Persaingan dan Peluang Usaha Pengolahan Ikan Kering di Provinsi Bengkulu

Media Penyuluhan Perikanan - Pesaing pengolah ikan di Provinsi Bengkulu adalah masuknya produk ikan kering dari provinsi sekitar Provinsi Bengkulu, seperti Palembang, Jambi, Medan, dan Padang. Namun demikian, ikan kering yang masuk umumnya adalah jenis – jenis ikan kering yang tidak atau relatif sedikit di produksi di Provinsi Bengkulu, seperti sepat Jambi, Teri Medan, Artinya, pengolah ikan di provinsi Bengkulu hanya bersaing di pasar lokal, yang jumlahnya relatif tidak besar. Hal ini ditandai dengan lebih banyaknya produk ikan Provinsi Bengkulu yang dipasarkan ke luar. Di samping itu, segmen pasar produk ikan kering dari luar Provinsi Bengkulu tampaknya berbeda dengan produk dari Provinsi Bengkulu.

Sementara itu, persaingan yang terjadi pada diantara pengrajin ikan kering di Provinsi Bengkulu tidak tajam.
Umumnya, pengolah ikan kering telah mempunyai pelanggan tetap atau pengumpul yang tetap. Berapapun
jumlah yang dapat dihasilkan oleh pengrajin ikan kering dapat ditampung oleh pedagang pengumpul. Oleh sebab itu, pasar bagi pengajin ikan kering bukan menjadi permasalahan utama. Persaingan yang mungkin akan terjadi adalah persaingan untuk mendapatkan bahan baku ikan yang murah dan dalam jumlah yang cukup. Hal ini disebabkan nelayan memiliki dua opsi untuk memasarkan ikan hasil tangkapnnya, yakni di pasarkan sebagai ikan segar atau diolah menjadi ikan kering. Barangkali yang harus diupayakan adalah bagaimana menghasilkan ikan kering yang berkualitas dan hygienis. Berkualitas, artinya tidak hanya mengolah ikan yang tidak memiliki nilai ekonomis yang rendah ketika dijual dalam keadaan segar. Perlu pengembangan dan pengayaan jenis ikan kering yang dihasilkan.

Masih rendahnya tingkat konsumsi perkapita, naiknya nilai eskpor, meningkatnya jumlah tangkapan dan makin terbukanya daerah serta membaiknya sarana transportasi memberikan peluang bagi pengrajin ikan kering untuk terus meningkatkan produksi, baik kuantitas maupun kualitas. Peluang pasar juga dapat diciptakan dengan memperluas pasarikan dan mendiversifikasi produk ikan kering baik secara horisontal maupun vertika. Diversifikasi produk ikan kering secara horsontal artinya memperkaya jenis ikan yang diolah menjadi ikan kering. Hal ini perlu dilakukan sebagai salah satu upaya membagi resiko usaha. Jika harga ikan
segar turun, maka mengolahnya menjadi ikan kering merupakan alternatif yang mungkin bisa dilakukan. Sedangkan yang dimaksud dengan divesifikasi vertikal adalah mengembangkan produk ikan kering menjadi produk hilir yang memiliki nilai tambah lebih tinggi dibandingkan dijual dalam bentuk “asalan”.

a. Harga
Harga adalah signal bagi produsen untuk memproduksi atau menjual hasil produksinya. Oleh sebab itu, informasi harga sangat penting bagi produsen, termasuk bagi pengrajin ikan kering. Dari survai yang dilakukan di sentra produksi ikan kering di Kota Bengkulu didapatkan bahwa harga ikan segar yang akan diolah menjadi ikan kering berkisar antara Rp. 2500,- per kg – Rp. 8000,- per kg dengan harga rata – rata sebesar Rp. 4277,77 per kg. Harga ikan ini sangat bergantung dari jenis ikan yang akan diolah. Setelah ikan ini diolah, harga yang diterima oleh pengrajin ikan rata – rata sebesar Rp. 5556.60 per kg dengan kisaran antara Rp. 2500 – Rp. 8500,-.

Harga tertinggi adalah harga ikan beledang dan Gaguk yakni Rp. 8500,- dan terendah adalah harga ikan pora – pora, yakni Rp. 2500 untuk per kg-nya. Jika dilihat marginnya, maka selisih antara nilai jual dan nilai beli bahan baku rata – rata sebesar Rp. 1 300,- per kg. Margin ini belum termasuk biaya proses produksi. Harga di tingkat konsumen diperoleh dari penjual ikan kering Pasar Minggu dan Pasar Panorama. Harga ikan yang harus dibayar oleh konsumen bervariasi dan bergantung pada jenis ikan. Untuk ikan beledang, rata rata harga yang harus dibayar oleh konsumen cukup tinggi yakni Rp. 45.000,- kg sementara pengecer membeli ikan beledang ini sebesar Rp. 33.000,- Ikan bleberan, harga beli dari pengumpul sebesar Rp.30.000,- per kg dan dijual ke konsumen sebesar Rp. 40.000,- Ini berarti rata rata pengecer mengambil margin cukup besar, yakni 32 % dari harga belinya.

Margin yang paling besar dinikmati oleh pedagang pengumpul 64 %, sementara pengolah memperoleh margin hanya 4 %. Tampaknya sistem pemasaran ikan kering tidak efisien karena sebaran margin yang tidak merata di antara pelaku usaha.

b. Jalur Pemasaran
Secara umum, pasar dapat didefinisikan sebagai suatu tempat atau organisasi yang memungkinkan pertukaran antara pembeli dan penjual. Dalam pasar ini, semua fungsi pemasaran yang diperlukan dalam proses pertukaran kerja. Fungsi pemasaran ini terdiri dari fungsi pertukaran; fungsi fisik dan fungsi penyediaan sarana (Downey & Erickson, 1989). Sedangan pemasaran dapat didefinisikan sebagai suatu proses sosial yang melibatkan kegiatan-kegiatan penting yang memungkinkan individu dan perusahaan mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui pertukaran dengan pihak lain dan untuk mengembangkan hubungan pertukaran (Boyd et al., 2000).

Pemasaran juga dapat didefinisikan sebagai penampilan dari semua aktifitas bisnis yang terlibat dalam aliran bahan makanan dan serat dari petani produsen ke konsumen Rhodes (1987). Sementara Hanafiah dan Saefuddin (1986) mendefinisikan pemasaran sebagai kegiatan yang berhubungan dengan bergeraknya barang dan jasa dari produsen ke
konsumen.

Untuk dapat mengalirkan barang dari produsen ke konsumen diperlukan suatu lembaga pemasaran. Peran lembaga pemasaran ini sangat diperlukan untuk menghubungkan kepentingan produsen dan konsumen. Dalam kasus pemasaran ikan kering di Bengkulu, ada 3 (tiga) pola rantai pemasaran yang dapat ditemukenali. Gambar alur pemasaran ikan kering di Kota Bengkulu di sajikan pada Gambar 3.1.
Pola rantai pemasaran ikan kering pertama adalah dari produsen atau pengrajin ikan kering langsung ke pengecer, baik yang ada di pasar pasar maupun warung warung yang ada di Kota Bengkulu. Rantai
pemasaran ini biasanya dilakukan oleh pengrajin ikan kering independen tinggalnya. Rata rata jumlah produksi ikan yang dihasilkan dan dipasarkan sebesar 800 kg per bulan.

Pola rantai pemasaran ikan kedua adalah pengrajin ikan kering pengumpul pengecer di kota Bengkulu. Rantai pemasaran ini mengalirkan sebanyak 29,5 persen atau rata rata sebanyak 5 ton per bulan. Yang perlu dicatat, jumlah ikan yang dialirkan ke kota Bengkulu melalui pola kedua ini hanya didasarkan pada satu pedagang pengumpul besar yang ada di kelurahan yang di survai.

Pola rantai pemasaran ikan kering ketiga adalah adalah pengrajin ikan kering pengumpul pedagang luar kota Bengkulu. Rantai pemasaran ini mengalirkan ikan kering yang dikumpulkannya sebanyak 70,5 peren. Kota sasaran pemasaran di luar Kota Bengkulu adalah Kepahyang dan Curup di Provinsi Bengkulu, Lubuk Linggau dan Rupit di Sumatera Selatan, serta Padang Provinsi Sumatera Selatan. Rata rata kota ini dapat menerima rata rata 11,75 persen, kecuali Kota Padang sebesar 23,5 persen. Kota Padang mampu menampung lebih besar produksi ikan kering dari Bengkulu karenadi kota ini ada pelabuhan ekspor. Selain kota kota ini, kota sasaran penjualan ikan kering adalah Palembang Lahat, Pagar Alam, Dan Pendopo di Sumatera Selatan.

Sumber :
Anonymous. 2013. Pola Pembiayaan UMKM Usaha Pengolahan Ikan Kering di Kota Bengkulu. Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu. Bengkulu




Comments