Kaidah Statistik Pengumpulan Data Potensi Perikanan



Media Penyuluhan Perikanan -   Kaidah Statistik pengumpulan data potensi perikanan dapat diuraikan sebagai berikut :

a.    Memahami Data Primer dan Sekunder

 Kaidah Statistik pengumpulan data potensi perikanan
Secara sederhana, pengumpulan data diartikan sebagai proses atau kegiatan yang dilakukan untuk mengungkap atau menjaring berbagai fenomena, informasi atau kondisi lokasi sesuai dengan lingkup penelitian. Data adalah keterangan atau bahan yang nyata yang data dijadikan dasar kajian (analisis atau kesimpulan). Keterangan dimaksud yang diperoleh dalam bentuk angka atau yang diangkakan, kalimat, gambar, rekaman, dan lain-lain.

Dilihat dari cara perolehannya, data dibagi menjadi dua jenis yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dengan usaha sendiri melalui instrumen yang dipersiapkan, diolah, dan disajikan sendiri. Sedangkan data sekunder adalah data yang dipinjam dari sumber lain dan sudah tersaji dengan baik, peneliti tinggal menggunakannya sesuai dengan kebutuhan. Agar data yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan, seyogyanya dilakukan dengan prosedur yang baik dan benar.

1)    Data Primer

Ditinjau dari sifatnya data primer dibagi menjadi dua macam, yaitu data kualitatif dan data kuantitatif.
Data kualitatif adalah data yang diperoleh dalam bentuk informasi melalui wawancara yang dilakukan terhadap nara sumber yang telah ditentukan sebelumnya. Data yang diperoleh umumnya tidak terstruktur sehingga variasi data dari sumbernya mungkin sangat beragam. Mengingat data yang diberikan oleh nara sumber akan sangat beragam, maka perlu dikontrol dengan baik jalannya wawancara sehingga hanya informasi yang relevan dan terarah yang akan diperoleh dan tidak melebar.

Data kuantitatif adalah data yang diperoleh dalam bentuk angka atau yang diangkakan. Data jenis ini dapat terstruktur karena ragam data yang diperoleh dari sumbernya cenderung berpola terstruktur sehingga mudah diolah, dibaca, dan dianalisis.

2)    Data Sekunder

Dari sumber penyediaannya, data sekunder dibagi dua yaitu data yang berasal dari dalam (internal) dan data yang berasal dari luar (eksternal). Data sekunder baik internal maupun eksternal pada dasarnya memiliki keterbatasan informasi yang diberikan sebab umumnya data sekunder cenderung bersifat umum.

b.    Metode Pengumpulan Data Primer

1)    Metode Pengumpulan Data Kualitatif
Data kualitatif umumnya diperoleh dengan metode wawancara. Wawancara atau interview adalah suatu proses tanya jawab yang dilakukan pewawancara dengan yang diwawancarai untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan. Pengumpulan data kualitatif dilakukan melalui pertanyaan-pertanyaan yang dipersiapkan sebagai panduan.

Terdapat tiga (3) bentuk pengumpulan data melalui wawancara, yaitu :

a)    Wawancara Sistemik

Wawancara sistemik adalah wawancara yang dilakukan dengan terlebih dahulu mempersiapkan pedoman wawancara secara tertulis tentang materi pertanyaan yang akan digunakan untuk memperoleh informasi. Dalam membangun pedoman wawancara yang baik, pewawancara seharusnya lebih dahulu mengerti secara pasti objek dan subjek penelitiannya.

b)    Wawancara Terarah

Wawancara terarah dilaksanakan dengan pola yang lebih bebas dibandingkan dengan wawancara sistemik meskipun tetap dalam koridor permasalahan dan daftar pertanyaan yang ditentukan.

c)    Wawancara Diskusi Kelompok Terbuka

Wawancara jenis ini dilakukan secara berkelompok atau yang biasa disebut dengan Focus Group Discussion (FGD). FGD merupakan kelompok kecil yang terdiri atas 8-10 orang yang dipilih untuk mendiskusikan topic tertentu dan dipimpin oleh seorang moderator terlatih. Tempat duduk disetting melingkari meja bundar atau melingkar sehingga mereka bisa saling berinteraksi. Moderator akan mengarahkan jalannya diskusi dan memberikan pertanyaan yang memancing ide peserta diskusi misalnya dengan pertanyaan “bagaimana menurut anda ?”

Wawancara akan berjalan dengan baik ditentukan oleh empat factor yaitu pewawancara, responden, topic yang tertuang dalam pertanyaan, dan situasi wawancara.

2)    Metode Pengumpulan Data Kuantitatif

Pengumpulan data kuantitatif menghasilkan data yang bersifat terstruktur dan umumnya menggunakan instrumen yang telah diujicobakan untuk menganalisis kelayakan instrumen tersebut. Metode-metode popular yang banyak digunakan untuk mengumpulkan data kuantitatif adalah :
  1. Survei : penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data yang pokok;
  2. Observasi : pengumpulan data melalui pengamatan dan pencatatan; dan
  3. Eksperimen : penelitian yang berusaha memanipulasi satu atau lebih variable kasual, kemudian mengukur efek manipulasi satu atau lebih variable dependen.

c.    Metode Sampling

1)    Populasi

Populasi adalah objek/subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Jadi populasi bukan hanya orang tetapi juga bisa berupa benda-benda alam lainnya. Populasi juga bukan sekedar jumlah tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki objek atau subjek itu.

2)    Sampel

Penelitian atau penggalian data dengan populasi yang besar terkadang sulit dilakukan apalagi jika sebaran populasi tersebut berbeda jauh dilihat dari segi geografinya. Untuk itu, data dilakukan penelitian atau penggalian data melalui sebagian populasi sebagai sampel sehingga dapat mengefisienkan biaya, tenaga, dan waktu. Namun demikian sampel yang ditetapkan haruslah diyakini dapat merepresentasikan populasi sehingga hasilnya dapat digeneralisasikan terhadap populasi tersebut.

3)    Teknik Sampling

Teknik sampling pada dasarnya dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu probability sampling dan nonprobability sampling.

a)    Probability Sampling

Probability sampling adalah teknik sampling yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik ini meliputi :
  1. Simple Random Sampling : pengambilan sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam anggota populasi itu. Teknik ini dilakukan apabila anggota populasinya homogeny atau dianggap homogen. Cara yang dapat dilakukan dalam teknik sampling ini adalah undian;
  2. Proportionate Stratified Random Sampling : teknik ini digunakan apabila populasi mempunyai unsur (anggota) yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional. Misalnya pembudidaya ikan di Desa Cicapar dilihat dari sebaran latar belakang pendidikan yaitu SD= 50, SMP= 100, SMA= 85, S1= 30. Jumlah sampel yang harus diambil harus meliputi strata pendidikan tersebut yang diambil secara proporsional.
  3. Disproportionate Random Sampling : populasi tidak berdistribusi secara proporsional, misalnya karena satu elemen jumlahnya sangat kecil akan tetapi tetap diharapkan masuk dalam sampel
  4. Cluster Sampling : teknik samping daerah ini digunakan untuk menentukan sampel bila sumber data sangat luas, misalnya penduduk suatu negara, provinsi, atau kabupaten. Teknik sampling ini sering dilakukan melalui dua tahap yaitu tahap pertama menentukan sampel daerah, tahap kedua menentukan orang-orang yang ada pada daerah itu.
b)    Nonprobability Sampling

Teknik sampling ini tidak memberi peluang yang sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik sampling ini meliputi :

  1. Sampling sistematis : teknik penentuan sampel berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut. Misalnya anggota populasi 100 orang, dari semua anggota itu diberi nomor urut 1 s.d 100. Pengambilan samplenya dapat dilakukan dengan nomor ganjil saja atau kelipatan dari bilangan tertentu;
  2. Sampling kuota : teknik penentuan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan;
  3. Sampel Aksidental : teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat dijadikan sebagai sampel bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok atau sesuai dengan ketentuan sebagai sumber data;
  4. Purposive Sampling : teknik penentuan sampel untuk tujuan tertentu saja. Teknik ini berorientasi pada pemilihan sampel dimana populasi dan tujuan yang spesifik dari penelitian diketahui oleh peneiti sejak awal;
  5. Sampling Jenuh : teknik penentuan sampel jika semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relative kecil kurang dari 10 orang. Istilah lain dari teknik ini adalah sensus.
  6. Snowball sampling : teknik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil kemudian sampel ini diminta memilih teman-temannya untuk dijadikan sampel, begitu seterusnya sehingga jumlah sampel semakin banyak.
  7. Convinence sampling : teknik yang mengarah pada penarikan sampel yang seadanya saja.

4)    Menentukan Jumlah Sampel

Jumlah sampel sering dinyatakan dengan ukuran sampel. Jumlah sampel yang 100% memiliki populasi adalah sama dengan jumlah populasi. Semakin besar jumlah sampel mendekati populasi, maka peluang kesalahan generalisasi semakin kecil. Pertanyaannya berapakah jumlah sampel yang tepat ditentukan ?

Besaran sampel sangat ditentukan empat hal, yaitu :
a)    Sifat analisisnya, apakah sederhana atau kompleks;
b)    Banyaknya perbandingan yang diharapkan dan banyaknya variable yang akan dianalisis secara simultan;
c)    Ketepatan estimasi dalam pengukuran yang dilakukan apakah akurat atau kurang akurat;
d)    Keterbatasan interviewer dan keterbatasan sumberdaya lainnya sehingga tidak dapat menjangkau sampel yang besar.

Penentuan jumlah sampel dapat dilakukan dengan berbagai rumus yang cenderung rumit untuk dimenegrti. Untuk memudahkan dalam penentuan jumlah sampel, dapat menggunakan tabel Krejcie dengan tingkat kepercayaan 95% atau tingkat kesalahan 5% (Sinambela, 2014).

Comments