yang keluar tercampur kotoran. Pada saat dilakukan stripping kepala induk harus ditutup kain basah agar induk lebih tenang atau induk dibius dengan cara direndam di larutan ayang diberi MS 222 dengan dosis 100 oom (0,1 g/liter) selama 20 menit atau dibius dengan menggunakan bahan lain, Djarijah, (2007).

Pembuahan dilakukan di dalam cawan. Caranya yaitu tuangkan sperma dari botol penampungan ke dalam cawan yang berisi telur kemudian aduk dengan menggunakan bulu ayam atau alat pengaduk halus yang bersih, pengadukan dilakukan dengan cara menggerakkan bulu ayam atau alat pengaduk secara memutar sehingga mengaduk adonan telur.

Untuk membantu proses pembuahan maka ditambahkan larutan yang terbuat dari campuran 30 g carbamide (Urea) dan 40 gram garam (NaCL) dalam 10 liter air. Larutan tersebut ditambahkan sebannyak 10%-20% dari volume telur. Pengadukan dilakukan selama 3-5 menit, buang larutan tersebut, kemudian diganti dengan larutan yang baru dengan volume yang sama, aduk kembali selama 3-5 menit. Telur yang telah dibuahi dapat dicuci dengan larutan pembersih (tannin) yang terbuat dari 5 g - 8 g tannin dalam 10 liter air, caranya yaitu dengan mencelupkan telur yang telah dibuahi (maksimal 2-3 liter) ke dalam larutan tannin sebannyak 1-2 liter atau maksimal 2-5 liter di dalam ember, kemudian aduk selama 3-5 menit, kemudian cuci dengan air bersih, pencucian telur sebaiknya dilakukan 3 kali, karena tanin dapat melapisi telur sehingga dapat menghambat perkembangan telur. Telur yang telah dicuci segera di tetaskan ke dalam inkubator, Djarijah, (2007).

Sebelum diisi telur, inkubator dibersihkan dan dikeringkan, atau atau direndam dengan menggunakan larutan PK 20 ppm selama 30 menit. Kemudian bilas sampai bersih. Inkubator dengan kapasitas/ volume 200 liter dapat diisi telur 500.000 butir telur atau 2500 butir telur/liter air. Selama pemeliharaan debit air harus ditambah setelah telur memasuki fase blastula. Secara bertahap debit air diperbesar dari 0,7 liter/menit menjadi 1,2 liter/menit kemudian ditingkatkan menjadi 1,5 liter/menit sampai telur menetas. Telur yang telah dibuahi akan menetas selama 1-2 hari, suhu optimal untuk pertumbuhan telur yaitu pada 20oC-22oC dan relatif stabil, selain suhu media pemeliharaan telur juga harus memiliki tingkat kekeruhan dan CO2 dan NH3 yang rendah, kandungan oksigen terlarut dalam air (DO) 5-6 ppm, Djarijah, (2007).

Sumber : Alam, Mahendra. 2011. Budidaya Ikan Mas (Cyprinus carpio). Materi Penyuluhan Kelautan dan Perikanan No. 002/TAK/BPSDMKP/2011. Pusat Penyuluhan KP - BPSDMKP. Jakarta

Pembenihan Ikan Mas Secara Tradisional

Media Penyuluhan Perikanan - Kegiatan pembenihan dapat dilakukan baik di indoor maupun di outdoor. Para pembudidaya pada umumnya melakukan kegiatan pembenihan di outdoor karena memang pada saat itu mereka hanya mengetahui cara tersebut dan metode tersebut dianggap lebih mudah dari pada pembenihan yang dilakukan di indoor, namun keterbatasan kegiatan pembenihan outdoor yang tergantung pada pengaruh iklim dan perubahan suhu yang tidak stabil mengakibatkan hasil yang didapatkan tidak maksimal sedangkan kebutuhan benih ikan semakin meningkat, oleh sebab itu pembudidaya mulai melakukan pembenihan di indoor, pembenihan yang dilakukan di indoor pada umumnya hanya mulai dari pemijahan sampai pemeliharaan larva dan benih karena pada fase inilah dianggap sebagai fase yang paling kritis karena rentannya telur dan larva terhadap perubahan lingkungan dan penyakit. Sedangkan kegiatan pemeliharaan induk tetap dilakukan di outdoor.

Persiapan Wadah Pemijahan 

Dalam Kegiatan pemijahan ikan mas pada umumnya menggunakan tiga kolam yang perlu disiapkan, ketiga kolam tersebut adalah kolam pemijahan, kolam penetasan dan kolam pendederan, namum pada kenyataan di lapangan banyak pembudidaya yang hanya menggunakan dua kolam bahkan ada yang hanya menggunkan satu kolam yang berarti kolam pemijahan digunakan sebagai kolam penetasan telur, tempat penetasan telur sebagai pendederan bahkan kegiatan pemijahan, penetasan telur dan pendederan dilakukan dalam kolam yang sama, namun berdasarkan hasil di lapangan hasil terbaik didapat dari kolam yang terpisah.

Berhasilnya kegiatan pemijahan yang menggunakan yang tiga kolam karena kondisi kolam yang lebih bersih, sehingga meminimalkan tumbuhnya penyakit. Pada saat Induk melakukan pembuahan maka sperma dan cairan yang dikeluarkan oleh induk betina baik lendir atau cairan telur membuat air menjadi kotor, sehingga resiko terserangnya telur oleh jamur menjadi semakin besar sehingga telur perlu dipindahkan. Pada kolam penetasan telur, jika telur sudah menetas maka benih yang ada harus segera dipindahkan karena telur yang tidak menetas kaya akan kandungan organik sehingga potensi timbulnya penyakit dan jamur menjadi semakin besar, maka jika benih tidak dipindahkan maka resiko terserangnya benih oleh jamur atau penyakit menjadi semakin besar. Kolam pemijahan biasanya berukuran tidak terlalu luas.

Adapun ukuran kolam pemijahan yang biasa digunakan adalah ukuran 4m x 4m hingga 4m x 10m, bila kolam pemijahan menggunakan kolam beton maka ukurannya dapat dipersempit menjadi 2m x 4m, Susanto dan Rochdianto (2002). Ukuran-ukuran ini bukan patokan yang mutlak yang penting kolam yang digunakan tidak membuat induk berdesakan. Sebelum digunakan, terlebih dahulu kolam pemijahan dikeringkan dan dijemur dipanas matahari selama 2-3 hari. Bila cuaca mendung atau matahari tertutup awan, waktu pengeringan dapat diperpanjang manjadi 5-7 hari, Susanto dan Rochdianto (2002).

Dasar kolam yang benar-benar kering ditandai dengan dengan bau tanah saat diisi air. bau tanah tersebut berdasarkan pengalaman dapat merangsang induk ikan mas untuk memijah, hal tersebut dikarenakan mirip dengan suasana di alam pada saat memasuki musim penghujan. Oleh karena itu pengeringan dan penjemuran mutlak dilakukan. Cara lain untuk merangsang induk memijah adalah dengan membakar batubata dan jerami di dasar kolam, hasil dari pembakaran batubata tersebut juga mengasilkan bau tanah yang sama dengan pengeringan kolam. Pembakaran dilakukan dengan cara meletakkan jerami di seluruh dasar kolam sehingga ketiga dibakar dasar kolam kering secara merata, sedangkan jika menggunakan batu bata, batu bata yang telah dibakar diletakkan secara merata di dasar kolam, atau jika batu bata yang tersedia terbatas dapat diletakkan secara merata. Jika bak terbuat dari beton sebaiknya diletakkan di dalam ruangan yang atapnya terbuat dari fiber sehingga sinar matahari tembus ke dalam ruangan dengan kondisi tersebut maka pengeringan lebih mudah dilakukan tanpa kawatir hujan.

Pembenihan Ikan Mas Secara Tradisional
Pembenihan Ikan Mas Secara Tradisional
Setelah diperkirakan kolam sudah benar-benar siap maka air yang telah difilter diisikan kedalam kolam sampai kedalaman 50-80cm. Langkah Selajutnya adalah pemasangan kakaban, kakaban dibuat dari ijuk aren yang dijepit dengan dua belah bambu ditengahnya. Ukuran kakaban yang ideal untuk ikan mas yaitu panjangnya 1,5 m dan lebar 40-50 cm. Agar dapat terapung kakaban harus dipasang di atas bambu utuh dan dijepit dengan bilah bambu agar tidak berantakan ketika disenggol kawanan induk, jarak antar kakaban sekitar 10 cm. Sebagai acuan jumlah kakaban yang dapat dipakai untuk setiap 1 kg induk ikan mas adalah 5-8 buah letak kakaban diusahakan berjarak 5-10 cm di bawah permukaan air, Susanto dan Rochdianto (2002)

Teknik Pemijahan 

Berhasil tidaknya kegiatan pemijahan tergantung pada tingkat kematangan gonad atau telur induk, induk yang dipelihara di kolam pemeliharaan induk selama 1,5 bulan biasanya sudah mengalami pematangan gonad dan telur. Ciri-ciri induk yang sudah siap dipijahkan adalah bagian perutnya tampak gendut dan tampak menggelambir jika dilihat dari atas, apabila diraba perutnya terasa lembek dan disekitar urogenitalnya tampak memerah dan akan keluar telur pada saat dipijat ke arah urogenital, sedangkan ciri-ciri induk jantan yang sudah matang gonad ditandai dengan keluarnya sperma berwarna putih susu jika perut diurut ke arah urogenitalnya, Khairuman, dkk (2008).

Induk yang akan dipijahkan dimasukkan ke dalam kolam pemijahan setetah kolam telah siap. Proses pemasukan induk harus dilakukan secara hati-hati dan satu-satu dan tidak boleh kasar, penanganan induk yang tidak hati-hati akan menyebabkan induk stres, penanganan yang kasar juga dapat mengakibatkan induk betina mengeluarkan telur sebelum waktunya.

Selama proses pemijahan induk yang dipijahkan tidak boleh diberi makan, hal tersebut dilakukan karena pakan yang diberikan selain dapat mengotori kolam juga dapat menyumbat saluran telur induk betina sehingga dapat menggagalkan kegiatan pemijahan, Khairuman, dkk (2008) Perbandingan bobot antara induk jantan dan induk betina adalah 1:1 Artinya setiap berat induk betina 1 kg maka jantan juga harus 1 kg ( bisa terdiri dari beberapa ekor induk jantan dan betina), Khairuman, dkk (2008).

Apabila tahap-tahap dalam pemijahan dilakukan dengan benar maka induk akan mulai memijah menjelang tengah malam, sebelum terjadi proses pembuahan maka biasanya pada pukul 20.00-22.00 induk jantan akan mengejar-ngejar induk betina. Setelah berkejaran maka menjelang tengah malam biasanya induk betina akan mengeluarkan telurnya dan jantan akan merespon dengan mengeluarkan sperma, sedikit demi sekikit telur yang berwarna kuning cerah akan tampak menempel pada kakaban, menjelang pagi hari sekitar pukul 05.00 frekuensi pengeluaran telur dan sperma oleh induk betina dan induk jantan akan mulai berkurang.

Pada saat itu sebaiknya kegiatan pemijahan sebaiknya dihentikan, hal tersebut dilakukan dengan cara mengambil kakaban dan dipindahkan ke dalam kolam penetasan dan diikuti dengan memindahkan induk ke kolam pemeliharaan induk. Apabila induk tidak segera diambil, maka baik induk jantan maupun induk betina akan memakan telur yang sudah dikeluarkan, karena biasanya induk yang sudah kelelahan memijah akan mulai mencari makan, Susanto dan Rochdianto (2002).

Penetasan Telur dan Pemeliharaan Larva 

Kakaban yang dari kolam pemijahan dipindahkan ke kolam penetasan telur, di dalam kolam penetasan telur diberi hapa yang terbuat dari kain terilin berukuran 2x1x1 m, berbentuk persegi panjang yang dibentangkan kurang lebih 2 m dari pintu pemasukan. manfaat dari penggunaan hapa adalah untuk mencegah kemungkinan munculnya predator seperti ular, belut, dll yang dapat masuk ke dalam kolam penetasan telur. Kakaban harus di letakkan tenggelam kurang lebih 10 cm dari permukaan air, selama kegiatan penetasan telur untuk manangani jika turun hujan maka pada kolam penetasan telur diberi peneduh. Telur akan menetas menjadi benih dalam waktu kurang lebih 2-3 hari, Santoso,(2005.

Setelah telur menetas, harus segera dilakukan pengangkatan kakaban dari dalam hapa atau bak fiber satu akuarium persatu. Larva yang baru masing memiliki cadangan makanan berupa kantong kuning telur. Kuning telur akan teserap habis dalam waktu kurang lebih antara 3-6 hari setelah menetas, Nugroho dan Kristanto, (2008). Setelah cadangan telur habis maka larva dapat diberi makan berupa rotifera, cacing sutra dan kuning telur rebus, caranya sebutir telur ayam matang di ambil bagian kuningnya, kemudian hancurkan dan dilarutkan ke dalam 250 cc air bersih setelah berbentuk suspensi masukkan ke dalam alat penyemprot nyamuk atau bisa juga diberikan secara langsung, pemberian pakan dilakukan secara merata, pemberian pakan dilakukan sebannyak lima kali sehari, sebutir telur cukup untuk 100.000 ekor larva. Perawatan larva hingga benih berumur 4-5 hari paling lama 7 hari, selanjutnya benih dapat dilepas dari hapa, Santoso (2005).

Sumber : Alam, Mahendra. 2011. Budidaya Ikan Mas (Cyprinus carpio). Materi Penyuluhan Kelautan dan Perikanan No. 002/TAK/BPSDMKP/2011. Pusat Penyuluhan KP - BPSDMKP. Jakarta

Memelihara Calon Induk Ikan Mas

Media Penyuluhan Perikanan - Calon induk ataupun induk yang akan dipijahkan dari hasil seleksi yang telah dilakukan harus disediakan tempat khusus yaitu kolam pemeliharaan induk. Kolam tersebut berfungsi mempercepat proses kematangan telur, penyimpanan induk-induk yang telah dikawinkan dan mempermudah pengawasan. Karena kegiatan pemeliharaan induk sangat penting maka induk-induk yang sudah dewasa perlu dirawat di dalam kolam yang menyehatkan untuk perkembangan atau kematangan gonad. Oleh karena itu perlu diperhatikan pemberian komposisi pakan dan keadaan kolam.

Pada umumnya kolam pemeliharaan induk terbagi menjadi dua bagian yaitu kolam untuk induk jantan dan kolam untuk induk betina, sistem perairan menggunakan sistem pararel. Kolam pemeliharaan induk jantan dan betina biasanya memiliki pintu masuk dan pintu keluar yang terpisah. Namun jika lahan tidak memungkinkan kolam induk jantan dan betina boleh menggunakan sistem seri dengan syarat kolam induk betina berada di atas kolam induk jantan. Hal tersebut bertujuan untuk mencegah perkawinan sendiri karena induk betina mudah terangsang oleh bau sperma induk jantan yang keluar tanpa disengaja mengikuti aliran air. Pemeliharaan biasanya induk ikan mas seberat 1 kg memerlukan kolam seluas 5 meter persegi.

Contoh kasus induk yang dipijahkan memiliki berat total 6 kg maka diperlukan kolam dengan luas 30 meter persegi, namun jika sistem pengairan dalam pemeliharaan sangat baik (memiliki debit air cukup deras) jumlah berat total induk menjadi bertambah yaitu 1-4 kg/m2 (Atmadja hardjamulia, 1978 dalam Santoso, 2005). Kolam selain bermanfaat untuk mempersiapkan induk dalam proses pemijahan jiga bermanfaat untuk merevitalisasi kembali kondisi induk yang sudah digunakan agar cepat pulih kembali untuk dimanfaatkan pada periode selanjutnya, Nugroho dan Kristanto (2008). Faktor lain yang perlu diperhatikan selain padat penebaran adalah suhu air dan makanan. Suhu air optimal dalam pemeliharaan induk ikan mas adalah 25 derajat C.

Memelihara Calon Induk Ikan Mas
Memelihara Calon Induk Ikan Mas
Pakan yang baik memiliki protein berkadar 25% dan diberikan 2 kali sehari. Contoh kasus pellet yang diberikan sebannyak 2 kali (pagi dan sore) dengan 2%-4% dari bobot total ikan seluruhnya, misal induk yang dipelihara memiliki berat 5 kg, maka membutuhkan pellet sebannyak 100-200 gram, jika bobot induk 10 kg maka pellet yang diberikan setiap hari 200-400 gram atau dua kali lipat, jika pembudidaya menghendaki memberi pakan tambahan diharapkan pakan tersebut memiliki kandungan lemak yang rendah, Santoso (2005).

Sumber : Alam, Mahendra. 2011. Budidaya Ikan Mas (Cyprinus carpio). Materi Penyuluhan Kelautan dan Perikanan No. 002/TAK/BPSDMKP/2011. Pusat Penyuluhan KP - BPSDMKP. Jakarta

Memilih Calon Induk Ikan Mas Yang Baik

Media Penyuluhan PerikananKeberhasilan Usaha pembenihan ikan mas sangat ditentukan oleh kualitas induk. Pemilihan calon induk harus mempertimbangkan ras atau varietas ikan yang akan dipelihara, karena ciri-ciri calon induk yang baik berbeda-beda untuk setiap ras atau varietas.

Menurut Khairuman, dkk (2008), secara umum ciri-ciri induk yang baik adalah sebagai berikut:

  1. Sehat Tidak cacat, dan tidak terluka
  2. Umur induk 1,5 tahun - 3 tahun
  3. Sisik tersebar teratur dan berukuran agak besar
  4. Sisik tidak terluka dan tidak cacat
  5. Bentuk dan ukuran tubuh seimbang tidak terlalu gemuk atau tidak terlalu kurus
  6. Tubuh tidak terlalu keras atau tidak terlalu lembek
  7. Perut lebar dan datar
  8. Ukuran tubuh relatif tinggi
  9. Bentuk ekor normal, cepat terbuka, pankal ekor relatif lebar dan datar
  10. Kepala relatif kecil dan moncongnya lancip, terutama pada induk betina, Sebab jumlah telur ikan yang berkepala kecil biasanya lebih banyak daripada ikan yang berkepala besar
  11. Jarak lubang dubur relatif dekat dengan pangkal ekor

Selain sifat umum di atas induk ikan mas juga memiliki sifat spesifik yaitu sebagai berikut

Induk Jantan :
  1. Dapat dipijahkan pada umur lebih dari 6 bulan atau mencapai bobot minimal 0,5 kg 
  2. Jika bagian perut di urut ke arah urogenital akan keluar sperma

Induk Betina
  1. Dapat dipijahkan pada umur 1,5 tahun atau minimal berbobot 1,5 kg
  2. Ikan yang matang gonad dapat dilihat dari perut yang terasa lunak, membengkak ke arah belakang dari atas urogenital (lubang urine sekaligus kelamin), lubang urogenital biasanya berwarna kemerahan dan agak terbuka, tetapi banyak juga yang tidak terbuka
  3. Induk yang matang gonad biasanya tidak banyak bergerak atau gerakannya sangat perlahan
Sumber : Alam, Mahendra. 2011. Budidaya Ikan Mas (Cyprinus carpio). Materi Penyuluhan Kelautan dan Perikanan No. 002/TAK/BPSDMKP/2011. Pusat Penyuluhan KP - BPSDMKP. Jakarta