Mengenal Lebih Jauh Taman Wisata Perairan Kepulauan Padaido

Media Penyuluhan Perikanan - Kepulauan Padaido adalah sebuah gugusan pulau yang terletak di Samudera Pasifik tepatnya di sebelah timur pulau Biak atau kabupaten Biak Numfor. Dahulu Kepulauan ini dikenal dengan nama Kepulauan Schouter, yang berasal dari nama pelaut belanda William Schouter yang menemukan kepulauan ini di tahun 1602. Kata Padaido sendiri berasal dari bahasa daerah setempat yang memiliki arti keindahan yang tidak dapat diungkapkan. Kepulauan Padaido memiliki pantai dan panorama yang luar biasa indah.

Kepulauan Padaido merupakan salah satu tempat yang memilliki keragaman hayati ekosistem koral terbesar di dunia. Disana terdapat pusat rehabilitasi terumbu karang sehingga potensi wisata bahari yang ada di kepulauan tersebut dapat tertata dengan baik. Di kepulauan ini terdapat 95 spesies koral. 155 spesies ikan seperti berbagai jenis hiu karang dan gurita serta berbagai kekayaan maritime lainnya. Kekayaan biologi lain yang ada di kepulauan ini antara lain 48 spesies pohon, 26 spesies burung, 14 spesies reptile dan 7 Spesies mamalia.

Kepulauan Padaido memiliki taman laut yang luar biasa indah dan berkelas dunia. Pulau yang paling favorit diantaranya adalah pulau Ureb dan Mansurbabo. Pantai disana memiliki pasir yang seputih kapas dan air yang jernih sehingga sinar matahari menembus ke dasar laut dan kita dapat melihat biota laut dari daratan.

Selain memiliki keragaman hayati ekosistem koral terbesar didunia, hal lain yang menarik para divers untuk tidak melewatkan menyelam di Kepulauan Padaido adalah gua di bawah lautnya yang menantang untuk dijelajahi. Selain itu di bawah laut kepulauan Padaido terdapat bangkai-bangkai kapal laut, pesawat terbang dan tank yang karam. Besi-besi tua itu kini menjadi tempat hidup terumbu karang yang menjadi tumpuan seluruh kehidupan laut.

Berdasarkan kondisi di atas Kawasan Kepulauan Padaido dan Perairan Sekitarnya telah ditunjuk oleh Menteri Kehutanan dan perkebunan RI sebagai Kawasan Taman Wisata Alam Laut (TWAL) berdasarkan Surat Keputusan No. 91/Kpts-VI/1997 tanggal 13 Februari 1997 dengan luas kawasan 183.000 hektar. Penentuan status TWAL tersebut berdasarkan kriteria penentuan kawasan konservasi laut yang memiliki
keanekaragaman biota laut dan lingkungan yang memungkinkan untuk dikembangkan sebagai objek wisata.

Saat ini Pengelolaan Kepulauan Padaido dan perairan sekitarnya telah diserahkan kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan sesuai dengan berita acara serah terima no: BA.01/menhut-IV/2009 dan No BA. 108/MEN.KP/III/2009 pada tanggal 4 maret 2009 dengan nama Taman Wisata Perairan Kepulauan Padaido dan Laut di sekitarnya (TWP Pulau Padaido).

Taman Wisata Perairan (TWP) Kepulauan Padaido Beserta Laut di Sekitarnya seluas lebih kurang 183.000 (seratus delapan puluh tiga ribu) hektar, ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: KEP. 68/MEN/2009 tentang Penetapan Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kepulauan Padaido dan Laut di Sekitarnya di Provinsi Papua.

Kepulauan Padaido terdiri dari 29 pulau, 5 gosong karang yang dikelilingi oleh laut dalam, 8 pulau dihuni secara permanen oleh masyarakat dan pulau-pulau lain dimanfaatkan sebagai tempat singgah bila cuaca buruk. Secara tradisional pulau-pulau tersebut dikelompokkan atas dua gugusan pulau yaitu gugus pulau-pulau Padaido Bawah yang merupakan karang atol. Sedangkan Padaido Atas merupakan gugusan pulau-pulau karang yang tidak terikat. Hampir semua pulau di Kepulauan Padaido memiliki hamparan pasir putih, dan sebagian kecil merupakan pantai landai berpasir dan pantai terjal. Kawasan ini memiliki daya tarik yang memikat dengan air yang sangat jernih dan keragaman terumbu karangnya yang relative masih utuh dan indah. Ekosistem lamun terhampar luas di sebagian besar pulau yang ada di padaido bawah. Ketika air laut surut, hamparan lamun ini akan muncul di permukaan laut sehingga satu pulau dengan pulau lain seakan menyatu. Hampir semua pulaunya memiliki terumbu karang terutama di Pulau Workbondi Timur, pulau Yummi, Pulau Yerri, pulau Urbanisasi dan di Pulau Brommi selatan.

Vegetasi darat Kepulauan Padaido terdiri atas hutan pesisir, hutan primer/sekunder, semak belukar dan kebun rakyat. Hutan pesisir dijumpai di pesisir pantai dan didominasi oleh pohon kelapa (Cocos nucifera). Karena letaknya di daerah pesisir, pohon kelapa banyak yang tumbang karena proses abrasi pantai. Selain tanaman kelapa, tanaman budidaya yang ditemukan di Kepulauan Padaido adalah pisang (Musa paradisiacea), ubi jalar (Ipomea batatas), jambu air (Colacasia esculenta), papaya (Carica papaya), singkong (Manihot uttilissima), kangkung (Ipomea aquatica), sirih (Piper betel) dan katuk (Sauropus androgynus).

Vegetasi besar, tanaman perdu, rerumputan pantai dan semak belukar dari hutan pesisir adalah Butong (Barringtonia asiatica), waru laut (Hibiscus tiliaceus), bintanggur (Calophyllum inophyllum), pinang (Areca catechu), matoa (Pometia coreacea), mengkudu (Morinda citrifolia), pandan (Pandanus odoratissima), kranji (Pongamia pinnata), Jarag (Ricinus communis), ketapang (Terminalia catappa), sukun (Artocarpus sommunis), cemara laut (Casuarinas aquisetifolia), beringin (Ficus spp), kayu besi (Instia bijuga), nas (Hablolobus floribundus), bram (Urandra brassi), kayu hitam (Diosspyros spp), kayu lawang (Cinnamomum spp), biduri (Calotropis gigantea), Lamtoro (Leucaena glauca), mangga brabu (Serbera manghas), tuba laut (Derris trifoliata), basang siap (Finlaysonia maritima), katang-katang (Ipomea pes-caprae), ceplukan (Passiflora foetida), bakungbakung (Scaevola taccada), gelang laut (Sesuvium portulacastrum) dan sernai (Wedelia biflora).

Jenis-jenis fauna yang ditemukan dibedakan atas fauna yang hidup bebas dan dilindungi oleh negara serta hewan yang diternakan. Jenis-jenis burung yang hidup bebas adalah kakatua putih jambul kuning (Cacatua galerita), nuri kepala hitam (Chalcopsitta atre), nuri merah (Charmosyna placentis), jalak ekor panjang (Aplanis magna brevicauda), dara laut (Heliaeetue leucogaster), camar laut (Sterna hirundo), elang  laut (Pandion haleaitus), bangau (Egretta sacra), kelelawar (Dobsonia peroni), bebek laut (Esacus magnirostris), sirip gunting (Sterna albifrons), betet raja ambon (Alisterus amboinensis), merpati hutan (Columba domestica), kumkum hitam (Dudula pinon) dan burung malam (Caprimulgus spp).

Karena daya dukung lahan daratan terbatas, jenis-jenis hewan yang diternak tidak beragam. Umumnya hewan yang diternak oleh penduduk adalah ayam kampong, itik manila dan babi. Selain dimanfaatkan oleh keluarga, hewan ternak dijual pada waktu-waktu tertentu untuk meningkatkan pendapatan keluarga.

Kedalaman perairan wilayah kepulauan Padaido dikelilingi oleh laut yang relatif dalam, berkisar antara 100 sampai 1200 meter. Kedalaman di atas 500 meter berada di wilayah Utara, Selatan dan Timur. Namun demikian, 90% kedalaman perairan berada di bawah 500 meter. Suhu permukaan di perairan berkisar antara 28 -30oC, salinitas permukaan perairan berkisar pada nilai 27 – 34,5 ppm sedangkan kecerahan perairan berkisar pada nilai >15 meter.

Tinggi gelombang laut berkisar antara 1,12 – 1,21 meter. Pada bulan Februari  sampai Juli arus permukaan bergerak ke timur dengan kecepatan antara 18 – 38 cm/det, pada bulan Agustus sampai Januari kecepatan arus berkisar antara 24 – 75 cm/det dengan arah ke barat. Jenis pasang surut yang terjadi adalah campuran harian ganda, yang berarti setiap hari terjadi dua kali pasang dan dua kali surut yang berbeda dalam tinggi dan waktunya.

Terumbu karang di Kepulauan Padaido memiliki 4 bentuk terumbu karang yaitu terumbu karang pantai, terumbu karang penghalang, terumbu karang atol dan terumbu karang gosong. Keragaman karang cukup tinggi terdiri dari 90 jenis yang tergolong dalam 41 genera dan 13 famili serta beberapa jenis karang lunak yaitu Sinularia polydatil, Sacrophyton trocheliophorum, Labophytum strictum dan L. Crassum. Jenis karang dominan adalah Faviidae, Fungidae, Pociloporidae dan Acroporidae. Tutupan karang di gugusan pulau Padaido bawah berkisar antara 0 – 67 % pada kedalaman 3 m dan 0 – 25,9% pada kedalaman 10 m, pada gugusan pulau Padaido atas berkisar antara 13,7 – 70,7% pada kedalaman 3 m dan 9,6 -66,7% pada kedalaman 10 m. Ditemukan kurang lebih 127 jenis ikan target (konsumsi), 34 jenis ikan dan indikator, 185 jenis ikan mayor (lainnya).

Mangrove yang ditemukan di peraian Kepulauan Padaido berjumlah tujuh jenis, yaitu Bruguiera gymnorhiza, Rhizophora apiculata, R. stylosa, Sonnetaria alba, Ceriops tagal, Lumnitzera littorea, dan Avicenia alba. Lamun ditemukan pada hampir semua pulau, ditemukan berjumlah Sembilan jenis, yaitu Thalassia hemprichii, Enhalus acoroides, Cymodocea serrulata, C. serullata, Halodule universis, H. Pinifolia, Halophila ovalis, H. spinulosa, dan Syringodium isoetifolium. Rumput laut ditemukan kurang lebih 58 jenis dimana 11 jenis bernilai ekonomis penting, seperti Euchema, Gracilaria, Hypnea, Laurencia, Gelidiella, Halimenia, Caulerpa, Codium, Chaetomorpha, Sargassum dan Turbinaria.

Potensi Perikanan
Ikan pelagis berpotensi untuk dikembangkan dimasa-masa mendatang sebagai salah satu sumber pendapatan masyarakat selain ikan karang. Di pasar, ikan pelagis yang banyak dipasarkan adalah ikan cakalang. Sarana perikanan tangkap di Kepulauan Padaido terdiri dari perahu tak bermotor dan perahu motor temple. Perahu tak bermotor memiliki jumlah sebanyak 728 unit, sedangkan perahu motor temple hanya 78 unit. Ini menunjukkan bahwa 90,3% rumah tangga nelayan masih tradisional. Alat penangkapan ikan yang umum digunakan adalah jarring insang (gill net), pancing (hook and line) dan alat tangkap lain (panah dan tombak).


Sumber :
Suraji, dkk. 2010. Mengenal Potensi Kawasan Konservasi Perairan Nasional - Profil  Kawasan Konservasi Perairan Nasional. Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan. Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Kementerian Kelautan dan Perikanan. Jakarta 

Comments