Harta Karun Tersembunyi Ada di Ubur-Ubur

Media Penyuluhan Perikanan - Bagi kebanyakan masyarakat Indonesia, ubur-ubur termasuk ikan yang tak diminati. Jarang sekali nelayan menangkap ikan jenis ini. Harganya pun tak seberapa. Jadi maklum, ikan jenis ini tak menarik minat nelayan dan pelaut.

Namun, berbeda dari Indonesia, ubur-ubur punya cerita dan nasib lain di Jepang, Korea, dan China. Di tiga negara ini, ubur-ubur sangat berharga, tentu saja setelah dilakukan pengolahan secara khusus. Di restoran besar, dengan strategi pengelolaan khusus, ubur-ubur disulap dengan berbagai menu tambahan, sehingga tak terlalu tampak wujud dasar ubur-ubur. Hasilnya luar biasa. Makanan berbahan baku ubur-ubur justru kerap dicari pelanggan. Ubur-ubur yang telah dikeringkan juga bisa dijadikan camilan lezat. Ini biasa dijumpai di mal-mal di Jepang dengan harga sekitar 100-200 yen, tergantung ukuran kemasan.

Camilan hasil “racikan” dari ubur-ubur rupanya sangat digemari remaja di Jepang. Rasanya enak, sama sekali tak berbau anyir, dan mengandung protein hewani yang tinggi. Satwa ini ditemukan hampir di seluruh peraian laut di dunia, tak terkecuali Indonesia. Kita bisa dengan mudah menjumpainya di pesisir pantai. Ikan jenis ini hidup dan berenang dari permukaan hingga ke kedalaman laut. Beberapa ubur-ubur ditemukan hidup di air tawar. Ubur-ubur umumnya berwarna bening, meski ada juga yang warna-warni, tergantung wilayah pesisir tempat ia hidup.

Biota laut ini 95 persen terdiri atas air, mempunyai gelembung udara di bagian atas tubuhnya dan segumpal daging berwarna biru. Karena bentuknya mirip jelly, ia kerap disebut “jellyfish”. Di antara cirinya, organ tubuhnya dapat memantulkan cahaya hijau terang kebiruan, kuning kehijauan, atau merah menyala. Cahaya itu berasal dari sinar matahari yang diserap sel-sel protein yang mengandung zat fosfor. Pada saat gelap, khususnya malam hari, cahaya itu otomatis memencar. Tidak heran, pada malam hari, di kedalaman laut tampak cahaya hijau kebiruan yang bergerak beriringan.

Harta Karun Rahasia Dari Ubur-Ubur



Menariknya, ubur-ubur tak punya mata untuk melihat mangsa dan musuh. Ia tidak pula memiliki otak. Ia hanya berupa massa air seperti agar-agar. Kendati demikian, ubur-ubur bisa menjalankan tingkah laku berakal seperti kebanyakan ikan: berburu dengan berbagai taktik dan meloloskan diri dari musuh-musuhnya.

Hidup di Semua Iklim
Ubur-ubur adalah sejenis binatang laut yang termasuk dalam kelas Scyphozoa. Tubuhnya berbentuk payung berumbai dan tidak mempunyai tulang belakang. Ia bisa hidup hamper di semua iklim. Tubuhnya bertentakel (organ yang menyerupai belalai) yang berjuntai dari bagian bawah tubuhnya. Binatang ini ada yang mempunyai mulut dan ada yang tidak.

Sebagian besar ubur-ubur berbahaya bagi makhluk lainnya. Satwa ini memiliki struktur yang tembus pandang. Pada beberapa spesies, terdapat cairan beracun di dalam tentakelnya. Ubur-ubur menangkap mangsa dengan menyemprotkan racun ini, lalu membunuhnya. Bagi yang tidak memiliki racun, bukan berarti tidak dapat mempertahankan diri. Mereka menggunakan sel penghasil cahaya untuk melindungi dirinya.

Saat meninggalkan musuh, semua tubuhnya memancarkan cahaya. Tapi saat musuh menggigitnya, cahaya di bagian tubuh yang berbentuk lonceng pun padam, dan tentakel yang masih bercahaya dilepaskan dari tubuhnya. Dengan cara inilah musuh mengalihkan perhatian pada tentakel. Ubur-ubur pun mengambil keuntungan dari situasi ini dan segera melarikan diri.

Manfaat Ubur-ubur

Pada 8 Oktober 2008, seorang ilmuwan Jepang, Osamu Shimomura, diumumkan menjadi salah satu pemenang hadiah Nobel bidang kimia. Penghargaan ini diberikan karena ia menemukan green fluorescence protein (GFP), protein berpendar hijau, yang ada pada ubur-ubur.

Ia mulai menyelidiki mekanisme cahaya ubur-ubur sejak 1960. Ia menduga cahaya ubur-ubur dihasilkan dengan cara yang sama sebagaimana kunang-kunang laut. Tetapi, ternyata ia salah. Dari penelitian panjang ini, ia menangkap 10 ribu ekor lebih ubur-ubur untuk mendapatkan beberapa tetes protein yang selama ini dia cari. Aequorin, protein berwarna biru, diberi nama sesuai nama ilmiah si ubur-ubur, Aequorea, bisa ia dapatkan.

Tetapi Shimomura tidak langsung puas dengan penemuan Aequorin biru. Sedangkan ubur-ubur itu, selain mengeluarkan warna biru, juga mengeluarkan warna hijau. Ia pun kembali melakukan riset dan berhasil menemukan protein kedua, berwarna hijau. Protein kedua ini diberi nama Green Fluorescence Protein (GFP), dan kemudian mengantarnya meraih hadiah Nobel. Penelitian ini dilakukan bersama dua rekannya, Martin Chalfie dan Roger Tsien.

Berkat penemuan ini, para dokter di dunia kini dapat memantau perjalanan penyakit hingga terjadi kerusakan jaringan dengan jelas. Karena ekstrak protein GFP, selama perjalanannya di dalam jaringan, bersinar seperti ubur-ubur berenang di kegelapan lautan.

Ekstrak protein yang berpendar hijau diekstraksi dari ubur-ubur jenis Aequorea victoria. Dengan teknologi ini, zat protein ubur-ubur bisa digunakan untuk kepentingan lain, di antaranya untuk tes DNA, pengobatan rematik dan asam urat (athritis), termasuk mendeteksi penyakit kanker terutama saat masih stadium awal.

Sumber :
Warta Pasar Ikan, Edisi Desember 2011 No.100

Comments

Post a Comment