Mengenal Ikan Capungan Banggai, (Terancam Punah)

Media Penyuluhan Perikanan -
Klasifikasi
  1. Filum : Chordata
  2. Kelas : Osteichthyees
  3. Sub Kelas : Actynoptrerygii
  4. Ordo : Perciformes
  5. Sub Kelas :Teleostei
  6. Famili : Apogonidae
  7. Genus : Pterapgon
  8. Spesies : Pterapogon kauderni (Koumans 1933)
Morfologi
Genus Pterapogon dibedakan dengan genus-genus lain dalam family Apogonidae dengan ciri sirip dorsal memiliki 14 duri lunak. Sedangkan ciri spesies, tubuh berwarna putih hingga krem, tiga garis hitam tepi putih melaui mata, awal sirip dorsal hingga sirip ventral dan dorsal 2nd hingga sirip anal. Sirip caudal berwarna hitam pinggir berspot putih.

Habitat dan Penyebaran
Mendiami pantai berpasir yang ditumbuhi lamun (Enhalus acoroides) sedangkan individu muda hidup berkelompok 2-60 ekor berasosiasi dengan bulu babi (Diadema setosum), coral brancing dan anemone (Heteractis crispa) sehingga penyebarannya hanya terbatas di lokasi tersebut pada kedalaman hingga 16 m. (Allen, 2000; Allen, 2003). Sebaran awalnya hanya ada di Kepulauan Banggai, namun akibat adanya introduksi pada tahun 2000 di perairan Selat Lembeh Bitung Sulawesi Utara dan di Luwuk Sulawesi Tengah (Allen & Donaldson, 2007), bahkan informasi terbaru menyebutkan jika spesies ini telah gterdistribusi hingga perairan Bali.

Status
Di Indonesia, upaya perlindungan Pterapogon kauderni sedang diupayakan untuk dibuat peraturan perundangan untuk status perlindungannya; IUCN – Endangered.

Ancaman
Kegiatan overfishing serta pengambilan pada semua ukuran menjadi ancaman yang serius akan kelestarian ikan ini. Terlebih hingga saat ini belum diketahui stok alaminya di alam dan recruitment populasi yang lambat. Sebanyak 118.000 ekor setiap bulan atau lebih dari 1 juta ekor setiap tahun diambil dari habitat aslinya dan diperdagangkan (K. Lunn and Moreau, 2004). Ancaman juga berasal dari kerusakan habitat P kauderni, akibat dari kegiatan penangkapan dengan menggunakan bahan peledak dinamit dan cyanide (Vagelli, A.A., 2008).

Saran
Diperlukan adanya upaya perlindungan terhadap ikan capungan Banggai dan melakukan upaya-upaya pengelolaan yang lestari terhadap spesies ikan ini, baik melalui upaya budidaya ataupun pembatasan kuota tangkapan.

Sumber : Ubaidillah, Rosichon. dkk. 2013. BIOTA PERAIRAN TERANCAM PUNAH DI INDONESIA - Prioritas Perlindungan. Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan. Ditjen Kelautan, Pesisir, dan Pulau – Pulau Kecil. Kementerian Kelautan dan Perikanan. Jakarta

Mengenal Ikan Hiu lutung (Terancam Punah)

Media Penyuluhan Perikanan -
Klasifikasi
  1. Filum : Chordata
  2. Kelas : Chondrichthyes
  3. Sub–Kelas : Elasmobranchii
  4. Bangsa : Carcharhiniformes
  5. Suku : Alopiidae
  6. Marga : Alopias
  7. Spesies : Alopias superciliosus Lowe, 1840
Morfologi
  1. ekor bagian atas hampir sepanjang ukuran tubuhnya
  2. bentuk kepala hampir lurus di bagian antara mata, terdapat lekukan yang dalam di bagian tengkuk
  3. mata sangat besar, dengan bagian atasnya hampir mencapai bagian atas kepala
  4. sirip punggung pertama lebih dekat dengan sirip perut daripada ujung belakang sirip dada
  5. warna putih di bagian perut tidak melewati bagian atas dasar sirip dada
Habitat dan Penyebaran
Merupakan spesies ikan hiu oseanik yang hidup mulai dari perairan pantai hingga laut lepas, dari lapisan permukaan hingga kedalaman 600 m (White et al., 2006). Di perairan Indonesia, spesies hiu ini tercatat ditemukan di perairan Samudera Indonesia, mulai dari barat Sumatera hingga selatan Nusa Tenggara, Laut Pasifik, Selat Makassar, Laut Sulawesi dan Laut Banda.

Status
Di Indonesia, Alopias superciliosus sudah ditetapkan sebagai salah satu satwa yang dilindungi sejak tanggal 30 Juni 2012 dengan mengadopsi resolusi Indian Ocean Tuna Comission, IOTC 10/12; IUCN – Vulnerable.

Ancaman
Alopias superciliosus diketahui merupakan salah satu spesies ikan hiu yang tertangkap sebagai hasil tangkapan sampingan di dalam perikanan tuna dan pelagis besar. Secara umum telah terjadi penurunan populasi A. superciliosus secara global, terutama di wilayah perairan Samudera Hindia. Karena sifat biologi hiu yang pada umumnya berumur panjang, pertumbuhannya lambat, jumlah anak yang dihasilkan sedikit dan membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai dewasa, maka keberadaan populasinya di alam sangat mudah terancam apabila terjadi tangkapan lebih (overfishing).

Saran
Diperlukan adanya pengawasan terhadap penegakan peraturan perundangan yang sudah dibuat dan peningkatan kesadaran bagi masyarakat nelayan untuk tidak melakukan penangkapan terhadap spesies ikan ini.

Sumber : Ubaidillah, Rosichon. dkk. 2013. BIOTA PERAIRAN TERANCAM PUNAH DI INDONESIA - Prioritas Perlindungan. Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan. Ditjen Kelautan, Pesisir, dan Pulau – Pulau Kecil. Kementerian Kelautan dan Perikanan. Jakarta

Mengenal Ikan Pari manta (Terancam Punah)

Media Penyuluhan Perikanan -
Klasifikasi
Marga Manta sebelumnya diketahui hanya terdiri dari satu spesies (monotipik), namun sejak tahun 2009, marga tersebut dievaluasi kembali dan diputuskan terdiri dari dua spesies yaitu spesies manta karang, Manta alfredi dan manta oseanik (Manta birostris) (Marshall et al. 2009). Bagi sebagian orang, Pari Manta kadang sulit dibedakan dengan kelompok pari yang lain dari Marga Mobula.

  1. Filum : Chordata
  2. Kelas : Chondrichthyes
  3. Sub–Kelas : Elasmobranchii
  4. Bangsa : Myliobatiformes
  5. Suku : Myliobatidae
  6. Sub–Suku : Mobulidae
  7. Marga : Manta Bancroft, 1829
  8. Spesies : Manta birostris (Donndorff, 1798)


 Morfologi
  1. Bentuk kepala sangat lebar
  2. Letak mulut di ujung/terminal
  3. Tidak terdapat gigi pada rahang bagian atas
  4. Bagian atas tubuh berwarna hitam dengan corak-corak putih yang melintang. Terdapat tonjolan yang mengeras di belakang sirip punggung. Berukuran sangat besar , lebar tubuhnya dapat mencapai lebih dari empat meter.
Habitat dan Penyebaran
Merupakan ikan pelagis dengan sebaran yang luas di perairan tropis dan perairan hangat subtropis. Sebarannya di Indonesia mencakup perairan Samudera Hindia dan Laut Cina Selatan dan sekitarnya.

Status
Di Indonesia, upaya perlindungan Manta birostris sedang dilakukan dengan menyusun KepMen Kelautan dan perikanan tentang perlindungan ikan hiu dan pari tahun 2013; IUCN – Vulnerable; CITES – Appendiks II.

Ancaman
Manta birostris sering tertangkap oleh jaring insang tuna sebagai tangkapan sampingan ataupun sengaja ditangkap dengan cara ditombak. Tapis insangnya yang bernilai ekonomi tinggi merupakan bagian tubuh yang paling dicari untuk dijadikan bahan baku obat tradisional Cina. Pari Manta memiliki sifat biologi yang amat rentan terhadap kepunahan apabila populasinya di alam terganggu, spesies ikan ini memiliki umur yang panjang, pertumbuhan yang lambat, jumlah anak yang dihasilkan hanya satu ekor dalam satu siklus reproduksinya, serta membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai dewasa.

Saran
Diperlukan adanya upaya perlindungan terhadap pari manta dan melakukan upaya-upaya peningkatkan kesadaran masyarakat nelayan untuk tidak melakukan penangkapan terhadap spesies ikan ini.

Sumber : Ubaidillah, Rosichon. dkk. 2013. BIOTA PERAIRAN TERANCAM PUNAH DI INDONESIA - Prioritas Perlindungan. Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan. Ditjen Kelautan, Pesisir, dan Pulau – Pulau Kecil. Kementerian Kelautan dan Perikanan. Jakarta

Mengenal Ikan Hiu Tikus (Terancam Punah)

Media Penyuluhan Perikanan -
Klasifikasi
  1. Filum : Chordata
  2. Kelas : Chondrichthyes
  3. Sub–Kelas : Elasmobranchii
  4. Bangsa : Carcharhiniformes
  5. Suku : Alopiidae
  6. Marga : Alopias
  7. Spesies : Alopias pelagicus Nakamura, 1935

Morfologi
  1. ekor bagian atas hampir sepanjang ukuran tubuhnya
  2. bentuk kepala melengkung di bagian antara mata, tidak terdapat lekukan yang dalam di bagian tengkuk
  3. mata agak lebar, posisinya hampir ditengah-tengah bagian sisi kepala
  4. pangkal sirip punggung pertama lebih dekat dengan ujung belakang sirip dada dari pada dengan dasar sirip perut
  5. warna putih pada bagian perut tidak sampai ke dasar sirip dada
Habitat dan Penyebaran
Merupakan spesies ikan hiu oseanik yang hidup di lapisan permukaan hingga kedalaman 152 m (White et al., 2006). Sebaran spesies hiu ini diketahui sangat luas di wilayah perairan Indo Pasifik. Di perairan Indonesia, spesies hiu ini tercatat ditemukan di perairan Samudera Indonesia, mulai dari barat Sumatera hingga selatan Nusa Tenggara, Laut Cina Selatan, Laut Pasifik, Selat Makassar, Laut Sulawesi, Laut Banda dan Laut Arafura.

Status
Di Indonesia, Alopias pelagicus sudah ditetapkan sebagai salah satu satwa yang dilindungi sejak tanggal 30 Juni 2012 dengan mengadopsi resolusi Indian Ocean Tuna Comission, IOTC 10/12; IUCN – Vulnerable.

Ancaman
Alopias pelagicus merupakan salah satu spesies ikan hiu yang umum tertangkap sebagai hasil tangkapan sampingan di dalam perikanan tuna dan pelagis besar. Secara umum, terjadi penurunan jumlah hasil tangkapan terhadap spesies ikan hiu ini secara nasional dalam kurun sepuluh tahun (2002-2011) yaitu mencapai 300%. Penurunan jumlah hasil tangkapan tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor seperti jumlah armada penangkapan yang menurun hingga adanya dugaan penurunan populasi. Karena sifat biologi hiu yang pada umumnya berumur panjang, pertumbuhannya lambat, jumlah anak yang dihasilkan sedikit dan membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai dewasa, maka keberadaan populasinya di alam sangat mudah terancam apabila terjadi tangkapan lebih (overfishing).

Saran
Diperlukan adanya pengawasan terhadap penegakan peraturan perundangan yang sudah dibuat dan peningkatan kesadaran bagi masyarakat nelayan untuk tidak melakukan penangkapan terhadap spesies ikan ini.

Sumber : Ubaidillah, Rosichon. dkk. 2013. BIOTA PERAIRAN TERANCAM PUNAH DI INDONESIA - Prioritas Perlindungan. Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan. Ditjen Kelautan, Pesisir, dan Pulau – Pulau Kecil. Kementerian Kelautan dan Perikanan. Jakarta

Mengenal Teripang Pasir (Berpotensi Punah)

Media Penyuluhan Perikanan -
Klasifikasi
  1. Filum : Echinodermata
  2. Kelas : Holothuroidea
  3. Bangsa : Aspidochirotda
  4. Suku : Holothuriidae
  5. Marga : Holothuria
  6. Spesies : Holothuria (Metriatyla) scabra Jaeger, 1833; Holothuria (Metriatyla) scabra var. versicolor (Conand, 1986)


Morfologi
Bentuk badan bulat memanjang, bagian perut umumnya berwarna kuning keputih-putihan, punggung berwarna abu-abu sampai kehitaman, dengan garis-garis melintang berwarna hitam. Seluruh permukaan bagian tubuh kasar.

Habitat dan Penyebaran
Ditemukan diperairan dangkal, sangat jarang ditemukan pada perairan dengan kedalaman lebih dari 10 m, umumnya ditemukan pada terumbu karang type reef-flat dan cekungan (lagoon), dan dekat mangrove. Spesies ini senang menenggelamkan diri kedalam dasar perairan berlumpur maupun lumpur-berpasir dan dapat mencapai kepadatan tinggi hingga 1 ind/m2. Reproduksi seksual berlangsung pada saat perairan menjadi lebih hangat. Spesies ini memiliki potensi fekunditas (jumlah telur) tinggi dan lebih cepat mencapai kematangan sexual. Teripang ini terdistribusi luas pada perairan tropis indo-pasifik, termasuk Indonesia.

Status
Belum dilindungi UU-RI; menjadi isu dan dibahas pada COP 14 CITES

Ancaman
Lebih tangkap (Overfishing), spesies ini menjadi sumber utama produksi perairan tropis indo-pasifik pada perikanan artisanal. Penangkapan dilakukan dengan menggunakan tangan (diselam), karena gerakannya lamban dan bergerombol, sehingga tertangkap hampir semua ukuran.

Saran
Penelitian untuk rekomendasi kebijakan pengelolaan teripang spesies Holothuria scabra, segera ditetapkan status perlindungannya, dan konservasi pada beberapa wilayah habitatnya.

Sumber : 
Ubaidillah, Rosichon. dkk. 2013. BIOTA PERAIRAN TERANCAM PUNAH DI INDONESIA - Prioritas Perlindungan. Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan. Ditjen Kelautan, Pesisir, dan Pulau – Pulau Kecil. Kementerian Kelautan dan Perikanan. Jakarta

Yuk Kita Kenalan Sama Kepiting Bakau

Media Penyuluhan Perikanan -
Klasifikasi:
  1. Filum : Arthropoda
  2. Anak Filum : Crustacea
  3. Kelas : Malacostraca
  4. Bangsa : Decapoda
  5. Suku : Portunidae
  6. Marga : Scylla De Haan, 1833
  7. Spesies : Scylla serrata (Forskal, 1775)
  8. Sinonim : Cancer serratus Forsskål, 1775; Lupa lobifrons H. Milne Edwards, 1834; Achelous crassimanus MacLeay, 1838



Morfologi
Memiliki warna karapas coklat merah seperti karat. Bentuk alur “H” pada karapas tidak dalam. Tidak memiliki sumber pigmen Polygonal. Bentuk duri depan tumpul dan bentuk duri pada “fingerjoint” tidak ada dan berubah menjadi vestigial. Bentuk rambut atau setae hanya terdapat pada hepatic area saja Estampador (1949a) dalam: Siahainenia, 2008.

Habitat dan Penyebaran
Habitat: hampir disemua perairan pantai terutama yang ditumbuhi mangrove, perairan dangkal dekat hutan mangrove, estuari dan pantai berlumpur (Moosa, et al., 1985); daerah pasang surut yang berubungan dengan daerah estuari (pesisir), rawa-rawa bakau (payau), muara kawasan mangrove dan bahkan di air tawar serta di bagian yang terlindung dari garis pantai pesisir (Hyland et al., 1984). Spesies ini tinggal di lubang yang digali di dasar berlumpur atau berpasir-lumpur, terutama disaat moulting (ganti kulit) hingga karapasnya mengeras.

Penyebaran: mempunyai sebaran yang sangat luas dan didapatkan hampir di seluruh perairan Indonesia (Pratiwi, 2011).

Status
Belum dilindungi oleh undang-undang RI. Belum masuk list IUCN.

Ancaman
Banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia dan dijual di restoran-restoran sea food dengan harga tinggi. Untuk kepiting soka (kepiting yang baru molting, berukuran kecil dan berkulit lunak), harganya lebih mahal dari kepiting bertelur. Untuk itu perlu dilindungi untuk kelestarian spesies dan pembatasan pengambilan.
Rata-rata pertumbuhan produksi kepiting bakau di beberapa provinsi penghasil utama mengalami penurunan dan cenderung lambat diantaranya Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur dan Riau. Di daerah Maluku Tengah, seperti Teluk Pelita Jaya, Seram Barat juga mengalami penurunan (hasil tangkapan dan ukuran juga kecil), karena kemungkinan adanya degradasi lingkungan dan tangkap lebih (over exploitation) (Siahainenia, 2008, Pratiwi, 2011).

Mengingat pentingnya nilai manfaat ekologi maupun ekonomi yang dimiliki komoditas kepiting bakau, maka masalah penurunan produksi kepiting bakau di alam harus segera diatasi dengan melakukan upaya-upaya pengelolaan, baik melalui tindakan konservasi bagi populasi yang masih stabil, maupun melalui tindakan rehabilitasi (restocking) bagi populasi yang sudah tidak stabil dan perlindungan spesies.

Saran
Perlu dilindungi dengan undang-undang RI. Dimasukkan dalam IUCN Redlist : Vulnerable (VU). Appendix 2, perlu pembatasan ukuran individu yang dipanen. Induk betina bertelur dilarang dipanen.

Sumber : 
Ubaidillah, Rosichon. dkk. 2013. BIOTA PERAIRAN TERANCAM PUNAH DI INDONESIA - Prioritas Perlindungan. Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan. Ditjen Kelautan, Pesisir, dan Pulau – Pulau Kecil. Kementerian Kelautan dan Perikanan. Jakarta

Mengenal Ikan Hiu Martil (Terancam Punah)

Media Penyuluhan Perikanan -
Klasifikasi
  1. Filum : Chordata
  2. Kelas : Chondrichthyes
  3. Sub–Kelas : Elasmobranchii
  4. Bangsa : Carcharhiniformes
  5. Suku : Sphynidae
  6. Marga : Sphyrna
  7. Spesies : Sphyrna lewini (Griffith & Smith, 1834)
Morfologi

  1. kepala melebar ke samping, lebarnya kurang dari sepertiga panjang tubuhnya;
  2. tepi kepala bagian depan sangat melengkung, terdapat lekukan dangkal pada bagian tengahnya;
  3. sirip punggung pertama tinggi, agak lancip melengkung;
  4. sirip punggung kedua pendek, dengan ujung belakang panjang dan bagian tepi yang agak cekung;
Habitat dan Penyebaran
Merupakan kelompok hiu martil yang biasa ditemukan di perairan paparan benua, mulai dari perairan pantai hingga laut lepas, hidup di lapisan permukaan semi oseanik pelajik hingga pada kedalaman 275 m. Di perairan Indonesia, sebarannya mencakup Samudera Hindia, Selat Sunda, Laut Jawa, barat dan timur Kalimantan, Laut Cina Selatan, Sulawesi, Maluku dan Papua.

Status
Di Indonesia, upaya perlindungan Sphyrna lewini sedang dilakukan dengan menyusun KepMen Kelautan dan perikanan tentang perlindungan ikan hiu tahun 2013; IUCN – Endangered; CITES – Appendiks II.

Ancaman
Upaya penangkapan ikan hiu sudah berlangsung sejak tahun 1980an. Spesies ikan ini merupakan salah satu hasil tangkapan sampingan (bycatch) dari berbagai alat tangkap yang dioperasikan baik di perairan pesisir maupun perairan lepas. Umumnya ikan yang tertangkap nelayan di perairan pesisir adalah ikan-ikan anakan (juvenil) sehingga merupakan ancaman terhadap populasi spesies ikan ini di masa mendatang. Di lain pihak, adanya kemungkinan praktek finning, yaitu nelayan hanya mengambil siripnya saja sedangkan bagian tubuh lainnya dibuang ke laut.

Saran
Diperlukan adanya peningkatan kesadaran bagi masyarakat nelayan untuk tidak melakukan praktek finning dan melakukan pembatasan ukuran hasil tangkapan minimumnya.

Sumber : Ubaidillah, Rosichon. dkk. 2013. BIOTA PERAIRAN TERANCAM PUNAH DI INDONESIA - Prioritas Perlindungan. Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan. Ditjen Kelautan, Pesisir, dan Pulau – Pulau Kecil. Kementerian Kelautan dan Perikanan. Jakarta

Aplikasi Vaksin HydroVac dan StreptoVac

Media Penyuluhan Perikanan - Penggunaan Vaksin HydroVac dan StreptoVac untuk Pencegahan Penyakit Potensial pada Ikan Air Tawar

Motile Aeromonas Septicemia (MAS) atau “penyakit merah”, disebabkan oleh infeksi bakteri Aeromonas hydrophila; merupakan penyakit bakterial yang bersifat akut, menginfeksi semua umur & semua jenis ikan air tawar, dapat mengakibatkan kematian hingga 100%, dan sering menimbulkan kerugian yang sangat signifikan. Komisi Kesehatan Ikan dan Lingkungan Nasional pada 2006 telah menetapkan jenis penyakit ini sebagai salah satu penyakit ikan utama di Indonesia. Streptococcosis merupakan penyakit infeksius yang semakin sering terjadi pada budidaya ikan nila. Kasus streptococcosis pada ikan nila di Jawa Barat dan Jawa Tengah disebabkan oleh infeksi bakteri S. agalactiae (85%) dan S. iniae (15%). Secara laboratoris, infeksi S. agalactiae pada ikan nila bersifat akut; sedangkan infeksi S. iniae lebih bersifat kronis. Fakta tersebut mengindikasikan bahwa bakteri S. agalactiae berpotensi sebagai penyebab streptococcosis yang lebih serius pada budidaya ikan nila.

Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Tawar – Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Budidaya telah mengembangkan vaksin anti-Aeromonas hydrophila dengan nama ”HydroVac” dan vaksin anti-Streptococcus agalactiae dengan nama “StreptoVac” sebagai produk biologi bagi upaya peningkatan produksi perikanan budidaya air tawar nasional. Hasil kajian laboratoris dan lapang, aplikasi vaksin “HydroVac” dapat menekan tingkat kematian ikan akibat penyakit MAS berkisar 30-40% dibandingkan dengan tanpa aplikasi vaksin yang mencapai 60-70%. Sedangkan hasil kajian laboratoris dan lapang, aplikasi vaksin “StreptoVac” dapat menekan tingkat kematian ikan nila akibat penyakit streptococcosis berkisar 20-30% dibandingkan dengan tanpa aplikasi vaksin yang mencapai 50-60%.

Salah satu diantara beberapa keunggulan yang dimiliki oleh kedua jenis vaksin tersebut adalah kemampuannya untuk menginduksi respon kebal spesifik yang dapat bereaksi silang (cross reactivity) terhadap beberapa strain bakteri A. hydrophila (untuk vaksin Hydrovac) dan bakteri S. agalactiae (untuk Streptovac) patogen yang terdapat di beberapa wilayah pengembangan budidaya ikan air tawar. Keunggulan ini memberi harapan bahwa produk vaksin ini dapat digunakan oleh seluruh pembudidaya ikan di seluruh wilayah sentra produksi ikan air tawar.

Vaksinasi ikan adalah memberi bekal kekebalan (immunity) pada tubuh ikan secara dini. Teknik ini merupakan salah satu alternatif pengendalian penyakit yang perlu terus dikembangkan, karena lebih ramah terhadap lingkungan, tidak berdampak negatif terhadap ikan itu sendiri maupun terhadap manusia. Vaksinasi pada perikanan budidaya diyakini akan dapat memberi kontribusi yang sangat signifikan terhadap peningkatan produksi perikanan budidaya. Keberhasilan program vaksinasi akan berdampak langsung terhadap, antara lain: (1) menurunnya tingkat mortalitas ikan budidaya akibat infeksi patogen potensial, (2) menurunnya penggunaan antibiotik pada budidaya ikan, dan (3) menurunnya daya resistensi beberapa jenis patogen terhadap antibiotik.

Manfaat Teknologi
  1. Aplikasi vaksin HydroVac merupakan upaya pemberian kekebalan spesifik (antibodi) secaradini pada ikan budidaya untuk mencegah infeksi bakteri Aeromonas hydrophila, bakteri patogen penyebab penyakit Motile Aeromonas Septicaemia (MAS).
  2. Aplikasi vaksin StreptoVac merupakan upaya pemberian kekebalan spesifik (antibodi)secara dini pada ikan budidaya (khusunya ikan nila) untuk mencegah infeksi bakteri Streptococcus agalactiae, bakteri patogen penyebab penyakit streptococciosis.
  3. Aplikasi vaksin HydroVac dan StreptoVac pada perikanan budidaya air tawar dapat menekan tingkat mortalitas yang diakibatkan oleh penyakit Motile Aeromonas Septicaemia (MAS) pada semua jenis ikan air tawar, dan penyakit streptococcosis pada ikan nila.
  4. Program vaksinasi akan meningkatkan produksi (food security) dan menjamin mutu produk perikanan (food safety), serta menjamin keberlanjutan budidaya ikan (sustainable aquaculture) air tawar yang ramah lingkungan.
  5. Vaksinasi merupakan salah satu upaya pengendalian penyakit bakterial pada ikan yang ramah terhadap ikan, lingkungan perairan dan konsumen.
  6. Penggunaan vaksin dapat mencegah timbulnya resistensi bakteri patogen pada ikan dan lingkungan perairan akibat penggunaan bahan kimia/ antibiotika yang kurang bijaksana dalam pengelolaan kesehatan ikan.
  7. Secara ekonomi, aplikasi vaksin HydroVac dan StreptoVac pada perikanan budidaya air tawar akan menambah biaya produksi 1 – 2 rupiah/ekor ikan; namun keuntungan yang diperoleh akan sangat nyata.
Vaksin adalah suatu produk biologi yang terbuat dari mikroorganisme, komponen mikroorganisme yang telah dilemahkan, dimatikan atau rekayasa genetika dan berguna untuk merangsang kekebalan tubuh secara aktif (antibodi) sehingga dapat mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi suatu jenis mikroorganisme patogen.

Persyaratan Teknis Penerapan Teknologi

Persyaratan yang perlu diperhatikan sebelum melakukan vaksinasi pada ikan:
  1. Ikan telah berumur lebih dari 2 minggu.
  2. Kesehatan ikan harus dalam kondisi prima, hindari pemberian vaksin pada ikan yang sedang sakit.
  3. Suhu air relatif hangat (di atas 25 oC) dan stabil.
SOP teknologi

HydroVac dan StreptoVac dapat diberikan melalui 3 (tiga) cara, yaitu perendaman, pakan dan
suntik.

  1. Perendaman dalam larutan vaksin selama 15–30 menit. Teknik ini sangat ideal untuk ikan ukuran benih. Perendaman dapat dilakukan dalam bak beton/fiber glass/ akuarium atau ember plastik. Dosis yang digunakan adalah 100 ml vaksin untuk 1.000 liter air atau 1 ml vaksin untuk setiap 10 liter air. Air bekas rendaman pertama, masih dapat segera (tidak lebih dari 2 jam) digunakan sekali lagi untuk tujuan yang sama.
  2. Melalui pakan ikan (pellet). Teknik ini cocok untuk ikan yang sudah dipelihara di kolam/jaring atau sebagai vaksinasi ulang (booster). Vaksin diencerkan terlebih dahulu dengan air bersih, kemudian dimasukkan ke dalam alat semprot. Semprotkan larutan vaksin tersebut ke pakan secara merata, dikeringanginkan dan selanjutnya segera diberikan kepada ikan. Dosis yang diberikan adalah 2 - 3 ml/kg bobot tubuh ikan. Pemberian vaksin dilakukan selama 5 – 7 hari berturut-turut.
  3. Melalui penyuntikan. Teknik ini terutama diaplikasikan untuk ikan yang berukuran lebih dari 5 gram/ekor atau calon induk. Dosis vaksin yang diberikan adalah 0,1 ml/ekor. Penyuntikan dapat dilakukan melalui rongga perut (intra peritoneal) atau dimasukkan ke otot/daging (intra muscular) dengan sudut kemiringan jarum suntik 30 derajat.
Sumber :
Anonymous. 2013. Rekomendasi Teknologi Kelautan dan Perikanan 2013. Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan. Jakarta 

Teknik Penyusunan Proposal Kegiatan


Media Penyuluhan Perikanan - Menulis proposal kegiatan berarti mengajukan permohonan sumberdaya (termasuk pendanaan) kepada pihak tertentu yang dianggap potensial, lalu mereka akan bertanya mengapa ? Hal ini membawa kita pada konsep filantropi usaha di mana penyandang dana, seperti kapitalis ventura, akan menanyakan apa arti dan nilai dari apa yang Anda usulkan dan apa kemampuan Anda untuk mewujudkannya ? Dengan kata lain, Anda meminta seseorang untuk berinvestasi ke dalam ide Anda.

Dengan demikian, sebuah proposal merupakan suatu kontrak dan jika Anda dapat melihat proposal sebagai suatu kontrak, maka penulisannya akan menjadi lebih sederhana. Selain itu, proses evaluasi akan lebih sederhana. Dengan kata lain, pernyataan sebuah kontrak dituangkan dalam kalimat yang jelas.

Sumber pendanaan kegiatan akan mengajukan dua pertanyaan: apa latar belakang Anda untuk melakukan kegiatan ini dan apa saja kebutuhan untuk melaksanakan kegiatan ini?

Pada dasarnya proposal harus mencakup hal-hal berikut:
•    Ide apa yang anda usulkan
•    Mengapa Anda ingin melakukannya
•    Siapa yang akan melakukannya dan apa latar belakang mereka
•    Apa yang Anda butuhkan

Dalam menanggapi keempat pertanyaan tersebut, pemohon harus sepenuhnya menggambarkan usaha, metode yang akan digunakan, dan tujuannya. Harus ada deskripsi kegiatan yang lengkap.

Strategi Penulisan Proposal

Pertama, luangkan waktu untuk membiasakan dengan berbagai macam kosakata.

Kedua, perlu diingat bahwa penerima proposal akan membaca dan menilai beberapa semua proposal yang masuk. Sebuah proposal yang menang adalah yang menonjol dari semua proposal yang masuk (jelas, tepat, dan menarik). Hindari pertanyaan retoris dan kalimat rumit, gaya Anda harus segar dan kalimat Anda sederhana dan mudah diakses. Proposal proyek biasanya pendek, sehingga Anda tidak memiliki ruang untuk menguraikan lebih banyak.

Ketiga, selalu gunakan kata kerja - ini akan memberikan gagasan bahwa Anda dan proyek Anda diatur untuk mencapai hasil dan tidak hanya untuk mencerminkan tentang isu-isu. Hindari ketidakjelasan dan harus tepat. Proposal Anda harus menyampaikan ide-ide konkret dan jalan untuk mencapai hasil yang nyata. Misalnya, jangan menulis, "sekelompok orang akan mendapatkan keuntungan dari" tapi tulislah "10 peserta akan dilatih untuk melakukan ..." ini dan itu. Jadilah realistis, sebuah proposal yang sukses bukan suatu usulan yang besar untuk mengubah dunia justru merupakan sebuah proyek yang tujuannya harus ditetapkan dalam set jangka waktu tertentu.

Keempat, jadikan proposal anda menarik. Jangan over dalam menggunakan data statistik dan angka. Hal ini secara konsisten akan memungkinkan donor untuk memahami keterlibatan Anda dengan masyarakat setempat. Masukkan contoh-contoh konkret masalah apa yang anda ingin pecahkan.
Setelah proposal Anda selesai, biarkan selama beberapa hari dan kemudian periksa kembali proposal anda. Dengan demikian kesalahan penulisan akan dengan mudah anda temukan dan anda dapat segera memperbaikinya. Dan ingat, jika Anda menulis dalam bahasa lain, maka diperlukan seorang ahli dalam bahasa itu untuk membantu anda.

Tips – Tips dalam Penyusunan Proposal


Sebuah proposal yang besar dapat menjadi penentu dalam memenangkan proyek, sementara yang buruk dapat menyebabkan Anda kehilangan proyek. Tips-tips dalam penyusunan proposal adalah sebagai berikut :

  1. Kreatif dan positiflah, tidak berorientasi pada masalah; apa ide Anda?
  2. Realistisah, tidak menjanjikan perubahan global dari usaha Anda.
  3. Faktual dan spesifik, jangan berbicara secara  general atau memakai istilah emosional. Perlihatkan bahwa anda mampu membuktikan semua pernyataan yang ditulis.
  4. Menyajikan proposal untuk sesuatu yang spesifik, jangan mengirimkan daftar belanja, karena ini mempengaruhi penyandang dana untuk menentukan prioritas bagi Anda, dan jangan mengirimkan buku tebal dengan permintaan kepada pemberi dana untuk "ikut terlibat” dalam kegiatan anda
  5. Buat ringkasan yang singkat tetapi kuat. Pengambil keputusan memulai dengan fokus pada ringkasan eksekutif (executive summary). Saat menulis executive summary, asumsikan bahwa pembaca tidak tahu apa-apa tentang proyek yang diusulkan.
  6. Keluarkan semua ide-ide Anda. Anda mungkin takut mengungkapkan ide-ide Anda tentang bagaimana untuk memecahkan masalah Anda akan lebih sukses jika Anda tidak menimbun ide-ide Anda. Gunakan ide – ide anda untuk menunjukkan kepada klien bahwa tim Anda melakukan pendekatan masalah dengan cara yang kreatif dan inovatif.
  7. Ukuran tidak menjadi masalah. Buat proposal  Anda sesingkat mungkin namun jelas, pikirkan kualitas, bukan kuantitas.
  8. Akuratlah. Jika Anda menggunakan data untuk mendukung beberapa aspek dalam proposal Anda, double-cek dan triple-cek informasi tersebut. Sangat mudah bagi fakta untuk disalahpahami dan disalahgunakan dalam proposal.
  9. Fokus pada detail. Perhatikan kesalahan ketik dan pastikan bahwa orang yang tepat menerima proposal tepat waktu.
  10. Perlakukan penyandang dana dengan hormat dan menghormati diri sendiri, jangan merendahkan diri, jangan mengatakan, "Jika Anda tidak mendanai kami, kami akan……….."
  11. Hormati apa yang Anda minta, jangan mengatakan, "Ini hanya sejumlah kecil" atau "Saya hanya perlu..."
  12. Berikan rincian tentang siapa yang akan melakukan apa. Berikan bukti kemampuan Anda untuk melakukan kegiatan tersebut, pengalaman masa lalu, jangan berasumsi.
  13. Jika Anda melakukan sesuatu yang baru atau anda tidak memiliki pengalaman sebelumnya, berikan beberapa bukti mengapa penyandang dana harus memiliki keyakinan bahwa Anda bisa melakukannya
  14. Gunakan bahasa untuk orang awam, tidak ada singkatan, inisial, jargon atau kata kerja yang diubah menjadi kata benda.
  15. Selesaikan segera. Biarkan proposal anda selama sehari setelah anda menyelesaikan draft akhir, dan kemudian baca ulang sepenuhnya sebelum mengirimnya ke klien. Anda cenderung akan mendapatkan beberapa ide baru dan Anda mungkin menemukan kesalahan yang Anda tidak lihat sebelumnya.
  16. Kirimkan proposal yang sudah jadi, jangan kirimkan draf !
  17. Kirimkan proposal atas nama organisasi anda

Outline ProposalProposal Anda harus memberikan informasi kepada pemberi dana mengenai : Siapa Anda, Apa yang Anda inginkan, Bagaimana Anda akan melakukannya, dan Apa yang akan dibiayai.

Format sebuah proposal mencakup :
1.    Cover : Pastikan di dalam cover tercantum orang yang tepat yang dituju.
        Pernyataan singkat siapa Anda dan beberapa kalimat tentang proyek yang diusulkan.
        Berikan nama dan nomor telepon orang yang bisa dihubungi untuk informasi lebih lanjut.
2.    Surat pengantar/Kata pengantar
3.    Abstrak atau Executive Summary : Sebuah ringkasan yang jelas dan singkat dari proposal Anda.
4.    Daftar isi
5.    Pendahuluan  :
       a.    Latar belakang
       b.    Tujuan
               Katakan capaian yang Anda harapkan. Bersikaplah realistis. Membuat tujuan yang terukur.
               Penulisan tujuan mengacu pada prinsip SMART, yaitu : Spesifik, Measureable (terukur),
               Actionary (dapat dilaksanakan), Realistis, dan memiliki Time Frame (jangka waktu)
        c.    Ruang lingkup
6.    Metodologi :
       a.    Jelaskan bagaimana kegiatan itu akan dilaksanakan, tidak mengatakan atau menyiratkan
              bahwa hanya uang yang akan memecahkan masalah
       b.    Evaluasi : Metode apa yang akan digunakan untuk menganalisis hasil dan memperbaiki
              program Anda
7.    Susunan pelaksana
8.    Rencana Anggaran : terjemahkan metode/kegiatan yang akan dilakukan ke dalam rincian anggaran.
       Harus memadai dan jelas.
9.    Pernyataan kebutuhan :
       a.    Uraikan apa yang anda butuhkan dari si penerima proposal dan mengapa yang Anda usulkan
              itu perlu? Sertakan pula dokumen kebutuhan dengan statistik (jika memungkinkan).
       b.    Hanya meminta hal-hal yang Anda butuhkan, tidak termasuk barang-barang yang sudah
              Anda miliki, dan tidak meminta pendanaan retroaktif
10.    Penutup,
11.    Daftar pustaka, dan lampiran-lampiran

Sumber : Proposal Writing Kit – Tips & Techniques, PHILANTHROPIC VENTURES FOUNDATION
1222 Preservation Park Way. Oakland CA 94612

Polikultur Rumput Laut Lawi-lawi dan Rajungan di Tambak

Media Penyuluhan Perikanan - Lawi –lawi (Caulerpa, sp), diambil dari bahasa daerah Makassar Sulawesi Selatan. Masyarakat di Sulawesi Selatan secara turun temurun telah mengkonsumsi rumput laut dari golongan makro alga yang mirip anggur hijau ini. Beberapa sebutan lain untuk lawi-lawi antara lain : Latoh (Jawa), Lato (Filipina), Umi Budo (Jepang), Latin, Caulerpa sp, Anggur laut (Indonesia) dan Sea grapes (bahasa Inggris).

Rajungan (Portunus pelagicus. Linn), merupakan jenis kepiting yang memiliki habitat alami hanya di laut. Jenis ini biasa ditemukan di areal pasang surut dari Samudera Hindia, Samudera Pasifik dan Timur Tengah sampai Mediterania. Rajungan dimanfaatkan sebagai sumber bahan pangan dengan nilai ekonomis tinggi. Makanan rajungan di alam antara lain bivalvia, ikan dan beberapa jenis alga. Rajungan memiliki sifat yang sangat berbeda dengan kepiting bakau (Scylla serrata), Rajungan tidak dapat bertahan lama hidup di darat atau keluar dari lingkungan air.

Persyaratan Teknis Penerapan Teknologi

Secara umum pemeliharaan lawi-lawi tidak rumit. Lawi-lawi pada umumnya hidup di perairan laut dangkal namun bisa juga dibudidayakan di tambak baik secara monokultur maupun secara polikultur dengan komoditas bandeng, udang atau rajungan. Lokasi yang dipilih untuk budidaya lawi-lawi dan rajungan adalah yang memiliki karakteristik lingkungan sebagai berikut :

  1. Lokasi tambak jauh dari pengaruh air tawar yang dapat menurunkan salinitas air
  2. Lokasi tambak jauh dari sumber polutan
  3. Lokasi tambak harus dengan sumber air laut. Air tambak bisa berganti secara rutin mengikuti pasang surut air laut
  4. Tambak dengan tanah dasar pasir berlumpur, karena lumpur menjadi substrat bagi lawilawi
  5. pH tanah tambak harus normal (tidak asam dan tidak basa)
  6. Salinitas tambak > 20 ppt.
Lawi-lawi yang telah ditanam harus dikontrol secara rutin untuk mengetahui kondisi perkembangannya. Begitu juga kondisi salinitas air harus senantiasa dimonitor terutama pada musim hujan karena salinitas air sewaktu waktu bisa menurun tajam hingga di bawah 25 ppt.

Salinitas yang optimum untuk budidaya Lawi-lawi yaitu diatas 20 ppt. Untuk menjaga salinitas air tambak harus dilakukan penggantian air secara rutin (minimal satu minggu sekali).

Uraian Prosedur Operasional Standar

a. Uraian teknologi

Teknologi yang diterapkan yaitu kegiatan budidaya polikultur (pemeliharaan beberapa komoditas) secara bersamaan dalam satu ekosistem yang sama. Dalam kegiatan ini dilakukan pemeliharaan dan produksi dua biota aquatik yang berbeda yaitu Lawi-lawi(Caulerpa. sp) sebagai flora aquatik dan Rajungan (Portunuspelagicus. Linn)sebagai fauna aquatik yang berasal dari golongan Crustacea.

b. Cara Penerapan teknologi

1. Tahap Persiapan Tambak

Pengeringan dasar tambak (Gambar 1) dilakukan untuk mempercepat proses pembusukan bahan organik dan pembersihan gulma perairan yang bisa menjadi kompetitor dalam penggunaan oksigen. Pemberantasan hama dilakukan dengan menggunakan saponin (40-2 2 50g/m ) dan pengapuran dasar tambak dengan menggunakan CaO (25-30 g/m ) atau kapur 2 CaCO3dengan dosis (60-70 g/m ). Pemupukan tambak dilakukan untuk memperkaya ketersediaan unsur hara yang dibutuhkan bagi pertumbuhan lawi-lawi dan pakan alami yang bermanfaat bagi kehidupan rajungan. Dosis pemberian pupuk 2 organik yaitu 20-40 g/m atau 200-400 kg/Ha. Setelah pemberian pupuk dan terjadi proses ionisasi atau mineralisasi selanjutnya tambak diisi air secara berangsur-angsur hingga dalam air 10-15 cm. Setelah kedalaman air tambak 15-25 cm, dilakukan penanaman lawi-lawi dengan padat tanam 500 g/m2pada 10-15 % x luas areal (Ha) atau 500-750 kg/Ha.

2. Penanaman bibit lawi-lawi

Penanaman lawi-lawi dilakukan lebih awal dari rajungan, yaitu 2 minggu sebelum penebaran benih rajungan. Hal ini dimaksudkan agar pada saat benih rajungan ditebar lawi-lawi sudah tertanam kuat di dasar tambak dan sudah bisa dimanfaatkan sebagai shelter rajungan. Lawi-lawi ditanam di dasar tambak pada kondisi ketinggian air tambak antara 15-25 cm dengan padat 2 2 tanam 0,5 kg/m (masing-masing 5 rumpun lawi-lawi/m masing-masing 100 gram per rumpun) dengan jarak tanam antar rumpun atara 50 – 100 cm tergantungpada kondisi lingkungan tambak.

3. Pemberian Pupuk Susulan

Pemberian pupuk susulan dilakukan untuk membantu proses pertumbuhan dan peremajaan sel-sel pada tallus dan anggur pada lawi-lawi setelah dilakukan panen sebagian (parsial). Disamping itu pemberian pupuk susulan juga sangat berguna bagi pengkayaan ketersediaan pakan alami rajungan. Meningkatnya ikan-ikan pelagis yang masuk ke areal tambak meningkatkan ketersediaan makanan tambahan rajungan di tambak. Bahan yang digunakan dalam pemberian pupuk susulan ini bisa menggunakan pupuk organik kompos atau pupuk organik cair dengan dosis sesuai kondisi dan kesesuaian lahan. Waktu pemupukan sebaiknya dilakukan pada pagi hari setiap 6 minggu sekali setelah pergantian air.

4. Penebaran Rajungan

Penebaran benih rajungan dilakukan setelah dua minggu penanaman lawi-lawi. Benih rajungan yang digunakan adalah benih unggul hasil pengembangbiakan di hatchery Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Takalar. Benih rajungan yang ditebar berukuran 1-2 cm dengan berat rataan 1,5-2 g/ekor. Sebelum ditebar di tambak benih rajungan terlebih dahulu diaklimatisasikan dengan cara dipelihara dalam waring yang dipasang di tambak. Setelah 3 hari aklamatisasi, benih rajungan dilepas ke dalam tambak. Budidaya rajungan di tambak dilakukan selama 4 bulan masa pemeliharaan. Sistem budidaya yang dilakukan adalah sistem intensif dan tradisional. Pada sistem intensif, benih rajungan ditebar dengan kepadatan 2 ekor/m sedangkan pada sistem tradisional 1 ekor/m .

5. Pemberian Pakan Rajungan

Pakan yang digunakan sebagai pakan tambahan untuk pembesaran rajungan adalah ikan rucah yaitu jenis ikan yang bernilai ekonomis rendah atau limbah olahan ikan. Ikan rucah dicincang agar sesuai dengan ukuran
dan bukaan mulut rajungan. Pemberian pakan tambahan untuk rajungan pada budidaya sistem semi intensif dilakukan satu kali perhari dengan dosis 2% dari total biomassa (berat total benih yang dibudidayakan).

Waktu yang tepat untuk pemberian pakan pada sistem semi intensif ini adalah pada jam 11-12 siang yaitu
pada kondisi nafsu makan rajungan sangat tinggi. Sedangkan pada sistem budidaya intensif pemberian pakan pada rajungan yang dipelihara dilakukan sebanyak 3 kali perhari dengan dosis 2-3% dari total biomassa. Pemberian pakan yang tepat yaitu pada jam 08.00, jam 12.00 dan jam 15.00 dan dilakukan secara kontinyu setiap hari sampai masa rajungan siap panen.

6. Sampling Rajungan

Sampling adalah penimbangan dan pengukuran beberapa sampel rajungan yang dibudidayakan secara acak untuk mengetahui bobot dan ukuran terkini baik pada rataan perindividu maupun per populasi rajungan yang dibudidayakan. Sampling juga dimaksudkan untuk dapat mengetahui laju pertumbuhan, nilai konversi pakan (FCR), angka sintasan hidup (SR) dan tingkat efisiensi pemberian pakan, serta dapat memperkirakan kebutuhan pakan lanjutan. Agar rajungan tidak stress sebaiknya sampling dilakukan setiap dua minggu sekali pada pagi atau sore hari ketika suhu air rendah.

7. Metode Pemanenan Lawi-lawi dan Rajungan pada sistem polikultur

Lawi-lawi maupun rajungan dapat dipanen secara mudah kapan saja waktunya disaat diinginkan sesuai kondisi pasar. Pemanenan bisa dilakukan secara berangsur-angsur sebagian (parsial) atau dipanen seluruhnya (panen total).

a. Panen Parsial (Panen sebagian)
Panen Parsial adalah proses pemanenan sebagian biota aquatik yang dibudidayakan tanpa harus mengeringkan air di tambak dan tanpa mengganggu berlangsungnya kegiatan budidaya atau pembesaran lanjutan. Pada sistem panen parsial, lawi-lawi atau rajungan dipanen sesuai kebutuhan dengan waktu bersamaan ataupun pada waktu yang berbeda. Pada sistem panen seperti ini yang dipanen terlebih dahulu adalah rajungan dengan menggunakan alat tangkap (rakkang) yang diberi umpan ikan rucah. Rakkang di letakkan dekat saluran pemasukan air laut sehingga rajungan terjebak dalam rakang tersebut. Selanjutnya rajungan ditampung dalam waring/hapa, untuk disortir berdasarkan ukuran sesuai kebutuhan dan permintaan pasar. Setelah proses penangkapan rajungan selesai pemanenan lawi-lawi dilakukan secara langsung dengan gerak panen kearah inlet. Panen lawi-lawi dapat dilakukan secara berkala dimulai ketika umur tanam lawi-lawi sudah lebih dari 3 minggu ke atas. Lawi-lawi yang sudah dipanen dibilas air tambak yang bersih untuk membersihkannya dari kotoran lumpur. Lawi-lawi ditampung dalam waring pemberokkan selama 3 hari dan dilakukan sortir secara kuantitas dan kualitas untuk dikemas kedalam karung sebelum didistribusikan ke pasar.

b. Panen Total (Panen Seluruhnya)
Proses panen total dilakukan dengan mengeluarkan air tambak secara perlahan-lahan sampai tambak menjadi kering dengan menggunakan pompa dorong ataupun pompa hisap. Seluruh biota yang dibudidayakan dipanen seluruhnya baik lawi-lawi maupun rajungannya. Pengeringan dasar tambak dilakukan lagi untuk kegiatan selanjutnya. Pada sistem panen total rajungan dilakukan setelah panen parsial, selanjutnya air tambak disurutkan sambil terus dilakukan panen rajungan dengan menggunakan rakkang sampai permukaan tambak terus menurun. Sebelum air tambak kering, dilakukan panen lawi-lawi secara total, dibersihkankemudiandisortir di tambak atau saluran air laut yang bersih di sekitar lokasi panen. Setelah lawi-lawinya habis dipanen dilakukan panen rajungan sampai habis, kemudian di tampung dalam waring/hapa. Setelah lawi-lawi dan rajungan selesai dipanen, pematang tambak diperbaiki dan dikeringkan untuk fase penggunaan tambak selanjutnya.

Sumber :
Anonymous. 2013. Rekomendasi Teknologi Kelautan dan Perikanan 2013. Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan. Jakarta 

Mengenal Udang Kutu Pasir

Media Penyuluhan Perikanan -
Klasifikasi
  1. Filum : Arthropoda
  2. Induk Kelas : Crustacea
  3. Anak Kelas : Eumalacostraca
  4. Induk Bangsa : Eucarida
  5. Bangsa : Decapoda
  6. Anak Bangsa : Reptantia
  7. Suku : Scyllaridae
  8. Anak Suku : Theninae
  9. Marga : Thenus Leach, 1816a
  10. Spesies : Thenus orientalis (Lund, 1793)
  11. Sinonim : Syllarus orientalis Lund, 1793



Morfologi
Warna tubuh merah muda atau coklat muda. Pleopod dan telson atau uropod berwarna merah muda atau merah. Terdapat bintik hitam (pigmen) yang jelas pada pereipod dan telson. Pereiopod kokoh dan kuat. Bentuk bagian dorsal agak cembung, kokoh dan bentuk bagian rostrum tumpul, kokoh dan lebih tinggi bentuknya. Segmen kedua antena gigi di bagian anteromarginal besar dan lebar, gigi-gigi di bagian anterolateral kurang jelas dan melengkung ke belakang. Ada empat gigi. Ukuran tubuh besar berukuran 95 mm panjang karapas. Dijumpai pada kedalaman 30 – 60 meter. Substrat Pasir dengan butiran yang agak kasar. Rata-rata dapat bertelur hingga 32.230 butir (Jones, 1990).

Habitat dan Penyebaran
Habitat: Udang pasir banyak dijumpai di perairan dangkal tropik maupun sub tropik, tetapi ada pula yang ditemui hingga kedalaman 50 meter dengan substrat yang lembut seperti lumpur dan pasir. Udang-udang tersebut memiliki kemampuan yang unik untuk dapat beradaptasi dengan lingkungannya, dapat berenang dengan jarak tempuh yang jauh dan membenamkan diri dalam sedimen (substrat lumpur atau pasir) (Lavalli & Spanier, 2007). Kedalaman T. orientalis adalah 30 – 60 meter, substrat pasir dengan butiran yang agak kasar (Pratiwi, 2011).

Penyebaran: Perairan dangkal Indonesia dengan substrat lembut, pasir dan lumpur.

Status
Belum dilindungi Undang-undang RI. Sudah masuk dalam list IUCN dengan status Least Concern ver.3.1 (diperhatikan).

Ancaman
Hewan ini memiliki daging yang sangat gurih dan bergizi serta dipasaran memiliki nilai ekonomi tinggi. Merupakan spesies umum yang sangat berlimpah ditemukan oleh para nelayan trawl, sehingga udang tersebut tergolong ke dalam udang ekonomi penting penunjang hingga kini. Mulai banyak dijual di restoran-restoran makanan laut sebagai hidangan dari laut yang sudah merupakan komoditas ekspor, sehingga menjadi hidangan laut yang menjanjikan dan selalu diminati oleh konsumen penggemar makanan laut.

Karenanya perlu dilindungi untuk kelestarian spesies.

Saran
Harus segera dilindungi Undang-undang RI dan masuk ke dalam Appendix 2, perlu pembatasan ukuran individu yang dipanen. Induk betina bertelur dilarang dipanen

Sumber : 
Ubaidillah, Rosichon. dkk. 2013. BIOTA PERAIRAN TERANCAM PUNAH DI INDONESIA - Prioritas Perlindungan. Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan. Ditjen Kelautan, Pesisir, dan Pulau – Pulau Kecil. Kementerian Kelautan dan Perikanan. Jakarta

Udang Windu Jangan Biarkan Dia Punah

Media Penyuluhan Perikanan -
Klasifikasi
  1. Filum : Arthropoda
  2. Anak Kelas : Crustacea
  3. Kelas : Malacostraca
  4. Bangsa : Decapoda
  5. Suku : Penaeidae
  6. Marga : Penaeus Fabricius, 1798
  7. Spesies : Penaeus monodon Fabricius, 1798
  8. Sinonim : Penaeus carinatus Dana, 1852; Penaeus tahitensis Heller, 1862

Morfologi
Rostrum (tanduk, cucuk) jumlah gigi bagian atas 7, sedangkan pada bagian bawah 3. Rostrum dengan Rumus gigi 7/3. Badan bewarna loreng-loreng besar vertikal hijau kebiruan atau kehitaman bagi individu yang hidup di laut. Yang merupakan tanda istimewa ialah pada badan terdapat ban ungu hitam yaitu pada masing-masing ruas terdapat 2 ban. Warna tersebut jelas sekali pada udang yang masih hidup. Kulit tebal dan keras, tetapi tidak kaku. Warna kaki pada umumnya berwarna merah. Ukuran panjang total dapat mencapai 35 cm di alam. Sedang umumnya 20-25 cm.

Habitat dan Penyebaran
Habitat: Kedalaman 10- 45 m. Dasar substrat lumpur. Pesisir pantai dan laut. Habitat yang disukai adalah dasar laut yang lunak (soft) yang terdiri dari campuran pasir dan lumpur. Daerah fishing ground di: Sumatera Timur mendapat aliran sungai Asahan, sungai Rokan, sungai Kampar, sungai Indragiri, sedangkan Kepulauan Bangka dan Riau memberi lindungan terhadap perairan tersebut dari arus laut Cina selatan yang terbuka dan lewat Laut Jawa. Pantai utara Jawa antara Cirebon dan Jawa tengah merupakan daerah penting pemusatan udang (Unar, 1965).

Penyebaran: Sebaran di dunia Indo-West Pacific: mulai dari Teluk Persian ke Thailand, Hong Kong, Philippines. Indonesia, New Guinea, New Caledonia dan utara Australia (north of 29°S). Di Indonesia mulai dari Selat Malaka, pantai utara pulau Jawa, pantai selatan pulau Jawa (Cilacap khususnya), Maluku dan laut Aru selatan Papua, penangkapan udang telah melampaui lestari. Pantai selatan Nusa Tenggara dan pantai selatan Kalimantan, penangkapan udang belum dilakukan secara memadai. Daerah potensial untuk udang adalah di laut sekitar Sulawesi (Teluk Bone, Teluk Tomini, Selat Makasar dan laut Sulawesi), sebelah utara Nusa Tenggara (laut Flores) dan pantai selatan Nusa Tenggara (Unar, 1965).

Menurut Naamin (1977) udang ini tersebar hampir di seluruh perairan laut yang relatif dangkal, terutama sepanjang pantai timur pulau Sumatera, di beberapa daerah pantai selatan pulau Jawa (Cilacap serta Pangandaran), pantai utara Jawa, pantai Kalimantan, pantai Sulawesi Selatan, serta perairan Aru dan Arafuru.

Status
Belum dilindungi undang-undang RI. Penaeus monodon Fabricius, 1798 dilarang eksport untuk induk dan calon induk. Belum terdaftar dalam list IUCN.

Ancaman
Dari banyaknya spesies udang laut yang terdapat diperairan Indonesia, ada 11 spesies yang dapat dikategorikan mempunyai nilai niaga penting. Marga Penaeus merupakan komoditi eksport terpenting, marga Metapeaeus merupakan spesies penting yang kedua dan disusul oleh udang air tawar yaitu Macrobrachium dan Panulirus (Lobster) (Toro & Soegiarto, 1979). Diperkirakan populasinya kian menurun, karenanya perlu dilindungi untuk kelestarian spesies dan pemanfaatan berkelanjutan.

Saran
Perlu dilindungi dan diatur dalam undang-undang RI. Dimasukan dalam list IUCN: Penaeus monodon Fabricius, 1798 dilarang eksport untuk induk dan calon induk.

Sumber : 
Ubaidillah, Rosichon. dkk. 2013. BIOTA PERAIRAN TERANCAM PUNAH DI INDONESIA - Prioritas Perlindungan. Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan. Ditjen Kelautan, Pesisir, dan Pulau – Pulau Kecil. Kementerian Kelautan dan Perikanan. Jakarta

Apakah Udang Jerbung Terancam Punah ?

Media Penyuluhan Perikanan - Udang Jerbung biasa juga disebut dengan udang putih, peci, pepet, penganten, perempuan, pesayan besar, manis, kertas dan udang banana.

Klasifikasi
  1. Filum : Arthropoda
  2. Anak Kelas : Crustacea
  3. Kelas : Malacostraca
  4. Bangsa : Decapoda
  5. Suku : Penaeidae
  6. Marga : Fenneropenaeus Péres Farfante, 1969
  7. Spesies : Fenneropenaeus merguiensis (de Man, 1888)
  8. Sinonim : Penaeus merguiensis de Man, 1888

Morfologi
Rostrum (tanduk, cucuk) jumlah gigi bagian atas 7-8, sedangkan pada bagian bawah 4-6. Rostrum dengan Rumus gigi 7-8/4-6, umumnya 7/5. Rostrum disaat udang muda relatif kecil, kuat, panjang. Saat dewasa rostrum lurus dan pendek dengan bagian pangkal besar berbentuk segitiga. Warna putih polos sedikit gelap (yang hidup di laut lebih bersih dan berwarna putih bening kemerah-merahan, pada bagian ekor kipasnya terdapat belang hijau bersih). Kulit sangat tipis, halus dan licin serta mudah sekali mati. Ukuran panjang total 25 cm di alam.

Habitat dan Penyebaran
Habitat: Kedalaman 10- 45 m. Dasar substrat lumpur. Pesisir pantai dan laut. Udang bersifat benthik, hidup pada permukaan dasar laut. Habitat yang disukai adalah dasar laut yang lunak (soft) yang terdiri dari campuran pasir dan lumpur. Perairan berbentuk teluk dengan aliran sungai yang besar merupakan daerah udang yang sangat baik, seperti di Indonesia (daerah pemusatan fishing ground) adalah di: Sumatera Timur mendapat aliran sungai Asaha, sungai Rokan, sungai Kampar, sungai Indragiri, sedangkan Kepulauan Bangka dan Riau memberi lindungan terhadap perairan tersebut dari arus laut Cina selatan yang terbuka dan lewat Laut Jawa. Walaupun sedikit menyerupai teluk dan sungai yang mengalir hanya kecil, pantai utara Jawa antara Cirebon dan Jawa tengah dapat memenuhi kesuburan dan merupakan daerah penting pemusatan udang (Unar, 1965).

Penyebaran: Sebaran di dunia Indo-West Pacific: mulai dari Teluk Persian ke Thailand, Hong Kong, Philippines. Indonesia, New Guinea, New Caledonia dan utara Australia (north of 29°S). Di Indonesia mulai dari Selat Malaka, pantai utara pulau Jawa, pantai selatan pulau Jawa (Cilacap khususnya), Maluku dan laut Aru selatan Papua, penangkapan udang telah melampaui lestari. Pantai selatan Nusa Tenggara dan pantai selatan Kalimantan, penangkapan udang belum dilakukan secara memadai. Daerah potensial untuk udang adalah di laut sekitar Sulawesi (Teluk Bone, Teluk Tomini, Selat Makasar dan laut Sulawesi), sebelah utara Nusa Tenggara (laut Flores) dan pantai selatan Nusa Tenggara (Unar, 1965).

Menurut Naamin (1977) udang ini tersebar hampir di seluruh perairan laut yang relatif dangkal, terutama sepanjang pantai timur pulau Sumatera, di beberapa daerah pantai selatan pulau Jawa (Cilacap serta Pangandaran), pantai utara Jawa, pantai Kalimantan, pantai Sulawesi Selatan, serta perairan Aru dan Arafuru.

Status
Belum dilindungi undang-undang RI. Fenerropenaeus merguiensis de Haan. Dilarang eksport untuk induk dan calon induk. Belum terdaftar dalam list IUCN.

Ancaman
Dari banyaknya spesies udang laut yang terdapat diperairan Indonesia, ada 11 spesies yang dapat dikategorikan mempunyai nilai niaga penting. Marga Penaeus merupakan komoditi eksport terpenting, marga Metapeaeus merupakan spesies penting yang kedua dan disusul oleh udang air tawar yaitu Macrobrachium dan Panulirus (Lobster) (Toro & Soegiarto, 1979). Diperkirakan populasinya kian menurun, karenanya perlu dilindungi untuk kelestarian spesies dan pemanfaatan berkelanjutan.

Saran
Perlu dilindungi dan diatur dalam undang-undang RI. Dimasukan dalam list IUCN: Fenerropenaeus merguiensis de Haan dilarang eksport untuk induk dan calon induk

Sumber : 
Ubaidillah, Rosichon. dkk. 2013. BIOTA PERAIRAN TERANCAM PUNAH DI INDONESIA - Prioritas Perlindungan. Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan. Ditjen Kelautan, Pesisir, dan Pulau – Pulau Kecil. Kementerian Kelautan dan Perikanan. Jakarta

Teknologi pembenihan ikan hias laut ikan klown (Amphiprion percula)

Media Penyuluhan Perikanan - Teknologi pembenihan adalah hasil serangkaian penelitian yang telah dilakukan dan kemudian dikompilasi sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh untuk memproduksi benih Ikan Klown adalah ikan hias laut dengan nama umum true clownfish, di Indonesia biasa disebut ikan klown, nemo, giru dengan nama latin Amphiprion percula.

Hatchery adalah tempat pemeliharaan calon induk, induk dan pemeliharaan larva hingga benih. Benih adalah larva ikan klown yang sudah bermetamorfosa menyerupai ikan dewasa dengan ukuran panjang total 1,2-3,0 cm.

RINCIAN DAN APLIKASI TEKNIS

Persyaratan Teknis Penerapan Teknologi
  1. Tersedia fasilitas air laut, air tawar, listrik, filter pasir.
  2. Tersedia hatchery ikan laut
  3. Tersedia sarana transportasi yang memadai
  4. Tersedia pakan alami (Nannochloropsis, rotifer, kopepod)

Rincian Teknologi pembenihan ikan hias laut ikan klown (Amphiprion percula)

Pembenihan ikan klown (A. ocellaris) telah dilakukan di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Budidaya Laut sejak tahun 2005. Sedangkan pembenihan ikan klown biak (A.percula) dilakukan pada tahun 2010. Induk dipelihara dengan diberi pakan buatan, cacing Nereis, udang mysids (jembret) dan kopepoda untuk memperbaiki pemijahan induk. Induk jantan yang produktif umumnya berukuran pada kisaran panjang total 4,6 – 6,2 cm. Induk ikan betina yang memijah ukurannya berkisar pada panjang total 6,8 - 9,5 cm. Induk ikan klown yang produktif biasanya memijah 3-4 kali/bulan. Jumlah telur yang dihasilkan sangat bervariasi dari 20 butir-1.900 butir. Berbagai pengkayaan rotifer pada pemeliharaan larva dan benih ikan klown tidak berpengaruh nyata terhadap sintasan dan pertumbuhannya. Begitu juga dengan warna benih yang dihasilkan. Awal pergantian air dengan sistem air mengalir maupun dengan membuang air lama dan diganti dengan air baru dapat dilakukan dari umur larva 5 hari. Pada pemeliharaan benih ikan klown di KJA, penambahan shelter daun kelapa, rumput laut dan kontrol dapat mempercepat perkembangan baik pola warna belang putih maupun warna hitam pada tepi sirip dorsal, pectoral, anal dan caudal daripada dengan penambahan shelter anemone. Tetapi sintasan yang dihasilkan pada perlakuan anemone memberikan sintasan yang lebih tinggi daripada perlakuan lainnya.

Pemeliharaan larva dan benih dapat dilakukan di lingkungan indoor dan outdoor. Pemeliharaan larva dengan menggunakan kopepod dan rotifer sangat mendukung pertumbuhan larva dan peningkatan kualitas warna benih yang dihasilkan.

Teknik produksi massal benih ikan klown

Proses alami membuat induk jantan dan betina berpasangan dilakukan berdasarkan ukuran panjang tubuh. Ikan klown (A. ocellaris) berukuran lebih kecil dengan panjang total 4,6 - 6 cm menjadi calon pejantan, sedangkan induk yang besar dengan panjang total > 6,6 cm menjadi induk betina. Pada ikan klown biak (A. percula) induk jantannya memiliki kisaran panjang total 4,6-6,2 cm dan induk betina berukuran panjang total 6,8-9,5 cm.

Disamping panjang tubuh sebagai penentu jenis kelamin, secara morfologi jantan terlihat lebih kurus dan umumnya ikan jantan berwarna lebih cerah. Ikan betina tampak lebih gemuk. Dalam pemilihan warna induk hendaknya diperhatikan pola warna yang bagus. Dengan warna induk yang bagus diharapkan warna benih yang dihasilkanpun akan bagus. Induk dipelihara dalam akuarium 60x30x30 cm3 yang dilengkapi dengan pipa air masuk dan keluar, aerasi dan tempat penempelan telur.

Beberapa teknik membuat induk berpasangan secara buatan :
  1. Calon induk dipisahkan menurut ukuran lalu diaklimatisasi dengan perendaman air tawar sekitar 3 menit dan dapat pula ditambahkan obat anti bakterial erubaju 5 ppm .
  2. Induk jantan dimasukkan ke dalam akuarium terlebih dahulu kemudian diikuti induk betina.
  3. Selama induk berpasangan harus diamati. Jika tampak induk ikan beriringan berarti kedua ikan berjodoh tetapi jika terlihat adanya saling menyerang berarti tidak berjodoh dan harus segera dipisahkan atau dicarikan calon induk betina atau jantan yang baru.
  4. Sepasang induk ikan klown dapat memijah secara alami setelah 3-6 bulan masa pemeliharaan dengan frekuensi 1-4 kali setiap bulannya (interval pemijahan 8-13 hari).Untuk mempercepat pemijahan dapat juga digunakan pasangan induk dari alam.
Dalam pemeliharaan induk diperlukan sistem air mengalir dengan persentasi penggantian air 200%/hari. Pakan yang diberikan dapat berupa pakan buatan komersial atau pakan segar seperti: kopepod, udang jembret, dan cacing laut. Frekuensi pemberian pakan 2 kali sehari dan penyiponan dilakukan minimal tiap minggu.

Pemijahan ikan klown dapat terjadi pada pagi, siang, sore maupun malam hari. Betina yang memijah akan menempelkan telur pada sarang berupa bidang segitiga semen, pipa pvc, maupun pada sudut akuarium dan pejantan akan mengikuti induk betina untuk kemudian segera membuahi telur. Telur kemudian dijaga oleh induk jantan dan betina dengan cara mengibaskan ekor dan sesekali membersihkan telur menggunakan mulutnya hingga telur menetas.

Masa inkubasi telur adalah 6 - 7 hari. Pemanenan dilakukan pada hari ke-enam, untuk menghindarkan kanibalisme induk terhadap larva yang baru menetas. Pasangan induk yang produktif mampu memijah hingga lebih dari 50 kali secara terus menerus dalam satu tahun. Jumlah telur yang dipijahkan berkisar antara 137 hingga 1720 butir.

Pemeliharaan Larva

Setelah telur diinkubasi 6-7 hari, dilakukan pemanenan telur. Proses pemanenan telur dilakukan dengan cara melepas telur dari substratnya menggunakan pisau bedah secara perlahan. Proses pemanenan ini memerlukan ketrampilan khusus agar telur tidak rusak saat dilepas dari substratnya. Kemudian telur ditebar dalam wadah pemeliharaan larva yaitu bak polycarbonate atau fiberglass yang berbentuk bulat dengan kapasitas 200 l (diameter 64 cm dan tinggi bak 70 cm). Ke dalam media pemeliharaan larva ditambahkan fitoplankton Nannochloropsis ± 100.000 sel/ml, rotifer 5-10 ind/ml, naupli kopepod 20 ind./l. Rotifer dan kopepod adalah pakan bagi larva ikan klown, sedangkan Nannochloropsis berfungsi menurunkan kecerahan media dan menjadi pakan bagi rotifer. Pemberian Nannochloropsis dan rotifer dilakukan mulai hari pertama menetas hingga hari ke-15. Nannochloropsis ditambahkan setiap pagi, sedangkan pemberian rotifer dapat dilakukan 2 kali sehari pada pagi dan sore hari disesuaikan dengan jumlah rotifer yang tersisa pada media pemeliharaan. Kepadatan rotifer pada media pemeliharaan dipertahankan minimal 5 ind/ml.

Naupli artemia diberikan mulai hari ke-7 hingga panen, sebanyak 5- 20 ind/ larva/hari, sesuai dengan tingkat konsumsi dan pertambahan umur dan ukuran larva. Pembersihan dasar bak pemeliharaan mulai dilakukan pada hari ke-5 dengan metode siphon. Pembersihan berikutnya dilakukan dalam selang 5 hari sekali. Pergantian air mulai dilakukan pada hari ke-5 sebanyak 30% dari volume media pemeliharaan. Pergantian air berikutnya dilakukan setiap pagi minimal sebanyak 50%. Pergantian air dapat dilakukan dengan cara membuang air lama terlebih dahulu baru mengganti dengan air baru, atau dengan sistem air mengalir (dengan aliran yang sekitar 20ml/menit), atau kombinasi dari keduanya. Pemeliharaan larva dilakukan selama 15 - 20 hari.

Pemeliharaan Benih I

Pemeliharaan benih berukuran 1,2 - 2,5 cm dilakukan dengan menggunakan berbagai wadah seperti akuarium, box plastik, bak fiber, maupun bak beton dengan kepadatan 5 ekor/liter. Pakan buatan yang diberikan sebaiknya telah diberi astaxanthin untuk meningkatkan kecerahan warna ikan. Prosentase pakan buatan yang diberikan berkisar 3-5 % /berat tubuh. Frekuensi pemberian pakan dua kali sehari yaitu pada pagi dan sore hari. Selain itu pada pemeliharaan benih dapat pula ditambahkan pakan alami (kopepod) atau artemia dengan kepadatan 200-400 ind artemia/ekor benih ikan. Pemeliharaan benih ini dilakukan selama 1-2 bulan.

Pemeliharaan Benih II

Setelah benih berukuran 2,5 cm, benih sebaiknya dipelihara di out door agar mendapat sinar matahari penuh. Benih dipelihara dalam jaring berukuran 1x1x1 m3. Pakan yang diberikan yaitu pakan buatan dan kopepod. Prosentase pakan buatan yang diberikan berkisar 3-5 % /berat tubuh. Frekuensi pemberian pakan dua kali sehari yaitu pada pagi dan sore hari. Selain itu pada pemeliharaan benih dapat pula ditambahkan pakan alami (kopepod) kepadatan 200-400 ind/ekor benih ikan.

Pemeliharaan di lingkungan outdoor dilakukan sekitar 3-4 bulan. Benih yang dipelihara di lingkungan yang mendapat sinar matahari penuh memiliki warna jingga, hitam, putih yang cerah.

Kultur kopepod

Kultur kopepod dilakukan pada bak 2 ton berukuran pxlxt=2x1x1 m3. Kepadatan kopepod awal 20-100 ind/l. Pakan yang diberikan berupa plankton Nannochloropsis dan pakan buatan.
  1. Bak fiber 2 m diisi N. oculata sebanyak 25 % dari volume bak, kemudian ditambahkan air laut yang sudah disaring sebanyak 25 % dari volume bak. Tambahkan pakan buatan 250 gram ke dalam bak, biarkan larut dalam air media selama 2 hari, kemudian masukkan bibit copepoda yang sudah dihitung.
  2. Setelah tiga hari ditambahkan N. oculata 25 % dari volume bak bersama pakan ikan buatan sebanyak 250 gram. Biarkan selama tiga hari dan ditambahkan air laut 25 % dari volume bak dan ditambahkan pakan ikan buatan 250 gram
  3. Setelah kultur satu minggu copepoda dipanen.
Kegiatan diseminasi ikan klown biak (true clownfish) baru dilakukan pada tahun 2013. Sampai saat ini induk sudah bertelur, pemeliharaan larva sedang berlangsung, pemeliharaan benih ukuran 2,5 cm dilakukan dibak reservoar (limpahan air dari bak induk).

Sumber :
Anonymous. 2013. Rekomendasi Teknologi Kelautan dan Perikanan 2013. Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan. Jakarta