Lebih Dekat dengan Taman Wisata Perairan Kepulauan Kapoposang

Media Penyuluhan Perikanan - Kepulauan Kapoposang merupakan bagian dari Kepulauan Spermonde dan secara administratif masuk dalam wilayah Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) Provinsi Sulawesi Selatan. SK Menteri Kehutanan No. 588/Kpts-VI/1996 tanggal 12 September 1996 menetapkan Kepulauan Kapoposang sebagai Taman Wisata Alam Laut dengan luasan sebesar 50. 000 hektar dan memiliki panjang batas 103 km. Posisi geografis kawasan ini berada di 118derajat 54’ 00 BT – 119derajat 10’ 00’’ BT dan 04derajat37’00’’ LS – 04derajat 52’ 00’’ LS.

Taman Wisata Perairan (TWP) Kapoposang terletak di Kecamatan Liukang Tupabbiring pada 2 desa berbeda, yakni Desa Mattiro Ujung di sebelah barat, yang meliputi Pulau Pandangan dan Pulau Kapoposang; dan Desa Mattiro Matae di sebelah timur, yang meliputi Pulau Gondongbali, Pulau Tambakulu, Pulau Suranti, dan Pulau Pamanggangan. Luas Wilayah Kecaman Liukang Tupabbiring mencakup 140 Km2, sebagian besar terdiri dari perairan dan 43 buah pulau. Ibukota kecamatan berna Mattiro Sompe terletak di pulau Balang Lompo. Jarak Mattiro Sompe dari Pangkajene mencapai 22 Km.

Kawasan Pelestarian Alam dengan fungsi Taman Wisata Perairan Kepulauan Kapoposang dan Laut di sekitarnya yang diserahterimakan dari Kementerian Kehutanan ke Kementerian Kelautan terdiri dari 6 pulau, yaitu pulau Kapoposang dengan luas ± 42 Ha, Pulau Papandangan dengan luas ± 13 Ha, Pulau Kondongbali dengan luas ± 15 Ha, Tambakhulu ± 5 Ha, Pamanggangang ± 5 Ha dan Suranti ± 4 Ha. Kepulauan Kapoposang masuk dalam wilayah administratif kecamatan Liukang Tuppabiring. Kecamatan Liukang Tuppabiring meliputi 1 kelurahan, 13 desa, 2 lingkungan,24 dusun, 3 RW dan 91 RT. Kawasan ini memiliki luas 50.000 Ha dan telah ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan no KEP. 66/MEN/2009 tentang Penetapan Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kepulauan Kapoposang dan Laut di Sekitarnya di Provinsi Sulawesi Selatan.

Berdasarkan hasil pengamatan dilapangan, daratan dalam Kepulauan Kapoposang terdiri dari tanah berpasir. Semakin kearah pantai kandungan pasir semakin besar. Pulau-pulau dikawasan ini memiliki tanah yang cukup subur untuk beberapa jenis tanaman. Lahan yang ada vegetasi semak belukar ditambah pohon pinus, sukun, kelapa, pisang serta perdu yang cukup lebat. Pada Beberapa bagian daratan, pelongsoran tanah oleh tekanan air laut (abrasi) sering terjadi. Iklim dalam kawasan TWP Kepulauan Kapoposang ditandai oleh dua musim dengan keadaan cuaca yang secara significant berbeda yaitu musim timur (musim Hujan) pada bulan November-Mei dan musim Barat (Kemarau) pada bulan Juni – November. Musim Timur ditandai dengan keadaan laut yang berombak tinggi, curah hujan yang intensif dan angin yang bertiup kencang, sedangkan pada musim Barat laut relative tenang dan curah hujan rendah. Hari hujan 159 hari/tahun. Rata-rata temperature 27derajat C dan berkisar antara 18derajat C-37derajat C.

Secara umum luasan pasir putih di kawasan kapoposang relative terbatas/sempit. Endapan pasir dominan ada di pinggir pulau, terbentuk akibat adanya proses abrasi dan akresi.

Potensi Flora, Fauna laut dan Ekosistem
Flora darat dapat ditemukan dalam jumlah dan variasi cukup banyak di pulau kapoposang, tambak hulu, Pamanggangan dan Suranti. Sedangkan di Pulau Kondongbali dan Papandangang flora darat relative terbatas, karena penggunaan lahan sudah didominasi oleh pemukiman. Potensi flora di daratan kepulauan Kapoposang meliputi tiga jenis pohon utama, yakni Kelapa, cemara laut dan sukun. Selain itu pula terdapat sejumlah perdu dengan jenis yang agak banyak adalah santigi ditambah dengan pisang yang telah dibudidayakan secara intensif.

Flora laut yang potensial adalah rumput laut, hanya berdasarkan hasil pengamatan lapangan penutupan rumput laut di kepulauan Kapoposang sudah berkurang bahkan bias dikatakan sdh tdk ada. Tumbuhan padang lamun terlihat sangat mendominasi areal sekitar pantai, dengan demikian, areal sekitar pantai yang letaknya berbatasan dengan terumbu karang, penutupannya didominasi oleh padang lamun.

Fauna laut yang dominan di kepulauan kapoposang adalah berbagai jenis ikan perairan, baik sebagai ikan pangan, ikan hias maupun obyek wisata laut. Ikan pangan didominasi oleh Lutjanus decussates, Siganus Spp dan Naso spp. Ikan yg berpotensi sebagai ikan hias dan daya Tarik wisata didominasi jenis Hemitaurichtys polylepis dan Chaetodon kleini dari suku Chaetodontidae. Jenis-jenis ikan ini masing-masing dapat ditemui pada daerah paparan terumbu karang dan drop off.

Dalam 5 tahun terakhir, terdapat kecenderungan penurunan hasil tangkapan ikan karang utama oleh nelayan pancing di kepulauan kapoposang, tetapi untuk nelayan yang menggunakann alat tangkap bahan peledak atau racun pembius yang umumnya berasal dari luar kawasan kapoposang, jumlah tangkapannya tetap bahkan meningkat.

Potensi wisata

1. Diving :
Selama ini pantai Pulau Kapoposang dijadikan tempat untuk bermain Diving oleh wisatawan. Hal ini karena keindahan terumbu Kapoposang mempunyai nilai keindahan yang cukup besar bila dibandingkan dengan pantai lainnya. Kegiatan ini sangat menarik wisatawan untuk mengunjungi pantai Pulau Kapoposang. Ditambah lagi dengan kualitas pantai yang belum tercemar oleh kerusakan alam dan juga pasir putih yang mengelilingi sepanjang kawasan pantai.

2. Snorkeling :
Pantai Pulau Kapoposang mempunyai ekosistem terumbu karang dan jenis flora dan fauna yang keanekaragamannya cukup tinggi. Keindahan ini sangat menarik minat wisatawan untuk melakukan kegiatan snorkeling untuk menikmati keindahan pantai Kapoposang di waktu senggang.

3. Fishing :
Pantai Pulau Kapoposang juga memiliki jenis ikan yang sangat beranekaragam. Jenis ikannya masih cukup banyak karena masih belum dirusak oleh aktivitas penangkan ikan dengan menggunakan alat-alat keras ataupun karena faktor lingkungan. Wisatawan melakukan kegiatan Fishing pada waktu-waktu senggang sambil menikmati suasana keindahan pantai Pulau Kapoposang.

4. Budidaya Rumput Laut :
Pulau Kapoposang selain mempunyai jenis flora dan fauna yang beranekaragam, juga memiliki jenis rumput laut yang cukup bagus. Sehingga hal ini menarik wisatawan untuk datang dan belaar tentang bagaimana kegiatan budidaya rumput laut yang sudah dijadikan tradisi bagi masyarakat Pulau Kapoposang.

5. Melihat Penyu Bertelur dan Aktivitas Penangkapan Nener :
Pada lokasi pantai lain, kegiatan melihat Penyu bertelur dan aktivitas Penangkapan Nener sudah jarang kita dapati. Hal ini disebabkan oleh kondisi kerusakan pantai yang belum tertangani dengan baik. Di pantai Pulau Kapoposang keadaan hewan seperti Penyu, Nener masih terjaga dengan baik dari kerusakan. Kondisi ini menjadikan wisatawan untuk mengunjunginya.

6. Sun Rise & Sun Set :
Dengan keindahan pantai yang masih alami, kondisi lingkungan yang masih bagus. Menarik wisatawan untuk menikmati keindahan Sun Rise dan Sun Set. Untuk ini cukup menarik untuk dilakukan karena didukung oleh nilai keindahan pantai yang cukup bagus.


Sumber :
Suraji, dkk. 2010. Mengenal Potensi Kawasan Konservasi Perairan Nasional - Profil  Kawasan Konservasi Perairan Nasional. Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan. Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Kementerian Kelautan dan Perikanan. Jakarta 

Comments