Makan Ikan Kurangi Gangguan Kesehatan Mental

Media Penyuluhan Perikanan - Konggres Seafood Dunia (World Seafood Congress) yang telah berlangsung pada akhir bulan September 2007 di Dublin, Irlandia menghadirkan beberapa ahli gizi dan kesehatan manusia yang terkemuka di dunia yang berasal dari berbagai negara. Profesor Michael Crawford, Direktur Institute of Brain Chemistry & Human Nutrition, University of North London, Inggris menyampaikan bahwa isu kesehatan paling menonjol di abad 21 adalah problem kesehatan mental daripada isu kegemukan, dan cara untuk mengatasinya adalah dengan mengkonsumsi seafood lebih banyak.

Prof. Crawford menjelaskan bahwa peningkatan kerusakan otak dan problem kesehatan mental akibat dari kekurangan asam lemak atau minyak omega 3 adalah isu mutakhir yang perlu mendapat perhatian serius pada abad ini. Lupakan isu kegemukan, karena problem kesehatan mental adalah bencana riil yang telah mulai menghadang. Problem kesehatan mental telah “mengungguli” penyakit jantung dan saat ini menjadi hal yang paling ditakuti di Eropa. Diperkirakan pada tahun 2004, penyakit tersebut telah menyedot dana lebih dari €386 milyar (sekitar Rp 3.860 trilyun) dalam tempo satu tahun, sejumlah uang yang sangat besar. Pesan profesor sangat jelas: perbanyak makan seafood untuk mengurangi resiko problem kesehatan mental.

Dalam uraiannya, Prof Crawford menjelaskan jika penduduk di beberapa negara barat mempunyai peluang 50 kali lebih besar terhadap gangguan depresi dibandingkan dengan penduduk Jepang yang mempunyai tingkat konsumsi ikan sangat tinggi. Lebih lanjut dijelaskan bahwa diet dengan basis daging merah dan gandum dan sedikitnya konsumsi ikan telah menyebabkan asupan asam lemak omega 3 menjadi sangat rendah sehingga berpeluang lebih besar terhadap gangguan kesehatan mental.

Bukti-bukti ilmiah semakin banyak yang menunjukkan kaitan antara gangguan mental dan pola makan. Contohnya, wanita yang mengalami depresi pasca melahirkan akan memproduksi ASI yang kandungan DHAnya rendah, padahal DHA adalah bossnya omega 3 dan sangat vital bagi perkembangan otak. Begitu pula dengan penderita Alzheimer yang diakibatkan oleh kehilangan DHA secara signifikan dalam otaknya. Keduanya dapat dihindari dengan mengkonsumsi seafood yang lebih banyak.

Menurut Prof. Crawford, otak manusia adalah terbuat dari sejenis marine fats. Jika kita tidak memberi otak dengan asupan pangan yang sesuai untuk menjaga kesehatannya, misalnya dengan ikan dan khususnya asam lemak omega 3, maka akan didapati kasus-kasus gangguan otak atau mental seperti depresi, malfungsi bipolar, atau problem perilaku anak-anak seperti ketidakmampuan berkonsentrasi, dyslexia, dan dyspraxia.
Saat ini banyak tersedia makanan suplemen yang dipromosikan banyak mengandung omega 3, dan seiring dengan meningkatnya kesadaran pentingnya omega 3, permintaan terhadap suplemen tersebut meningkat. Namun demikian, yang terbaik adalah mendapatkan asam lemak omega 3 langsung dari asupan pangan alami yang dikonsumsi, dan sumber utamanya adalah ikan atau seafoods.

Menyadari betapa pentingnya seafood dan ikan pada umumnya, pesan utama dari konggres kepada masyarakat perikanan internasional yang terdiri dari: nelayan, pembudidaya, birokrat,pemasar, pengolah, dan peneliti serta para manajer dalam bisnis perikanan adalah dunia memerlukan ikan lebih banyak sehingga sangat diperlukan upaya untuk menjaga kelestarian stok sumber daya ikan.

Melihat gambaran di atas, ikan berarti merupakan investasi yang tak ternilai. Mari kita jaga kelestarian sumberdaya perikanan Indonesia, dan kita manfaatkan secara bertanggung jawab. Ikan yang telah dipanen kita perlakukan dengan baik sehingga kualitasnya terjaga hingga tiba saatnya untuk disantap sehingga memberikan manfaat yang optimal. Konsumsi ikan meningkat akan memperbaiki kualitas sumberdaya manusia dan kesejahteraan rakyat Indonesia.

Makan Ikan Kurangi Risiko Penyakit Kronis

Media Penyuluhan Perikanan - Konferensi “Seafood dan Kesehatan 05” yang diadakan di Washington pada bulan Desember 2005, semakin mengukuhkan pentingnya manfaat mengkonsumsi ikan terhadap kesehatan. Ikan merupakan sumber protein, rendah kandungan lemak jenuh, kaya akan lemak tak jenuh seperti omega-3, mineral (yodium selenium), vitamin D esensial dan vitamin E. Ikan tuna kaleng dan salmon kaleng dengan tulang merupakan sumber kalsium yang berkualitas.

Kandungan omega-3 pada ikan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan sumber omega-3 lainnya. Pada 100 gram ikan rata-rata mengandung 210 mg omega-3, tiram 150 mg, udang 120 mg, dan lobster 105 mg, sedangkan 100 gram daging sapi hanya mengandung 22 mg omega-3, daging ayam 19 mg, daging kambing 18 mg dan babi sebenarnya tidak mengandung omega-3. Disamping itu juga telah dibuktikan bahwa mengkonsumsi omega-3 yang berasal dari ikan lebih efektif dibandingkan dengan mengkonsumsi makanan olahan yang telah difortifikasi dengan omega-3.

Delegasi dari Australia mengungkapan bahwa lebih dari 50.000 orang Australia mati dalam setahun yang disebabkan penyakit cardiovasculer seperti penyakit jantung, stroke dan penyakit aliran darah. Hal ini disebabkan konsumsi ikan orang Australia rendah. Berdasarkan survei konsumsi ikan di Melbourne yang dipublikasikan akhir-akhir ini menunjukkan rata-rata konsumsi edible fish per tahun di Melbourne adalah 12,5 kg per orang, Sydney 15,1 kg dan Perth 14,7 kg. Konsumsi tersebut lebih rendah bila dibandingkan dengan negara-negara lain seperti Perancis, Spanyol dan Jepang.

Karena rendahnya konsumsi ikan di Australia, maka National Health and Medical Recearch Council (NHMRC) merekomendasikan bahwa makan ikan dapat menghindari dan meminimalkan penyakit serius seperti serangan jantung, stroke, diabetes dan kanker rahim, depresi dan gangguan ketidakstabilan emosi lainnya. Orang berjenis kelamin laki-laki harus mengkonsumsi omega-3 rata-rata 610 mg, sedangkan wanita 430 mg dalam sehari. Rekomendasi tersebut jauh lebih tinggi daripada rata-rata omega-3 yang dikonsumsi orang Australia pada saat ini. Ikan juga berperan positif pada kesehatan bayi. NHMRC juga merekomendasikan agar makanan yang mengandung kalori tinggi dan makanan serta minuman rendah nutrisi diganti dengan makanan yang kaya omega-3 khususnya berasal dari ikan seperti tuna, salmon dan mackerel.

Penelitian di beberapa negara menunjukkan bahwa negara-negara dimana penduduknya mengkonsumsi banyak ikan seperti Jepang dan Norwegia, mempunyai tingkat depresi yang rendah. Penelitian yang dilakukan pada pasien depresi menunjukkan bahwa level omega-3 pada pasien tersebut adalah rendah. Hal ini berhubungan dengan komposisi otak, dimana 60% nya terdiri dari lemak khususnya omega-3 dari ikan dan omega-6. Omega-3 penting untuk permeabilitas membran sel sehingga memberikan kebebasan aliran kimia masuk dan keluar dari neuron otak. Tingkat omega-3 yang rendah di otak dapat memperbesar gangguan ketidakstabilan emosi. Penelitian yang dilakukan di beberapa negara termasuk Inggris, Belanda, Finlandia dan New Zealand membuktikan bahwa mengkonsumsi ikan khususnya omega-3 mempunyai pengaruh positif pada penderita depresi umum, depresi setelah melahirkan dan tingkat ketidakstabilan emosi pada orang dewasa muda, sehingga ikan berfungsi sebagai stabilizer emosi.

Dalam konferensi tersebut juga diungkapkan hasil penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa Ikan juga berperan dalam menurunkan penyakit Alzheimer (kepikunan), meningkatkan intelegensia, konsentrasi dan emosi, menurunkan radang, membuat hidup lebih sehat serta memotong risiko penyakit hati, kanker, stroke, diabetes serta rematik. Konsumsi ikan dan kekerangan dapat membantu mempercepat proses penyembuhan tubuh setelah treatment untuk kanker, sakit yang menyerang kekebalan, alergi, asma, migrain dan sakit kulit.

Konferensi juga meyakini bahwa ikan lebih efektif untuk mencegah kematian mendadak daripada obat-obatan anti kolesterol. Obat-obatan untuk menurunkan kolesterol dan membantu mencegah serangan jantung pada prinsipnya dikenal sebagai statins yang saat ini harganya sangat mahal. Penelitian lainnya menunjukkan penggunaan kombinasi statins dengan minyak omega-3 pada pencegahan kesehatan jantung, 19% lebih efektif dibandingkan hanya dengan statins. Dalam pertemuan tersebut, Seafood Services Ausralia (SAA) mengemukan bahwa total populasi Australia yang hanya 20 juta, lebih dari 1,2 juta menggunakan obat anti kolesterol khususnya statins dengan total biaya lebih dari 1 trilyun dollar setahun. Seafood Services Ausralia (SAA) mengemukakan bahwa mengkonsumsi minyak ikan 3 kali atau lebih dalam seminggu dapat
mengurangi kematian 1000 orang dan menghemat ratusan juta dolar biaya kesehatan setiap tahun. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan apabila banyak slogan yang mengatakan “jika ingin sehat perbanyaklah makan ikan”

Sumber Diolah : Ditjen P2HP

Makan Ikan Kurangi Risiko Diabetes Pada Anak-Anak

Media Penyuluhan Perikanan - Belum lama ini, Journal of the American Medical Assosiciation (JAMA) telah mempublikasikan studi internasional baru tentang peran makan ikan yang dapat mengurangi risiko penyakit diabetes pada anak-anak.

Dalam studi tersebut disimpulkan bahwa sebuah pola makan (diet) yang kaya dengan minyak omega3, yang ditemukan melimpah pada ikan dan berbagai seafood lainnya dapat memotong peluang risiko sebesar 55 % terhadap diabetes tipe 1 pada anak-anak. Hal ini merupakan temuan yang sangat penting bagi anak-anak di Autralia, karena rerata kasus penyakit ini relatif lebih tinggi dibandingkan dengan negara lain. Studi dilakukan selama 6 tahun, melibatkan 1700 anak-anak dan diklaim sebagai penelitian yang pertama mengaitkan dengan diet anak-anak (diatas balita). Studi diketuai oleh Dr. Jill Norris, epidemilogist dari Universitas Colorado, Amerika Serikat. Temuan tersebut sangat signifikan dan menggembirakan karena nampaknya dimungkinkan untuk mengatasi suatu penyakit melalui intervensi nutrisi.

Penyakit dibetes tipe 1, umumnya diwariskan, sehingga penelitian difokuskan kepada anak-anak yang berisiko tinggi, yaitu yang mempunyai jenis genetis (genotype) berisiko tinggi atau yang mempunyai orang tua atau saudara kandung penderita diabetes. Para peneliti menemukan bahwa, anak-anak yang banyak makan ikan, kacang-kacangan dan pangan sumber asam lemak omega-3 lainnya berkurang 55 % kemungkinannya menjadi penderita diabetes. Pemerintah Federal Australia melalui Institute of Health & Welfare (AIHW) baru-baru ini mengumumkan data, kasus baru diabetes tipe 1 pada anak-anak yang cukup meningkat dan menuntut perhatian lebih. Diantara 6100 anak-anak dibawah usia 15 tahun yang telah menderita diabetes tipe 1 lebih dari 7 tahun, jumlah kasusnya telah meningkat, naik dari 19 menjadi 23 per 100.000 anak pada periode tahun 2000 - 2005.

Adanya temuan baru untuk pengobatan maupun pencegahan penyakit melalui intervensi nutrisi ini sangat penting, tidak hanya bagi anak yang bersangkutan tetapi juga bagi kedua orang tuanya. Meskipun penelitian tersebut baru mampu menunjukkan penurunan risiko, tetapi hal tersebut telah merupakan langkah awal yang menjanjikan. Diduga zat penting dari omega3 yang paling berpengaruh adalah kandungan anti-inflamatory yang cukup tinggi. Diantara pertanyaan yang ditujukan kepada orang tua anak dalam daftar kuisioner adalah
ukuran porsi makan ikan dari anak yang menjadi obyek penelitian yaitu sekitar 85 gram hingga 115 gram, dengan kisaran dari tidak pernah hingga 6 kali atau lebih dalam sehari. Secara spesifik, mereka ditanya tentang frekuensi makan tuna, mackarel, salmon, sardin, tailor dan swordfish, serta ikan lainnya, udang, lobster dan scallop. Hal yang menarik dalam penelitian tersebut adalah, adanya 45 anak dalam kelompok tersebut yang paling berpeluang untuk menderita diabetes tipe 1 adalah anak-anak yang paling sedikit mengkonsumsi omega3 dari ikan dan sumber lainnya.

Tentu saja, kepada orang tua yang mempunyai anak bermasalah dengan diabetes tipe 1 sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan advis medis langsung yang lebih pribadi sifatnya. Bagimanapun hasil studi di Amerika Serikat tersebut telah membawa pencerahan dan bahwa makan ikan sangat bermanfaat bagi semua kelompok umur.

“Para peneliti menemukan bahwa, anak-anak yang banyak makan ikan, kacang-kacangan dan pangan sumber asam lemak omega3 lainnya berkurang 55 % kemungkinannya menjadi penderita diabetes”

Sumber Diolah : Ditjen P2HP

Ikan Kurangi Risiko Asma Pada Anak-anak

Media Penyuluhan Perikanan - Asma adalah penyakit umum yang dapat berakibat fatal. Asma masih menjadi penyakit misterius tetapi gejalanya menyebabkan radang pada tubuh dan menjadi pencetus turunnya kekebalan tubuh. Para peneliti medis mengungkapkan, sekitar 1 dari sepuluh anak dan 1 dari 20 orang dewasa adalah penderita asma. Peneliti medis menyelidiki efek berbagai anti-inflammatory yang dikandung oleh makanan dan obat/racun terhadap penyakit asma. Penelitian yang dilakukan oleh salah satu peneliti Amerika Serikat menunjukkan hasil yang mendukung penelitian sebelumnya yaitu ikan bermanfaat untuk menurunkan risiko penyakit asma pada anak-anak.

Penelitian ini dititik beratkan pada pengaruh tingkat kandungan bahan kimia pro-inflammatory terhadap serangan asma. Penelitian dilakukan dalam 2 tahap yaitu tahap observasi dan tahap uji percobaan klinis. Tahap observasi dilakukan untuk mengetahui hubungan statistik antara tingkat asma atau tingkat bahan-bahan kimia pro-inflammatory yang berhubungan dengan asma. Sedangkan tahap uji percobaan klinis dilakukan untuk mengetahui tingkat penurunan risiko serangan asma dan tingkat bahan kimia pro-inflammatory pada darah.

Hasil dua studi yang dipublikasikan oleh salah satu peneliti Amerika Serikat tersebut dan hasil investigasi lainnya di Belanda mengindikasikan bahwa ibu hamil penderita asma yang mengkonsumsi ikan dengan kandungan omega-3 tinggi dapat mengurangi risiko asma pada anak yang dilahirkan. Salah satu efek omega-3 pada ikan adalah mengurangi peradangan yang berlebihan pada tubuh dengan cara menurunkan produksi bahan-bahan kimia tubuh yang dapat mempengaruhi radang termasuk eicosanoid, radikal bebas, cytokines dan lainnya. Hubungan jumlah omega-3 pada ikan dengan pencegahan dan penurunan gejala asma menjadi dasar rancangan penelitian untuk menguji hipotesis ini.

Asumsi yang sama juga digunakan oleh peneliti Australia untuk mengetahui pengaruh omega-3 pada wanita hamil terhadap risiko alergi pada anak yang dilahirkan. Pada penelitian tersebut responden diberi perlakuan dengan mengkonsumsi suplemen omega-3 sejak 5 bulan setelah terjadinya pembuahan sampai dengan melahirkan. Hasilnya menunjukkan bahwa anak pada umur satu tahun yang dilahirkan dari ibu tersebut memproduksi bahan kimia pro- inflammatory (cytokines) yang lebih rendah dan menunjukkan gejala alergi makan telur 3 kali lebih rendah dibandingkan dengan ibu yang tidak mengkonsumsi omega-3. Cytokines adalah bahan kimia pro-inflammatory yang merupakan penyebab utama alergi. Beberapa penelitian yang dilakukan pada anak juga menunjukkan bahwa anak-anak muda yang banyak mengkonsumsi ikan, biji-bijian dan susu dapat menurunkan risiko asma. Bagi ibu dan anak-anak penderita asma, segera perbanyak konsumsi ikan yang mengandung omega-3 tinggi karena omega 3 pada ikan ternyata berfungsi menurunkan produksi bahan kimia proinflammatory atau berfungsi sebagai anti peradangan.

Manfaat optimal ikan diperoleh dari ikan yang berkualitas baik. Untuk itu, penanganan ikan dengan benar semenjak ditangkap/dipanen hingga disantap perlu mendapat perhatian.

Sumber Diolah : Ditjen P2HP

Ikan Turunkan Risiko Kelahiran Prematur dan Berat Lahir Bayi

Media Penyuluhan Perikanan - Risiko kelahiran bayi prematur dan berat lahir bayi yang terlalu rendah dapat diturunkan dengan mengkonsumsi ikan pada masa kehamilan. Di negara-negara berkembang di seluruh dunia pada setiap tahunnya terdapat lebih dari 13 juta bayi dilahirkan secara prematur. Observasi yang dilakukan di Pulau Faroe dan Orkney dimana masyarakatnya banyak mengkonsumsi ikan, diperoleh hasil bahwa masyarakat di pulau tersebut mengalami masa kehamilan sesuai waktu dengan berat lahir bayi yang normal.

British Medical Journal telah mempublikasikan hasil penelitian bahwa rata-rata berat lahir dan masa kehamilan sesuai waktunya berhubungan langsung dengan jumlah ikan yang dimakan oleh wanita hamil. Percobaan secara acak telah menunjukkan hubungan antara konsumsi ikan yang mengandung asam lemak omega-3 dengan lamanya masa kehamilan serta risiko kelahiran prematur.

Peneliti di Aarthus Denmark mengkompilasi daftar pertanyaan yang diisi oleh hampir 9000 wanita untuk menilai tingkat konsumsi ikan, hasilnya menunjukkan bahwa wanita yang mengkonsumsi ikan sedikitnya sekali seminggu hanya 1,9 % yang mengalami kelahiran prematur.

Sedangkan pada wanita yang tidak pernah mengkonsumsi ikan kelahiran prematur meningkat menjadi 7,1 %. Peneliti dari Universitas Bristol di Inggris yang merupakan bagian dari penelitian yang lebih luas dari Avon Longitudinal of Parent and Children (ALSPAC) telah mengamati secara detil sekitar 14.000 ibu-ibu selama kehamilannya serta anak-anak yang dilahirkan. Mereka dibagi ke dalam lima kelompok berdasarkan pada berapa banyak mereka mengkonsumsi ikan. Wanita-wanita tersebut telah melaporkan apakah mereka makan ikan putih, kekerangan atau minyak ikan yang kaya asam lemak omega-3. Hasilnya menunjukkan kelompok dengan konsumsi ikan yang tinggi, rata-rata mempunyai bayi dengan berat antara 70 dan 80 g lebih dibanding mereka yang tidak makan ikan sama sekali. Sedangkan faktor lainnya seperti kelas sosial dan apakah ibu tersebut merokok tidak menunjukkan perbedaan berat lahir diantara kelompok tersebut.

Penelitian oleh Public Health Institut of Iceland yang dimuat dalam British Journal of Obstetrics and Gynecology volume 112 bulan April halaman 424-9 mengemukakan bahwa mengkonsumsi minyak ikan pada awal kehamilan bisa mengakibatkan bayi lahir lebih besar. Penelitian dilakukan terhadap 435 wanita hamil yang sehat yang diminta untuk mengisi daftar pertanyaan pada umur kehamilan antara 11 dan 15 minggu dan antara 34 dan 37 minggu. Wanita yang mengkonsumsi minyak ikan dalam bentuk cairan di awal kehamilan, 14 % diantaranya melahirkan bayi lebih berat dan mengalami masa kehamilan sesuai waktunya.

Disamping itu, wanita-wanita sehat yang mengkonsumsi minyak ikan cair, lebih dari 11 kalinya melahirkan
bayi dengan berat 4,500 g atau lebih dengan umur kehamilan yang sesuai waktunya. Selain konsumsi ikan, memang masih banyak faktor lain yang juga berperan pada kelahiran prematur. Infeksi di kandungan misalnya dapat menyebabkan kontraksi lebih awal, pembukaan servik dan juga pecahnya cairan ketuban lebih awal. Dr Imogen Roger juga melaporkan bayi dengan berat lahir sangat kecil berhubungan dengan meningkatnya risiko tekanan darah tinggi dan permasalahan lainnya pada wanita paruh baya. Konsumsi ikan yang tinggi nampaknya memang tidak mampu menetralkan efek infeksi, tetapi bagaimanapun dari segi nutrisi konsumsi ikan dapat mengurangi risiko kelahiran prematur dan berat lahir yang sangat kecil.

Hasil penelitian-penelitian tersebut semakin menguatkan pentingnya mengkonsumsi ikan bagi wanita hamil serta menguatkan rekomendasi bahwa wanita hamil harus mengkonsumsi ikan sekurang-kurangnya dua kali seminggu. Mengkonsumsi ikan yang mengandung minyak adalah suatu kebiasaan yang baik dan perlu didorong untuk menghindari bayi lahir prematur dengan berat lahir sangat kecil. Berat lahir lebih tinggi akan menurunkan risiko penyakit di kemudian hari dalam kehidupannya.

Jadi bagi wanita yang sedang hamil, jangan tunda lagi segera konsumsi ikan terutama yang mengandung omega-3 seperti tenggiri, patin, lemuru dan sardin. Dengan mengkonsumsi ikan berarti anda telah membantu melindungi anak-anak anda melawan sejumlah penyakit pada saat anak-anak anda menjadi dewasa kelak. Peneliti juga menyarankan bagi wanita yang tidak mengkonsumsi ikan perlu mempertimbangkan suplemen minyak ikan. Hanya saja, perlu diketahui juga bahwa tidak semua ikan direkomendasikan untuk wanita hamil. The UK Standards Agency menyarankan agar wanita hamil menghindari mengkonsumsi ikan yang diduga mengandung merkuri yang relatif lebih tinggi

Ikan Turunkan Risiko Kanker Prostat

Media Penyuluhan Perikanan - 
Hubungan antara diet dan kanker

Banyak riset yang telah merekomendasikan untuk lebih banyak makan ikan guna menjaga kesehatan jantung. Berdasarkan hasil penelitian yang dimuat dalam Jurnal The Lancet mengatakan bahwa laki-laki yang lebih banyak makan ikan mempunyai risiko menderita kanker prostat yang lebih kecil dibandingkan dengan laki-laki yang sedikit atau tidak sama sekali makan ikan.

Hasil penelitian tersebut didasarkan pada hasil analisa dari informasi yang dikumpulkan pada 6.272 laki-laki. Pada awal penelitian, banyak sukarelawan yang memberikan informasi tentang diet yang dilakukan, aktivitas fisik, kebiasaan merokok dan penggunaan alkohol. Peneliti menanyakan apa yang mereka makan setiap minggunya termasuk ikan. Setelah lebih dari tiga dekade dari penelitian tersebut terdiagnosa 466 kasus kanker prostat (340 yang fatal) dengan umur rata-rata 77 tahun. Hasil penelitian tersebut juga dilaporkan bahwa orang yang memakan ikan lebih tinggi mempunyai gangguan kanker prostat lebih rendah.

Makan Ikan adalah kebiasaan yang lebih sehat

Kebiasaan sehat selain makan banyak buah dan sayur, mengurangi konsumsi daging merah dan daging olahan serta menghindari merokok adalah mengkonsumsi banyak ikan. Kebiasaan yang sehat tersebut dapat menurunkan risiko menderita kanker. Disamping itu, orang laki-laki yang mengkonsumsi ikan lebih banyak mempunyai fisik yang lebih aktif.

Bagaimana ikan bisa membuat sehat?

Ikan, terutama yang banyak mengandung asam lemak omega -3 seperti salem, herring dan mackerel dapat menghalangi pertumbuhan sel kanker prostat. Omega-3 dari ikan juga dapat menjadikan jantung sehat. Omega-3 dapat membantu mencegah pembekuan darah di dinding arteri, yang pada akhirnya dapat melindungi dari serangan penyakit jantung.

Pada saat ini profesional dan ilmuwan kesehatan akan melihat lebih lanjut peran konsumsi ikan terhadap risiko serangan kanker. Sebagian besar dari ilmuwan menyetujui banyak makan buah dan sayur, biji-bijian, makan sedikit lemak dan makan banyak ikan adalah langkah terbaik yang dapat meminimalkan risiko kanker tertentu. Oleh karena itu, seperti halnya The American Heart Association maka saat ini The American Cancer Society juga merekomendasikan untuk makan ikan lebih banyak. Selain banyak makan ikan, saran lainnya adalah mengganti daging merah dan daging babi yang kandungan asam lemak jenuhnya sangat tinggi.

Asupan asam lemak jenuh diindikasikan dapat mengakibatkan meningkatnya risiko kanker. Banyak orang berpikir menyiapkan makan dengan menu ikan lebih sulit, tetapi sebenarnya hal tersebut tidaklah benar. Kita hanya perlu sedikit pengetahuan bagaimana membeli, menyimpan dan menyiapkan ikan. Jika merasa repot memasak ikan di rumah, maka biasakan memesan menu ikan kalau sedang makan di luar rumah.

Sumber Diolah : Ditjen P2HP

Ikan Turunkan Risiko Penyakit AMD

Media Penyuluhan Perikanan - Dalam dunia kesehatan, Age-Related Macular Disease/AMD merupakan kondisi memburuknya penglihatan secara progresif dan tidak dapat diperbaiki akibat penipisan dan pendarahan di sekitar macula atau daerah pusa tretina mata. Penderita AMD kebanyakan berusia 60 tahun ke atas dan penderita kehilangan kemampuan untuk melihat benda-benda halus secara detil. Pada beberapa kasus yang parah, penderita AMD dapat menjadi buta meski masih memiliki sedikit kemampuan untuk melihat.

Penyakit AMD tidak menyebabkan sakit/nyeri dan biasanya berkembang secara perlahan sehingga penderita tidak terlalu memperhatikan perubahan pada penglihatannya. Namun demikian, pada beberapa kasus AMD dapat berkembang dengan cepat dan dapat mengakibatkan kebutaan.

AMD diduga dipengaruhi gaya hidup seperti pola makan, kebiasaan merokok, tekanan darah dan olah raga. Jika benar dugaan tersebut maka kita mempunyai peluang untuk melakukan pencegahan sedini mungkin terhadap serangan penyakit tersebut. Peluang tersebut telah dijadikan sebagai objek penelitian terkait hubungan antara AMD dengan konsumsi ikan dan omega-3.

Peneliti Australia mengulas 9 publikasi penelitian yang dimuat Jurnal Archives of Ophthalmology dengan melibatkan 88.974 responden termasuk 3.203 orang dengan kasus AMD. Hasil penemuan ini menyatakan bahwa asupan omega-3 dapat menurunkan 38% risiko AMD stadium lanjut dan makan ikan dua kali seminggu dapat menurunkan risiko AMD stadium awal dan lanjut. Selain itu, peneliti dari Universitas Melbourne mencatat bahwa lemak omega -3 rantai panjang merupakan komponen vital dari lapisan sel syaraf di retina. Sel bagian luar retina terus mengalami pergantian dan regenerasi. Oleh karena itu, kekurangan omega-3 diduga dapat menyebabkan AMD.

Selanjutnya diungkapkan orang dengan kadar vitamin D dalam darahnya tinggi, cenderung lebih tahan terhadap serangan AMD. Hasil penelitian ini semakin menguatkan bahwa mengkonsumsi ikan menjadi penting karena ikan juga merupakan sumber vitamin D. Hasil penelitian lain yang dilakukan terhadap 7.752 responden, termasuk 11 persen responden penderita AMD, menemukan bahwa kadar vitamin D yang tinggi dalam darah dapat mengurangi resiko AMD

dengan memperlambat atau mencegah timbulnya pembuluh darah baru pada retina mata yang berkontribusi pada sakit mata yang lain. Penelitian sebelumnya yang dilakukan di tahun 1992 sampai 1998 dengan responden sekitar 4.519 orang berusia 60 sampai 80 tahun, untuk dicek apakah mereka menderita AMD atau tidak dihubungkan dengan kebiasaan makan mereka. Hasil penelitian tersebut menemukan, semakin
tinggi konsumsi ikan semakin rendah pula risiko menderita AMD neovaskular. Penelitian ini juga menyebutkan, konsumsi ikan sebanyak 115 gram seminggu, akan mengurangi risiko terkena AMD. Penelitian ini juga telah membuktikan bahwa Omega 3 akan membantu melancarkan aliran darah ke retina mata dan menjaga keseimbangan tubuh.

Ingin menyelamatkan generasi muda dari kerusakan mata pada usia lanjut, sediakan selalu menu ikan yang merupakan sumber omega-3 dan vitamin D mulai dari sekarang

Sumber Diolah : Ditjen P2HP