Follow by Email

Kawasan Konservasi Kepulauan Raja Ampat (SAP)

Media Penyuluhan Perikanan - Perairan Kepulauan Raja Ampat dan Laut di Sekitarnya ditetapkan menjadi Kawasan Konservasi Perairan Nasional (KKPN) pada 3 September 2009 melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor Kep.64/Men/2009. Keputusan ini menetapkan perairan Kepulauan Raja Ampat dan Laut di sekitarnya
sebagai Suaka Alam Perairan (SAP). Kepulauan Raja Ampat secara administratif berada di bawah pemerintah Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat.

Kabupaten yang dibentuk melalui UU Nomor 26 Tahun 2002 tersebut merupakan daerah otonom baru hasil pemekaran Kabupaten Sorong. Raja Ampat ditetapkan sebagai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (KKPN) karena memiliki keanekaragaman sumber daya alam yang tinggi berupa terumbu karang, mangrove, litoral dan rumput laut. Wilayah ini terletak di ‘jantung’ kekayaan terumbu karang dunia yang dikenal dengan sebutan Segitiga Karang/Coral Triangle. Kepulauan ini merupakan salah satu kawasan yang memiliki fauna ikan karang terkaya di dunia yang terdiri dari paling sedikit 1,074 spesies serta merupakan areal pembesaran bagi sebagian besar jenis penyu yang terancam punah.

Secara geografis, Kabupaten Raja Ampat terletak pada koordinat 2°25’LU-4°25’LS & 130°-132°55’BT.

Kabupaten Raja Ampat memiliki batas wilayah sebagai berikut :
  1. Sebelah selatan berbatasan langsung dengan Kabupaten Seram Utara, Provinsi Maluku.
  2. Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara.
  3. Sebelah timur berbatasan dengan Kota Sorong dan Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat.
  4. Sebelah Utara berbatasan langsung dengan Republik Federal Palau.
Mengingat Kepulauan Raja Ampat pada bagian utara (Pulau Fani) berbatasan langsung dengan wilayah luar negeri (Republik Palau), maka wilayah ini termasuk memiliki peran strategis sebagai salah satu pintu gerbang dunia internasional.

Luas Suaka Alam Perairan (SAP) Kawasan Konservasi Perairan Nasional (KKPN) Raja Ampat dan laut sekitarnya + 60.000 Ha, dengan batas-batas sebagai berikut :
  1. Sebelah Utara berbatasan dengan Pulau Waigeo
  2. Sebelah Selatan berbatasan dengan perairan Kepulauan Fam
  3. Sebelah Timur berbatasan dengan perairan Pulau Gam
  4. Sebelah Barat berbatasan dengan perairan Pulau Batangpele dan Pulau Maijafun
Kepulauan ini terletak di sebelah barat ekuator Lautan Pasifik dan di sebelah timur laut “alur masuk” arus lintas Indonesia dari Lautan Pasifik menuju Lautan Hindia. Sebagian besar kawasan ini terletak di salah satu bagian dari dua kawasan paparan benua yang dipisahkan oleh Selat Sagewin yang sempit. Keberadaan tepian paparan benua ini mengakibatkan tingginya variasi habitat laut dari perairan yang jernih.

Kepulauan Raja Ampat meliputi lebih dari empat juta hektar kawasan darat dan laut. Termasuk diantaranya empat pulau besar yakni Waigeo, Batanta, Salawati, dan Misool.

Menurut pendataan TNC-WWF, di wilayah ini tercatat sekitar 899 jenis ikan karang sehingga Raja Ampat diketahui mempunyai 1104 jenis ikan yang terdiri dari 91 famili. Diperkirakan jenis ikan di kawasan Raja Ampat dapat mencapai 1346 jenis. Berdasarkan fakta tersebut, kawasan ini menjadi kawasan dengan kekayaan jenis ikan karang tertinggi di dunia. Selain itu dikawasan ini juga ditemukan 699 jenis hewan lunak
(jenis moluska) yang terdiri atas 530 siput-siputan (gastropoda), 159 kerang-kerangan (bivalva), 2 Scaphoda, 5 cumi-cumian (cephalopoda), dan 3 Chiton.

Sementara itu, populasi padang lamun hampir tersebar di seluruh Kepulauan Raja Ampat. Padang lamun tersebar di sekitar Waigeo, Kofiau, Batanta, Ayau, dan Gam. Padang lamun yang terdapat di Kabupaten Raja Ampat umumnya homogen dan berdasarkan ciri-ciri umum lokasi, tutupan, dan tipe substrat, dapat digolongkan sebagai padang lamun yang berasosiasi dengan terumbu karang. Tipe ini umumnya ditemukan di lokasilokasi di daerah pasang surut dan rataan terumbu karang yang dangkal. Jenis lamun yang tumbuh baik di kawasan tersebut antara lain jenis Enholus acoroides, Thoiossio hemprichii, Holophilo ovolis, Cymodoceo rotundoto, dan Syringodium isoetifoiium.

Potensi Perikanan
Perairan Raja Ampat sangat cocok untuk budidaya ikan-ikan karang (Kerapu dan Napoleon), rumput laut, mutiara dan teripang. Adapun potensi lestari perikanan tangkap perairan Raja Ampat (MSY) sebesar 590.600 ton/tahun dengan jumlah tangkapan yang diperbolehkan sekitar 472.000 ton/tahun (80% MSY). Menurut Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Raja Ampat sumberdaya yang telah dimanfaatkan baru sekitar 38.000 ton/tahun, sehingga peluang pemanfaatan masih sekitar 434.000 ton/tahun. Hal tersebut merupakan kesempatan bagi nelayan setempat untuk meningkatkan perekonomian dengan tetap menjaga kelestarian sumberdaya perikanan.

Raja Ampat mengandalkan wisata bahari sebagai tulang punggung sektor pariwisata. Keanekaragaman hayati yang tinggi dan pemandangan alam yang luar biasa menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan untuk berkunjung ke Raja Ampat. Para wisatawan biasanya tinggal di resort yang ada di Waigeo Selatan (P. Mansuar) namun sebagian besar tinggal di atas kapal (liveaboard) dengan lama tinggal 10 sampai 21 hari.

Wisatawan asing banyak yang tinggal di atas kapal (liveaboard) karena mereka mengikuti paket kunjungan (paket liveaboard) yang disediakan perusahaan penyedia jasa pariwisata. Musim kunjungan wisatawan liveaboard ke Raja Ampat adalah mulai dari bulan September sampai bulan Mei setiap tahunnya. Liveaboard yang beroperasi di Raja Ampat berjumlah 18 kapal dan yang sudah resmi terdaftar/melapor kepada Dinas Pariwisata sebanyak 10 kapal. Hampir semua perusahaan/operator liveaboard ini berbasis di luar Sorong dan Raja Ampat.

Sejumlah potensi wisata lain yang juga dapat dikembangkan di Raja Ampat antara lain tersebar di beberapa kawasan :

1). Kepulauan Ayau
Kepulauan ini terdiri dari gugusan pulau-pulau kecil yang berada di atas kawasan atol yang sangat luas. Pantai-pantai di kepulauan ini berpasir putih dengan areal dasar laut yang luas yang menghubungkan satu pulau dengan pulau lain. Di kepulauan ini terdapat pulau-pulau pasir yang unik, masyarakat setempat menyebutnya zondploot, dan di atasnya tidak terdapat tumbuhan/vegetasi. Jenis wisata yang dapat dikembangkan di Kepulauan Ayau adalah keunikan kehidupan suku dan budaya yang berupa penangkapan cacing laut (insonem) yang dilakukan secara bersama-sama oleh ibu-ibu dan anak-anak, mengunjungi tempat peneluran penyu hijau, dan wisata dayung tradisional dengan perahu karures.

2). Waigeo Utara
Di Waigeo Utara terdapat beberapa tempat yang dapat dijadikan lokasi wisata yaitu goa-goa peninggalan perang dunia II dan keindahan bawah laut.

3). Waigeo Timur
Di sini, khususnya di depan Kampung Urbinasopen dan Yesner terdapat atraksi fenomena alam yang sangat menarik dan unik yang hanya bisa disaksikan setiap akhir tahun, yaitu cahaya yang keluar dari laut dan berputar-putar di permukaan sekitar 10-18 menit, setelah itu hilang dan bisa disaksikan lagi saat pergantian tahun berikutnya. Masyarakat di kedua kampung ini menamakan fenomena ini sebagai “Hantu Laut”.

4). Teluk Mayalibit
Lokasi wisata Teluk Mayalibit cukup unik, karena merupakan sebuah teluk yang cukup besar dan hampir membagi Pulau Waigeo menjadi dua bagian. Banyak atraksi yang bisa dilihat disini, seperti cara penangkapan ikan tradisional dan bangkai kerangka pesawat yang bisa dijadikan sebagai tempat penyelaman.

5). Salawati
Di Salawati para wisatawan dapat menyaksikan bunker-bunker peninggalan Perang Dunia II buatan Belanda dan Jepang (Jeffman) dan juga merupakan tempat yang menarik untuk snorkeling dan diving.

Sumber :
Suraji, dkk. 2010. Mengenal Potensi Kawasan Konservasi Perairan Nasional - Profil  Kawasan Konservasi Perairan Nasional. Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan. Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Kementerian Kelautan dan Perikanan. Jakarta

0 Response to "Kawasan Konservasi Kepulauan Raja Ampat (SAP)"

Post a Comment

You need Flash player 8+ and JavaScript enabled to view this video.